A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 38 Rumah Tua di Tengah Hutan


__ADS_3

Kicauan burung-burung bersahut-sahutan, Nayla masih tengah tertidur di dalam tenda. Sedangkan, Raysa tengah memasak di luar.


Raut wajahnya begitu bahagia, sesekali melihat ke arah sosok gadis yang masih tertidur itu. Seikat bunga tengah berada di samping Nayla, sepertinya bunga yang di petik oleh Raysa saat pergi mencari kayu bakar.


Ada alasan lain, mengapa Nayla kembali ke tempat itu. Tempat, dimana nyawanya hampir hilang karena tertembak. Yaitu, kasus dua tahun lalu yang tidak terselesaikan.


“Aku haus,” kata Nayla saat bangun.


Raysa bergegas mengambilkan air minum untuk gadis itu. Seakan, bukan hal besar.


“Aku tadi pergi berburu, ada ikan dan ayam, dan juga hewan itu...” kata Raysa menjelaskan, dan menunjuk sebuah hewan yang tengah di ikat di pohon.


“Bukankah itu...”


“Anak Rubah...”


“Tapi, bagaimana bisa ada hewan seperti ini? Bukankah...”


Nayla mendekat ke arah hewan kecil itu. Sepertinya hewan itu baru berumur sekitar 3bulan.


“So cute,” kata Nayla sambil melihat hewan kecil itu.


“Hati-hati, saat aku menangkapnya dia begitu galak,"


Raysa memperingati gadis yang tengah ingin mengelus hewan liar itu.


“Benarkah?” tanya Nayla tidak percaya, karena saat dia mendekati hewan kecil itu, hewan itu bahkan tidak memberontak sama sekali. “Tapi, dia tidak segalak yang kau katakan,” kata Nayla lagi.


Raysa yang melihat itu, terkejut. Jelas-jelas hewan itu, saat dia menangkapnya begitu galak dan beberapa kali akan menggigitnya.


“Rumah kecil di tengah hutan itu. Apa masih di jaga sampai sekarang?” tanya Nayla mengingatkan tentang kejadian dua tahun lalu.


Hewan kecil itu, begitu nyaman di pangkuan Nayla sambil di elus dengan lembut bulu-bulunya.


“Masih, tapi tidak seketat seperti pertama sih. Kenapa, apa kau ingin ke sana?” tanya Raysa.


Nayla mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tasnya, dokumen itu dia dapatkan beberapa hari yang lalu.


“Kami tidak menemukan tentang penyelundupan senjata saat itu. Apalagi, dengan kotak-kotak yang penuh dengan senjata yang kita berdua lihat dua tahun lalu. Rumah itu, juga tidak ada yang spesial sama sekali. hanya gubuk biasa,” kata Raysa menjelaskan.


“Di sini sudah ada jaringan ya,” kata Nayla ketika melihat jaringan di ponselnya begitu full, bahkan internetpun ada.


“Iya, ini di rekomendasikan oleh Ayahmu itu. Bahkan menaranya saja, tinggi banget,” kata Raysa menunjuk pada satu tower yang begitu tinggi.


Nayla duduk sambil mengamati laptopnya. Ada beberapa email yang masuk, dan juga begitu banyak pesan yang masuk. Kemudian, dia menutup kembali laptop miliknya.


“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Rasya sambil memberikan sepotong daging ayam bakar pada Nayla.


“Eem.. be... lllm.. aku pikirkan,” kata Nayla sambil mengunyah makanannya.


“Aku tidak kerjapun masih ada yang memberiku makan,” kata Nayla sambil melanjutkan makannya. “Aku bisa minta uang jajan pada Ayah, atau Ibu. Em, meminta pada kak Kurnia atau Naomi pasti juga akan di berikan,” kata Nayla membanggakan keluarganya.


“Apa benar kau ini Nayla? Nayla yang aku kenal bukan seperti ini,” kata Raysa dengan ragu.


“Ya sudah jika tidak percaya, kau boleh meninggalkanku disini,”

__ADS_1


Nayla merasa kesal, karena pria itu tidak mempercayai jika dirinya adalah Nayla. Nayla dengan lahap memakan makanannya, dia tidak habis pikir pria yang tengah dengannya itu tidak mempercayai dirinya.


Nayla menyelesaikan makanannya, dan mengisi semua barang-barangnya ke dalam tas ranselnya. Hanya, sebagian barang yang dia bawa sejak awal yang di kemas olehnya.


