
“Bisakah kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya seorang wartawan.
Petugas kepolisian tidak memberikan pernyataan resmi bagaimana kronologis pembunuhan yang memakan begitu banyak korban dalam kurun waktu 1,5tahun terakhir.
Enam bulan lalu, sejak berhentinya pembunuhan.
“Diana...” kata wanita yang tengah ketakutan.
Pria memakai hodie itu tersenyum sumrigai. Seperti mendengar nama, di ujung kematian seseorang membuatnya mengisi energi kehidupannya.
***
Suasana kampus tampak begitu ramai, seorang anak gadis tengah di pandangi oleh beberapa anak laki-laki di kampus. Ya! Itu bukan kali pertama gadis itu mendapat tatapan dari para pria. Sepertinya dia tengah asik memainkan ponselnya, sesekali dia menyerup minuman yang telah dipesannya sedari tadi.
Ddrrr... Ddrr... Ddrr...
Suara Ponsel bergetar di balik saku jaketnya.
“Kau tidak lupa hari ini bukan?” sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Gadis itu bernama Nayla Adelia di jurusan Psikologi dan hanya membutuhkan waktu dua tahun untuknya menamatkan kuliah S1-nya. Rencananya dia akan melanjutkan kuliah S2-nya di luar negeri. Dia sangat populer di kalangan kampus, dengan julukan frozen girl karena setiap ada laki-laki yang menyatakan cinta padanya selalu di tolak.
Emang dia sangat cantik namun karena sikap dinginnya dalam menolak semua pengakuan cinta membuatnya di pandang sebelah mata. Dia bahkan tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang-orang padanya. Baginya, itu hanyalah sebuah pembicaraan sepihak yang tidak mempengaruhi kehidupannya.
Nayla adalah seorang penulis novel terkenal, dalam dunia Novelis dia di kenal dengan sebutan Ghost Psiko karena naskahnya terkenal dengan genre thiller dan crime serta tidak ada yang mengetahui identitasnya selain editornya sendiri.
“Aku harus mencari tambahan uang lagi untuk kebutuhan dua tahun di sana. Apa aku kerja paruh waktu saja sambil menulis naskah baru?” gumannya dalam hati.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya lagi. Membuatnya begitu terburu-buru pergi.
Sebuah kafe bernuansa modern di padukan dengan desain klasik kuno masuk ke dalam sebuah kafe. Suasana tidak begitu ramai, namun terdapat beberapa pengunjung.
“Oh, Nay. Sini...” sebuah sapaan untuk gadis itu dari seorang wanita umurnya sekitar 35thn.
“Oh editor,” sapa Nayla sambil duduk di bangku depan wanita yang dipanggil editor itu.
“Apa yang sedang kau kerjakan?” tanya wanita itu.
“Naskah baru, hampir selesai. Mungkin aku, akan mengirimkannya minggu ini, kemudian akan melanjutkan naskah baru lagi,” jawab Nayla.
“Baiklah. Aku ingin kau menandatangani kontrak untuk naskah barumu,” kata wanita itu.
Tanpa membaca kontrak, Nayla langsung saja menandatangani kontrak.
“Editor Lee, apa kau memiliki kenalan yang lagi membutuhkan tenaga kerja? Jika ada, aku ingin bekerja paruh waktu tanpa menghambatku dalam menulis naskah baru,” tanya Nayla.
“Kenapa? Bukankah gaji menjadi penulis selama ini cukup untukmu?" tanya Editor Lee.
“Uangnya belum cukup untuk biaya hidupku jika aku kuliah di Luar Negeri selama dua tahun nanti, lagi pula gaji selama ini untuk membiayai adikku dan ibuku,” kata Nayla dengan nada melemah.
“Baiklah, aku akan membantumu mencari pekerjaan,” kata editor Lee sambil mencek kontrak yang telah di tanda tangani oleh Nayla. “Nayla, kami ingin kau membuat sebuah perubahan dalam naskahmu kali ini,” kata Editor Lee.
