
Semakin mengenalnya, semakin perasaan aneh selalu muncul. Bahkan ketika melihatnya bersama dengan Pria itu.
— Alan Aditya Raysa —
.
.
Aku mencoba untuk menyusulnya, tiba-tiba ku lihat sosok yang tidak asing dia adalah Aufal. Tiba-tiba saja aku memiliki rasa kesal pada pria itu, seakan aku tidak ingin dia bertemu dengan Nayla, apalagi Nayla mengatakan jika pria itu meninggalkannya. Aku mengepalkan tanganku sambil menguping pembicaraan mereka berdua.
“Benar-benar tidak ada kesempatan untukku, aku sungguh berharap bisa...” tanya Aufal pada Nayla.
Gadis itu hanya menatap pria yang ada di hadapannya itu sambil diam sesaat, aku bisa merasakan dari sorot matanya ada sebuah kekewaan yang sangat terpancar jelas dan aura kesedihan yang sangat mendalam.
“Kau sudah menikah, dan...”
Dia menjawab pernyataan yang diberikan padanya dengan tenang seakan dia ingin menolak mentah-mentah penyesalan dan rasa bersalah dari pria itu.
Aku yang menguping sejak tadi, begitu kesal dengan pria itu. Ingin rasanya keluar dan memberinya satu pukulan di pipinya, rasanya ada yang aneh di dalam hati ku.
Pria itu menjelaskan jika dia telah bercerai dengan istrinya, dan memohon kesempatan di berikan untuknya lagi.
“Karena itu, kasih aku kesempatan lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya dari awal dan...”
Aku melangkahkan kakiku ke arah Nayla karena tidak tahan lagi dengan apa yang di katakan oleh pria itu.
“Saat ini dia kekasihku...” kataku pada pria itu, seakan ingin menekankan jika gadis yang berada di hadapannya itu adalah milikku. “Ayo kita pergi dari sini,” aku menariknya untuk menjauh dari pria itu, diapun mengikutiku mungkin sejak tadi dia memang ingin menjauh dari pria itu.
Sudah cukup jauh aku membawanya pergi dari hadapan Aufal.
“Bisa lepaskan tanganku, aku ingin sendiri,” kata Nayla dengan nada kesal.
“Kau marah padaku?”
Nayla hanya diam.
“Bagaimana aku bisa tahu, jika kau tidak memberi tahuku,”
“Iya! Aku marah padamu, kau seenaknya mengatakan pada mereka semua. Kau seharusnya meminta persetujuanku,” kata Nayla meninggalkanku dengan pertanyaan apa yang salah, jika aku mengakuinya di depan banyak orang.
Aku bahkan tidak melihatnya sejak hari itu, mungkin karena dia menghindar dariku. Wanita memang susah untuk di pahami, tapi dia adalah orang pertama membuatku ingin memahami dirinya.
Malam sudah agak larut, bintang-bintang makin bersinar di langit. Hari ini adalah jadwalku mengecek Kam. Ku lihat punggung seorang gadis yang tidak asing, gadis yang sepekan menghindar dariku terus menerus.
“Kau masih marah padaku?” tanyaku sambil duduk di dekat Nayla.
“Tidak,” kata Nayla.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
__ADS_1
“Bagaimana jika aku tidak bangun. Apakah ada yang kehilangan, atau bersyukur karenanya,” kata Nayla seketika membuatku yang mendengarnya merasakan sesuatu menyakiti hati, seakan dia bertanya apakah akan ada seseorang yang menangis dengan tulus untuknya jika dia tidak ada di dunia ini.
“Kenapa berbicara seperti itu?” tanyaku.
“Bukan hal yang serius, hanya saja semua orang akan menuju kematian. Terkadang aku...”
“Kau sudah mulai menulis naskahnya?” tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Aku tak ingin membahas hal seperti dengannya, setiap nada, kata yang dia katakan seakan penuh dengan kesedihan.
Aku melihat wajahnya, menatap bintang di langit dengan penuh perasaan, seakan dia tengah berbicara pada bintang-bintang di langit.
“Hhhmm... Soal penyakitmu, aku harus membahasnya dengan profesorfku, karena sejauh yang ku amati penyakitmu...”
Ada keseriusan dari kata-kata yang dia keluarkan untuk menyembuhkan penyakitku.
“Kemarikan gitar,” kataku sambil merebut gitar miliknya, aku mendengarnya memainkan sebuah melodi sebelum duduk di dekatnya.
Nada-nada kesedihan, harapan, doa, dan keceriaan menyatu dalam petikan gitarnya. Bahkan, aku melihat Aufal mendengarkan pentikan gitar yang di mainkan oleh gadis ini.
“Aku tahu, kau akan melakukan yang terbaik,” kataku sambil memainkan sebuah lagu.
