1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 42


__ADS_3

Laura cemberut. “Masa Cuma lima? Dua puluh masakan perhari.”


Antonio menggeleng. “Tidak. Tidak ada tawar-menawar.”


“Sepuluh saja,oke?” Kata Laura ngotot. “Sepuluh masakan perhari. Dan setelah sembuh total,aku mau bekerja penuh.”


Antonio tampak berpikir panjang. “Hm..... tujuh saja. Dan setelah sembuh kau boleh bekerja penuh, tapi hanya empat hari dalam seminggu. Tiga hari lainnya kau libur.”


“Oke,” Laura menyetujui dengan cepat. “Aku juga ingin menghabiskan waktu libur bersama keluargaku. Sekarang aku ingin makan masakan buatanmu, Antonio. Selama empat bulan ini aku makan masakan rumah sakit yang benar-benar hambar. Sekarang aku ingin makan enak,” katanya sambil tersenyum lebar.


“Aku akan menyiapkan makanan yang enak untukmu,” Antonio tersenyum lalu masuk ke dapur.


Melihat Laura tersenyum senang, Luki merasa lega. Dia tahu betapa sulit terapi yang dijalani Laura. Tapi Laura tidak pernah sekalipun mengeluh kesakitan padanya. Dalam waktu empat bulan, hati Luki dipenuhi dua wanita istimewa. Helen dan Laura. Luki berbaikan kembali dengan papa. Dan untuk pertama kalinya, Luki merasakan kekuatan kasih sayang keluarga.


Bulan demi bulan berlalu. Terapi fisik yang dijalani Laura berjalan lancar. Pada akhir bulan ketujuh, Laura sudah bisa berjalan perlahan-lahan tanpa bantuan besi penyangga. Dokter Riswan ingin Laura menginap selama dua hari untuk menjalani pemeriksaan tubuh secara keseluruhan sebagai tahap akhir dari proses terapi fisiknya. Kalau hasil pemeriksaan Laura bagus, bisa dipastikan Laura bisa kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa.


“Laura.” Luki masuk membawa termos panas. “Aku membawakan sesuatu untukmu.”


Laura mendesah. Luki menemaninya hampir setiap hari. Bukannya Laura tidak senang, tapi dia tahu ada alasan penting mengapa Luki melakukannya. Rasa bersalah Luki belum juga hilang, padahal sudah berulang kali Laura bilang ia tidak pernah menyalahkannya bahkan, tertangkapnya Dragon, orang yang menabraknya, dan hukuman penjara selama lima belas tahun pun masih belum membuat Luki berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


Luki membuka termos di tangannya. “Aku membuatnya sendiri.”

__ADS_1


Laura menatap kakaknya dengan sedikit kesal. “Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain mengujungiku terus? Aku yakin kerjaanmu menumpuk di perusahaan.”


“Tidak ada hal yang lebih penting dari pada merawatmu,” kata Luki sungguh-sungguh. “Lagi pula, aku kan punya banyak asisten. Biarkan saja mereka yang mengerjakan tugasku.”


“Aku dengar dari papa, kau berjanji untuk bekerja padanya selama satu tahun.” Laura memegang tangan Luki. “Tolong pikirkan ulang. Papa membutuhkanmu di perusahaan. Papa benar-benar bangga padamu. Selama satu tahun ini, papa bilang kau punya banyak ide bagus untuk kemajuan perusahaan.”


“Baiklah. Kalau kau ingin aku tetap bekerja di perusahaan papa, aku akan melakukannya,” Luki berjanji.


Laura menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau kau melakukannya karena aku. Aku mau kau melakukannya karena dirimu sendiri. Tidakkah kau ingin memajukan usaha yang dirintis papa?”


“Kau benar.” Luki duduk disamping tempat tidur Laura. “Aku akan mempertimbangkannya baikbaik. Sekarang, ayo minum kopi buatanku. Aku benar-benar membuatnya khusus untukmu.” “Kopi?” Laura menelan ludah. Luki tidak tahu bahwa Laura tidak suka kopi. Laura tidak bisa memberitahu Luki soal ketidaksukaannya. Laura tidak tega membuat Luki kecewa. Apalagi Luki membuat kopi itu khusus untuknya. Itu hanya akan membuat rasa bersalahnya bertambah lagi.


