A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 9 Secret (2)


__ADS_3

Banyak yang melihat Nayla mabuk dan merekam semua kejadian itu.


Aufal yang melihat hal itu datang mendekat, tapi langkah kakinya terhenti ketika melihat Raysa.


Dia yang telah mengenal Nayla jauh lebih dulu, mengetahui bagaimana sifat gadis itu. Gadis yang begitu ceria bahkan mudah bergaul dengan siapapun.


Sangat aneh, ketika banyak orang yang bergosip tentang hal buruk tentang Nayla. Tapi dengan status yang saat ini, tidak mudah bagi dirinya untuk meminta Nayla menceritakan masalah yang tengah di hadapi oleh gadis itu.


“.... Aku tidak ingin mencintai, kemudian di tinggal menikah,”


Kalimat yang ucapkan Nayla begitu nusuk hatinya sangat dalam.


Dia ingin menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu, tapi orang lain selangkah darinya.


______________________________________


“Oh. Ada pacarku di sini,” kata Nayla ketika melihat Raysa kemudian mendekat ke arah Raysa.


“Kenapa kau mabuk?” tanya Raysa sambil menghapus air mata di pipi gadis yang tengah berada di dalam pelukannya itu.


“Aku minum air yang botol itu,” kata Nayla sambil menunjuk sebuah botol.


“Ini Alkohol,” kata Kurniawan ketika memeriksa botol yang di tunjuk oleh Nayla.


“Kenapa kepalaku pusing...” kata Nayla.


BRUK


Nayla terjatuh ke dalam pelukan Raysa.


“Aku akan mengantarkanmu ke tendamu,” kata Raysa sambil mengendong Nayla yang tidak sadarkan diri karena meminum Alkohol.


“Aku tidak mabuk,” kata Nayla. “Turunkan aku, pria angsa,” kata Nayla lagi membuat Kurniawan yang mendengar hal itu tertawa.


“Kau sangat cerewet,”


“Kau seperti anak itu. Dia mengatakan padaku jika aku sangat cerewet,”


Raysa hanya terdiam dan tetap mengendong Nayla yang tengah mabuk.


“Kau makan apa sih, berat banget,”


“Kau benar-benar sama seperti anak itu. Dia juga mengatakan ku berat saat dia menggendongku lari dari penculik itu,”


Raysa menghentikan langkah kakinya saat Nayla mengatakan jika dia pernah di culik.


“Dia bahkan mengatakan lelucon konyol. Jika dia akan menikahi jika dia dewasa. Kami bahkan tidak pernah bertemu lagi saat kejadian penculikan itu,” kata Nayla. “Cih, sungguh anak bodoh,” kata Nayla lagi kemudian tertidur.


Kurniawan berada di belakang. Begitu setia menemani sahabatnya itu.


“Kau pergilah gabung bersama mereka, biar aku di sini,” kata Raysa sambil membaringkan Nayla di tempat tidur.


“Ya sudah. Aku pergi,”


Kurniawan pun berlalu meninggalkan kedua orang itu.


Raysa melihat Nayla yang tertidur setelah mabuk.


Sebulan mengenal gadis itu, barulah dia tahu jika begitu banyak rahasia yang di simpan oleh gadis mungil itu.


“Apa dia benar-benar tertidur?” sebuah suara datang dari arah belakang Raysa dia adalah Aufal. “Aku hanya datang melihatnya. Jika seperti itu, aku akan kembali,” kata Aufal lagi.


“Tunggu... Bisa kita bicara sebentar?” tanya Raysa.


“Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?”


“Semuanya tentang dia,”


“Dia gadis yang ceria, cepat bergaul dengan banyak orang. Itu yang aku tahu,”


“Bagaimana saat kalian...”


“Dia memilih untuk memutuskan hubungan denganku, baik di sosmed ataupun sekedar menanyakan kabar. Aku baru mengetahui apa yang terjadi selama tiga tahun ini, saat dia mengatakannya tadi. Dia orang yang tertutup soal privasi apapun jika orang itu di anggapnya bukan siapa-siapa baginya, termasuk;aku. Sekalipun aku memintanya untuk bercerita tentang masalahnya, dia tidak akan mengatakannya. Itulah dia. Sekali terdapat jarak, sulit untuk membuatnya berada sangat dekat lagi, termasuk kepercayaan,”


“Terima kasih telah mengatakannya,”


“Aku peringatkan padamu. Kau tidak boleh membuatnya menangis,” kata Aufal sambil pergi meninggal Raysa.


______________________________________


Kampus 08.30am

__ADS_1


Suasana tampak begitu heboh, karena sebuah vedio Nayla tengah mabuk.


Begitu banyak perbedaan pendapat. Termasuk pendapat para para dosen, dekan, dan rektor di kampus mengenai vedio tersebut.


Bahkan para kepolisian tengah menyelidiki kembali kasus yang terjadi tiga tahun lalu.


______________________________________


Beberapa orang yang lewat tengah berbisik-bisik ketika mereka melihat sesuatu.


“Ugh! Aku tertidur di sini,” kata Raysa membatin sambil mengamati keadaan sekitar. “Dia masih tidur rupanya,” kata Raysa sambil mengusap rambut gadis itu.


