
Matahari telah bersinar kembali di ufuk timur, memberikan cahaya bagi kehidupan yang tengah di sinari itu sekaligus dengan memberikan kehangatan di saat yang bersamaan.
Sepasang manusia telah memasuki hutan, membuat suara di setiap jalan yang mereka lakukan. Sesekali Raysa melihat ke belakang takut gadis yang berada di belakangnya itu jika tiba-tiba hilang.
“Sebaiknya kau di depan,” kata Raysa menyuruh gadis itu memimpin jalan.
Ketika memasuki hutan yang asing bagi diri kita sendiri, mempertajam pendengaran serta menambah ke waspadaan adalah hal yang harus di lakukan. Nayla sesekali mengamati keadaan sekitar menggunakan teropong miliknya.
Hanya terdengar beberapa kali mereka berbicara dalam perjalanan pulang, lebih banyak mereka diam sambil menyusuri kembali jalan yang mereka lalui kemarin.
Nayla terkadang bertanya tentang jenis tumbuhan, terkadang bertanya kehidupan orang-orang yang berada di sini.
“Apa kau bisa membawaku ke tambang emas di sini?”
“Hm. Untuk apa?”
“Aku ingin kaya mendadak,” kata Nayla bergurau.
Raysa mengeritkan dahinya ketika mendengar apa yang baru saja di katakan oleh gadis di depannya itu.
“Dua bulan lagi aku di sini,” kata Nayla mengingatkan jika waktunya sudah tidak lama lagi di Kam tersebut.
“Apa yang akan kau lakukan setelah kembali?”
“Mencari pacar, terus menikahinya,” jawab Nayla sambil cengegesan.
Lagi-lagi pria di belakangnya itu di buatnya mengeritkan dahinya.
“Aku akan tinggal di luar negeri,” kata Nayla lagi.
“Di mana?”
Nayla tak menjawab pertanyaan itu. Seakan dia ingin membuat pria itu penasaran tentang tujuannya.
Beberapa orang tengah berjalan sambil membawa senjata api, terlihat begitu jelas di teropong Nayla. Nayla mengajak pria yang bersamanya itu untuk bersembunyi dan memberikan teropong miliknya agar Raysa melihat apa yang di lihatnya tadi. Saat itu mereka berdua berada di puncak tebing.
“Penyelundupan Senjata Ilegal,” Raysa bersuara kecil takutnya suaranya kan mengema jika dia berbicara dengan nada besar.
“Penyelundupan?”
“Itu orang yang menembakmu,” bola mata Raysa membulat ketika melihat pria yang ingin menembak Nayla berada di antara mereka, tapi lebih tepatnya pria itu kini telah babak belur, mungkin telah di pukul oleh kelompok mereka sendiri.
“Apa kau tidak ingat sesuatu?” tanya Raysa. “Mengapa pria itu ingin menembakmu,”
“Tidak, aku baru pertama kali melihatnya,”
Nayla berusaha berpikir keras mengapa dia ingin di bunuh. Tapi dia tidak ingat apapun, bahkan sama sekali tidak mengenal pria itu.
“Kau kembali ke Kam lebih dulu,” kata Raysa menyuruh Nayla untuk pergi. Karena lebih muda bagi Raysa bergerak leluasa jika dia tidak bersama dengan gadis itu, dia takut jika gadis itu akan terluka jika tetap bersama gadis itu.
“Tidak, aku ingin ikut,”
“Berbahaya jika kau ikut denganku,”
“Lebih bahaya jika aku pergi sendiri. Bagaimana jika mereka punya komplotan lain, bagaimana jika aku tiba-tiba bertemu ular raksasa. Aku bisa mati konyol, apalagi aku belum menikah,”
Raysa tertawa kecil, mendengar apa yang gadis bersamanya katakan, di saat yang bersamaan perkataannya benar di saat yang bersamaan gadis itu tengah membuat lelucon. Mungkin dia seperti itu, atau dia sengaja untuk menyembunyikan ketakutannya, jelas terlihat dengan tangannya gemetaran.
"Kau takut?"
"Bukan... aku lapar,” kata Nayla sambil mengembungkan pipinya, di saat bersamaan suara perut gadis itu terdengar.
