A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 32 Tentangnya — Raysa


__ADS_3

Semakin hari, hati ini bergedup tidak karuan.


— Alan Aditya Raysa —


.


.


“Apa kau benar-benar mencintai kapten itu?”


Tiba-tiba, hatiku berdegup dengan cepat mendengar pertanyaan itu. Seakan ada ribuan volt listrik yang menyengat di tubuhku. Aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang akan di jawab oleh gadis itu.


“Katakan padaku apa kau mencintainya?”


Aufal mengulangi pertanyaannya, seakan ingin tahu tentang jawaban gadis itu.


“Cinta? Mungkin!” jawab Nayla.


Entah kenapa, jawabnnya semakin membuat hatiku tidak karuan mendengar jawabannya. Ku coba memegang dada kiriku, seakan ingin menenangkan.


“Tidak, bukan mungkin! Tapi, mungkin aku akan benar-benar mencintainya. Aku hanya mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu denganmu, dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,” kata Nayla.


“Tunggu... Ku mohon tunggu sebentar,” lagi-lagi pria itu tidak mengizinkan Nayla.


Nayla tidak menghiraukan apa yang pria itu katakan padanya.


“Setidaknya, biarkan aku menjelaskan padamu,” aku mendengar apa yang baru saja di katakan pria itu. “Tidak mempertahankanmu di sisiku adalah kesalahanku,” kata Aufal lagi sambil memukul dan menendang pohon di hadapannya itu.


Raut wajah yang sedih, marah, terlihat jelas di wajahnya. Seakan ada ribuan penyesalan yang mengelilinginya. Apa yang membuat gadis itu begitu spesial untuknya, hingga membuatnya sebegitu tersiksa.


Angin malam berhembus begitu dingin, menambah kesunyian di malam yang semakin larut. Suara tangisan terdengar sesegukan. Terkesan sedih, penuh luapan emosi.


Punggung seorang wanita yang tengah duduk sambil menangis di bawah langit malam ini.


“Kau ingin jadi kuntilanak dadakan di sini?” tanyaku sambil memakaikan jaket pada Nayla.


Seketika dia menghapus air matanya ketika aku duduk di sampingnya.


“Aku mendengar percakapanmu dengan Aufal,” kataku.


“Eh!”


Ekspresi kaget karena dia tidak menyadari jika aku mendengar pembicaraan mereka berdua.


“Aku dan Wawan tadi tengah keliling, jadi kami tanpa sengaja mendengar apa yang kalian bicarakan,” kataku menjelaskan padanya.


“Ah begitu ya!”


Dia seakan tidak masalah ketika aku mengetahui tentang masa lalunya.


“Mengapa kau menangis di sini? Apa kau masih punya perasaan padanya?”


“Perasaan? Tidak mungkin,” kata Nayla.


“Terus jika bukan itu....”

__ADS_1


“Aku hanya teringat Ayah jika berbicara tentang masa lalu. Hubunganku tidak seperti apa yang kau dengar, lebih sulit dari itu,” kata Nayla.


“Soal... Jawaban yang kau berikan pada Aufal... Soal...”


“Ah itu. Aku tidak benar, aku hanya membuatnya agar menyerah saja,”


Deg!


Aku yang mendengar jawaban langsung darinya rasanya tidak menyukai jawaban itu.


“Ketika kita di hina habis-habisan oleh seseorang yang kita hargai, kau akan mengambil tindakan yang akan mempertahankan harga dirimu. Benar bukan,” katanya.


“Aku dengannya seperti itu. Dia seperti pulau di seberang lautan yang jauh ku jangkau, ketika aku menemukan penyebrangan, dan mendapatkan halangan saat mendekatinya. Maka, aku akan memutar haluan, apalagi ketika halangan di depan sana adalah jebakan yang di buat untuk menentang kita. Memperjuangkan atau menyerah. Hanya itu pilihan yang diberikan. Tapi... Aku memiliki prinsip, aku tidak ingin jadi orang kedua dalam kehidupan pernikahan apalagi dia yang menyerah lebih dulu,” katanya lagi.


Dia bercerita banyak hal tentang hubungannya dengan Aufal, walaupun memakai logika tanpa langsung mengatakan permasalahannya padaku. Mungkin dia tidak ingin aku masuk ke dalam kehidupannya lebih dalam. Aku menjadi pendengar yang baik untuknya.


“Ibunya pernah berkata padaku sebelum hari pernikahannya. Bahwa apapun yang aku lakukan untuk bertahan, aku akan di buat menyerah terus menerus. Aku masih percaya, bahwa aku memperjuangkan dan di perjuangankan. Hingga, aku menerima pesan jika dia menikah dan itu adalah pilihannya,”


Aku melihat ekspresi wajahnya saat mengatakan hal itu. Sesuatu yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.