Seketika Raysa bergegas beranjak dari tempat itu.


Kring... Kring... Kring...


Suara deringan telfon membuat Nayla terbangun.


“Hallo... ini dengan Ibu Nayla Putri?”


“Iya benar,”


“Kami dari .............. ingin mewawancarai ibu terkait kejadian tiga tahun lalu di kampus anda...”


“Maaf, anda salah orang,”


TUT!


Nayla mematikan telfon itu.


“Mengapa mereka tiba-tiba menelfonku dan menanyakan soal kejadian itu?” kata Nayla membatin.


“Sudah bangun?” sapa seorang prajurit menghampiri Nayla—Jufri. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lagi.


“Agak pusing,”


“Kapten memintaku untuk membawakan ini untukmu,”


“Di mana dia?”


“Beberapa hari ini akan sibuk,”


“Ah begitu ya,”


“Iya benar,”


“Uwaaa... ini Limited Editions. Mengapa ada di sini,”


“Kau boleh mengambilnya jika kau suka,”


“Eee... Apakah boleh?”


“Iya, tentu boleh,”


“Uwaaa... Terima kasih. Mengapa kau memberikan ini secara cuma-cuma padaku?”


“Aku masih punya satu lagi kok di rumah,”


“Kau penggemarnya juga?”


“Em. Iya,” jawab Nayla berbohong.


Nayla hanya menatap tentara itu.


“Oh iya, soal semalam...”


“Semalam?”


“Iya, kau mengatakan jika kau tidak membunuh pria itu,”


“Kapan aku mengatakan itu?”


“Semalam, kau mabuk dan mengatakan kejadian tiga tahun lalu,”


“Mabuk?”


“Aaaahhh... Teman-temanmu merekamnya semalam. Ini,” kata pria itu sambil memperlihatkan rekaman vedio pada Nayla.


Nayla beranjak dari tempat tidurnya kemudian mencari Raysa.


“Dimana Raysa?” tanya Nayla saat bertemu dengan Kurniawan.

__ADS_1


Kurniawan hanya melihat Nayla.


“Dia lagi menghadap ke Jendral,”


“Tolong antar aku ke kota,”


“Kapan?”


“Sekarang,”


“Aku ambil mobil dulu,”


***Tiga puluh menit yang lalu**...


Sebuah faxmile masuk.


“Ini...”


“Kasus tiga tahun lalu. Kasus melibatkan anak seorang jendral, dan kasusnya di tutup diam-diam. Beberapa orang di keluarkan dari kampus, sedangkan dua orang tetap berada di kampus, termasuk Nayla,”


“Vedio yang semalam menyebar cepat. Aku di hubungi oleh atasan untuk membawanya kembali ke Ibukota,”


“Apa yang akan terjadi padanya...”


“Tersangka...”


“Yang benar saja, dia mengatakan bukan dia yang membunuhnya. Mengapa jadi dia?”


“Masalahnya dia menarik pisau itu, dan..."


“Media hanya membesar-besarkan, tanpa tahu kebenaran hal ini,”


“Sebenarnya kasus ini di kunci dengan pengamanan tinggi di kepolisian oleh seorang detektif*,”


Nayla hanya duduk diam di dalam mobil sambil memejamkan matanya.


Seakan dia tengah berpikir masalah yang akan terjadi. Kurniawan beberapa kali melihat ke arah Nayla.


“Raysa mengatakan akan mengantrkanmu kembali,”


“Ah begitu ya,”


“Em... Soal...”


“Aku harus membela diri, benar bukan?”


“Kau tidak takut?”


“Tidak, selagi aku melakukan hal yang benar,” kata Nayla.


“Tapi...”


“Saat aku menyembunyikan kenyataan bersama mereka dan membuatku di jauhi oleh orang-orang. Aku hanya berharap jika suatu saat aku akan kelepasan berbicara tentang kejadian itu,” kata Nayla sambil mencoba tersenyum.


“Gadis itu adalah anak...”


“Aku tahu, gadis itu mengatakan jika aku di buatnya menjadi tersangka atas kejadian itu, karena ayahnya adalah seorang Jendral...”


Nayla menatap jauh ke depan, melihat jalan bebatuan yang mereka lewati.


“Bagaimana bisa kau setenang ini?”


“Menghadapi masalah, otak kita harus tenang, agar dapat berfikir dengan jernih, dan tidak mengambil langkah yang salah. Ketika kita gugup, otak akan merespon dan bertindak tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan,”


“Tapi, kau menjadi tersangka...”


“Di luar sana ada orang-orang baik yang akan mengungkapkan kebenaran. Karena di dunia ini masih ada keadilan,” kata Nayla sambil tersenyum.


—————————To be Continued————————


“Cerita Ini Sepenuhnya Fiksi. Nama, Karakter, serta Organisasi yang muncul, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata”


Kritik & Saran silahkan tinggalkan komentar.


Instagram : dih_nu


Baca juga :


- Something Lost


Terima Kasih Telah Membaca!

__ADS_1


Jangan lupa Vote jika kalian mendukung saya dalam menulis novel!


__ADS_2