
Laura baru saja kembali dari acara belanjanya di supermarket. Saat membuka pintu apartemen Luki, kaki kanannya tiba-tiba kram. Laura menjatuhkan belanjaanya. Ia menyeret kaki kanannya perlahan dan berusaha duduk. Dikeluarkannya pil penahan sakitnya dari tas. Karena amat sangat kesakitan, ia langsung menelan dua butir. Setelah itu ia berbaring di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian matanya terasa berat. Beberapa menit berikunya ia sudah tertidur di sofa.
Niko hendak membunyikan bel apartemen Luki, saat melihat pintunya sudah terbuka. Pagi ini dia sudah melihat proposal kerja sama yang diajukan Luki. Dia sudah membuat beberapa perubahan dan akan mendiskusikannya dengan Luki di apartemennya.
Niko masuk ke apartemen Luki. “Luki?” katanya perlahan. Tak ada jawaban, tapu Niko melihat Laura tertidur di sofa ruang tamu. Getaran di saku celananya membuat Niko mengambil ia mengambil telepon genggamnya. Pesan masuj dari Luki.
Maaf. Hari ini pertemuannya batal. Ada masalah yang harus ku tangani di perusahaan. Aku akan menghubungimu lagi.
Luki.
Niko membalas pesan masuk tersebut dengan singkat. Dia melihat kantong belanjaan di tengah ruangan. Dia mengambilnya dan menaruh di meja dapur. Lalu tatapannya beralih pada Laura yang tertidur di sofa.
Niko berjalan mendekati Laura, lalu duduk di meja kayu ruang tamu. Ditatapnya lekat-lekat. Laura tertidur dengan nyaman.
Niko tersenyum perlahan, tangannya merapikan rambut di kening Laura. Di telusurinya alis, hidung, dan bibir Laura dengan telunjuknya. Tangan Niko bergerak turun dan menyentuh tangan Laura. Sebentuk cincin bintang menghiasi jari tengah tangan kiri gadis itu. Cincin bintang rancangannya. Niko menyentuh perlahan jemari Laura dengan jemarinya.
Niko memandangi Laura tertidur selama beberapa lama. Setelah itu ia membungkuk dan mengecup kening Laura. “Semoga kau mimpi indah, Laura.”
Niko keluar dari apartemen Luki dan menutup pintu apartemennya tanpa menimbulkan suara. Niko tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya. Dia tertawa lebar selama mengemudikan mobil ke toko perhiasan.
Hari sudah mulai larut malam Luki pulang ke apartemen. Hatinya merasa lega. Dia menangani masalah salah satu anak perusahaan Rafael dengan baik, dan papa memuji solusinya.
Ketika memasuki ruang apartemennya yang gelap, Luki sedikit bingung. Dia tahu hari ini Laura tidak masuk kerja. Seharusnya Laura berada di apartemennya. Tapi kenapa lampu apartemennya mati?
Luki hendak menyalakan lampu ruang tamu saat melihat Laura tidur di sofa. Rupanya Laura ketiduran. Luki mendekati Laura lalu mengangkatnya dari sofa dan menidurinya di kamar tidur tamu.
__ADS_1
Luki hendak berbalik pergi ke kamarnya saat mendengar suara Laura mengigau.
“Niko...” katanya perlahan.
Luki terduduk di sisi ranjang Laura dan mendesah, “kau belum melupakannya, bukan?” Ujarnya perlahan. “Aku rasa kau masih menyukainya.”
Luki termenung. Dia berpikir keras. Dia tahu mengapa Laura tidak mau kembali pada Niko. Sebagian karena rasa takut. Sebagian lagi karena Laura merasa tidak pantas berasa di sisi Niko. Apalagi setelah kecelakaan yang dialami Laura. Gara-gara dirinya. Luki sudah berhenti menyalahkan dirinya sendiri sejak lama. Laura telah memberinya kekuatan untuk mengatasi rasa bersalahnya. Laura mengatakan Luki tidak bisa mengetahui dan mengendalikan apa yang terjadi pada masa depan.
Laura benar. Luki menatap adiknya yang sedang tidur. Sebuah ide muncul di benaknya. Dia tersenyum pada Laura.
