1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 43


__ADS_3

Walaupun sudah sukses dalam karirnya dengan dua toko perhiasan di paris dan satu di New York, Niko merasa ada yang kurang dalam hidup nya. Niko mencari-cari seseorang ketika menemukan nya, dia tersenyum.


“Niko,” sapa orang yang menyambut nya. “Selamat datang kembali. Bagaimana penerbangan mu.”


“Nyaman. Terima kasih, David.”


Niko bertemu Davit pertama kali tiga tahun yang lalu, ketika pemuda itu masih magang di Bardeux Jewelry. Niko menyukai karya-karya perhiasan yang dibuat nya. David pembuat perhiasan yang hebat. Karyanya tidak pernah mengecewakan Niko. Terutama model rancangannya. Mereka seakan mengerti satu sama lain. Jadi, ketika Niko membuka toko perhiasan di Paris, dia mengajak David. Dan kini, dua tahun kemudian, David sudah menjadi asisten pribadi sekaligus teman baiknya.


Sukses di tiga toko membuat Niko ingin membuka toko perhiasan di negerinya sendiri. Dan karena David juga sama-sama berasal dari indonesia, Niko mengajaknya serta.


“Semua perhiasan dari Paris sudah sampai di toko kita,” David memberi laporan sambil berjalan melewati kerumunan orang. “Kalau tidak ada halangan, kau bisa membuka tokomu secara resmi minggu depan. Mungkin bulan depan kita bisa mengadakan pameran perhiasan untuk mempromosikan NF Jewelry.”


Niko mengangguk setuju. “Usul yang bagus, David. Kau urus saja semua detailnya. Kalau sudah final, bErikan proposalnya padaku.”


Niko Fareli Jewelry pertama kali berdiri di Paris. Setelah dua tahun bekerja untuk Julien, Niko memutuskan untuk membuka usahanya sendiri. Dan Julien mendukung penuh usulnya itu. Julien yakin Niko bisa sukses. Dalam waktu singkat, Niko berhasil mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Dan dia memutuskan untuk membuka toko keduanya di Paris, lalu di New York dengan bantuan George Finley, yang kini sudah menjadi pemain teater hebat. Niko duduk di kursi teater paling depan ketika George memainkan peran pertamanya. Dengan relasi George dan ayahnya, toko Niko di New York bisa berkembang pesat.


“Sudah lama kau tidak kembali ke sini, bukan?” Tanya David. “Ya. Terakhir kali aku pulang ke sini ketika ada pesta reuni sekolahku.” Niko mengenang kesedihannya waktu itu karena Laura tidak datang.


David melanjutkan dengan rencana-rencana untuk meningkatkan penjualan toko baru Niko. Niko mendengarkan usul David dengan serius. Tiba-tiba pandangan mata Niko berhenti. Seorang gadis yang memakai gaun bermotif bunga membuatnya berhenti melangkah. Jantungnya berhenti sesaat. Niko menutup matanya, kemudian membukanya lagi. Wajah tersebut masih ada disana. Laura. Mungkin dia bermimpi, tapi dia ingin meraih wajah itu.


Niko melepaskan pegangan kopernya membuat David terkejut dan langsung berhenti berbicara lalu Niko berlari secepat mungkin di antara kerumunan orang banyak. “Laura!” Panggilnya pendek. Napasnya terengah-engah. Niko melihat gadis tersebut memasuki sebuah mobil hitam. Ketika Niko hendak mendekati mobil tersebut, bayangan gadis itu sudah menghilang di balik pintu mobil.


Mobil yang membawa gadis yang disangkanya Laura telah melesat pergi. Beberapa saat kemudian, David mendekatinya. “Niko, kau tidak apa-apa? Kenapa kau lari secepat itu?” David memandang Niko dengan bingung.

__ADS_1


“Aku rasa...aku melihat orang yang ku kenal. Jadi aku mengejarnya,” Niko menjelaskan terbatabata, masih kehabisan napas.


“Kau bertemu dengan orang itu?” Tanya David masih setengah bingung. Selama bekerja dengan Niko, tidak pernah sekalipun bosnya terlihat putus asa seperti saat ini.


Niko menggeleng. “Tidak.”


