
“Saat itu aku memilih untuk menenangkan diri dari kebisingan dengan duduk dan merekam dari atas gedung, aku punya hoby seperti itu, tanpa sengaja aku ikut terlibat dengan kasus mereka,” kata Nayla mencoba menceritakan pada Kurniawan apa yang terjadi malam itu.
***Malam terakhir Ospek**
“Hei lihat gadis itu,”
“Apa dia mahasiswa baru?”
“Sepertinya memang benar dia mahasiswa baru,”
“Mari taruhan. 2juta/orang. Siapa yang menjadi pacarnya, menang,”
“Oke. Setuju,”
Beberapa orang orang pria membuat taruhan untuk menjadikan seorang wanita sebagai pacar mereka, dia adalah Laura—sahabat Nayla.
Saat masa Orentasi Penerimaan Mahasiswa Baru selesai. Salah satu pria yang membuat taruhan berhasil menjadi pacar Laura dan mendapatkan uang hasil taruhan, dan mereka membuat taruhan lagi.
“Aku yakin kau tidak bisa tidur dengannya,”
“Hei, aku pasti bisa. Setelah aku menidurinya, kalian bisa menikmatinya juga,”
“Jadi kalian membuat taruhan mendapatkan gadis itu dan membuatnya tidur denganmu?” sebuah suara yang tidak lain milik Nayla mendengarnya.
“Siapa kau?”
“Bukannya dia mahasiswa baru juga?”
“Menurut kalian, bagaimana jika aku mengirim rekaman pembicaraan kalian pada dekan. Apa yang akan terjadi?”
“Brengsek... Berikan padaku rekamannya,”
“Apa kalian pikir aku bodoh memberikan rekamannya pada kalian?”
Salah satu dari pria itu mendekat ke arah Nayla.
“Hei, dia lumayan juga,” kata pria itu sambil memegang dagu Nayla.
“Bagaimana jika kita beri dia sedikit pelajaran?”
Nayla membela diri dengan menendang alat vital pria yang di dekatnya itu membuat pria itu kesakitan.
BRAK!
“Kau selingkuh dengan anak baru itu?”
Seorang wanita datang, penuh dengan amarah sambil membawa sebuah pisau cutter.
“Kau salah paham,”
“Iya benar, kau hanya salah paham padanya,”
“Salah paham? Kau pikir aku bodoh? Huh!”
“Hei, kami hanya bermain-main,”
Terjadi adu mulut dengan kedua orang itu, sedangkan seseorang teman mereka tengah melerai, hingga kejadian tidak terduga terjadi. Tanpa sengaja mereka mendorong teman mereka dengan sangat keras hingga membuat temannya terjatuh.
Teman-teman mereka yang lain, melihat kejadian itu mereka berteriak histeris dan pergi melihat teman mereka yang jatuh.
Sedangkan kedua orang ini tengah saling menyalahkan membuat wanita itu menusuk kekasihnya, dan melarikan diri*.
“Karena hal itu aku merasakan bagaimana berada di penjara semalaman,” kata Nayla.
“Kau serius...”
“Em iya!”
“Bagaimana kau keluar?”
“Ah, salah seorang kenalan mengeluarkanku kemudian Laura—temanku datang membawa bukti rekaman,” kata Nayla sambil tersenyum.
“Mengapa kau ingin melakukan vedio call, jika bukan...”
“Aku ingin menelfon Laura, aku...”
__ADS_1
Kring... Kring... Kring...
Bunyi pesan email masuk.
“Oh, sudah ada jaringan internet,” kata Nayla sambil memeriksa pesan masuk.
Tiba-tiba sebuah telfon masuk.
“Nayla...” panggil sebuah suara dari seberang telfon.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Nayla.
“Daritadi pagi mereka sudah berada di depan rumah,” kata Laura memberithu. “Belum lagi...”
“Aku akan kembali besok,”
“Kenapa kau kembali?”
“Aku mendapatkan surat panggilan sebagai saksi,”
“Bagaimana dengan kampus? Aku akan menerima panggilan dari kampus juga,”
“Hei. Ayolah! You know me—Laura. Aku sudah selesai ujian skripsi, dan akan segera wisuda. Tidak ada yang harus aku takutkan,”
“Bukankah kau terlalu meremehkan?” tanya Kurniawan.
“Tidak kok, aku tak pernah membuat kesalahan yang membuat nama kampus tercemar selama aku kuliah,” kata Nayla. “Jika vedio itu membuat nama kampus tercemar, itu mustahil. Di luar sana, lebih dari 10orang yang melakukan kejahatan yang sama tanpa membawa gelar di mana dia kuliah atau sekolah,”
“Aku akan menjemputmu besok,”
“Aku akan langsung ke kantor Polisi, kau tidak perlu menjemputku. Lagi pula, begitu susah saat ini untukmu keluar dari rumah,
“Hhhm... Baiklah. Maaf...”
“Eeh. Maaf untuk apa?”
“Kau selalu terlibat dengan masalahku,”
“Nanti kita bicara lagi setelah aku kembali,” kata Nayla sambil mematikan telfon.
