
“Atau setidaknya bertemanlah denganku lagi,” usul Niko lagi.
Laura mengangguk. “Baiklah. Kau bisa menjadi temanku.” Etelah apa yang Niko lakukan untuknya, Laura merasa Niko berhak mendapatkan keinginannya.
Niko tertawa senang. “Benarkah? Terima kasih, Laura. Kau sudah membuatku benar-benar bahagia hari ini.” Ebenarnya Niko ingin lebih dari sekedar teman, tapi setidaknya menjadi teman Laura bisa menjadi awal hubungan mereka.
“Laura ada pesanan...” alah seorang pelayan menginterupsi percakapan Laura dan Niko.
Niko tersenyum. “Aku akan pergi sekarang. Emoga pekerjaanmu lancar.” “Kau juga,” balas Laura.
“Kau menemukan cincinnya.” Uki melihat cincin bintang pemberiannya di tangan kiri Laura saat Laura pulang ke apartemen.
Laura menunjukan jemarinya sebentar pada uki. “Ya. Aku menemukannya di dapur restoran.
Aku pasti melepaskannya saat mencuci peralatan masakku.” Uki tersenyum tipis. “Kau masih harus kembali ke restoran malam nanti?” Laura mengangguk.
“Kau pulang malam sekali kemarin. Bagaimana kalau malam ini kau pulang jangan terlalu malam? Aku terlalu khawatir padamu. Mukamu terlihat sedikit pucat.” Uki memandang Laura khawatir.
“Baiklah,” kata Laura. “Malam ini aku akan pulang lebih cepat.”
“Kau bekerja terlalu keras,” omel uki. “Bagaimana kalau bulan depan kita jalan-jalan sekeluarga ke luar negeri? Kita belum pernah melakukannya.”
Laura tertawa. “Kepalamu selalu penuh dengan ide aneh. Kalau kau dan Papa jalan-jalan, siapa yang mengurus perusahaan?” Luki cemberut.
Laura mendekatkan wajahnya ke wajah uki. “ ebenarnya usulmu bagus juga kok. Mungkin tidak sekarang. Ain kali saja. Bagaimana?” uki tertawa. “Aku akan mengusulkannya pada Papa.”
Laura terbangun dengan rasa sakit yang amat sangat di lutut kanannya. Tubuhnya berkeringat. Ia meminum obat antisakitnya, tapi sepertinya efek obat itu hanya sementara. Laura tahu, pasti ada masalah dengan kakinya. Di dalam kamar ia berusaha tidak berteriak kesakitan dan membangunkan Luki. Laura perlu menemui Dokter Riswan.
Pagi harinya, ketika Laura bangun, Luki sudah berangkat ke akntor. Laura menelpon Dokter Riswan untuk membuat janji temu. Sejam kemudian, Laura sudah berada di rumah sakit.
Laura tidak terlalu suka dengan bau rumah sakit, karena mengingatkannya pada kecelakaannya. Dokter Riswan tersenyum ramah ketika Laura memasuki ruang prakteknya. Laura mulai menjelaskan rasa sakit di kakinya.
“ udah berapa lama?” tanya Dokter Riswan.
__ADS_1
“ ekitar beberapa minggu, Dok. Aya tidak tahu mulai pastinya kapan. Awalnya hanya merasa kelelahan, lalu kram, dan sekarang obat antisakit hanya bisa meredakan sementara.”
Dokter Riswan terlihat khawatir, dan memutuskan untuk memeriksa kaki kanan Laura secara menyeluruh. Dua jam kemudian, Laura kembali ke ruang praktik untuk mendengarkan hasil pemeriksaan kakinya. Saat melihat wajah Dokter Riswan yang murung, Laura berkesimpulan bahwa hasil pemeriksaannya tidak bagus.
“Kakimu mengalami infeksi lagi.” Dokter Riswan menatap Laura.
“Apakah sangat parah?” tanya Laura. Dalam hati, ia benar-benar putus asa mendengar penjelasan itu.
Dokter Riswan mengangguk. “Kau harus menjalani operasi lagi, Laura.” “Kapan?” tanya Laura lirih.
“ ecepatnya. Aya sarankan minggu ini. Ebih cepat lebih baik. Kalau infeksinya sampai menjalar kemana-mana, kondisi kakimu akan menjadi lebih parah, dan kau akan mengalami rasa sakit yang luar biasa.”
