A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 20 Berdua di tengah Hutan


__ADS_3

Nayla terbangun saat hari sudah mulai gelap, dia begitu terkejut dan segera membangunkan Raysa yang masih tertidur.


“Raysa bangun...”


“Sebentar lagi...”


Buak!


Nayla memukul Raysa.


“Bangun, coba lihat. Kita kemalaman di sini,” kata Nayla sambil memukul pria itu. “Bagaimana kita pulang, jika kita kemalaman di sini,”


“Kita bermalam di sini saja,”


“Mereka pasti mencemaskan kita,”


“Sebenarnya, mereka sudah kembali ke Kam. Sepertinya mereka sudah sampai sih,” kata Raysa.


“Kau benar-benar membuatku kesal,” kata Nayla sambil membereskan barang-barangnya.


Raysa mencoba menenangkan gadis yang sedang marah padanya itu.


“Duduk baik-baik di sini,” kata Raysa sambil menuntun gadis itu duduk. “Tunggu aku di sini, aku akan mencari kayu bakar dekat sini. Kita akan berkemah di sini, jika kita pulang sekarang, kita bisa tersesat. Jadi, tunggu aku di sini, apapun yang terjadi, jangan pergi kemana-kamana. Ingat, cukup teriak jika terjadi sesuatu, jangan panik. Oke,” kata Raysa sambil memakaikan jaket pada gadis itu, seakan dia tidak ingin gadis itu kedingin.


Gemerlap bintang-bintang di langit malam begitu nampak indah di pandang mata. Nayla tiba-tiba teringat ketika dia hanya sendiri tanpa seseorang di sampingnya. Membuatnya, merindukan seseorang yang menemani hari-harinya.


Dia membuat api, dengan ranting-ranting di sekitarnya. Dia memeriksa ransel yang dia pakai, mencari jajanan yang biasa di simpan di dalam tasnya.


Tiba-tiba saja, dia menangis entah apa yang dia pikirkan hingga membuatnya menangis tersedu-sedu.


“Apa aku terlalu lama meninggalkanmu di sini?”


Seketika Nayla berhenti menangis, dan menghapus air matanya.


“Aku masih menangkap ikan dan ayam hutan dekat sini, jadi agak lama. Aku tidak tahu kau takut di tinggal sendirian,”


“Camilanku habis, dan aku lapar,” kata Nayla dengan nada polosnya.


Oh Tuhan! Bukan karena ketakutan, tapi karena Camilannya habis membuatnya menangis.


“Sini, aku tadi menangkap banyak ikan dan ayam. Kau ingin makan yang mana dulu,”


“Ayam,”


Selagi Nayla menikmati Ayam bakar dan menunggu ikan air tawar yang sedang dibakar, Raysa memilih mendirikan tenda, untuk mereka tempati.


“Boleh aku memakan semuanya?” tanya Nayla sambil menunjuk ikan yang sedang di bakar padahal dia baru saja menghabiskan porsi ayam miliknya.


“Kau bisa menghabisi semuanya?”


Nayla hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, seakan ingin mengatakan bahwa dia benar-benar lapar.


“Hei, makannya pelan-pelan,” kata Raysa sambil mendekat ke arah Nayla. “Apa kau makan seperti ini? Seperti anak kecil,”

__ADS_1


Raysa berjongkok di hadapan gadis yang tengah lahap menikmati ikan bakar tersebut, kemudian mengambil inisiatif untuk membersihkan sisa makanan yang pinggir bibir gadis itu, kemudian memakannya. Hm. Romantis, namun sayang hanya Raysa yang hatinya berdegup.


Ketika hasrat laki-laki seorang Raysa di uji oleh gadis yang tengah di hadapannya itu. Bibir mungil milik Nayla yang tengah menikmati ikan membuatnya tergoda. Perlahan, Raysa mendekati wajah gadis itu.


Cup!


Nayla menyuapi ikan yang tengah di makannya ke dalam mulut Raysa, membuat Raysa hanya bisa menatap wajah gadis itu dengan rasa malu ingin di benamkannya wajahnya.


“Kau kan bisa mengambil ikan di situ, mengapa ingin makan ikan punyaku,” gerutu Nayla.


“Sadarlah Raysa, apa yang kau perbuat sih. Mengapa ingin menciumnya, kau bodoh mempermalukan dirimu sendiri,” gumam Raysa membatin.


Angin malam berhembus, menghadirkan rasa dingin. Nayla tengah duduk sambil melihat ke arah padang rumput yang tadi siang di lihatnya itu.


“Kau tak ingin tahu siapa keluarga kandungmu?”