__ADS_1
“Pastinya,” kata Nayla dengan nada meremehkan.
“Kami ingin kau menambahkan unsur romantis dalam naskahmu kali ini," kata Editor Lee membuat Nayla terbelalak kaget.
“Tidak, aku tidak bisa mencampurkan unsur romantis pada novelku,” kata Nayla menantang. “Aku ini penulis dengan julukan Psiko Writer, Ghost Psiko apa yang akan mereka katakan jika aku menulis novel romantis. Pokoknya, aku tidak akan menulis novel romantis,” kata Nayla dengan nada sedikit tinggi.
Karena kesal, Nayla beranjak pergi namun langkahnya terhenti karena sebuah kalimat dari Editor.
“Kau tidak bisa melanggar kontrak,” kata Editor sambil menunjuk sebuah perjanjian yang tidak bisa di tolak oleh Nayla.
Dengan kesal, Nayla mengikuti apa yang dikatakan oleh Editor Lee.
“Jangan terlalu kesal seperti itu, kita akan mencetak rekor baru jika kau menulis novel dengan genre berbeda dari sebelumnya. Pasti akan laris di pasaran dan akan di lirik oleh produser-produser besar. Ini akan, menambah uang kuliahmu nanti,” kata Editor Lee.
“Baiklah, sampai jumpa nanti. Aku akan memikirkan bagaimana caranya agar aku mendapatkan ide untuk menulis naskah baru,” kata Nayla sambil beranjak pergi meninggalkan Editor Lee.
“Aaa. Nayla. Kau tidak perlu khawatir soal pekerjaan. Kau akan mendapatkan pekerjaan jika kau di tempat kuliahmu nanti,” kata Editor Lee sambil tersenyum
Nayla mengacak rambutnya, karena begitu kesal hingga semua orang menatap ke arahnya.
***
Meja berwarna coklat ke emasan terlihat disebuah ruang kamar. Beberapa buku terlihat di atas meja tersebut, dan sebuah laptop di atas meja itu. Dari arah luar, Nayla membawa secangkir kopi dan diapun melanjutkan ketikannya. Tidak lupa kacamata bulat kesayangannya terpasang di wajahnya. Dia menjadi gadis culun ketika dia menulis naskah, dengan kepribadian yang tidak bisa dijelaskan.
Tak... Tik... Tak... Tik... Tak... Tik...
Delete... Delete... Delete...
Tak... Tik... Tak... Tik... Tak... Tik...
Delete... Delete... Delete...
Serasa lagi frustasi karena kehabisan ide untuk naskahnya.
Tiga tahun telah berlalu sejak saat itu, dia tidak ingin menulis sesuatu tentang cinta. Karena dia tidak ingin melibatkan perasaannya lagi.
“Aaaiiisss... Editor sialan. Aku tidak tahu, harus membuat adegan seperti apa. Aaakkhh...” kata Nayla sambil mengacak-acak rambutnya.
“Nay ada apa? Kenapa berteriak seperti itu?” tanya seorang wanita sambil membuka pintu kamar Nayla.
“Tidak kenapa-kenapa, aku hanya lagi pusing memikirkan sesuatu,” kata Nayla sambil tersenyum.
“Sebaiknya sarapan dulu, hari ini ada kuliah bukan? Hari ini dosen Killer itu yang masuk, jadi kita harus tiba di kelas sebelum dia. Bisa-bisa kita dapat nilai rendah dan bisa mengulang semester depan!” kata gadis yang tinggal se rumah dengan Nayla.
“Aku bisa sedikit santai, karena ini semester akhirku,” kata Nayla membuat temannya mengerucutkan bibirnya.
“Ah, dia pria tua. Tapi masih saja dia dosen Killer di usianya seperti itu,” kata gadis itu. “Aaaa... menyebalkan. Tapi, mata kuliahnya—wajib,” kata teman Nayla sambil mengembungkan pipinya.
“Sudahlah. Nggak perlu menghibah, dosa tahu...” kata Nayla sambil tertawa kecil. “Lebih baik menenangkan pikiran, sambil mencari ide,” kata Nayla membatin.
