
“Laura, telepon untukmu!” Teriak Maya kearah dapur restoran.
Hari masih pagi. Sebentar lagi restoran akan buka. Laura berjalan menuju ruang makan restoran. “Dari siapa?” Tanya Laura pada Maya.
“Katanya dari Niko,” kata Maya.
Hati Laura tersentak sekali. *(“bagaimana Niko tahu aku bekerja di sini?”)*
Memohon pada Maya untuk tidak menerima telepon selanjutnya dari orang yang sama. Maya mengernyitkan dahi karena bingung. “Kenapa?” Tanyanya.
“Dia seseorang dari masa laluku yang tidak ingin aku ingat kembali,” kata Laura. “Tolong bantu aku ya,mbak.”
Lagi pula, Laura tidak mengerti mengapa Niko meneleponnya. Ia kira aksi pura-pura tidak mengenalnya sudah cukup untuk membuat Niko tidak mendekatinya lagi. Bukankah dia sudah punya Erika? Mengapa dia masih harus mengganggunya?
Maya melihat kegalauan sikap Laura dan mengangguk. “Aku akan mengatakan bahwa kau sibuk.”
“Thanks, mbak.” Laura kembali ke dapur.
Maya mengangkat telepon dan memberitahu Niko bahwa Laura sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu. Di ujung telepon, Niko sedikit kecewa. “Baiklah kalau begitu,nanti saya telepon lagi. Terima kasih.”
Niko melihat situs Restoran Antonio dari komputernya. Sebuah restoran Italia di pinggiran kota. Sudah berdiri selama lebih dari sepuluh tahun. Di kenal sebagai salah satu restoran Italia yang di rekomendasi oleh para kritikus makanan. Niko melihat galeri foto di situs utama restoran. Pandangannya jatuh pada gambar dapur restoran. Dia membayangkan Laura sedang bekerja di sana dan tersenyum.
Sore harinya, Niko menelepon lagi. Dia ditolak kembali. Kali ini dengan alasan Laura sudah pulang.
Esok harinya, Niko mencoba menelepon lebih awal. Jawabannya masih tetap sama. Laura sibuk. Laura sudah pulang. Laura tidak berada di restoran. Atau Laura sedang rapat.
Pada hari ke empat Niko mengambil kesimpulan Laura tidak ingin menerima telepon darinya. “Apakah Laura sibuk?” Tanyanya di telepon pada hari kelima. Dia ingin memastikan sekali lagi.
Suara di ujung telepon terdengar mendesah. “Saya tidak mau berbohong lagi.” Katanya. “Maaf. Tapi bisakah anda tidak menelepon ke sini lagi? Laura tidak ingin berbicara dengan anda.”
Dugaan Niko benar. Laura tidak mau berbicara padanya. Laura ingin menghindarinya. “Baiklah. Terima kasih atas perhatian anda selama ini,” kata Niko sambil menutup teleponnya.
Niko menatap cincin bintang di mejanya. *(“kalau Laura tidak mau menemuiku,aku yang akan menemuinya”)* tekadnya. *(“masa penantian sudah berakhir. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi”)*.
Niko menelepon David. Tak berapa lama kemudian David datang ke kantornya.
__ADS_1
“Kau memanggilku, Niko?” Tanyanya. Niko mengangguk. “Aku butuh bantuanmu.” “Tentu,” kata David.
Niko tersenyum lalu memjelaskan seperti apa bantuan yang di perlukannya.
Maya memastikan segala sesuatunya sudah sempurna. Meja untuk dua orang. Cahaya lilin di sekeliling meja. Sekuntum mawar merah di tengah meja. Hari ini restorannya mendapat pesanan pribadi. Ada seseorang yang menyewa seluruh restoran untuk jam makan malam. Maya sudah sering melakukan hal yang serupa. Beberapa kali restorannya di sewa untuk acara pribadi ataupun untuk acara lamaran.
Karena sang penyewa memesan untuk dua orang, Maya menyimpulkan malam ini akan ada acara lamaran. Matanya menerawang.
“Apa yang mbak pikirkan?” Tanya Laura ketika memasuki restoran dan mendapati Maya sedang tersenyum sendiri.
“Aku memikirkan setiap lamaran pernikahan yang terjadi di restoran ini. Sangat romantis rasanya jika seorang pria menyewa seluruh restoran dan meminta seorang wanita menikahinya. Seandainya saja suamiku orang yang romantis.” Maya mendesah.