“Tidak, dalam ingatanku mereka menterlantarkanku,” kata Nayla. “Lebih baik seperti saat ini,”


“Apa kau pernah di culik?”


“Tidak,”


“Mau dengar satu cerita nggak?”


“Cerita apa?”


“Asal usul bintang,”


“Seorang peri menjadi Bintang,” kata Raysa memulai ceritanya.


“Dahulu kala ketika peri peri hidup dibumi dan jumlah manusia masih sedikit, pada batang pohon oak berdaun rindang didalam hutan belantara, tinggallah peri yang selalu durja. Setiap hari kerjanya hanya menangis. Matanya sembab dan raut wajahnya murung. kalau malam tiba, tangisannya terdengar keseluruh penjuru hutan hingga pohon pohon dan binatang binatang terjaga dari tidur mereka. Kalau siang datang, lamunannya panjang seolah sedang memikirkan suatu perkara yang maha berat,”


“Karena tangis sang peri tak kunjung reda dan membuat seluruh penghuni hutan terusik, datanglah angin padanya. Angin bertanya kenapa ia begitu bersedih ? peri bangkit dari sandarannya, dikibas kibaskan sayap kecilnya kemudian hinggap dan duduk dengan cara mendekap lutut diatas punggung angin.


“Kawan kawanku telah pergi. Mereka telah pindah keutara untuk mencari rumah baru dengan meninggalkanku,”


“Kenapa kawan kawanmu meninggalkanmu ?” tanya angin. Sang peri diam.


“Kenapa?” desak angin.


“Karena aku buruk rupa” jawabnya sambil memalingkan wajah.


Ia kemudian menunjukan benjolan besar dipipi sebelah kanannya hingga karena benjolan itu wajahnya terlihat bopeng sebelah. Benjolan itu sudah ada sejak ia lahir. Diseluruh permukaan wajahnya terdapat banyak bintik merah yang kalau satu saja bintik itu pecah, maka terciumlah bau tidak sedap keseluruh tempat dimana ia berada. Dengan kondisi fisik seperti itu, peri peri lain mengejeknya sebagai si goblin yang menyeramakan, si ogr yang menakutkan, atau si dwarft yang buruk rupa.


Sang peri mengajak angin menuruni pohon, kemudian mereka terbang kearah telaga. Sesampainnya disana tampaklah bulan yang wajahnya terpantul diatas permukaan air.


Sang peri berkata, “Kalau kau kau ingin tahu keinginanku, aku ingin cantik dan bersinar seperti dia, dengan begitu niscaya akan sirna kedukaanku” jawabnya.


Angin menggeleng gelengkan kepala, “Tak mungkin” katanya dalam hati.


Bulan begitu agung, ia perhiasan malam sebagaimana matahari menjadi perhiasan siang. Setiap mahluk boleh saja bermimpi untuk memiliki kecantikannya namun mustahil bisa mendapatkannya. Mimpi memiliki kecantikan bulan adalah suatu kesia-saiaan.


Sang peri menatap angin lalu berkata, “Akan kuminta bulan agar membagi kecantikannya denganku, kan kujumpai ia sekarang,”

__ADS_1


Terbanglah ia menuju langit, namun begitu sampai diantara gumpalan awan, ia terpental kebumi, sayapnya terlalu kecil dan nafasnya lebih dulu habis sebelum berhasil menjumpai bulan. Berkalikali ia mencoba hal yang sama namun lagi lagi terpental. Sang peri menghampiri angin, ia meminta agar angin mengantarnya. Angin menggelengkan kepala. katanya Perjalanan dari bumi kebulan sangat jauh, tak satu mahlukpun dapat sampai kesana termasuk dirinya.


Wajah sang peri bertambah muram. Kesedihan makin membayanginya. Ditatapnya lagi bayangan bulan diatas telaga, lama dan dalam. ketika ia terpesona oleh kecantikan bulan, kepalanya menjadi berat, pandangannya memburam dan akhirnya iapun ambruk tak sadarkan diri.


Saat siuman, pandangan sang peri masih kabur. Namun dalam pandangan yang belum jernih benar, ia melihat bayangan terang keemasan disekitarnya. Ia terkejut begitu mengetahui kalau bulan turun kebumi untuk menemuinya. Ketika peri hendak mengatakan sesuatu, bulan lebih dulu memotong dengan lebih dahulu berkata “Aku sudah tahu apa yang kau inginkan,”


Wajah sang peri berubah ceria. Ia mengangguk angguk. Bulan menjulurkan tangannya dan mendekap sang peri didadanya. Kata bulan, apakah cantik adalah syarat utama untuk dapat mencinta dan dicinta. Benarkah menjadi cantik itu menyenangkan? Sang peri mengerutkan dahi.