“Hmm. Jika kau tidak percaya, lebih baik aku menyuruh Aufal untuk membatalkan penceraianku dengannya,”


Nayla melangkah pergi meninggalkan Raysa yang masih melahap makanannya.


Walaupun sudah lama tidak ke tempat itu, dia masih ingat jelas jalan menuju rumah tua di tengah hutan.


Tidak ada yang spesial dari rumah itu, bahkan di dalam rumah itupun hanya terdapat beberapa lemari, dan meja serta ranjang yang tengah beralasakan tikar lusu. Rumah itu memang sudah lama tidak ada yang huni, sejak dua tahun lalu.


“Bagaiman mereka bisa lolos? Saat itu, aku jelas ingat dia juga tertembak,” gumam Nayla sambil memeriksa keadaan ruangan itu. Lantainya, terbuat dari semen, beberapa kali Nayla mengetuk lantai tetap juga tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


Dia melihat ke arah lemari tua itu. Buku-buku sudah lama tidak terbaca. Buku-buku yang tertata rapi adalah buku-buku yang sangat mahal, ada dunia medis, dan juga beberapa buku dengan bahasa mandarin, dan juga buku dari bahasa india kuno, dan beberapa buka lainnya.


Nayla duduk di ranjang lusuh itu sambil membaca buku yang di ambilnya di rak itu.


Sedangkan di lain tempat, Raysa pulang mencari Nayla, namun tidak menemukan di sepanjang jalan. Dia beranggapan jika gadis itu telah kembali ke Markas.


“Ray, Nayla mana?” tanya Kurniawan membuat Raysa seketika terkejut dengan pertanyaan itu.


“Bukannya dia sudah kembali?” tanya Raysa balik. “Dia kembali lebih dulu dariku,”


“Sejak tadi dia belum juga kembali,” kata Kurniawan menjelaskan.


Banyak pertanyaan yang kini muncul di dalam pikiran Raysa dan Kurnia saat itu. Apalagi, saat itu hari sudah mulai gelap.


Nayla masih saja asik membaca buku, tiba-tiba dia penasaran dengan sebuah buku yang berjudul agak aneh. Ketika dia hendak menarik buku itu, ranjang yang sejak tadi di tempatinya itu bergeser ke samping dan sebuah tangga terlihat. Padahal, jelas-jelas dia memeriksa bagian bawa ranjang itu namun tidak menemukan apapun yang spesial, namun kini telah berubah menjadi sebuah ruang bawa tanah.


Nayla melangkah turun ke bawa. Pelan, dan penuh hati-hati. Dia hanya mengandalkan penerangan dari senter hp miliknya.


Debu di dalam ruangan itu begitu tebal, sepertinya memang tidak di tempati. Namun ada beberapa hal aneh di dalam ruangan itu. Seperti beberapa barang lainnya hilang karena terlihat jelas tidak ada barang yang telah di angkat, dan juga jejak telapak sepatu. Namun jejak itu hilang seketika.


Nayla naik ke atas, dengan menekan tombol untuk membuka pintu. Kemudian buru-buru membereskan bawaannya serta beberapa buku yang tidak dia mengerti.


Kurnia, Raysa dan beberapa orang lainnya tengah mencarinya di hutan. Namun, sudah dua jam mereka belum juga menemukan keberadaan Nayla.


Nayla membuat api unggun di dekat sungai, tempat di mana mereka pernah berkemah sebelumnya. Sambil memainkan harmonika miliknya di temani dengan rubah kecil yang sejak tadi mengikutinya membuatnya terlelap dalam tidurnya sambil bersandar di sebuah batu besar.


Ketika dia membuka mata, dia berada di kamar yang tidak terlalu luas, sambil memakai selimut. Beberapa meter darinya, dia melihat Raysa dan Kurnia tengah tertidur.


“Apa yang terjadi, padahal jelas-jelas aku masih di dekat sungai semalam,” gumam Nayla.


Beberapa jam yang lalu...


Raysa yang mendengar dengan samar-samar saura harmonika mencari asal suara itu, di tambah dengan penuturan anggota timnya yang mengatakan jika dia melihat api di dekat sungai.


Nayla tertidur pulas, bahkan tidak menyadari kedatangan dan suara berisik Raysa dan anggota timnya.


