1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 34


__ADS_3

Luki tersenyum melihat kepercayaan diri Laura, tapi sebentar lagi dia akan menghancurkannya. “Bisakah kau membukakan kotak makanannya?”


Laura membuka kotak makanannya dan menyodorkan garpu ke hadapan Luki, setengah berharap garpu tersebut bisa menusuk jantung pria itu. Tapi Laura menggantinya dengan tersenyum manis. (“Ingatlah,Laura,”) katanya dalam hati, (“dia adalah pelanggan”).


Luki mencoba mencicipi spageti Laura, tapi kemudian meletakkan garpu. “Ehm... aku rasa sebaiknya aku pindah lagi ke menu A. Jadi sebaiknya kau menyiapkan lagi menu A untuk besok pagi. Waktu yang sama. Sebelum jam delapan.”


Laura memandang Luki dengan tenang. Luki kebingungan dengan tatapan Laura padanya. “Kau bisa keluar dari ruanganku sekarang. Sampai jumpa besok.”


Laura berdiri dan mengambil satu-persatu kotak makanan dari tas yang dibawanya tadi dan meletakkannya di depan Luki. Totalnya berjumlah sembilan kotak makanan. Laura membuka semua tutup kotak tersebut dan menunjuk tiga kotak paling kiri. “Menu A.” Lalu menunjuk tiga kotak selanjutnya. “Menu C.” Terakhir dia menunjuk tiga kotak paling kanan. “Menu D. Kau bisa mencoba semua menu hari ini juga.”


Luki tercengang. Dia tidak menyangka Laura bisa menyiapkan semua menu dalam waktu yang singkat.


Laura tersenyum penuh kemenangan melihat tampang Luki yang terdiam. “Kau sudah mencicipi menu B. Silahkan mencicipi tiga menu yang lain..... Aku sudah bilang kan, aku chef hebat?” Laura mengambil garpu baru dari tasnya dan menyodorkannya pada Luki. “Aku tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan bahan makanan untuk tiga ratus karyawan yang tinggal dua hari lagi. Kalau kau tidak keberatan, aku mau kau memutuskan menunya hari ini juga.”


Luki mengambil garpu baru dari tangan Laura. Kali ini dia mengaku kalah pada gadis di depannya. Setelah mencicipi semua menu, Luki memutuskan untuk memilih menu A.


Laura mengeluarkan selembar kertas. “Aku mau kau menandatangani kertas ini.”


“Apa ini?” Tanya Luki sambil mengambil kertas dari mejanya.


“Perjanjian kerjasama antara perusahaanmu dan restoranku. Di situ tertulis kau sudah memilih menu A dan tidak akan mengubah pilihanmu lagi. Kalau kau mengubahnya sehari sebelum pesta, perusahaanmu yang menanggung semua ganti ruginya.”


Luki membaca perjanjian tersebut. Dia sudah meremehkan kemampuan Laura. Kali ini dia kalah telak dari seorang gadis. Luki mengambil balpoinnya dari meja dan menandatangani perjanjian tersebut.


Laura memberikan satu salinan untuk Luki dan mengambil satunya lagi untuk dirinya. “Terima kasih.”


Laura membereskan kotak makanan di meja Luki dan merapikannya kembali ke dalam tasnya. Sebelum Laura pergi, Luki berkata, “aku terlalu meremehkan dirimu bukan?”


“Aku tidak menyukai permainanmu, Luki,” kata Laura serius. “Aku menyukai pekerjaanku. Aku tidak akan bermain-main dengan pekerjaanku. Sampai ketemu dua hari lagi.”


Laura meninggalkan Luki yang menatap pintu kantornya lama setelah itu.

__ADS_1


LAURA mencoba mengangkat panci spageti ke ruangan hotel. Pesta karyawan Rafael akan dimulai satu jam lagi. Semua makanan sudah sampai di hotel, tinggal menata penyajiannya di meja.


“Biar mama bantu,” kata mama sambil meraih pagangan panci satunya lagi.


“Terima kasih, ma?” Kata Laura mulai menata masakannya. Dia melihat mama membantu pelayan yang lain. Mama bilang dia bosan kalau kerjanya hanya menjahit dirumah. Jadi setiap kali Laura bertugas menyiapkan katering, mama pasti membantunya. Mama bilang ia senang bisa bekerja dengan putrinya.