Bulan kembali berkata dengan meyampaikan sebuah rahasia, kalau kecantikan yang diinginkan sang peri adalah suatu kefanaan karena suatu saat ia akan pudar. Itulah kecantian jasmani yang konyol karena telah membuat para lelaki saling menghunus pedang, membunuh dan menghancurkan. Ia yang cantik jasmaninya saja adalah api yang membakar kaum laki laki agar saling berebut mendapatkannya walau sangat panas ia digenggaman dan membuat kaum perempuan berlomba memadamkannya agar tak ada yang lebih cantik kecuali dirinya. Sejarah kecantikan jasmani adalah sejarah pertumpahan darah, kedengkian, kesombongan dan tipuan.


“Apakah aku tidak boleh menjadi cantik” tanya sang peri.


Bulan tersenyum, tidak katanya. Lebih dari cantik ia juga harus berguna untuk manusia, binatang binatang, tumbuhan dan pohon pohon. Karena ketika wanita cantik menuntut agar dirinya dicintai, wanita berguna justru berbagi dan memberi, itulah hakekat kehidupan kata bulan. Sang peri menatap wajah bulan yang anggun. Ia bertanya apa yang harus ia lakukan agar menjadi cantik sekaligus berguna? bulan menjawabnya hanya dengan senyuman.


Kemudian Bulan membawa terbang sang peri kelangit dengan meniggalkang angin yang setia menunggu dibumi. Begitu sampai dipusat tata surya, ia meletakan sang peri ditangannya. Bulan menyuruh sang peri menutup mata. Dengan sebuah tiupan ajaib yang mengeluarkan sinar perak dari mulutnya, tubuh sang peri menjadi hangat karena diselimuti sinar itu. Ia bergetar, berguncang, meregang dan dalam hitungan detik wujudnya telah berubah menjadi bintang yang bersinar sangat terang. Ialah bintang pertama yang lahir dalam sejarah tata surya.


Sang peri bahagia, ia menari nari, meyanyi, tertawa karena dirinya menjadi cantik. Ia sangat berterima kasih atas perubahan dirinya. Bulan kembali berkata, sekarang aku akan menunjukan cara agar engkau menjadi lebih berguna bagi mahluk lain. Mulai saat ini pandulah mahluk mahluk yang tersesat dibumi dengan cahayamu. Antar mereka yang tak dapat menemukan rumahnya, tunjukan sampan sampan nelayan yang kehilangan arah pelayarannya, beritahu para pengembara yang sedang kebingungan menentukan rute pengembaraannya. Jadilah penunjuk jalan bagi siapapun yang membutuhkan.


Mulai saat itu Sang peri tinggal dilangit. Ia mengembara mencari mahluk mahluk yang tersesat dalam perjalanan kemudian dengan cahayanya menunjukan mereka arah yang benar hingga sampai ketujuan. Suatu hari dlihatnya rombongan peri yang kelelahan dipadang pasir gersang. Ketika sadar mereka adalah teman temannya yang tersesat, mengedip ngediplah ia dan menunjuk arah tenggara. Peri peri kaget, karena dilangit ada setitik cahaya terang yang sangat cantik. Atas petunjuk cahaya itu mereka terbang kembali.


Tak lama dihadapan mereka terhampar taman bunga yang luas. Peri peri bersorak setelah berhasil menemukan rumah baru. Tak satupun dari mereka tahu, kalau bintang cantik penunjuk jalan itu adalah salah satu dari mereka. Mereka hanya bisa terkesima, kagum dan berharap dapat memiliki kecantikan seperti sang bintang.


Tak ada yang tahu rahasia ini kecuali angin, dimana selalu melihat bayangan sang bintang yang kini berendengan bersaman bulan diatas permukaan telaga


“Selesai... Begitulah cerita Peri yang menjadi bintang yang ku baca di Internet,” kata Raysa.


Sayangnya, gadis yang di sampingnya telah tertidur sejak tadi.


“Hm. Dia tertidur,” kata Raysa. “Dia sungguh tidak takut jika tiba-tiba aku berbuat sesuatu yang tidak baik padanya,” Raysa mengendong Nayla masuk ke dalam Tenda.


“Apa dia setidak waspada seperti ini?”


Raysa mengamati sosok gadis itu, seakan tidak pernah bosan memandangi gadis mungil itu.


———————— To be continued ————————


"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"


Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.


Baca juga :


- Something Lost


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang terbagi


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2