“Karena itu... Apapun yang terjadi, aku tidak ingin melibatkan perasaan. Mencintai tidak lebih sekedar teman dan keluarga, hidup dengan hati yang dingin lebih baik daripada terluka,”


“Melihatmu memperjuangkan dia, aku sungguh berharap jika dulu diapun sama. Bahwa perasaanmu tidak akan berubah, bahwa janjimu akan kau tepati,”


Aku terdiam tidak menjawab, sampai aku mengalihkan pembicaraan agar tidak terlarut dalam suasana.


.


.


Seakan dirinya tengah di jauhi, bahkan tak ada yang teman yang tengah bersamanya. Dia tengah duduk melingkar dengan anak-anak kecil sambil memberikan pelajaran.


Senyum yang tidak pernah ku lihat dari sebelumnya, dia begitu terbuka dengan anak-anak. Beberapa orang prajurit tengah melihatnya, termasuk dokter itu—Aufal.


Wajah yang biasanya terlihat kaku, kini tersenyum dan tertawa lepas seakan tidak ada pemisah antara dia dengan anak-anak.


Aku masih penasaran, mengapa dia di benci dan dijauhi, aku hanya mendengar dari timnya tentang gosip dirinya.


Ketika selesai kegiatan mereka ingin mengadakan makan malam besar-besaran. Begitu banyak yang sibuk mempersiapkan keperluan, sedangkan dia hanya duduk sambil mengetik di laptopnya dan mendengarkan lagu.


Aku hanya bisa mengamatinya dari kejauhan dari teleskop senjata milikku. Sesekali dia memejamkan mata, kemudian membuka matanya dan memainkan jemari-jemari tangannya, seakan dia tengah membuat sebuah reka adegan di otaknya kemudian mengetiknya.


“Meraka mengajak kita untuk gabung,” kata Kurniawan yang melihatku tengah membidik Nayla.


“Jika kau menyukainya, katakan saja. Setelah itu, kita bertarung,”


“Apa yang kau katakan? Dia mengatakan padaku bahwa dia tidak menyukaiku, tapi mendengar langsung darinya seakan aku tidak ada yang suka,” kataku sambil membuat lelucon.


Ku lihat langkah kakinya begitu sempoyongan membuatku meloncat dari menara bertingkat tiga itu.


“Yaaaaaaa....” suara teriakannya terdengar membuat orang-orang melihat kearahnya, bahkan mereka yang tadinya ingin pergi dari tempat itu, memilih untuk diam.


“Mengapa kalian pergi saat melihatku? Apa semenakutkan itu aku di mata kalian?” tanyanya dengan suara parau.


“Apa salahku pada kalian, kenapa kalian menjauh dariku? Aku tidak menggangu kalian, aku tidak berbicara dengan kalian. Tapi kenapa kalian membenciku?”

__ADS_1


Aku mencoba mendekat ke arahnya, wajahnya begitu sedih.


“Aku... Aku tidak membunuhnya,”


Aku terkejut mendengar apa yang baru saja dia katakan. Membunuh? Membunuh siapa? Apa maksudnya, apa ini yang membuat mereka takut dengannya.


“Aku tidak membunuhnya. Mereka ingin memperkosaku. Mereka ingin memperkosaku. “Aku hanya membela diri. Mereka membawaku di atap gedung kampus, mereka memukulku, mereka menjambak rambutku,”


Dia mengatakannya sambil menangis menceritakan apa yang di alaminya. Aku hanya terdiam mendengar apa yang ingin dia katakan.


“Tapi tiba-tiba, pacar senior itu datang. Mereka bertengkar. Kakak senior yang lain mencoba menenangkan mereka berdua tapi tidak sengaja mereka membuat pria itu jatuh dari atas gedung. Dan senior itu semakin bertengkar dengan pacarnya membuat pacarnya tidak sengaja menusuknya dengan pisau. Aku hanya membantunya, agar darah tidak keluar,” kata Nayla menjelaskan dengan menangis, beberapa teman sekampusnya merekam apa yang di katakan olehnya.


“Tapi kalian menganggapku sebagai Psikopat, hanya karena aku selalu menjauh dari mereka yang mendekat padaku. Aku punya alasan. Alasanya karena aku tidak ingin mencintai seseorang lagi, kemudian memilih menikah dengan orang lain,”


“Aku ingin berteman dengan kalian, tapi kalian takut denganku,” teriaknya.


Tiba-tiba matanya melihat ke arahku.


“Oh. Ada pacarku di sini,” katanya sambil melangkah dengan sempoyongan karena pengaruh alkohol.


“Kenapa kau mabuk?”


“Aku minum air yang botol itu,” katanya sambil menunjuk sebuah botol.


Kurnia, melihat isi botol itu.


“Ini Alkohol,” kata Kurniawan ketika memeriksa botol yang di tunjuk oleh Nayla.


“Kepalaku pusing...” kata Nayla.


BRUK


“Aku akan mengantarkanmu ke tendamu,” kataku sambil mengendongnya yang tidak sadarkan diri karena meminum Alkohol.


.


.


———————— To be Continued ————————


"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"


Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.


Baca juga :


- Something Lost


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang Terbagi


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!

__ADS_1


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.


__ADS_2