“Daripada dia, hal yang membuatku frustasi adalah hal romantis,” kata Nayla membatin. “Lebih mengerihkan daripada pembunuhan yang ku lakukan di dalam naskah,” kata Nalya lagi.
__ADS_1
***
Sebuah taman di tepi sungai dekat kampus yang begitu jarang di kunjungi oleh para mahasiswa ataupun masyarakat karena terdapat hewan legendaris penunggu taman itu. Bagi Nayla hewan legendaris itu adalah sahabatnya, karena setiap saat dia memberi makan hewan-hewan tersebut.
"Makan yang banyak, dan pergilah jalan-jalan. Aku ingin sendiri," kata Nayla berbicara pada hewan yang tengah di berinya makan tersebut.
Dengan wajah lemas dia memikirkan ide untuk naskah novel barunya.
Waktu berlalu, tidak terasa dia berada di taman itu selama dua jam memikirkan ide naskah terbarunya.
“Aaaaa.....” suara teriakan terdengar.
Dari kejauhan terdengar seorang anak tengah berlarian, sedang di depannya terlihat seorang pria tengah berjalan. Sama seperti Nayla, pria itu menoleh ke arah belakang—mencari asal suara yang dia dengar.
Mengikuti suara teriakan, dan anak yang tengah berlarian dia pun ikut berlarian. Hewan-hewan berwarna putih dengan lantangnya mengejar mereka—itu adalah hewan legendaris penunggu taman ini—Angsa Putih, kedua orang tersebut berlarian.
Anak yang tengah di kejar Angsa bersembunyi dibalik tubuh pria itu. Membuat pria itu yang semakin di kejar oleh angsa, Nayla tertawa terbahak-bahak ketika melihat pria itu memilih menceburkan dirinya ke dalam sungai karena tidak menemukan jalan lain untuk kabur.
Kedua orang tua anak yang di kejarnya terdiam ketika melihat pria itu menceburkan dirinya ke dalam sungai, sedang Nayla tertawa melihat kejadian itu.
Mereka lebih heran, ketika aku menyuruh angsa-angsa tersebut pergi.
“Apa kau pemilik hewan itu?” tanyanya.
“Tidak, mereka hewan liar disekitar sini. Aku hanya sering memberi mereka makanan,” Nayla sambil menahan tawa. “Sebaiknya kau keluar saja dari situ, di dalam sungai ada buaya,” kata Nayla berbohong membuat pria itu terbirit- birit keluar dari sungai sedang Nayla pergi meninggalkan Pria itu.
Sebuah handuk dan pakaian terlihat di bangku taman itu. Sepertinya Nayla memberikan pakaian itu untuk pria yang di kejar angsa tersebut.
***
“Hei Psiko,” sebuah suara memanggil.
Nayla melihat kearah kiri-kanannya, serta belakangnya.
“Kau memanggilku?” tanya Nayla.
“Emang siapa lagi yang ku panggil jika bukan kau,” kata gadis yang di memanggil Nayla.
“Kau cari ribut denganku?” tanya Nayla sambil memasang wajah sinisnya. “Apa kau tidak ingat, jika aku bisa membuatmu masuk rumah sakit? Apa kau mau seperti dulu?” tanya Nayla. “Coba saja, jika kau ingin kembali ke rumah sakit dengan patah tulang lagi,” kata Nayla sambil berbisik di telinga gadis itu.
Gadis itu hanya terdiam ketika Nayla mengucapkan hal yang membuatnya begitu merinding.
Tidak ada yang tahu pasti, apa yang sebenarnya terjadi pada saat masuk kuliah yang membuat beberapa mahasiswa baru di keluarkan dari kampus.
Sekilas memori Nayla tergambar.
“Ayolah...” kata seseorang sambil meraih lengan Nayla memasuki sebuah rumah.
DEGH!
Darah bercucuran keluar, dan terciprat ke dinding di dekatnya.
__ADS_1
.......