“Hm. Bisa-bisanya, di situasi seperti sekarang gadis ini lapar,” Raysa membatin dengan kekonyolan yang sedang terjadi. “Sejak tadi kami belum sarapan, tidak heran jika dia lapar. Tapi, kami akan kehilangan jejak mereka,”
Raysa menatap gadis itu.
“Tunggu sini, aku akan mencarikan buah-buahan untukmu yang bisa kau makan. Jangan kemana-mana,” kata Raysa sambil meninggalkan gadis itu.
Nayla tetap mengamati sekelompok penyelundup itu, sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tengah terjadi.
“Bagaimana cara meminta bantuan ya? Jika menggunakan radio akan ketahuan, apalagi tidak ada jaringan di sini,”
“Aku pasti melupakan sesuatu. Tapi kenapa aku nggak ingat,”
__ADS_1
“Ini, aku membawakanmu pisang, hanya ini yang bisa aku dapatkan,” Raysa menyodorkan buah yang telah di dapatnya itu.
“Ayo, sebelum kita kehilangan mereka,” kata Nayla.
Pelan tapi pasti, mereka berdua mengikuti pergerakan kelompok itu. Raysa was-was, karena dia takut akan terjadi sesuatu, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian atau menyuruh gadis itu pulang. Dia berada di situasi yang serba salah.
Jarak antara mereka dengan kelompok itu tersisa sekitar 500meter lagi. Raysa mengamati keadaan sekitar, beberapa penjaga dalam radius tersebut, tentunya dengan senjata api tengah berada di tangan mereka, seakan siap menembak jika ada musuh yang datang.
“Kita tidak bisa mendekat. Lebih baik kita kembali,”
“Apa kita tidak bisa menyusup?”
Pertanyaan konyol, di saat yang begitu gawat.
“Kita berada di wilayah perbatasan mereka,”
“Pasukannya sekitar 50an orang bersenjata lengkap,” Raysa menjelaskan keadaan di tempat yang tengah mereka lihat itu.
“Aku punya ide,” kata Nayla. “Yang kita butuhkan, adalah siapa tuannya di sini,” kata Nayla. “Kita cukup mengusiknya saja,” kata Nayla.
Pria itu menatap gadis yang di hadapannya itu, seakan gadis itu tidak takut sama sekali, atau dia menyukai hal itu sendiri.
“Bagaimana jika kita gagal,”
“Ya kita mati,” kata Nayla.
Pria itu menepuk jidatnya, bisa-bisanya masih bercanda di saat seperti itu.
Nayla membuka tasnya, mengambar sesuatu yang berbentuk seperti sebuah tongkat, kemudian mencoba merakit sesuatu.
“Ini adalah Panah Portabel,” kata Nayla. “Kita pakai ini mengirim pesan,”
“Biar aku yang membidik,”
Kini anak panah melesit dengan cepat di udara, hingga mengenai seorang anggota tesebut, membuat sensor mereka mendeteksi musuh.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap, rambut di cat berwarna kuning keemasan membuat pria itu keluar dari sebuah gubuk di tengah hutan tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kelompok tersebut menemukan keberadaan Nayla dan Raysa.
Raysa yang melihat Nayla yang begitu santai membuatnya sedikit khawatir, tentang apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Nayla.
“Welcome to my home, teman lamaku,”
Sapa seseorang, ketika melihat Raysa. Mata Raysa terbelalak kaget ketika melihat siapa yang menyapanya itu.
“Adrian?”
“Dan kau masih seperti dulu,” kata pria yang di panggil Adrian oleh Raysa. “Dia pacarmu?” pria itu mendekat ke arah Nayla.
Raysa yang berusaha menjauhkan Nayla pada pria itu, dengan membuat Nayla bersembunyi di belakangnya.
“Hai, kita ketemu lagi ya,”
“Apa kau mengenalku?”
“Ayolah, jangan begitu. Setelah kau mengirimkan anak buahmu datang untuk memperingatkanku,”
“Cih, aku tak ingin bertele-tele lagi. Katakan dimana barang yang kau sembunyikan,”
“Barang?”
“Iya. Chip yang kau sembunyikan,”
“Kapan aku mengambilnya darimu?”
