
Laura tertawa. “Kau tidak perlu merasa tidak enak. Aku menyukaimu sebagai seorang teman.”
Sam bernapas lega. “Untunglah. Aku tidak keberatan kalau kau mau pergi.”
“Kenapa kita harus pergi? Luki kan sudah membayar semua nya? Mari kita pesan makanan yang paling mahal. Kau tidak keberatan, kan? Tanya Laura sambil tersenyum puas.
“Aku tidak keberatan,” kata Sam balas tersenyum.
Sambil menunggu pesanan, kedua nya mengobrol ringan.
“Jadi, Sam, berapa lama kau mengenal Luki?” Tanya Laura ingin tahu.
“Sejak kuliah, mungkin sudah enam atau tujuh tahun. Kami sama-sama kuliah di Harvard. Dia masuk bisnis dan aku masuk hukum.”
Laura sedikit kaget. “Luki masuk Harvard? Aku benar-benar tidak menyangka. Luki jarang berbicara tentang dirinya sendiri padaku.”
“Ya. Luki lebih suka berbicara tentang orang lain.” Sam menuangkan minuman ke gelas Laura.
“Aku rasa Luki masuk Harvard hanya untuk menantang om Charles.”
Laura mengangguk. “Ya. Itu lebuh masuk akal. Aku tidak pernah membayangkan Luki duduk diam di ruang kuliah dan mendengarkan penjelasan dosen.”
Sam tertawa.
“Wanita yang kau sukai,apakah dia cantik?” Ujar Laura mengalihkan pembicaraan.
Sam mengangguk. Selama satu jam kemudian Laura mengetahui segalanya tentang wanita yang disukai Sam.
“Hm.... kau benar-benar pendengar yang baik Laura,” ujar Sam di akhir penjelasan. “Benar-benar nyaman rasanya berbicara denganmu. Mungkin seharusnya kau yang jadi pengacara. Aku rasa semua pelaku kejahatan bisa langsung mengaku. Tampangmu yang tenang itu sangat cocok berada di ruang pengadilan.”
Laura tertawa. “Rasanya tidak. Aku lebih suka menjadi juru masak dari pada harus keluar masuk pengadilan.”
“Yah. Makanan buatanmu benar-benar lezat. Aku sudah mencobanya sewaktu Rafael Group mengadakan acara. Kau bisa membuat seorang pria betah tinggal dirumah Laura,” Sam memujinya. “Kau wanita yang istimewa. Aku yakin ada seorang pria istimewa juga untukmu di luar sana.”
Laura terdiam sesaat. “Aku tidak tahu. Aku harap begitu.”
Sam menditeksi keraguan jawaban Laura, dan sebagai pengacara yang piawai dia tahu bila seseorang mencoba menyembunyikan sesuatu. “Maaf kalau aku bertanya yang sedikit pribadi. Laura, apakah kau pernah patah hati?”
__ADS_1
Pertanyaan Sam kena sasaran. “Seharusnya aku tahu, aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari pengacara.” Laura tersenyum singkat. “Tapi untuk menjawab pertanyaanmu.... ya. Aku pernah memgalaminya.”
“Kau masih belum melupakannya?” Tanya Sam lagi.
“Aku tidak tahu,” jawab Laura jujur. “Aku sudah mencobanya selama bertahun-tahun.
Seandainya saja patah hati punya batas waktu.”
Sam memandangi Laura dengan sendu. “Aku pernah patah hati sekali. Benar-benar butuh waktu untuk melupakannya. Tapi, saat kau hanya mengingat kenangan yang indah dengannya dan kau tidak merindukannya lagi,saat itu patah hatimu sudah berakhir. Jadi saranku, ingatlah kenangan yang indah, kemudian perlahan-lahan lupakanlah dia.”
Laura terharu mendengar perkataan Sam. “Terima kasih, Sam. Aku akan mencoba saranmu. Benar-benar menyenangkan berbicara denganmu.”
“Ya. Aku juga merasakan hal yang sama. Apakah kita bisa terus berteman baik?” Tanya Sam.
Laura mengangguk. “Tentu saja. Dan sekarang sebagai teman baikku, aku ingin minta bantuan darimu.”
Sam mengernyit keheranan.