Laura tersenyum. Ia sudah sering di undang makan malam bersama Maya dan keluarganya. Roni,suami Maya,seorang pialang saham. Walaupun sudah menikah lama, mereka belum dikaruniai keturunan. Itulah sebabnya Maya sudah menganggap Laura sebagai putrinya. Setelah beberapa kali bertemu dengan Roni, Laura tahu pria itu bukan pria romantis. Tetapi tatapan mereka,cara mereka menyentuh tangan satu sama lain, Laura melihat cinta yang besar di sana.
“Suami mbak memang bukan orang yang romantis,” komentar Laura. “Tapi dia benar-benar mencintai mbak. Kalau mbak mau,aku bisa memasak untuk mbak dan mas Roni besok malam. Mbak tidak perlu menyewa restoran. Kapanpun mbak mau,restoran ini akan selalu tersedia untuk mbak.”
Maya tersenyum. “Thanks, Laura. Kau tidak perlu melakaukannya. Tapi usulmu boleh juga.
Kapan-kapan aku akan berbicara pada Roni.”
“Apakah menurutmu pengaturannya sudah sempurna?” Tanya Maya.
Laura melihat hasil kerja Maya. “Ya. Sangat sempurna. Aku yakin sang wanita pasti tidak akan bisa menolak lamaran sang pria. Aku harus ke dapur untuk mempersiapkan bahan makanan.”
Sejam berikutnya, Lauta sudah siap menerima pesanan. Maya masuk dengan wajah murung. “Ada apa?” Tanya Laura bingung.
“Aku rasa sang pria sudah tercampakkan. Sang wanita tidak datang ke restoran.” Maya mendesah. “Dasar pria malang.”
Laura ikut sedih. “Oh. Menyedihkan sekali.”
Maya mengangguk setuju. “Tapi dia tetap memesan makanan.”
“Aku akan memasak seenak mungkin. Semoga saja masakanku bisa menghiburnya. Apa pesanannya?” Tanya Laura.
“Chicken spaghetti.”
__ADS_1
“Cuma itu?” Tanya Laura bingung.
“Iya. Aku juga sudah menyarankan menu lain,tapi pria itu Cuma ingin chicken spaghetti.”
“Tidak apa-apa. Aku akan tetap memasak chicken spaghetti yang enak.” Setengah jam kemudian Maya kembali ke dapur.
“Apakah ada masalah dengan spaghetinya?” Tanya Laura.
“Pria itu ingin menemui orang yang memasak makanannya.”
Laura melepaskan celemeknya dan melangkah keluar dapur. “Oke. Aku akan menemuinya.”
Laura mendorong pintu dapur. Langkahnya berhenti saat melihat pria yang duduk di meja tengah. Pria itu berdiri lalu berjalan ke kursi di seberangnya. Dia menggeser kursi tersebut. “Silahkan duduk,Laura,” ujarnya.
Laura memandang sepasang mata cokelat yang memintanya untuk duduk. Niko. Dia yang telah menyewa restoran Antonio. Laura menarik napas panjang. Cepat atau lambat ia harus menghadapi Niko. Laura melangkah maju dan duduk di kursi.
Niko duduk di hadapannya.
“Rasa chicken spaghetti mu semakin lezat,” komentar Niko.
“Menyewa restoran tempatku bekerja rasanya terlalu berlebihan,bukan?” Tanya Laura sedikit kesal.
Niko menghadapi Laura dengan tenang. “Aku sudah mencoba meneleponmu,tapi kau tidak pernah menerimanya. Aku tidak tahu nomor telepon pribadimu. Ini satu-satunya cara agar aku bisa bertemu denganmu tanpa gangguan.” Laura terdiam.
“Jadi, kau sudah jadi seorang chef pasta sekarang.” Kata Niko lagi sambil tersenyum.
“Dan kau sudah menjadi perancang perhiasan,” balas Laura.
“Terima kasih,Laura. Terima kasih karena kau telah menyerahkan gambar rancangan perhiasanku pada Julien. Kau telah membantuku mengejar impianku.”
“Apakah itu alasanmu ingin berbicara denganku? Kalau begitu aku menerima ucapan terima kasihmu,” tegas Laura.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1