“Kau suka lagu apa?” tanyaku.
“Aku tidak menyukai lagu,” jawabnya membuatku sedikit terkejut.
“Benarkah? Aku selalu melihatmu memakai Earphone,”
“Instrument,” jawabnya.
Nada-nada ini begitu menyenangkan untuk di dengar. Alunan lembut menenangkan hati, seakan aku ikut terbuai bersamanya.
Plup!
Tanpa sadar, dia tersandar di bahuku karena tertidur.
“Cutte, dia seperti kucing kecil,” kataku sambil tersenyum melihatnya yang tengah tertidur itu.
Ku lihat buku notes yang di pegangnya, ku coba mengambil dan melihat isi di dalamnya. Sebuah sketsa, seperti sebuah adegan yang akan dia tulis di dalam novelnya, lembar demi lembar aku melihat sketsa itu sebuah sketsa wajahku terlihat di sana. Seakan sketsa itu mewakili apa yang aku rasakan saat itu.
Sebuah skesta terakhir, ku lihat sebuah adengan di mana ada sebuah pernikahan, yang di lihat oleh seorang perempuan.
“Dan biarkan aku menyimpan rasa cinta ini sendiri. Semoga pernikahan kalian bahagia,”
Rasanya sketsa itu penuh dengan arti, sketsa itu agak rusak di beberapa bagian, seperti ada sesuatu yang membasahi sketsa itu. Hm, sepertinya air mata saat dia membuat sketsa itu.
Ada rasa yang tidak bisa ku jelaskan ketika melihat sketsa itu, aku bahkan tanpa sadar meneteskan air mata ketika melihatnya. Untung saja, dia tengah tertidur.
“Apa yang kau lakukan di sini bersamanya?” tanya Kurniawan mengejutkanku.
“Ah, pas banget kau datang. Tolong bawakan barang-barangnya, aku akan mengantarkannya ke tendanya,” kataku sambil menggendong Nayla.
__ADS_1
“Aku tidak bisa membuatmu menyakiti mereka,” kata Kurniawan mengingatkanku, seakan tengah mengancam.
“Aku tahu, lagi pula aku dengannya hanya pura-pura pacaran, aku tidak berniat untuk pacaran beneran dengannya. Lagi pula dia adalah anak psikologi, dia bisa melalukan terapi dengan penyakitku. Aku hanya mencintai gadis itu, aku tidak bisa membuatnya takut dengan penyakitku,” kataku menjelaskan hubunganku dengan gadis yang tengah ku gendong itu.
Aku tidak penah menyembunyikan apapun darinya, dia mengetahui segalanya tentangku. Begitupun sebaliknya.
“Baiklah,” kata Kurnia sambil mengikutiku dari belakang.
Hari berlalu seperti aktifitas biasanya, aku lebih banyak melihatnya menyendiri sambil menulis daripada berkumpul dengan gadis-gadis lain yang sering aku lihat tengah bergosip.
Alunan nada petikan gitar terdengar. Aku tahu siapa yang memainkan nada-nada itu. Ku coba untuk mencari asal suara itu, pemandangan yang tidak mengenakan ku lihat. Aufal dan Nayla, sepertinya gadis itu tengah bergegas untuk pergi meninggalkan pria itu. Membuatku penasaran dengan apa yang akan mereka bahas.
“Bisakah kau tidak menghindari dariku?”
Pertanyaan yang membuat gadis yang berstatus kekasihku menghentikan langkah kakinya.
“Aku tahu kau masih membenciku, memaafkan aku sepenuhnya rasanya mustahil. Aku tahu di dasar hatimu kau membenciku, ada dendam untukku. Bahkan selama pernikahanku dengannya, aku hanya mencintaimu. Akupun tersiksa menikah dengannya, sedangkan aku mencintaimu,”
Aku ingin pergi menghampiri Nayla dan memukul wajah pria itu. Rasanya tidak enak ketika dia mengatakan jika menyukai Nayla. Mendengar langsung pernyataan dari pria itu rasanya tidak menyenangkan. Seakan ada sebuah rasa yang ingin meledak.
“Apapun statusmu saat ini, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, yang tersisa di hati ini hanya rasa kecewa, benci, dan dendam. Aku membencimu, tapi aku tidak menyesal bertemu dengamu. Mengenalmu, karena itu aku sungguh berterima kasih telah bersamaku selama lima tahun itu,”
“Tunggu sebentar...”
Ku lihat Nayla beranjak dari tempat duduknya ingin meninggalkan pria itu, namun terhenti dengan sebuah perkataan.
“Apa kau benar-benar mencintai kapten itu?”
Tiba-tiba pria itu bertanya sesuatu yang membuat hatiku berdegup dengan sangat cepat dan tidak karuan.
.
.
———————— To be Continued ————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang Terbagi
__ADS_1
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.