
Sebuah perasaan sulit untuk di tebak, terkadang butuh sebuah pemicu untuk mengungkapkan hal itu. Termasuk Kurnia yang tanpa sadar mengatakan suka pada gadis berambut bob itu.
“Aku menyukaimu,” kata Kurni mengulang kembali apa yang baru saja dia katakan.
Moesa hanya terdiam sambil melihat pria yang tengah berjuang agar mereka tidak jatuh. Namun, hasilnya tidak akan berbeda, mereka terjatuh ke bawah. Kurnia memeluk Moesa agar tidak terpisah dengan gadis itu.
Begitu tinggi mereka terjatuh, Moesa memeluk erat pria itu. Di lain tempat Nayla dan Raysa berusaha segera kembali. Mereka melewati lorong terakhir, namun hasilnya mereka sampai pada satu jembatan kecil. Di sana terdapat perahu kayu yang tidak terpakai. Sepertinya mereka berada di dalam gua, air yang asin ketika Nayla ingin meminum air itu.
“Aish. Airnya Asin. Kita dekat dengan laut,” kata Nayla pada Raysa. “Aku haus,” kata Nayla merengek.
“Biar ku cium, hausnya entar hilang,” kata Raysa dengan iseng.
Bruk!
“Kau...” Nayla memukul belakang Raysa karena tidak suka di katakan seperti itu.
“Maaf, aku hanya bercanda,” kta Raysa menenangkan Nayla sambil memeluk gadis itu. “Kita harus keluar dari sini,” kata Raysa.
“Aku tidak bisa berenang,” kata Nayla dengan nada pelan. “Dan lagi, di dalam tasku ini semua barang tidak boleh terkena air,” kata Nayla lagi mengingatkan jika ada barang berharga miliknya.
“Kau naik di perahu itu saja, aku berenang,”
“Bagaimana dengan Moesa dan kakak, apa mereka baik-baik saja?” Nayla tertunduk lesu.
“Hei, mereka berdua itu seorang militer, aku yakin mereka selamat,” kata Raysa menenangkan gadis itu. Nayla memainkan kakinya di dalam air sambil duduk di ujung jembatan kecil itu.
Raysa sejak tadi telah menceburkan diri ke dalam air, karena beberapa hari di dalam terowongan mereka belum mandi sama sekali.
Nayla hanya memperhatikan pria itu berenang di depannya. Sesekali pria itu memercikkan air dan mengganggunya yang tengah duduk.
Raysa berenang ke arahnya.
“Melihatmu berada di depanku, aku masih berpikir jika aku tengah bermimpi. Beberapa kali, aku menyubit diriku sendiri agar bangun dari mimpi, tapi nyatanya aku tidak bermimpi. Dan, kau benar-benar kembali,” kata Raysa mengusap pipi gadis itu.
“Wajah dingin, tanpa ekpresi membuatku bertanya apakah kau tidak tersentuh dengan semua yang aku lakukan,”
“Ketika memelukmu, aku benar-benar ingin memelukmu. Bukan karena aku ingin sembuh, selama dua tahun aku berpikir jika selama ini aku yang menginginkannya dan mengunakan alasan penyakitku untuk lebih dekat denganmu,”
“Melihat apa yang tengah terjadi pada kakakmu, mengingatkanku pada diriku yang dulu. Sebegitu mempertahankan egoku, dan tidak jujur pada diriku sendiri, apa yang tengah aku rasakan, dan apa yang benar-benar inginkan,”
“Kakak, selalu melihat sesok orang di masa lalunya pada gadis yang ada di depannya. Dia mencintai orang tersebut seperti itu. Tanpa, menyukai kepribdian yang sebenarnya gadis yang dia suka,”
Kkkrrr....
__ADS_1
Suara perut milik Nayla berbunyi. Membuat Raysa tertawa kecil.
“Tunggu sini, aku akan mencarikanmu makanan di luar sana. Siapa tahu, ada buah-buahan, atau apapun yang bisa di makan,” kata Raysa sambil berenang keluar dari gua menuju asal cahaya.
Sebuah lautan luas terlihat dengan sangat jelas di depannya setelah berenang sekitar 100meter. Ketika dia keluar dari bibir goa itu, terlihat kiri dan kanannya batu karang yang besar, tidak ada rumah sama sekali, atau tanda-tanda pernah di tinggali oleh orang di sana. Raysa mencari buah-buahan, untung saja menemukan kelapa, dan juga menangkap ikan dan membawanya pada Nayla.
Kurnia tengah berada di tepi sungai tempat mereka terjatuh, sambil mencari makan dan membersihkan diri sebelum kembali ke Kam. Mereka harus memulihkan diri lebih dulu.
Luka di kaki Kurnia semakin bertambah parah, membuatnya kesulitan untuk berjalan. Dibantu oleh Moesa, dia berjalan.
Terdengar dari arah selatan sebuah suara hellikopter tengah mendekat ke arah mereka. Mereka memberikan tanda S.O.S.