“Bagaimana dia bisa tidur di sini, bahkan tidak menyadari orang yang datang,” gumam Raysa sambil mengendong Nayla.


Samar-samar Raysa membuka matanya dan melihat Nayla tidak ada di tempat tidur, membuatnya membangunkan Kurnia.


“Rumah yang di tengah hutan itu, apakah setiap hari di jaga?” tanya Nayla menyelidiki.

__ADS_1


“Apa tidak ada yang ingin kau katakan pada kami, selain bertanya tentang rumah itu?”


“Jawab dulu,”


“Setiap hari selalu di jaga oleh timku, hanya semalam tidak karena mereka ikut mencarimu,”


“Kenapa?”


“Aneh. Jika setiap malam di jaga, bagaimana bisa mereka melarikan diri dengan mudah? Apa ada ruangan lain yang tidak ku lihat?” tanya Nayla dengan nada pelan, sambil berpikir.


“Apa maksudmu?”


“Aku ke rumah itu, dan berada di sana sampai malam,”


Krrrr.....


Suara perut Nayla berbunyi dengan sangat keras. Bagaimana tidak berbunyi, sejak dia meninggalkan Raysa di atas tebing dia tidak makan apapun lagi kecuali minum air yang di bawanya.


“Aku tidak mau kau berkeliaran lagi sembarangan,” kata Kurnia memperingati adiknya itu.


Nayla hanya memanyungkan bibirnya, dan memasang wajah tidak suka.


“Hm. Sepertinya, tidak enak memiliki kakak yang ingin tahu urusan adiknya setiap saat,” gerutu Nayla dalam hatinya.


Raysa memandang Nayla, namun gadis itu membuang mukanya ke arah samping. Dia ingin memperingatkan jika dia benar-benar marah pada pria itu.


Nayla duduk di bawah pohon yang sama seperti dua tahun lalu, sambil membaca buku yang di bawanya dari rumah itu.


Rambut hitamnya yang tergerai, dengan Earphone yang terpasang di telinganya. Ketika angin lembut menerpa rambutnya, membuat rambut miliknya itu berantakan.


Raysa membawakan secangkir minuman untuknya. Nayla menatap pria itu tanpa ekspresi, sama seperti tatapan dua tahun lalu. Seakan tidak ada perasaan yang di miliknya untuk pria yang membawakan minuman.


“Kau masih marah?” tanya Raysa.


“Aku sedang berpikir,” kata Nayla sambil memperlihatkan buku yang tengah di bacanya itu.


“Apa kau menemukan sesuatu di rumah itu?” tanya Raysa sambil memberikan minuman itu untuk gadis yang di sukainya.


Nayla mengambil, dan menyerup minuman dingin.


“Menghadap ke sana, dan coba membelakangiku,” perintah Raysa, Nayla hanya mengikutinya saja.


Raysa mengeluarkan ikat rambut dari sakunya, sambil mengambil rambut gadis yang tengah tergerai kemudian mengikatnya.


“Sudah selesai,” kata Raysa sambil membalikkan badan gadis itu. “Sekarang, angin tidak akan mengganggumu lagi saat membaca,” kata Raysa sambil mengecup dahi milik Nayla.


“Aku menemukan sesuatu di sana,” kata Nayla pada Raysa.


“Rumah itu sangat aneh, jika di lihat dari luar seperti biasa-biasa saja. Sama dengan ketika kita masuk ke dalam. Tapi, sebenarnya satu meter dari lantainya itu, ada ruang bawa tanah yang luas,” kata Nayla.


“Ruang bawah tanah?” tanya Raysa.


“Iya. Aku bisa menyimpulkan Adrian yang kabur saat itu, pasti tinggal di dalam ruang bawah tanah itu. Di sana, aku lihat beberapa kain kasa yang terdapat noda, dan peluru yang masih di sana,” kata Nayla menjelaskan apa yang di lihatnya. “Aku tidak melihat semuanya, hanya sedikit dari yang ku lihat,” kata Nayla.


“Dan buku-buku di sana juga sangat aneh. Termasuk dengan buku yang sekarang aku baca,”

__ADS_1


“Kenapa kau begitu tertarik dengan ini?”


“Hhm... Aku rasa, kejadian dua tahun lalu masih belum selesai,” kata Nayla sambil menutup buku yang di bacanya itu.


__ADS_2