A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 45 Mengapa tidak Mempercayaiku


__ADS_3

“Ada pepatah cinta berucap, aku akan menemukanmu di manapun kamu berada, sepuluh tahun, seratus tahun, atau seribu tahun akan berlalu. Walaupun, aku harus mengarungi ruang dan waktu, aku akan datang di hadapanmu,”


“Mereka yang mempercayai akan adanya reinkarnasi percaya tentang mengalirnya cinta sejati yang abadi hingga menaruh cinta se dalam-dalamnya di dasar hatinya. Menyimpan seseorang yang paling di cintainya di dasar hatinya, menyembunyikan kerinduan mendalam, dan berharap akan bertemu di lain waktu di kehidupan mendatang, berdoa pada Pencipta alam, terus menurus sampai di penghujung waktunya,”


“Apa kau percaya tentang itu?”


Nayla sedang membaca sebuah buku di bawah pohon dekat pantai. Raysa tengah duduk sambil bersandar di bahu gadis itu. Mereka tengah menikmati keindahan laut di depan sana, angin yang berhembus menambah kesan nyaman dan keromantisan di antara mereka.


“Tentang apa?”


“Reinkarnasi,”


“Hhm. Aku berharap seperti itu, tapi... aku hanya percaya pada waktu saat ini yang berjalan. Perkara hal seperti itu, entah ada atau tidak ada setelah kita sendiri yang menjalaninya suatu saat kita akan percaya,” kata Nayla sambil meletakkan buku bacaannya.


“Kita tidak perlu memikirkan tentang hal itu, karena hal itu adalah rahasia alam,” kata Nayla lagi. “Karena kita tidak akan percaya, jika tidak terjadi pada diri kita sendiri,”


Pria itu tertegun sejenak, dia seakan membenarkan perkataan Nayla.


“Mengapa Aufal begitu menyukaimu?” tanya Raysa tiba-tiba.


“Apa perlu alasan untuk menyukai orang lain? Hm. Apa kau juga punya alasan untuk menyukaiku?” tanya Nayla balik, baginya pertanyaan itu hal tabu untuk di bahas.


“Aku menyukaimu, karena aku menyukaimu. Kenapa aku perlu alasan,”


Nayla tertawa kecil sebentar.


“Kaupun tidak tahu alasannya, mengapa bertanya padaku. Menyukai seseorang tidak membutuhkan alasan, bahkan jika dia adalah musuhmu sebelumnya. Ketika kau benar-benar menyukainya, tidak perlu hal apa yang di perbuatnya kau akan tetap menyukainya,”


“Dia mengatakannya pada kami, tentang kesehatanmu,” kata Raysa sambil meraih dan menggenggam tangan gadis itu.


“Pria sialan itu, menyebalkan. Jika bertemu dengannya lagi aku akan memukulnya,” kata Nayla kesal.


“Apa kau tidak akan mengatakan padaku tentang kesehatanmu, dan terus merahasiakannya padaku? Jika bukan karena pria itu yang mengatakannya, aku dan kakakmu tidak akan tahu tentang kondisimu,” kata Raysa. “Apa aku belum cukup kau percayai?”


Nayla tertegun mendengar hal itu, dia mana tahu jika pria itu mengajukan pertanyaan seperti itu.


“Bahkan, dua tahun lalu kau tidak menunjukan ekpresi apapun, walaupun kau tahu aku telah memiliki perasaan padamu. Atau... semua yang kau tulis di novelmu, hanyalah sebatas kata yang tidak pernah ada artinya bagimu? Dan kau tidak pernah menyukaiku,”

__ADS_1


Mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut pria itu, membuat hati Nayla begitu aneh, sakit, rasanya sangat sulit untuk di jelaskan.


Nayla beranjak dari tempat duduknya, kemudian meninggalkan pria yang tengah berada di bawah pohon dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


Sebelum benar-benar pergi meninggalkan pria itu, Nayla masih mengatakan beberapa kalimat pada pria itu.


“Sejak awal aku tidak memintamu untuk percaya apa yang telah ku tulis. Karena bagi sebagian orang adalah hanyalah karya fiksi, tapi bagi mereka yang mengetahui moment itu bukan hanya sebuah karya tapi sebagai kenangan yang tidak ingin terhapus oleh waktu,”


“Jika sejak awal kau tidak percaya, kau tidak perlu melihat susunan buku itu, tidak akan menemukan cincin itu, dan tidak akan menyusulku di tebing itu. Mendengarmu mengatakan hal seperti itu membuatku beranggapan jika kau benar-benar tidak percaya tentang aku menyukaimu.”


Raysa masih mengingat apa yang di katakan oleh Nayla. Kata-kata gadis itu, terngiang jelas, bahkan tidak pernah ada satu katapun yang di lupakan olehnya.


Dia berpikir, dia yang bodoh atau gadis itu menyalahkan kesalahan pada dirinya.


Sejak awal dia membaca setiap kata romantis dalam novel itu, dan dia memeriksa apa yang terjadi di dalam novel itu. Seperti susunan buku berbentuk kata “Aku mencintaimu,” dan cincin yang di tanam di bawah pohon itu. Memang aneh, dia mempercayai hal itu, dan bodohnya dia menanyakan hal itu juga.