Laura tidak bisa bernafas. “Apakah dengan operasi, kaki saya bisa normal kembali?”
Dokter Riswan memperlihatkan hasil pemeriksaan kaki Laura dan memandangnya dengan serius. “ aya akan berusaha sekeras mungkin supaya operasi kakimu berhasil.”
“Dan kalau operasinya tidak berhasil...?” ucap Laura perlahan. Air mata sudah menggenangi matanya. “Kalau infeksinya sudah terlalu parah?” Dokter Riswan terdiam.
Dokter Riswan mendesah perlahan. “ aya akan berusaha supaya itu tidak terjadi. Kau harus optimis, Laura.”
Air mata mulai membasahi pipi Laura. Ia mengusapnya dengan cepat. “Tolong katakan yang sebenarnya, Dokter.”
Dokter Riswan menatap Laura dengan sedih. “Kalau memang infeksinya parah, saya terpaksa mengamputasi kakimu. Tapi itu adalah jalan terakhir. Kakimu harus dioperasi secepatnya. Karena kalau dibiarkan terlalu lama, kemungkinan infeksinya akan semakin parah. Saya akan memberitahu ayahmu.”
Laura menggeleng. “Jangan. Tolong jangan bilang pada Papa. Tidak hari ini.”
“Laura, kau harus dioperasi secepatnya,” Dokter Riswan bersikeras. “Keluargamu perlu tahu. Kau butuh dukungan mereka untuk operasimu.”
Laura berdiri dari kursinya. “ aya tahu. Tapi jangan beritahu mereka hari ini. Aya akan memberitahu mereka besok. Setelah itu saya bersedia dioperasi. Tolong beri saya waktu. Saya mohon, Dokter.”
Dokter Riswan mengangguk. “Baiklah. Tapi kalau besok kau tidak datang ke rumah sakit, saya pasti akan menghubungi ayahmu. Saya tidak bisa menyimpan hal sepenting ini darinya. Dia sudah menjadi teman baik saya sejak dua tahun lalu.”
Laura mengangguk. Ia keluar dari rumah sakit dengan linglung. Ia terduduk di salah satu halte bus. Tangannya menyentuh kaki kanannya. Mungkin hari ini hari terakhirnya ia bisa menggunakan kaki kanannya. Laura menangis sejadi-jadinya. Ia tidak ingin kehilangan kaki kanannya. Ia ingin berdiri dengan kedua kakinya di dapur dan melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah tangisnya mereda, Laura membasuh mukanya di toilet umum. Matanya masih sedikit merah. Tapi ia tidak akan melewatkan hari ini dengan kesedihan. Ia akan melakukan pekerjaannya di dapur restoran. Walaupun mungkin itu terakhir kalinya ia bisa berdiri dengan kedua kakinya.
Luki Rafael sedang berfikir keras di ruang kerjanya. Jam sudah menunjukan pukul 12.00. Waktunya makan siang. Hatinya gelisah. Pikirannya dipenuhi wajah Laura. Dia masih belum bisa memutuskan soal hubungan adiknya dengan Niko.
Luki tidak suka menunggu. Jarum panjang di kantornya menunjuk angka satu, lima menit sudah berlalu. Luki berdiri dan berjalan keluar kantor. Dia memberitahu sekertarisnya bahawa dia akan keluar kantor sampai sore untuk urusan pribadi.
Dalam perjalanan menuju apartemen, Luki mengirim SMS pada Niko.
Temui aku di lapangan tenis apartemen.
Bawa raket tenismu. SEKARANG.
Sejam kemudian, Niko melihat Luki sedang memukul bola dari mesin pelempar. Niko tidak tahu mengapa Luki menyruhnya datang ke lapangan tenis tiba-tiba. Tapi dilihat dari pesannya, sepertinya penting sekali.
“Kau datang.” Uki berhenti memukul bola dan mematikan mesin pelempar bola.
“Kau memintaku datang.” Niko berjalan mendekati Luki.
“Kau bermain tenis, Niko?” uki memandang Niko dengan dingin.
“Kadang-kadang,” jawab Niko. Dia masih belum mengerti kenapa Luki menyuruhnya datang kemari.
“Ayo lawan aku.” Uki tidak membiarkan Niko merespon dan mulai melakukan servis bola ke arahnya. Niko secara refleks mengembalikan bola tenis yang dipukul Luki.
selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
salam hangat dari author
ardhy ansyah
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1