
Laura pulang paling akhir. Ia mengunci pintu restoran dan hendak berjalan pulang ketika ia melihat Niko di depan restoran sedang berdiri bersandar di pintu mobilnya.
“Mau aku antar pulang?” tawar Niko sambil tersenyum.
“Tidak perlu,” jawab Laura ketus. “Rumahku dekat.”
Laura melangkah pergi melewati Niko. Dari belakang nya ia mendengar mesin mobil di nyalakan. Mobil Niko melaju berdampingan dengan langkah nya. Laura melihat ke arah Niko dengan kesal. Ketika ia berhenti melangkah, Niko juga menghentikan mobil nya. Laura tidak bisa menyembunyikan kekesalannya dan menatap Niko dengan cemberut. Niko hanya tertawa melihat tampang Laura.
Sampai di depan rumahnya, Laura mengambil kunci pintu pagar dari tasnya. Mobil di belakangnya berhenti. Suara langkah kaki mendekatinya. Kekesalan Laura sudah sampai puncaknya.”Sampai kapan kau mau mengikutiku terus?”
“Sampai kau bersedia menerimaku,” jawab Niko sederhana.
“Aku sudah bilang aku punya pria yang kusukai.”
“Kau belum menikah dengannya. Jadi aku masih punya kesempatan.” Niko tersenyum penuh rahasia. Dia mengantongi kertas bertuliskan “JANGAN MENYERAH” di saku bajunya. Setelah tahu Laura selalu membawanya selama delapan tahun ini,Niko yakin Laura masih menyukainya.
“Aku tidak bisa menerimamu, Niko. Sampai kapan pun,” katanya serius. “ Hubungan di antara kita sudah berakhir. Kenapa kau tidak bisa menerimanya?”
Niko hendak mengeluarkan kertas di sakunya, tapi Laura berkata lagi.
“Aku tidak mau menyakitimu, Niko. Tapi,bertemu denganmu benar-benar membuatku sedih. Tidakkah kau ingin melihatku bahagia? Aku benar-benar menyukaimu delapan tahun yang lalu. Ketika kita berpisah sebelum acara wisuda, aku benar-benar patah hati. Aku tidak bisa menjalani hal itu lagi. Aku sudah mencoba melupakanmu selama delapan tahun ini. Sekarang aku memiliki kehidupan baru, akhirnya aku mendapatkan kedamaian. Dan tiba-tiba kau muncul lagi. Aku benar-benar memohon padamu. Tolong, jangan ganggu aku lagi!”
Niko berjalan mendekat. Matanya memandang Laura lurus-lurus. “Apakah kau sakit hati sekarang? Ketika melihatku?” Laura mengangguk.
“Apakah aku membuat hidupmu merana?” tanya Niko lagi.
Laura mengangguk lagi.
Hati Niko dipenuhi kepedihan. “Ada satu hal yang paling ku sesali selama delapan tahun ini. Aku tidak memercayaimu delapan tahun yang lalu. Aku berharap aku bisa memutarbalikkan waktu dan memilih untuk memercayaimu, tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Aku menghabiskan delapan tahun hidupku menyesalinya. Tapi aku juga menyadari selama delapan tahun itu bahwa aku menyukaimu. Terus-menerus tanpa henti. Walaupun kau tidak di sisiku.”
__ADS_1
Laura menahan perasaan di hatinya. “Itu semua tidak mengubah apa pun, Niko. Aku bukanlah Laura yabg kau kenal delapan tahun yang lalu. Tolong lepaskan aku. Jangan temui aku lagi.”
“Apakah itu yang benar-benar kau inginkan?” tanya Niko dengan tatapan merana.
Laura menguatkan hatinya. “ya”.
Niko menatap wajah Laura. Dia mengingat musim-musim yang sudah di laluinya di New York dan Paris. Melihat dedaunan berubah warna setiap tahunnya. Bayangan Laura selalu menghantuinya.
Laura memasuki pagar rumahnya. “Jadi, kau akan melepaskanku,bukan?”
Niko mendekati Laura. “Aku akan melepaskanmu pergi...” Laura merasa lega. Tapi kelegaan itu hanya sesaat.
“Hanya jika seribu musim sudah berlalu,” lanjut Niko.