Nayla duduk sambil menyerup secangkir kopi, beberapa kali dia menghela nafas dengan sangat kasar. Seakan, ada yang tengah mengganjal di dalam hatinya.


Mengingat kejadian kemarin, entah kenapa dia tidak bisa menjelaskan alasan yang sebenarnya secara langsung, padahal apa yang di tulis di dalam bukunya benar-benar ungkapan dari dalam hatinya.


Saat itu Raysa tengah memasakkan makanan untuk gadis itu. Setelah sebelumnya pria itu membantunya saat dia berada di rumah orang tua angkatnya.


Walaupun dia iseng, mendekat dan mencicipi makanan yang berada di sendok yang tengah di pegang oleh Raysa, dia merasakan hatinya berdegup namun dia tidak ingin pria itu tahu tentang perasaannya itu. Karena dia sadar, jika dia dengan pria itu hanya sebatas kekasih kontrak.


Ketika perasaannya mengatakan jika pria yang tengah di hadapannya itu mulai menyukainya, namun berkali-kali dia menepis tentang kemungkinan itu.


Kontrak yang tidak boleh di langgar oleh.


Saat Raysa tengah bersiap-siap di kamarnya, Nayla menyusun buku-buku membentuk kata “Aku mencintaimu,” pastinya pria itu tidak mengetahui hal itu.


Di kencan pertamanya bersama pria itu pun, dia sangat antusias dan menggunakan alasan untuk melakukan percobaan di keramaain untuk menyembuhkan penyakit.


Alasan mengapa dia menyembunyikan ekpresinya, karena dia takut tentang perasaannya dan pria itu akan mengakhiri kontrak mereka.


Tiga tahun, bukan waktu yang sedikit ketika hatinya telah kosong, saat di khianati oleh Aufal. Saat pria itu datang dan berbagi kehangatan, hatinya yang beku mencair dan menghangat. Dia tidak ingin kehilangan pria itu, namun jelas-jelas dia tahu tentang rahasia dan janji yang di ucapkan pria itu.


Hatinya bagaikan teriris sembilu, sangat sakit dan perih sacara bersamaan.

__ADS_1


Bulan tengah mengapung, walaupun belum sempurna bentuknya.


“Sejak tadi aku perhatikan kau menghela nafas,” kata Aufal tiba-tiba sambil memberikan selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.


“Apa aku benar-benar tidak terlihat seperti menyukainya?” tanya Nayla pada pria yang baru saja datang itu.


“Apa kau bertengkar dengannya?” tanya Aufal balik.


Nayla terdiam, seakan membenarkan.


“Aku sudah mengenalmu selama ini, aku sangat melihat jelas di matamu hanya ada dirinya saat itu, walaupun kalian berpacaran hanya sebatas kontrak, ada kesedihan di saat bersamaan,”


“Tapi, aku akui jika kau begitu pintar menyembunyikan tentang perasaanmu padanya, dan aku tahu alasan. Alasannya hanya satu, kau takut terluka ketika kau mengaku padanya jika kau mencintainya sedangkan dia tidak menyukaimu, apalagi dengan kedatangan gadis itu,” kata Aufal mengelus rambut gadis itu.


Nayla melihat ke arah Aufal yang tengah tersenyum itu. Sedangkan Kurnia dan Raysa tengah menguping apa yang di katakan oleh Nayla dan Aufal.


“Kau tidak ingin mereka tahu tentang kondisimu, karena kau tidak ingin membebani mereka. Kau ingin menanggung semuanya sendiri, dan tidak ingin berbagi. Kau merasa jika kau seperti dua tahun lalu, tidak ada seorangpun di sisimu, tapi kali ini berbeda. Kau boleh memanfaatkanku sepuasnya, kau punya Raysa, kakak, Ayah dan Ibu, bahkan teman-teman yang peduli denganmu,”


“Kau boleh mengeluh pada kami. Jangan menderita sendiri,”


Nayla hanya bisa memandang tanpa ekpresi pada pria itu.


“Hei mengapa kau melihatku seperti itu?” tanya Aufal. “Kau menakutiku,” kata Aufal lagi.


“Huh!” lagi-lagi gadis itu mengela nafasnya.


“Hei, ayolah. Aku ingin sekali marah pada pria itu, yang seharusnya di tembak saat itu adalah Raysa, tapi kau menyenggol bahunya dan membuatmu menerima peluru itu di tubuhmu,” kata Aufal dengan nada tinggi dan penuh kekesalan.


“Jangan bicara seperti dengan keras,” kata Nayla sambil menutup mulut pria itu dengan tangannya.


Raysa dan Kurnia yang tengah menguping mendengar langsung terkejut.


“Kau sudah berkorban menerima peluru itu, tapi dia tidak percaya padamu. Aku akan membuat perhitungan dengannya, aku akan membatalkan perceraian, biar dia menderita. Sangat menyebalkan,” kata Aufal sambil mengepal erat tangannya.


Nayla memukul kepala pria itu.


“Apa kau bodoh? Ingin melanggar janjimu lagi?” tanya Nayla dengan kesal. “Kau tidak boleh ingkar janji lagi, aku akan kembali ke kamar,” kata Nayla sambil pergi meninggalkan Aufal.

__ADS_1


“Aku ingin memberikannya pelajaran. Kau tidak boleh melarangku,” kata Aufal.


__ADS_2