Luki menunduk, lalu menatap Laura. “Kau benar-benar wanita yang hebat, Laura. Aku berjanji tidak akan merasa bersalah lagi setelah hari ini.” “Bagus.” Laura tersenyum senang.


“Aku tidak pernah dikalahkan oleh seorang wanita sebelumnya.” Luki memandang Laura sambil mengingat pertemuan pertama mereka. “Kau mengalahkanku dengan telak saat membuatku terkejut dengan membawa semua jenis menu makanan ke hadapanku. Tapi aku tidak heran. Hanya seorang Rafael yang bisa mengalahkan Rafael lainnya, bukan?”


Laura tersenyum. “Ya, kau benar. Aku bahkan menyebutmu si pria menyebalkan berulang kali dalam hati. Kini kau sudah berubah menjadi kakak yang hebat.”


Laura menarik napas panjang dan bersiap-siap meminum kopi buatan Luki. Mungkin kalau menahan napasnya sambil meminum kopi, ia tidak akan menghirup baunya dan tidak akan memuntahkannya. Laura mengambil gelas di hadapannya dan meminumnya perlahan-lahan. Laura berpikir untunglah dia berada dirumah sakit. Ia bisa meminta obat anti mual sesudahnya.


Luki menatap Laura yang meminum kopi buatannya. Perlahan-lahan perasaan bersalah pada adiknya mulai berkurang.

__ADS_1


“Aku sudah meminum kopimu.” Laura barharap perutnya bisa bertahan sesaat. “Sekarang aku mau istirahat dulu. Kau pulanglah.”


Luki mengangguk. “Aku akan kembali lagi besok. Kau istirahatlah.”


Setelah Luki keluar dari kamarnya, Laura segera menekan tombol untuk memanggil suster dan meminta obat anti mual. Beberapa saat kemudian setelah perutnya merasa baikan, Laura perlahan-lahan mengangkat baju rumah sakitnya. Ia melihat parutan luka mengErikan sepanjang paha hingga lututnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun. Laura menangis terisak-isak. Ia merasa ada satu bagian dalam dirinya yang tidak bisa kembali lagi. Ia telah cacat. Dan bekas luka itu akan menjadi sebuah tanda yang tidak akan hilang selamanya.


(“Hanya untuk satu hari ini saja”), janjinya dalam hati. (“Biarkan aku menangisi lukaku hari ini”).


Pada hari ketika Laura bisa berjalan dengan normal, orangtuanya menikah ulang. Luki dan Laura menjadi saksi mereka dalam perayaan pernikahan sederhana orang tua mereka. Laura memandang mama yang tampak cantik dengan gaun putih. Ia tersenyum senang. Mama berhak mendapatkan kebahagiaannya. Sedangkan untuk dirinya, keluarga barunya dan pekerjaan memasaknya sudah membuatnya senang. Itu saja sudah cukup.


Bagian lima (pertemuan kembali) Laura 26 tahun. Niko 26.5 tahun.


NIKO FARELI keluar dari pintu kedatangan bandara sambil menghela napas panjang. Sudah hampir empat tahun sejak terakhir kali dia pulang ke tanah air. Kali ini dia pulang untuk menetap.


Tangan Niko menarik koper. Dia mengenakan jas hitam dengan kemeja biru gelap dan kacamata hitam. Tapi begitu melihat matahari sore negerinya, dia melepaskan kacamata yang dipakainya. Setelah hampir delapan tahun berpindah-pindah negeri dan berganti-ganti musim, Niko merindukan hawa panas Indonesia.


Seorang pramugari yang lewat di sampingnya tersenyum padanya. Niko balas tersenyum. Ke mana pun Niko pergi, selalu ada wanita yang tersenyum dan mengaguminya. Niko mengagumi kecantikan paras pramugari tersebut, tetapi selalu ada sesuatu yang kurang. Hatinya tidak tergerak. Selama delapan tahun ini dia belum bertemu seorang wanita pun yang bisa membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat, kemudian berdegup kencang.


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2