“Kau mau kubelikan minuman?” Usul David.


“Tidak usah.” Napas Niko sudah mulai teratur. “Mungkin aku salah melihat orang. Ayo kita pergi.”


David hanya mengangguk.


“Jadi, bagaimana bulan madu kedua kalian di Italia?” Beberapa kilometer dari bandara, dalam sebuah mobil hitam, Laura tersenyum pada papa dan mama.


Laura meringis. “Dia masih belum menyerah juga?” “Mama rasa tidak,” ujar mama sambil tertawa.


“Bagaimana restoranmu?” Kini giliran papa yang bertanya. “Kau tidak mengerjakan sesuatu yang terlalu melelahkan?”


Laura cemberut. Papa dan Antonio selalu mengkhawatirkan kesehatannya. Seakan-akan dirinya rapuh sekali. Padahal sudah satu tahu Laura dapat berjalan normal tanpa ada masalah. Di restoran, Laura tidak di izinkan berdiri lebih dari satu jam. Di rumah orang tuanya, papa selalu menyuruhnya duduk. Untunglah Laura tidak tinggal setiap hari disana. Kalau tidak, Laura bisa kesal karena bosan. Di rumah lamanya Laura bebas melakukan hal yang di inginkannya. Papa masih bersikeras Laura tinggal bersamanya. Tapi Laura tahu ia tidak akan betah tinggal di rumah besar yang punya banyak pembantu, hingga Laura tidak perlu mengerjakan satu pun pekerjaan rumah. Laura sudah terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri, jadi rasanya aneh kalau ada orang lain yang mengerjakannya untuknya.


Mama akhirnya berhasil meyakinkan papa bahwa Laura akan lebih bahagia tinggal dirumahnya sendiri. Akhirnya Laura berkompromi, setiap hari libur akan dihabiskannya di rumah orangtuanya, dan setiap hari kerja Laura akan tinggal di rumah lamanya.


Laura memandang papa lagi. Ia tahu papa benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Laura tersenyum. “Restoran tetap ramai. Aku menjaga diri baik-baik kok. Bagaimana tidak, kalau Antonio juga sudah seperti sipir penjara yang membentakku kalau aku kelamaan berdiri?”

__ADS_1


Papa mengangguk setuju. “Baguslah.”


“Malam ini kau tinggal bersama kami, kan?” Mama menggenggam tangan Laura setengah memohon. “Mama rindu padamu. Sudah dua minggu kita tidak bertemu.”


Laura tidak pernah bisa menolak permohonan mama. Ia mengangguk.


Mama tersenyum senang. “Mama akan menceritakan pengalaman mama selama di Italia.”


Laura mendengar mama bercerita panjang lebar sepanjanh perjalanan menuju rumah. Dalam hati Laura senang mama dan papa sudah kembali dengan selamat.


David menghentikan mobilnya di depan sebuah kompleks apartemen. “Apartemen Rafael terdiri atas empat gedung apartemen, dua kolam renang, sebuah spa, dan satu lapangan tenis terbuka.”


Niko mengeluarkan kopernya dari bagasi sambil mendengarkan penjelasan David. Sebenarnya Niko berencana membangun rumahnya sendiri, tapi belum mendapatkan lokasi yang strategis. Jadi untuk sementara waktu dia meminta David mencarikan apartemen.


“Terima kasih karena sudah mencarikanku apartemen, David.” Hari sudah malam dan Niko ingin beristirahat. Setelah mengunjungi tokonya, Niko merasa puas.


David mengangguk. “Ini kunci apartemennya. Kamarmu di gedung A , lantai empat belas. Mobilmu akan dikirim besok pagi.”


Niko mengambil kunci kamar dari tangan David. “Terima kasih lagi karena sudah mengurus semuanya.”


“Sama-sama,bos.” David tersenyum sambil masuk ke mobil. Niko sudah tidak sabar untuk mandi lalu istirahat. Pintu lift terbuka dan Niko masuk. Di lantai dua, pintu lift terbuka lagi, seorang pria masuk. Pria tersebut memandang koper Niko. “Kau orang baru?”


Fb@ardhy ansyah

__ADS_1


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2