
Niko maju selangkah dan mengulurkan tangannya utk menyalami kenalan papanya. ''Selamat siang, dokter Eko. Senang bisa bertemu dgn anda disini.''
''Panggil om saja,'' kata dokter Eko sambil tersenyum hangat.
''Om sudah berkeliling di bazar sekolah kami?'' tanya Niko balas tersenyum.
Dokter eko mengangguk. ''Belum sempat. Tapi sepertinya benar-2 ramai ya. Om dengar dr orangtuamu tahun ini kau mau masuk universitas Om.'' Niko hanya tersenyum tipis. ''Om dengar dr papamu,'' lanjut dokter eko lagi, ''Kau ketua Osis, bukan?'' Niko mengangguk. ''Bagus, bagus,'' kata dokter Eko terkesan.
''Dia jg ketua tim basket, Om,'' Erika menambahkan.
''Tampaknya selain nilai akademismu yg cemerlang, prestasi di bidang lain jg tidak kalah bagusnya.'' Dokter Eko tampak terkesan dgn kepribadian Niko, baik dalam akademis walaupun non akademis. ''Om yakin kau bisa mengalahkan prestasi papamu di universitas nanti''.
''Kalau utk mengalahkan prestasi papa, saya tdk yakin. Tapi setidaknya saya akan berusaha menyamai prestasi papa'', jawab Niko berusaha diplomatis.
Dokter Eko tersenyum pd papa Niko, ''Putramu ini benar-2 hebat.''
__ADS_1
Papa Niko tersenyum bangga. ''Saya mohon bimbingannya saat Niko sudah masuk universitas nanti.''
Dokter Eko mengangguk. ''Tentu saja, murid berbakat seperti dia pasti akan berhasil.'' tanpa sengaja tatapan dokter Eko beralih ke gambar di belakang Laura. ''Kau jg suka melukis?''
Niko mangangguk, ''Iya, om''
''Cuma hobi kok,'' sela papa Niko.
''Gambarmu bagus, Niko'', kata dokter Eko lagi sambil perlahan menepuk pundak Niko. ''Kau benar-2 berbakat.''
Niko tersenyum tulus. ''Terima kasih, om.''
Mama Niko tersenyum. ''Ide yg bagus, Pa. Dokter Eko, mari saya antar berkeliling sekolah.'' Seperginya mama Niko dan dokter Eko, papa Niko tidak bisa menahan emosinya.
''Papa kira kau sudah membuang gambar-2 itu. Ternyata kau masih berani melukis. Berapa kali papa bilang, jangan pernah melukis gambar-2 perhiasan lagi. Sekarang bukan saja kau tetap melukis, kau berani memamerkanya pd semua orang. Apakah ini artinya kau menatang papa?''
__ADS_1
Niko terdiam getir. Disebelahnya, Laura kaget mendengar amarah papa Niko. Ia tidak menyangka usulnya utk menampilkan karya-2 Niko malah berakhir dgn pertengkaran antara anak dan ayah. Laura sungguh-2 tdk berharap demikian.
Tanpa memandang papanya, Niko mendekati gambarnya dan mencabutnya dari dinding satu persatu. Setelah selesai dia berbalik ke arah papanya dan berkata, ''Aku tdk akan melukis lagi. Apakah papa puas sekarang?''
Papa Niko memandang putranya sambil menegaskan, ''Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi.'' setelah berkata demikian, papa Niko beranjak pergi dari aula utk menyusul istrinya.
Laura memandang kejadian itu dgn perasaan sakit. Sakit yg tak terkira. ''Maaf Niko...,'' ucapnya perlahan, ''Ini semua gara-2 usulku''.
Niko memandang Laura dgn sedih. ''Bukan salahmu.''
''Apa''?! Teriak Erika, memandang Laura dgn marah. ''Semua gara-2 kau, Laura! Kau benar-2 keterlaluan. Apakah kau sadar kalau kau baru saja membuat Niko dan papanya bertengkar?''
''Maafkan aku,'' kata Laura sedih. ''Aku tdk bermaksud demikian.''
Erika menatap Laura tajam. ''Jangan pernah ikut campur urusan Niko lagi. Kalau kau masih berani melakukannya, aku akan...''
__ADS_1
Dukung terus yah guys😉
Jangan pelit² kasih Like. Komen. sama Vote nya.kan cuma kasih itu.gak bakalan hilang kok kecantikan kalian yang hakiki itu😊