
Wajah cemberut tergambar jelas ketika Nayla baru saja bangun dan melihat Raysa dengan Aura tengah berbincang-bincang sambil tertawa.
Pria itu, padahal tidak terlalu dekat dengan seorang gadis tapi berbeda dengan gadis yang baru saja datang itu.
Aura yang mengetahui jika ada tatapan dingin di tunjukan olehnya dengan buru-buru keluar dengan alasan yang sederhana.
“Beraninya kau...” kata Nayla saat gadis itu keluar dari ruang medis.
“Kapan kau bangun?” tanya Raysa bingung karena gadis itu telah bangun.
“Jadi jika aku tidak bangun, kau akan terus bermesraan dengan gadis itu?” tanya Nayla dengan wajah penuh kekesalahan.
Raysa tertawa kecil.
“Kau cemburu?” tanya Raysa sambil mendekatkan wajahnya ke arah Nayla.
“Hm. Tidak,” kata Nayla sambil memalingkan wajahnya.
pria itu langsung mengelus rambut milik gadis di hadapannya itu.
“Dia itu anak bibiku, bisa di katakan dia itu sepupu jauhku dan dia datang kemari karena dia adalah dokter yang di kirim dari Amerika untukmu,” kata Raysa sambil mencubit pipi gadis itu.
“Oh...” kata Nayla dengan nada judes.
“Apa kau pikir aku punya hubungan spesial dengan dia? Pft, dia itu tidak suka denganku. Tapi dia suka dengan kakakmu,” kata Raysa sambil tersenyum.
Nayla membuang muka ke arah samping, bisa-bisanya pria di hadapannya tampak tenang, seakan dia menganggap itu adalah hal biasa.
__ADS_1
“Ya, aku nggak suka liat kau tersenyum seperti itu dengan gadis lain, aku nggak suka kau merasa baik-baik saja setelah di peluk seperti itu. Seakan aku tidak di sana, padahal jelas-jelas kau tahu aku melihat apa yang kalian berdua lakukan di sana,” kata Nayla dengan nada keras dan penuh kekesalan. “Keluar... Aku tidak ingin melihatmu,” kata Nayla menyuruh Raysa keluar.
Aufal sedang tertawa di luar, mendengar apa yang baru saja di dengarnya dari dalam ruangan. Dia tahu bagaimana kepribadian gadis itu, dan dia menertawakan Raysa.
“Kenapa kau disini?” tanya Raysa saat melihat Aufal.
“Menertawakanmu karena di marahi olehnya. Sudah lama, aku tidak pernah mendengarnya marah seperti itu,” kata Aufal sambil menatap wajah Raysa. “Dan aku rindu dengan dirinya yang terbuka, dan tidak memendam apa yang dia pikirkan, sayang sekali bukan diriku yang di marahi olehnya padahal aku rindu dengan omelannya yang seperti itu,” kata Aufal sambil berbisik di telinga Raysa kemudian pergi meninggalkan pria itu.
“Menjadi seperti dirinya?” tanya batin Raysa pada dirinya sendiri. “Apa maksudnya?” Raysa berpikir tentang apa yang di katakan oleh saingannya itu.
Begitu banyak yang masih mengganjal di hati Nayla, seakan bebannya tak sanggup untuk di tampung lagi. Dia yang biasanya diam dan menahan apa yang ingin dia katakan, memilih diam itu adalah hal yang menyakitkan bagi dirinya sendiri. Menahan semuanya, memendam dan menyimpannya.
“Apa kau hanya segitu saja, ingin kau katakan pada pria itu?” tanya Aufal sambil menyuntikan sebuah obat ke selang infus milik Nayla. “Kau jangan memendamnya, semakin memendamnya sangat tidak baik untuk jantungmu, kau tahu itu kan? Aku hanya ingin kau bahagia saja kali ini, melihatmu dengan pria lain itu tidak apa-apa buatku, lagi pula melihatmu tersenyum seperti dirimu yang dulu itu adalah keinginan terbesarku. Sebagian dirimu hilang karenaku, jadi aku pun bertanggungjawab tentangmu,” kata Aufal sambil membereskan obat-obat yang di berikannya pada Nayla.