“Editor Lee...” panggil Nayla saat seseorang dari seberang sana mengangkat telfonnya.
“Syukurlah kau menelfon. Bagaimana keadaanmu?” tanya Editor itu.
“Aku minta maaf karena keceplosan soal kejadian itu. Pasti membuatmu mendapatkan begitu banyak...”
“Tidak perlu seperti itu. Lagi pula, ketika kejadian sebenarnya tidak di ungkapkan di publik, aku memilih untuk berhenti dari kepolisian,”
“Aku akan membeli minuman, kau lanjutkan saja menelfon,”
“Oh siapa itu? Pacarmu?”
“Tidak, dia salah satu tentara di sini. Aku meminta bantuan mengantarkanku ke kota untuk bisa menelfonmu,”
“Benarkah bukan pacarmu?”
“Iya,”
“Jawaban yang tidak meyakinkan. Berita ini sangat hangat, bahkan beberapa media luar negeri juga memberitakan kasus ini. Karena melibatkan anak dari seoran mantan Jenderal,”
“Karena itu aku menelfonmu. Untuk meredakan gosip ini, aku ingin mengungkapkan siapa aku sebenarnya sebagai penulis,”
“Eee. Kau serius?”
“Iya. Media akan lebih terfokus padaku, dengan begitu kasus pembunuhan itu akan tumpang tindih dengan identitasku sebagai seorang penulis. Jika aku hanya menjadi warga negara, media akan selalu menekanku, jika aku sebagai penulis banyak mendukungku,”
“Kapan akan mengadakan jumpa pers?”
“Besok, aku akan sampai di Ibukota. Setelah aku turun dari Pesawat,”
“Oke. Aku akan mengaturnya besok. Kita adakan saja di bandara,”
“Baiklah, aku akan menghubungimu kembali,”
“Sudah selesai menelfon?”
__ADS_1
Seorang yang ku kenal berada tepat di sampingku—Raysa.
“Eeee... Raysa. Mengapa kau di sini?”
“Aku pergi ke markas Utama. Ayo, siap-siap kita akan berangkat hari ini. Kita akan sampai besok sekitar jam 10-an di Ibukota,”
“Kurniawan dimana?”
“Aku menyuruhnya kembali. Kau sungguh wanita hebat ketika mabuk, membuat satu Indonesia bergosip,”
“Aku mana tahu jika itu alkohol,”
“Aku dengar kau ingin mengungkapkan identitasmu. Tidak masalah?”
“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Nayla membuat Raysa salah tingkah.
“Tidak... Em. Sebenarnya iya,” jawab Raysa terbata-bata.
“Ppfffttt...” Nayla tertawa kecil.
“Aku menertawakanku lagi?”
“Aku sudah memikirkan beberapa cara agar kau bisa dengan segera menyembuhkan penyakitmu,”
“Benarkah?”
“Iya. Kapan aku tidak serius dengan apa yang aku katakan padamu,”
___________________________________________
10.15am
Bandar Udara Internasional Seokarno-Hatta.
Sebuah pesawat telah landing. Suasana bandar udara saat itu di penuhi oleh para wartawan. Sejak artikel berisi penulis novel terkenal yang selama ini bersembunyi akan mengungkapkan indentitasnya. Tentunya, banyak yang akan datang untuk mendapatkan bahan artikel selanjutnya.
“Nayla...” panggil seorang wanita memakai kacamata.
“Editor Lee...”
“Good girl. Sejak artikel itu di terbitkan kau menjadi urutan ke-2 di pencarian. Ngomong-ngomong siapa dia?” tanya Editor Lee.
“Dia adalah kapten,”
“Kemarin lain, sekarang lain. Apa kau punya banyak pacar sekarang?”
“Perkenalkan namaku Raysa, aku pacar Nayla,”
“Pacar? Uwa. Pantas saja, kau tak takut kau memiliki pacar yang mendukungmu,”
“Bicara apa sih Edior Lee. Karena kau memintaku membuat cerita romantis aku harus memiliki pacar agar aku bisa menulis,”
“Tidak di sangka, begitu banyak wartawan yang datang,”
Editor Lee melangkahkan kakinya ke depan para wartawan.
“Terima kasih kepada kalian semua yang telah datang. Seperti yang kalian tahu, tentang seorang penulis terkenal yang begitu membuat kalian penasaran soal identitasnya dan berada di naugan Cv. Penerbit Ind hari ini akan mengungkapkan identitasnya,”
Kacamata hitam, jaket berwarna coklat, dan topi hitam yang dipakainya seperti menambah rasa percaya diri gadis itu. Dengan percaya diri Nayla melangkahkan kakinya menaiki mimbar yang telah di siapkan untuknya.
———————— To be Continued ———————
“Cerita Ini Sepenuhnya Fiksi. Nama, Karakter, serta Organisasi yang muncul, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata”
Kritik & Saran silahkan tinggalkan komentar.
Instagram : dih_nu
Baca juga :
- Something Lost
Terima Kasih Telah Membaca!
Jangan lupa Vote jika kalian mendukung saya dalam menulis novel!
__ADS_1