Keesokan paginya, Laura membuka matanya perlahan. Ia melihat jam di meja kamar tidurnya. Sudah jam delapan. Hal terakhir yang diingat Laura adalah kemarin sore saat ia menjatuhkan belanjaannya. Luki pasti membawa nya ke kamar tidur. Laura tidak pernah tidur senyenyak ini.
Pasti karena obat antisakit yang diminumnya kemarin.
Laura bergegas mandi. Hari ini ia masuk kerja.
“Oh iya.” Laura menggeleng. “Aku sudah lupa hari ini hari apa. Aku harus pergi ke restoran”.
Luki menggiring Laura ke ruang makan. “sarapan dulu. Baru pergi kerja.” “Tapi...”
Luki menggeleng. “Tidak ada tapi-tapian. Kau harus sarapan sampai kenyang.”
Laura mengalah. “Baiklah”. Ia mulai mengambil roti panggang yang ada di meja makan dan memakannya.
Akibatnya, Laura terlambat sampai di restorannya. Tapi Antonio dan para staf memakluminya.
__ADS_1
Restoran masih sepi saat Laura datang. Saat jam makan sianh, Laura sibuk bekerja di dapur. Sesekali Antonio mengomeli dan menyeretnya keluar dari dapur untuk beristirahat.
Ketika Laura kembali ke apartemennya, hari sudah menjelang sore. Malam nanti restorannya akan sibuk. Biasanya malam minggu memang malam yang paling sibuk.
Laura ingin beristirahat sejenak di apartemen melepas rasa penatnya. Dan setibanya disana ia lihat Luki baru keluar dari kamar mandi.
“Kau tidak bepergian?” tanya Laura. Luki menggeleng. “aku baru saja bermain tenis di lapangan bawah”.
“Malam ini aku pasti sibuk,” kata Laura. “Kau tidak perlu menungguku pulang. Tidur saja duluan. Aku pasti pulang malam sekali.” “Oke” kata Luki.
Laura mengambil susu dingin dari kulkas dan menawarinya pada Luki. Ketika Luki melihat tangan kiri Laura, Luki bertanya, “Laura, kau tidak mengenakan cincinmu?”
Laura melihat jari tengah tangan kirinya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali melepas cincin Luki dari tangannya. Laura langsung berlari ke kamar mandi dan mengecek apakah cincinnya ada di sana. Setelah keluar, ia berkata “aku mungkin meninggalkan cincinku di restoran. Biasanya aku suka melepas cincinku kalau sedang mencuci tangan. Jangan khawatir Luki. Aku pasti menemukannya kembali.”
Luki tersenyum. “Aku yakin kau pasti menemukannya”.
Dalam hati Laura sedikit panik. Ia benar-benar lupa kapan terakhir kali memakai cincinnya. Ia memang sering melepas cincin tersebut kalau sedang mandi dan mencuci tangan. Kalau tidak ada di apartemen, Laura yakin pasti ada di restoran.
Malamnya, di restoran, Laura Makin panik. Ia tidak bisa menemukan cincin Luki dimana-mana. Ia sudah meminta tolong pada teman-teman kerjanya untuk mencarinya. Mereka mencari cincin Laura di seluruh restoran. Tapi cincin tersebut tetap tidak ditemukan. Bahkan ada beberapa pelayan yang mencari di jalanan luar restoran, tapi tetap tanpa hasil. “Aku tidak boleh menghilangkan cincin uki,” kata Laura panik pada Maya.
Maya berusaha menenangkannya. “Mungkin masih ada di apartemen uki. Kau sudah mencarinya di kamarmu?” Laura menggeleng.
“Nah, tenangkan dirimu. Cincin pemberian uki pasti ada disana.” Maya tersenyum.
Maya benar, Laura tidak boleh panik. Laura tahu cincin itu sangat berarti bagi Luki. Pemberian pertamanya. Dan ia sudah berjanji akan mengenakannya setiap hari. Luki pasti sedih kalau ia menghilangkannya. Tapi sekarang ia tidak bisa memikirkan hal itu. Ada banyak pesanan untuk restorannya. Laura akan mencari cincinnya di kamar apartemen Luki. Ia yakin cincin itu pasti ada di sana.
__ADS_1
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123