1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 39


__ADS_3

Luki meneguk bir yang dibukanya setengah jam yang lalu. Setelah membaca semua kartu ulang tahun untuknya, dia memerlukan minuman. Mungkin besok dia harus berbicara dengan ibu tirinya.


Luki mendesah. Perasaanya tidak tenang. Dia meletakkan birnya. Dia bangkit dari kursinya, lalu masuk ke kamarnya dan mengambil kunci mobil. Dia tidak akan menunda sampai besok. Hari ini juga dia ingin berbicara dengan ibu tirinya.


Sesampainya di depan mobilnya, Luki mengernyit heran. Ada selembar kertas putih di sana. Luki membuka kertas tersebut. Ain kali tidak hanya pacarmu yang akan mengalami *kecelakaan*. Anggap saja ini peringatan karena kau telah berani menantangku.


Dragon.


Luki meremas kertas tersebut. Dia tidak mengerti apa maksudnya. (“Pacar? Aku tidak punya pacar. Jadi, siapa yang dia maksud?”) Pikir Luki. Saat hendak masuk ke mobilnya, Luki baru tersadar. Minggu lalu, dia memukul seorang preman bertato naga. Napas Luki berhenti.


Tiba-tiba handphone Luki berbunyi. Ada telepon masuk. Luki mengangkatnya.


“Luki!” Teriak papa panik. “Laura kecelakaan. Sekarang papa dan Helen sedang dalam perjalanan ke rumah sakit pusat.”


Luki menghentikan mobilnya tiba-tiba. Laura. Laura yang dimaksud Dragon.


Napasnya terengah-engah. Dia merasakan hal yang sama seperti saat ibunya meninggal. Kekosongan dan kesedihan. Dia memaksa pikirannya untuk tetap fokus dan mengendarai mobilnya secepat mungkin menuju rumah sakit.


Dokter Sandra berusaha menenangkan Charles Rafael dan Helen yang sedang panik.


“Putri anda sedang berada di ruang operasi,” dokter Sandra menjelaskan dengan tenang. “Dokter Riswan adalah dokter bedah ortopedi terbaik di rumah sakit ini. Beliau akan berusaha menyelamatkan putri anda.


Dokter Sandra melihat mama Laura menangis, sedangkan Charles Rafael memeluk pundak istrinya tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.


“Terima kasih, dokter.” Charles Rafael berusaha tersenyum.


“Saya akan kembali kalau ada kabar selanjutnya. Anda berdua harus tabah,” dokter Sandra berusaha menenangkan.


“Terima kasih....”, ucap Helen perlahan.

__ADS_1


Dokter Sandra tersenyum, lalu pergi meninggalkan keduanya. Sepuluh menit kemudian, Luki melihat papa dan ibu tirinya menangis.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Luki panik.


Papa menjelaskan,” Laura sedang di operasi. Masih harus menunggu kabar selanjutnya.


Luki terduduk lemas disamping ibu tirinya. Jam demi jam berlalu tanpa kabar. Papa bolak-balik di depan pintu ruang operasi dengan tidak sabar. Ibu tirinya, setelah menangis selama dua jam, kini berhenti, dan terdiam seakan tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun.


Luki mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Dia telah melakukan ini pada Laura. Semua ini kesalahannya, karena dia terlalu sombong dan tidak memedulikan perasaan orang lain. Aksinya menghajar seorang preman telah berbuah kecelakaan tragis. Pada adiknya. Yang selama beberapa hari ini berusaha membujuk Luki untuk menerima ibunya.


Dan selama itu pula, Luki menolaknya tanpa peduli pada perasaan Laura. Kini, adiknya terbaring di meja operasi. Nyawanya terancam. Luki tidak ingin perkataan terakhir mereka ditandai dengan kemarahan. (“Kau harus hidup, Laura”) pintanya dalam hati.(“aku ingin kau memaafkanku. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku hanya ingin kau hidup”).


Lampu ruang operasi telah dipadamkan. Seorang dokter keluar dari pintu ruang operasi.


“Bagaimana keadaan putri saya, dokter?” Charles langsung bertanya. Helen bangkit dari kursinya dan menghampiri dokter yang mengoperasi Laura.


“Saat ini keadaan putri anda stabil,” dokter Riswan menjelaskan dengan tenang.


