1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 37


__ADS_3

Luki mengambil dompet dari saku celananya dan membayar minumannya. Suasana hati nya masih kacau, tapi dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Dia memasuki mobilnya yang di parkir di depan pub,dan baru hendak menyalakan mobilnya saat mobil lain menabrak bagian pinggir kanan belakang mobilnya.


Hatinya makin kesal. Dia keluar dari mobil. “Kau tidak melihat mobilku?!” Bentaknya. “Lampu mobilku sampai penyok begini. Ayo ganti rugi!”


Si pengemudi mobil lain yang berwajah bengis balas membentak. “Enak saja. Mobilku rusak. Kau yang ganti rugi!”


Luki tahu orang tersebut yang bersalah. Mesin mobilnya sama sekali belum dinyalakan. Melihat tampang orang tersebut yang menyeramkan dengan tato disekujur tubuh, kebanyakan orang akan takut. Tapi Luki tidak takut, karena dia yakin dia tidak bersalah.


“Mobilmu yang menabrakku. Aku bahkan belum menyalakan mesin mobilku. Kalau kau mau cari peekara, lebih baik kita selesaikan dengan bantuan polisi saja,” Luki menantang orang tersebut.


Si pria bertato kesal setengah mati. “Apa kau tidak tahu siapa aku?”


Teman si pria bertato yang berada didalam mobil keluar, dan dua teman lainnya yang mengendarai sepeda motor mendekat.


“Aku tidak peduli kau siapa. Kau menabrak mobilku. Kau harus membayar ganti rugi,” Luki bersikukuh. Suasana hatinya yang jelek semakin bertambah parah dengan kejadian ini.


Si pria bertato tertawa tertawa pendek. “Kau harus tahu siapa aku. Aku ketua preman daerah sini. Kau pasti punya uang. Mobilmu bagus begitu. Kau pasti orang kaya. Kau akan membayar ganti rugi untuk mobilku. Sekarang juga.”


Luki menatap sang ketua preman dengan kesal. “Aku tidak akanembayar sepeser pun pada orang brengsek sepertimu.”

__ADS_1


“Kau berani menghinaku?” Tanya sang ketua preman kesal. Anak buahnya mulai mengambil ancang-ancang untuku mendukunh bosnya.


Luki melihat orang-orang di depannya.(“empat lawan satu”) katanya dalam hati sambil memgepalkan kedua tangan.(“aku pernah mengalami perkelahian yang lebih buruk. Mungkin aku bisa mengeluarkan semua amarahku dalam perkelahian kali ini. Bagus juga. Sudah lama aku tidak berkelahi)”.


Sang ketua preman menyerang Luki lebih dulu. Luki menunduk menghindari tinju yang mengarah ke mukanya, lalu menyerang balik dengan menjotos hidung si ketua preman sampai berdarah. Anak buah si ketua preman kaget, dan langsung maju melawan Luki. Tapi ketiganya bernasib sama. Luki menggerakkan kepala untuk meregangkan ototnya.


Melihat perkelahian di pinggir jalan, orang-orang berhenti untuk mengerumuni daerah sekitar pub. Manajer pub keluar dan mulai menelepon kantor polisi. Saat ke empat preman tersebut berdiri kembali, mereka terpaksa mundur. Sudah terlalu banyak orang yang melihat mereka. Sebentar lagi polisi pasti datang.


Luki kembali ke mobilnya dan menyalakannya. Sesaat sebelum pergi dari pub, dia memundurkan mobilnya dan menabrak bagian depan mobil si ketua preman,lalu malambaikan tangannya dari pintu kaca mobil.


Si ketua preman kesal bukan main melihat tingkah Luki. Dia menyuruh salah seorang anak buahnya yang mempunyai sepeda motor mengikuti Luki dari belakang.


“Ikuti dia,” teriak si ketua preman pada anak buahnya. “Jangan sampai lepas! Aku ingin tahu dimana orang brengsek itu tinggal. Dia akan menyesal nanti karena telah menghina dan menghajarku. Tidak seorangpun yang boleh luput dari amarahku. Pergi!!!” Si anak buah langsung mengikuti perintah bosnya.