“Dia bisa kabur dariku,”
“Kau mau ku pukul,” gertak Nayla membuat pria itu tertawa.
“Hei, aku menjadi pendaftar pendonor organ dalam. Jika sesuatu terjadi nanti, kau bisa menerima jantungku,” kata Aufal dengan nada pelan dan santai.
Nayla terdiam mendengar hal itu, dia tahu pria itu selalu serius dengan apa yang di ucapkannya sejak dulu, walaupun pria itu memilih ingkar janji.
Rasanya, ada yang salah dengan hati milik Nayla, air matanya mengalir di pipinya tanpa sadar. Apalagi tentang perkataan pria itu “Setidaknya, aku bisa menepati janjiku menjagamu,”
Kurnia duduk sambil memperhatikan para anggotanya tengah berlomba, sesekali dia mencuri pandang pada gadis yang di sukainya itu.
Hari ini dia tidak di dampingi oleh sahabatnya serta orang itu yang berstatus kaptennya. Butuh beberapa lama untuk Raysa mengambil keputusan, apakah mengejar karirnya di militer atau mendampingi kekasihnya berobat.
__ADS_1
Seminggu setelah kedatangan dr. Aura, Raysa mengambil keputusan untuk cuti selama dua tahun dari militer, dan menyerahkan segala urusan kepada sahabatnya.
Mendaftarkan diri untuk menerima pendonoran jantung memang sangat langka.
Aufal telah mempersiapkan berkas penceraiannya dengan Nayla sebelum dia berangkat ke perbatasan.
Mencintai gadis itu terlalu lama, setidaknya dia telah menepati janji yang pernah dia ucapkan agar menikah dengan gadis pujaannya itu.
Di dasar hati kecilnya ada kesedihan mendalam tidak bisa mempertahankan gadis itu untuk lebih lama berada di sampingnya. Memang, sangat menyakitkan ketika gadis yang dia cintai ingin hidup dengan orang lain, namun masa lalu pun tidak bisa di ubahnya dengan muda, dan gadis itupun tidak menerimanya sebagai seorang pria yang bersaing untuk mengisi hatinya.
Rasanya cinta itu seperti musim yang silih berganti di dalam hati seseorang. Ketika kemarau, hujan, salju adalah cobaan sedangkan musim semi dan gugur adalah puncak dari keharmonisan sebuah perasaan.
Detak jantung tidak bisa di bohongi, ketika lidah mengatakan tidak berbeda dengan detakan jantung yang seirama dengan pancaran perasaan yang di perlihatkan di kedua bola mata.
Terkadang, ada sesuatu yang sangat sulit di jelaskan ketika mulai menyukai orang lain, terkadang pula kita tidak bisa berpikir dengan benar ketika kita tengah jatuh cinta.
Rasa cemburu, dan ketidak percayaan tidak berbeda jauh. Rasa suka dan mencintaipun tidak jauh berbeda. Apalagi, rasa benci dan rasa cinta yang bisa berbalikan di saat yang sama. Ketika cinta menjadi benci, dan ketika benci menjadi cinta.
Ada saat di mana kita tidak bisa merasakan semua emosi itu, di saat kita di khianati dan kepercayaan kepada orang lain tidak ada lagi. Rasa dingin di dalam hati mulai menyebar, hingga kita pun tidak memiliki perasaan terhadap orang lain.\=
Sama halnya dengan kakak beradik Nayla dan Kurnia, mereka berada hampir di takdir yang begitu mirip. Membuat mereka tidak mudah percaya pada orang lain, atau tidak mudah memberikan kepercayaan dan membuka hati mereka. Namun berbeda ketika mereka benar-benar menyukai kembali. Tidak peduli seberapa sakitnya mereka, tetap mampu bertahan dengan perasaan.
Mungkin, gunung es bisa meleleh karena kehangatan. Tapi, gunung api tidak mudah di dinginkan dengan es.
Rasanya, takdir kedua kakak beradik ini selalu beriringan dan selalu sama, memiliki hati yang sangat sulit untuk di hadapi, namun memiliki hati yang begitu menghangatkan ketika orang lain bisa memiliki mereka.
Moesa memandang gelang yang telah di simpannya untuk waktu yang lama.
__ADS_1