Luki Rafael bersiul gembira di apartemennya. Dia sudah mengenal Sam sejak lama dan tahu Sam pria yang baik dan perhatian. Laura akan menyukainya. Kalau rencananya malam ini membuahkan hasil, Laura akan sangat berbahagia mendapatkan kekasih baru. Dan siapa tahu, tahun depan mereka bisa melanjutkannya ke pelaminan.
Hp nya berbunyi. Dari Laura. Luki tersenyum. “Jadi, bagaimana kencan romantisnya?”
Laura berkata dengan tenang dari ujung telepon, “oh. Kencannya baik-baik saja.” Luki sudah mendendangkan lagu pernikahan di kepalanya.
“Sam pria yang baik. Kau tidak akan menyesal bersamanya.”
“Aku tahu dia pria baik,” kata Laura lagi. Luki menyeringai. “Hanya saja kau melupakan satu hal kecil. Sam sudah punya wanita yang disukainya.”
Luki langsung terduduk. “Apa? Sejak kapan Sam punya pacar?”
“Sejak minggu lalu,” ungkap Laura. “Dia memang belum memberitahu siapa pun.”
Luki merasa bersalah. “Maaf,Laura. Aku benar-benar tidak tahu.” “Aku tidak mau di jodoh-jodohkan lagi,” Laura mengancam.
“Tapi,Laura.....,” sanggah Luki.
Laura mengancam lagi, “kalau kau masih melakukannya, aku akan bilang pada papa dan mama apa yang kau lakukan di las vegas setelah kau lulus kuliah.”
__ADS_1
Luki panik. “Bagaimana kau bisa tahu tentang itu?” Luki terdiam, lalu melanjutkan, “Sam. Pasti dia. Tolong, Laura, jangan bilang papa dan mama soal itu.”
“Aku tidak akan bilang kalau kau berhenti menjodohkanku,” tegas Laura.
“Baiklah,” Luki mendesah panjang. “Aku tidak percaya aku dikalahkan lagi olehmu.”
Tak berapa lama setelah teleponnya ditutup, telepon apartemen Luki berbunyi. Kali ini giliran Sam yang mendampratnya habis-habisan. Rencana Luki hancur berantakan. Setelahnya Luki berpikir lama. Dia ingin Laura mendapatkan kebahagian. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu hari nanti. Luki hanya memerlukan ide lain untuk memastikan hal itu terjadi.
Laura menatap kertas di tangannya. NF Jewelry. Ia melihat nama tersebut terpampang di depan sebuah gedung. Ia menyuruh sopir taksi berhenti. Luki bilang dia punya kejutan untuknya dan ingin Laura melihatnya langsung. Pintu masuk terbuka, Laura berhenti melangkah. Dia tidak pernah melihat ruangan luas dan berkilau seperti yang ia masuki sekarang.
Luki menatapnya sambil tersenyum dari tengah ruangan dan menyuruhnya mendekat. “Kenapa kau memintaku bertemu di sini?” Tanya Laura setelah berada di samping Luki.
“Aku ingin memberimu sesuatu.” Luki membErikan sebuah kotak cincin ke hadapan Laura. “Bukalah.”
Laura membuka kotak cincin tersebut. “Oh.....Luki....” Laura tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Cincin bintang di depannya benar-benar indah.
“Kau menyukainya?” Luki bertanya penuh harap.
“Benar-benar indah. Aku menyukainya.” Laura masih belum bisa melepaskan tatapannya dari cincin itu. “Terima kasih.”
“Kau bilang kau ingin sebuah cincin bintang. Selamat ulang tahun.” Luki mengeluarkan cincin tersebut dari kotaknya dan memasukkannya ke jari tengah Laura.
Laura merentangkan telapak tangan kirinya. Cincin tersebut sangat pas di jarinya. Ia menyentuhnya dengan lembut.
“Aku sudah tidak sabar ingin memperlihatkannya padamu. Jadi aku memintamu kemari.” Luki memegang tangan kiri Laura dan mengangkatnya supaya cincin tersebut menghadap ke arahnya.
“David, terima kasih kau sudah membuat cincin ini,” kata Luki pada pria disampingnya.
“Sama-sama,” kata David. Melihat pelanggannya senang membuat hatinya senang juga.
Laura menatap David. “Kau yang merancangnya? Kau benar-benar hebat.”
David menggeleng. “Bukan saya yang merancangnya. Saya hanya membuat cincinnya. Bos saya yang merancangnya. Ah... itu dia.”
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1