“Saya sudah melakukan operasi untuk memperbaiki kerusakan kaki kanannya,” kata dokter Riswan lagi. “Saya perlu melihat perkembangan kaki kanan putri anda beberapa hari lagi. Kalau tidak terjadi infeksi, saya optimis putri anda bisa sembuh. Hanya saja, putri anda memerlukan terapi fisik untuk kakinya supaya bisa berjalan lagi. Putri anda masih muda, saya yakin dia bisa sembuh total.”


Charles mengucapkan terima kasih berkali-kali pada dokter Riswan. Dua orang suster mendorong ranjang tempat Laura berbaring. Luki menghampiri ranjang tersebut. Dia melihat adiknya tidak sadarkan diri dengan perban putih membalut kepala, kaki, dan tangannya. Tangannya dipenuhi slang infus dan transfusi darah.


Melihat wajah putrinya yang lebam, Helen mulai menangis lagi. Ia memandangi Laura sampai ke kamar perawatan intensif. Ia bersikeras untuk tinggal di sana semalaman menjaga Laura.


Ketika seorang suster meminta Helen untuk menunggui Laura di luar kamar, Helen tidak mau beranjak. Charles Rafael menelepon dokter kepala rumah sakit pusat,salah satu relasinya, dan meminta supaya keluarganya punya akses untuk berada di ruang perawatan intensif selama mungkin.


Selama dua hari dua malam Laura tidak sadarkan diri. Pada hari ketiga, ketika mulai siuman, Laura melihat wajah mama yang sedih. Tangannya hendak menyentuh mama, tapi rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya tidur lagi.


Luki tidak bisa tinggal dia. Dia ingin preman yang manabrak Laura ditangkap. Bukan. Dia ingin preman tersebut babak belur ditangannya. Tunggu. Itu saja belum cukup. Dia ingin preman tersebut merasakan sakit yang sama dengan yang dirasakan Laura. Luki menelepon polisi dan membErikan surat ancaman Dragon kepada seorang inspektur polisi. Menurut sang inspektur, Dragon memang sudah menjadi incaran polisi sejak lama, tapi sulit ditangkap karena kurangnya barang bukti.

__ADS_1


Luki meminta inspektur polisi tersebut menghubunginya kalau dia sudah tahu keberadaan Dragon. Luki tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai adiknya lolos begitu saja.


Kesembuhan Laura berjalan lambat, tetapai pada hari ke enam, Laura sudah bisa dipindahkan ke ruanag rawat biasa. Kini dia sudah bisa tersadar lebih dari enam jam sehari, walaupun tubuhnya kelelahan.


Laura senang melihat Luki menjenguknya. Tadi siang Luki menggenggam tangannya dan tersenyum sendu. Laura balas tersenyum padanya. Mama dan papa tidak henti-hentinya bergantian merawat Laura. Laura masih belum bisa berbicara banyak. Tubuhnya masih banyak di pengaruhi obat anti sakit.


Ketika membuka matanya lagi, Laura melihat Luki tertidur di bangku dekat ranjangnya. “Lu....ki,” katanya perlahan.


Luki langsung terbangun mendengar namanya di panggil. “Laura, kau tidak apa-apa? Kau butuh sesuatu?”


Laura menelan ludah lalu berusaha berbicar. “Haus...”


Luki mengambil segelas air diatas meja. Perlahan-lahan ia membantu Laura minum melalui sedotan di gelas tersebut. Setelah dahaganya hilang, Laura memandang Luki lagi. “Kau menjagaku semalaman?”


Luki mengangguk.


“Maaf kalau aku harus berkata jujur....” Laura tersenyum singkat. “Tapi kau kelihatan seperti gelandangan yang tidak mandi selama seminggu.”


Luki tertawa lepas. “Kau sudah bisa bercanda.” Luki menggenggam tangan Laura. “Maafkan aku, Laura. Semuanya gara-gara kesalahanku.”


Laura menggeleng perlahan. “Aku mengalami kecelakaan. Ini bukan kesalahanmu.”


Luki bersikeras. “Orang yang menabrakmu, kau melihat wajahnya?”


“Ya,” ucap Laura perlahan.


Luki langsung mengambil selembar foto dari tas kerjanya. “Apakah orang ini yang menabrakmu?”


Fb@ardhy ansyah

__ADS_1


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2