Laura menyayangkan ketidak hadiran Luki, tapi ia juga tahu Luki butuh waktu untuk menerima mereka sebagai keluarga. Laura hanya berharap waktu tersebut tidak terlalu lama. Mungkin malam ini ia bisa membujuk mama untuk tidur dengannya dikamar ini. Di waktu-waktu mendatang kemungkinan besar mama akan sibuk oleh papa. Saat Laura bangkit dari tempat tidur mama, tanpa sengaja tangannya menyenggol sebuah kotak cokelat. Isi kotak tersebut berceceran keluar.


Laura mengambili kartu-kartu yang tercecer di lantai. Tangannya berhenti setelah mengambil beberapa kartu. Pandangannya terfokus pada salah satu kartu ucapan yang terbuka amplopnya. Dengan penasaran Laura membuka kartu tersebut. Ternyata sebuah kartu ulang tahun dengan gambar badut dan balon yang menghiasi depannya. Ketika melihat isinya, Laura tertegun. Selesai membaca satu kartu itu, Laura mengambil kartu yang lain dan membacanya. Tak berapa lama kemudian semua kartu sudah dibacanya.


Laura merapikan semua kartu tersebut, meletakkannya kembali ke dalam kotak dan membawa kotak tersebut keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Luki menyalakan lampu ruang tamu apartemennya. Sore tadi dia sudah mendapatkan hasil tes DNA Laura. Dia belum membukanya. Dia tidak bisa menghentikan rasa gundah yang bersemayam di hatinya sejak hasil tes itu berada ditangannya.


Setelah memandangi amplop cokelat tersebut beberapa saat, Luki akhirnya merobek amplop tersebut dan melihat hasilnya. Dia perlu tahu apakah Laura benar-benar putri kandung ayahnya. Kalau bukan, Luki akan melakukan segala cara untuk membuat Laura dan ibunya tidak pernah bertemu dengan papa dan dirinya lagi. Tapi kalau iya....itulah masalahnya. Luki tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Tak berapa lama kemudian dia meremas hasil tes tersebut. Ketakutan terburuknya sudah terbukti. Laura anak kandung papanya. Adik tirinya.


Bel pintu apartemennya berbunyi. Luki berdiri dan membukakan pintu. Wajah si adik tiri muncul di sana. “Mau apa kau kemari lagi?” Tanyanya kesal. Sudah beberapa hari ini Laura selalu berusaha menemuinya. Sekeras apa pun Luki mengusirnya, Laura selalu kembali lagi keesokan harinya.


“Boleh aku masuk?” Laura menatap mata kakaknya dengan sungguh-sungguh.


Luki menggeleng. “Tidak.” Tangan Luki bersiap-siap menutup pintunya lagi, tapi Laura menghentikan nya. “Dengarkan aku dulu. Aku ingin memberimu sesuatu. Setelah itu aku akan pergi.”


Luki tersenyum kecut. “Apa yang mau kau bErikan? Masakanmu? Supaya aku bisa menerimamu sebagai adikku?”


Laura membErikan kotak cokelat di tangannya pada Luki. “Bukalah dan baca kartu-kartu di dalamnya. Mamaku menyayangimu. Dia tidak pernah melupakanmu. Setiap tahun mama membeli kartu ulang tahun untukmu. Beri mamaku kesempatan untuk menyayangiku sekarang. Buat mamaku menjadi keluargamu.” Air mata Laura mengalir di pipi.


Luki tidak tersentuh. Dia mengambil kotak cokelat tersebut dari tangan Laura. “Baik, aku sudah mengambilnya. Sekarang kau pergi. Aku tidak mau melihatmu lagi.”


Pintu apartemen ditutup. Laura berjalan lemas. Ia menekan tombol lift dengan perlahan. Tak lama kemudian lift tersebut membawa nya kelantai bawah.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2