“Beberapa hari yang lalu di perkampungan penduduk,”
“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan, dan Chip yang kau maksud,”
“Shitt, Chip itu berisi semua transaksi yang aku lakukan,”
“Pfft,” Nayla tertawa, sedangkan Raysa mulai mengerti apa yang sebenarnya di pikirkan oleh gadis itu “Kena kau,” Nayla mengukir senyum sumrigai di bibir kecilnya. “Ternyata kau tertipu oleh kelompokmu sendiri. Biar aku perjelas, aku sama sekali tidak pernah bertemu denganmu, kedua aku tidak mencurinya, ketiga bersama dengannya selama aku berada di sana, terakhir ada pengkhianat di kelompokmu sendiri,”
Pria itu terkejut mendengar apa yang baru saja Nayla katakan, mencoba untuk mencerna apa yang di katakan oleh gadis di hadapannya itu.
__ADS_1
“Coba pikirkan, jika chip itu berada ditanganku, aku pasti telah memberikan chip itu padanya, (menunjuk Raysa) dan dia akan mengirimkan Timnya untuk menangkapmu. Tapi, nyatanya kami malah berkemah. Apa menurutmu itu masuk akal?”
“Cari pengkhianat itu,” teriak Pria itu.
Seluruh anggotanya pergi menembus hutan mencari orang yang mengkhianati mereka. Tersisa pria itu dengan salah satu anak buah kepercayaannya.
Nayla mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah plastik kecil dan sebuah barang yang terlihat.
“Apa chip ini yang kau cari?”
Adrian yang melihat itu merasa tertipu oleh gadis yang tengah bersama Raysa itu.
“Kau menipuku?”
Raysa tersenyum melihat teman lamanya itu dijahili oleh gadis yang tengah berada di sampingnya.
Adrian menodongkan senjata ke arah Nayla, hingga membuat Raysa melakukan hal yang sama.
“Aku hanya mengatakan sedikit kebenaran yang bercampur dengan kebohongan,”
“Berikan padaku,” kata Adrian menginginkan barang yang berada di tangan Nayla. “Aku akan membiarkanu pergi dari sini dengan selamat,”
“Bohong, aku tidak percaya padamu. Em, sebenarnya aku lapar, apa boleh aku makan dulu? Kau punya makanankan? Beri aku makan dulu, agar kita bisa bernegosiasi,”
Menghilangkan para anggota bersenjata pria itu, adalah tujuan pertama Nayla agar terbebas dari maut karena di todongi puluhan senjata.
Walaupun pria itu kesal, namun dia menuruti keinginan gadis yang ingin makan.
Lima belas menit telah berlalu, Nayla telah melahap makanan yang di berikan untuknya, dengan begitu santai namun tubuhnya tidak bisa berbohong jika sebenarnya dia takut.
Sebenarnya, Nayla hanya mengulur waktu sampai bantuan datang.
Di lain tempat di waktu yang bersamaan, Kurnia memimpin timnya memasuki pedalaman hutan.
Begitu lama, negosiasi yang terjadi namun belum terjadi kesepakatan. Anak buah yang berdiri di belakang Adrian menyadari taktik yang di mainkan oleh Nayla, memperingati bosnya itu hingga membuat pria itu murka.
“Ternyata kau sedang mengulur waktu sampai bantuan datang,”
Nayla mundur beberapa langkah menjauh dan bersembunyi di balik tubuh Raysa yang sedari tadi menodongkan senjatanya itu ke arah Adrian.
Terdengar sebuah tembakan, membuat Nayla dan Raysa teralihkan.
Dor
Sebuah peluru menembus kulit gadis itu. Raysa yang melihat itu, tanpa berpikir panjang menarik pelatuk dan menembak beberapa kali ke arah pria itu.
Situasi saat itu begitu menakutkan. Mereka yang berada di ketinggian air terjun, membuat Nayla terjatuh dari sana.
Dor!
Satu kali tembakan lagi terdengar, Raysa pun ikut terjun dari ketinggian itu berusaha untuk menolong Nayla yang telah terjatuh lebih awal.
Darah, kini bercampur dengan air membuat sungai itu kini berwarna merah.
———————— To be continued ————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang terbagi
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.
__ADS_1