1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 44


__ADS_3

Niko menatap pria tersebut. “Ya. Baru saja masuk hari ini.” Niko mengulurkan tangan mengajak berkenalan. “Niko Fareli, tinggal di lantai empat belas.”


Pria itu menyambut jabat tangannya. “Kamarku di lantai teratas. Lantai lima belas. Namaku Luki Rafael.”


“Oh, kau pemilik apartemen ini, bukan?”


Luki tersenyum. “Sebenarnya ayahku pemiliknya. Cobalah spa nya kapan-kapan. Benar-benar bisa membuatmu rileks. Ada di lantai dua.”


Niko mengangguk. “Aku akan mencobanya.”


Luki mengawasi pria di hadapannya dengan antusiasme tinggi. Dua lantai teratas merupakan kamar apartemen dengan biaya sewa termahal. “Jadi, apa pekerjaanmu?” Niko tertawa. “Apakah kau mewawancarai setiap penghuni apartemenmu?” “Hanya yang membuatku penasaran,” jawab Luki tanpa merasa bersalah.


“Aku memiliki toko perhiasan,” jelas Niko. “NF Jewelry. Tokoku akan buka minggu depan. Datanglah kalau kau ada waktu.”


“Aku pernah mendengar nama NF Jewelry sebelum ini. Di Paris kalau tidak salah,” kata Luki sambil berusaha mengingat.


“Kau benar. Aku punya dua toko perhiasan disana,” kata Niko.


Luki terkesan. “Tertarik untuk bergabung dengan Rafael group dan membuka toko perhiasan di hotelku?”


Niko menyadari keseriusan perkataan pria di depannya, tapi dengan halus usul itu di tolaknya. “Maaf, untuk sementara aku belum berminat bekerja sama dengan orang lain.”


Menari sekali, pikir Luki. Belum pernah ada orang yang menolak bekerja sama dengan Rafael Group. Luki mengeluarkan kartu namanya. “Hubungi aku kalau kau berubah pikiran. Boleh kuminta kartu namamu?”


Mereka pun bertukar kartu nama. Pintu lift terbuka di lantai 14.


“Lantaimu,” kata Luki. “Senang bertemu dengan mu, Niko.”


“Senang bertemu denganmu juga, Luki.”


“Steik ini enak sekali.” Laura mengunyah makanannya dengan perlahan. “Menurutmu aku bisa meminta chefnya membErikan resepnya padaku?”


Luki menatap Laura sambil tertawa. “Aku akan coba memintanya.”


“Aku hanya bercanda, Luki.” Laura motong steiknya lagi. Mereka sedang makan malam berdua di restoran yang baru dibuka. Biasanya Luki yang datang ke restoran Laura untuk numpang makan, tapi kali ini Luki ingin membawa Laura mencoba suasana baru di restoran selain restorannya. Dan perkataan pertama yang keluar dari mulut Laura adalah resep masakan yang sedang di makannya.


“Empat hari lagi kau berulang tahun, kan?” Tanya Luki. “Kau ingin hadiah apa?” “Aku tidak ingin hadiah apa-apa,” jawab Laura.


“Tahun lalu kau juga berkata yang sama. Dan aku menurutimu. Tapi tahun ini aku ingin memberimu hadiah.”

__ADS_1


“Luki....”


Luki sudah keburu menyelanya, “aku tidak pernah memberimu hadiah.” Luki menatap wajah Laura dengan sunguh-sungguh. “Aku ingin memberimu sesuatu yang kau sukai. Sesuatu yang benar-benar kau inginkan.”


Laura meletakkan garpu dan pisau yang di pegangnya. “Oh, Luki. Aku tidak bermaksud menolak hadiah darimu. Hanya saja,aku sudah memiliki apa yang aku inginkan. Aku punya kau, papa, dan mama.”


Luki mendesah. “Apa kau tidak ingin sesuatu? Tiket jalan-jalan? Mobil?”


Laura tertawa. “Jangan konyol. Aku tidak bisa mengendarai mobil.”


“Pasti ada sesuatu yang kau inginkan. Wanita biasanya suka apa ya? Ehm..... oh ya, perhiasan. Bagaimana kalau perhiasan?”


Perkataan Luki membuat Laura terdiam sesaat. “Perhiasan?” Tanyanya perlahan.


Luki mengangguk.


Laura teringat pada rancangan perhiasan bertahun-tahun lalu. “Baiklah. Kalau begitu aku ingin sebentuk cincin bintang.”


Luki tertawa senang. “Aku akan memberimu sebentuk cincin bintang paling bagus yang pernah kau lihat.”