Spanduk pesta mulai dipasang. Dan beberapa detik kemudian suara piring pecah terdengar. Konsentrasi Laura langsung buyar. Ia melihat mama tertegun memandang spanduk dan tidak menyadari piring yang berada di tangannya sudah berada di lantai.


Laura menyuruh seorang pelayan lain membersihkannya, lalu berjalan mendekati mama. “Mama, mama tidak apa-apa?”


Mama tersadar kembali. “Maaf, mama menjatuhkan piringnya.”


“Tidak apa-apa, ma.” Laura cemas melihat gelagat mamanya yang tidak seperti biasanya. “Mama tidak apa-apa? Kalau mama tidak enak badan, sebaiknya mama beristirahat dan pulang saja.”


“Pesta ini...” mama memegang kedua tangan putrinya dengan erat. “Untuk... karyawan Rafael?”


Laura mengangguk bingung. “Ya. Benar. Pesta untuk karyawan Rafael group. Ada apa,ma?”


Pegangan tangan mama semakin erat. “Kau pernah bertemu dengan direkturnya?”


Charles Rafael. Ada apa, ma? Muka mama pucat sekali. Sebaiknya mama pulang dulu.”


“Laura...,” kata mama terbata-bata, “...ehm... kau benar.... sebaiknya mama pulang saja.”


Tiba-tiba dari belakang mereka seorang pria berseru. “Helen?”


Mama sama terkejutnya. “Charles?”


Laura melihat mama kemudian om Charles. “Kalian saling kenal?”


“Mama ingin pulang sekarang,” kata mama pada Laura dengan panik.

__ADS_1


“Baiklah.” Laura masih bingung dengan sikap mamanya, tapi ia memutuskan untuk menuruti kemauan mama. “Robi, tolong gantikan aku.”


Laura menuntun mama keluar dari hotel.


“Helen, tunggu!” Teriak Charles. Tapi sebuah tangan menahan kepergiannya.


“Jangan ikuti, pa,” kata Luki sambil mengenggam tangan papanya. “Biarkan mereka pergi. Ingat, pa. Ada banyak karyawan yang memperhatikan kita. Kita tidak ingin mereka tahu tentang masa lalu papa, kan?”


Papa melepaskan tangan putranya. “Baiklah. Tapi setelah pesta ini usai, papa akan menemuinya.”


Luki terdiam kesal. Masa lalu akan berbenturan kembali dengan masa sekarang.


Sepanjang perjalanan pulang, Laura melihat mama terdiam seribu bahasa. Sesampainya dirumah, rasa penasaran Laura semakin memuncak. “Aku tidak pernah melihat mama panik seperti tadi. Ada apa sebenarnya, ma? Kenapa mama bisa mengenal om Charles?”


Mama menyuruh putrinya duduk. “Mama rasa sudah saatnya kau mengetahui yang sebenarnya.” “Mengetahui apa?” Tanya Laura bingung.


“Tentang ayahmu.” Mama menggenggam tangan putrinya. “Sewaktu kau kecil, mama sudah berjanji akan memberitahukan tentang ayahmu kalau kau sudah besar nanti. Dua tahun yang lalu, ketika mama ingin memberitahumu, kau bilang kau tidak ingin tahu. Apakah kau ingat.”


Laura mengingatnya dengan jelas. “Aku tidak ingin tahu siapa ayahku. Mama terlihat sedih setiap kali mengingatnya. Aku lebih memilih hidup bersama mama. Aku memilih untuk tidak mengetahui siapa ayahku karena selamanya mama adalah ayah sekaligus ibuku. Aku tidak butuh yang lainnya.”


Mama tersenyum sendu. “Saat itu, mama merasa sedikit lega karena tidak perlu bercerita tentang ayahmu. Tapi setelah hari ini, kau berhak mengetahui yang sebenarnya. Karena cepat atau lambat, kau pasti tahu juga.”


“Tentang ayahku.” Laura mengangguk mengerti.


“Mama akan menceritakan semuanya dari awal.” Mama berusaha tersenyum di depan putrinya. “Ayahku Charles Rafael, bukan?” Laura memandang mama tanpa ragu.


selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas


salam hangat dari author


ardhy ansyah

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2