(“Jangan lakukan ini padaku,Niko”), kata Laura dalam hati. Niko memandangnya tanpa berkedip. (“dia tidak akan menyerah”).”Kalau begitu,”ucap Laura, “ aku akan menghabiskan seribu musim berikutnya menolakmu dan mengusirmu pergi. Selamat tinggal, Niko.”
Laura berlari memasuki rumahnya. Setelah merasa aman di balik pintu,ia menangis. Kakinya terasa lemas. Ia terjatuh ke lantai.
Niko memasuki mobilnya. Dia menyalakan mesin mobil dan pergi dari rumah Laura. Sepanjang perjalanan,tatapan sedih Laura terbayang di benaknya. Niko tidak ingin Laura bersedih. Laura belum melupakannya, dia yakin tentang yang satu ini. Dan walaupun Laura tidak mengatakannya, Niko yakin Laura masih menyukainya. Pasti ada hal lain yang menyebabkan Laura selalu memintanya pergi. Laura mengatakan dia menyukai seseorang. Luki Rafael. Niko tidak mau menyerah darinya.
Niko tahu tidak sepantasnya di merebut kekasih pria lain. Tapi dia tidak bisa menipu perasaanya sendiri. Lagi pula, Luki pernah mengatakan sewaktu Niko merancang cincin bintang pesanannya, bahwa Laura yang meminta agar cincin tersebut berbentuk bintang. Kenapa Laura meminta cincin bintang kalau bukan untuk mengingatkan Laura akan dirinya? Niko tahu Laura benarbenar terpesona dengan karya cincin bintangnya. Luki Rafael tidak tahu kenapa Laura meminta cincin bintang darinya.Luki pasti tidak akan senang kalau tahu Laura memikirkan pria lain saat meminta cincin tersebut darinya.
Niko tersenyum. (“Bagaimana mungkin aku melupakan Laura kalau Laura sendiri belum melupakanku?”)
KEESOKAN harinya, Niko mengunjungi Restoran Antonio lagi. Maya yang menemuinya.
“Laura tidak masuk hari ini. Dia mengambil cuti,” katanya. “Pulanglah.” “Sampai kapan?” tanya Niko penasaran.
Maya sedikit kasihan melihat Niko yang terus-menerus memperhatikan pintu dapur. Berharap Laura keluar dari sana. Niko sudah menunggu selama berjam-jam.Akhirnya Maya bersimpati dan mendekatinya untuk memberitahukan bahwa Laura tidak masuk. “Mungkin sampai minggu depan.” Maya menatap pria di depannya dengan simpati. “Pulanglah. Kembalilah minggu depan.”
__ADS_1
Niko membayar pesanannya dan keluar dari restorannya. Laura benar-benar menjauhinya. Niko mengambil handphone nya.
“Luki Rafael,” kata suara diujung telepon.
“Luki,ini Niko,” Niko menelepon dari balik kemudi. “kau ingat tentang tawaran kerja sama yang pernah kau utarakan sewaktu kita pertama kali bertemu?”
“Ya.Tentu saja,” jawab Luki.
Niko menatap kegelapan malam. “Aku menyetujui tawaranmu.”
Luki terdengar senang. “Aku senang kau menyetujuinya.”
“Kapan kita akan bertemu untuk membahas soal kerja sama ini?” tanya Niko.
“Aku ada acara keluarga besok malam,” kata Luki. “Bagaimana kalau sorenya saja? Di restoran apartemen?”
“Baiklah,” kata Niko. “Sampai jumpa besok sore.”
Keesokan sorenya, Luki bertemu Niko di restoran apartemen. “Jadi, apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Luki penasaran.
*(Laura)* Niko tersenyum. “Aku suka hotelmu. Aku sudah melihatnya. Aku bisa membuat rancangan perhiasan khusus hotelmu. Aku juga ingin membuka cabang tokoku di hotelmu.” Luki menatap Niko tajam. “Kau benar-benar sudah memikirkannya.”
“Tentu saja.”
“Kau punya dua toko di paris, satu di New York, dan sekarang di sini.” Luki menjabarkan apa yang diketahuinya tentang bisnis Niko. “Keuntunganmu tahun lalu meningkat sangat tajam,bukan?” Luki tidak pernah berbisinis tanpa mengenal calon rekan bisnisnya.
Niko tersenyum. “Tapi tidak sampai setengah dari keuntungan yang di dapat Rafael Group bulan ini.”
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123