“Terima kasih,” kata Laura.


Toko NF Jewelry berada di pusat kota. Luki menghentikan mobilnya di sebuah gedung tiga lantai di kawasa eksklusif.


“Selamat pagi,” balas Luki.


Rancangan interior toko perhiasan Niko benar-benar menarik. Beberapa lemari kaca memperlihatkan model perhiasan terbaru. Di tengah-tengah ruangan terdapat puluhan meja kaca yang berjejer rapi membentuk beberapa lingkaran. Masing-masing lingkaran mewakili jenis perhiasannya. Kalung, cincin, gelang, dan anting-anting. Luki merasa seperti berada di dunia lain. Dunia perhiasan yang penuh gemerlap.


Luki menemui salah seorang pramuniaga pria yang berdiri di belakang meja kaca yang menampilkan berbagai cincin menarik. “ selamat pagi, pak. Nama saya Surya. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang pramuniaga ramah.


Luki melihat cincin-cincin yang di pajang di dalam meja. “Ehm....sebenarnya saya ingin membuat rancangan cincin sendiri. Apakah kau bisa memanggil Niko? Saya ingin menemuinya.”


“Boleh saya tahu nama bapak?” Tanya Surya sambil mengangkat telepon.


“Luki Rafael.”


“Mohon di tunggu ya pak.” Surya menekan beberapa tombol dan berbicara dengan seseorang.


“Bos saya akan turun sebentar lagi,” katanya sambil menutup telepon.

__ADS_1


“Terima kasih, Surya.”


Tak lama kemudian,Luki melihat Niko menuruni tangga.


“Hai, Luki,” sapa Niko ramah. “Kau datang.”


“Ya. Tokomu benar-benar menawan,” puji Luki.


“Thanks,” sahut Niko. “Kau ingin membeli perhiasan?”


“Sebenarnya aku ingin membeli cincin,” kata Luki. “Tapi aku ingin cincinnya di rancang dari awal. Aku ingin cincin yang baru. Yang belum pernah ada sebelumnya. Apakah kau bisa melakukannya?”


“Aku bisa melakukannya.” Niko menatap Luki dengan tenang. “Tapi harganya pasti lebih mahal daripada cincin yang sudah ada. Kau tidak keberatan?”


Luki menggeleng. “Harga bukan masalah.”


Niko lalu mengajak Luki kelantai atas, tempat kantornya berada. Niko mengeluarkan selembar kertas gambar dan mengambil pensilnya. “Jadi, cincin seperti apa yang kau inginkan?”


Luki tidak menyangka Niko bisa merancang juga. “Aku ingin sebentuk cincin bintang,” ungkap Luki kemudian.


Niko menjatuhkan pensilnya. “Sebentuk cincin bintang?”


“Ya,” jawab Luki sambil mengangguk. “Apakah ada masalah?”


Niko tersenyum dan menggeleng. “Tidak. Tentu saja tidak ada masalah. Kau ingin detailnya seperti apa?”


“Ehm.....mungkin sebuah bintang di tengah-tengah cincin dengan sebuah berlian di dalamnya,” Luki memberi penjelasan.


Setelah mendengar deskripsi Luki, Niko mulai menggambar dengan serius. Luki memperhatikan pria di depannya dengan tertarik. Seorang pemilik toko sekaligus perancang perhiasan. Sebuah kombinasi yang jarang di temuinya.


Beberapa saat kemudian, Niko meletakan pensilnya. “Ini masih sketsa kasar. Kalau kau menyukainya, aku bisa merancangnya di program komputerku dan mengirim hasilnya ke alamat e-mailmu. Jika ada perubahan, kau tinggal meneleponku dan aku akan mengubahnya.” Niko membErikan gambarnya pada Luki.


Luki terdiam. Rancangan gambar Niko benar-benar bagus. Niko menggambar sebuah berlian yang di kelilingi lima sudut bintang. “Ini sudah bagus. Aku menyukainya.”


“Kalau begitu, nanti aku tinggal mengirim gambar terakhirnya ke alamat e-mailmu. Jika tidak ada masalah lagi, aku akan langsung mengerjakannya.” Niko menyimpan gambar cincin tersebut di mejanya.


“Bisakah kau mengerjakannya dalam waktu tiga hari?” Tanya Luki. “Aku ingin membErikannya pada seseorang di hari ulang tahunnya.”


Niko mengerti. “Kalau kau sudah menyetujui sketsa terakhir, aku bisa mengerjakannya dalam tiga hari.”

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2