“Kapten dimana, bukankah tengah bersama dengan kalian?” tanya Jufri yang turun dari Hellikopter. “Kalian telah pergi selama tiga hari, jadi kami di minta mencari kalian menggunakan hellikopter,”
“Itu... Kami terpisah, setelah menyusuri jalan rahasia. Kami berdua terjatuh, sedangkan Kapten dan adikku melewati jalan terakhir,” kata Kurnia.
“Jalan rahasia?” tanya Jufri.
“Iya, jalan rahasia yang di bawah tanah rumah tua itu,”
“Kemarikan radiomu,” kata Kurnia.
“Perhatian, di sini sersan Kurniawan. Memberikan perintah kepada kalian untuk menyusuri jalan rahasia di bawah tanah rumah tua itu, kalian bawah keperluan kalian selama tiga hari di dalam sana. Ambil jalan sebelah kanan kalian jika menemukan empat cabang jalan. Temukan Kapten dan adikku,” kata Kurnia memberikan perintah.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Kakimu sedang terluka,”
“Tidak apa-apa, aku khawatir dengan mereka. Nayla baru saja sembuh. Bantu aku naik ke atas,” kata Kurnia memaksakan diri untuk ikut mencari.
Nayla tengah menikmati ikan bakar. Dia menghabiskan beberapa ekor ikan ukuran besar yang di tangkap oleh Raysa.
“Apa kita akan di sini terus?”
“Kakakmu pasti sudah memberikan perintah mencari kita, tenang saja. Kita akan pulang,”
“Apa mereka akan menemukan kita besok?”
“Tidak. Kita berjalan selama tiga hari di dalam sana, dan melewati jebakan tiga cabang jalan itu,”
“Em. Kenapa Adrian mengatakan jika kau menghancurkan hidupnya?”
“Dia pengedar narkoba, dan dia juga sama sepertiku. Karena dia ketahuan dia di keluarkan dari militer,”
__ADS_1
“Ayahnya mengirimnya untuk di rehabilitas, tapi dia berhasil keluar dari sana dengan bantuan orang lain. Tidak heran, jika dia menjadi penyelundup senjata ilegal,”
“Dan kau yang melaporkannya?”
“Iya, posisinya adalah seorang kapten. Oh iya, aku lupa. Soal barang itu, apa maksudmu ada padaku,”
“Ada di dalam pakaian militer milikmu,” kata Nayla. “Saat aku tertembak, Aufal yang menyimpannya, setelah aku sadar dia memberikannya padaku, dan aku menyembunyikannya di dalam pakaian militer milikmu. Saat itu, kau berada di rumah ayah dan ibuku,”
“Chip itu sangat berbahaya, aku akan memberikannya kepada agen yang menangani kasus ini,” kata Nayla sambil mengeluarkan chip yang telah di sembunyikan oleh Nayla.
“Apa isi chip itu?”
“Daftar anggota mereka, dan beberapa kasus lainnya,” kata Nayla sambil menyandarkan tubuhnya di dinding karena kekenyangan setelah makan ikan bakar.
“Kau sudah melihatnya?”
“Iya, lagi pula itu bukan data asli, hanya salinan saja. “Tidak ada kode pengamanan apapun. Mungkin Adrian yang menyalin data itu untuk dia gunakan memeras orang lain. Karena itu, dia menembak, saat aku menyerahkan chip dua tahun lalu, karena dia sadar jika chip itu palsu,” kata Nayla. “Aku pasti bisa menebak, dia pasti sudah mati karena mengkhianati mereka yang di atasnya,” kata Nayla dengan nada santai.
“Ba... ba...”
“Jika dia masih hidup, pasti dia telah datang mencariku untuk meminta barangnya yang asli,” kata Nayla menjelaskan.
“Mengingat dua tahun ini tidak ada yang datang mencari masalah dengan kalian, sepertinya mereka tidak menyadari jika chip itu ada padaku,”
“Bisakah kau berjanji padaku, tidak membuat dirimu dalam bahaya lagi? Jangan, berurusan dengan mereka,” kata Raysa sambil memeluk gadis itu.
“Janji,”
Pria itu, tidak berhenti-hentinya selalu memeluk dan mencium kepala gadis pujaannya itu.
“Sepertinya mereka sudah di sini menjemput kita berdua,” kata Raysa.
Sebuah suara berasal dari dalam terowongan terdengar. Beberapa langkah kaki, sepertinya dia yakin jika itu adalah Timnya, sedangkan di lain sisi sebuah perahu karet tengah mendekat ke arah Raysa dan Nayla.
“Kami menemukan mereka,” kata salah seorang.
“Hormat,”
Beberapa pria berseragam militer itu memberikan hormat kepada Raysa.
Nayla tertuju pada seorang laki-laki yang berada di dalam perahu karet. Pria itu tersenyum padanya.
Nayla masih belum percaya jika pria itu berada di sini, sedang datang mencarinya juga.
__ADS_1
“Aku mendapatkan kabar, kau menghilang selama tiga hari, jadi aku datang langsung kemari,” kata pria paruh baya itu ketika perahu mendekat kearah jembatan.
“Sepertinya kau, telah menyelesaikan tugas yang ku berikan tentang orang yang menembakmu,”