
Memang benar, begitu banyak rahasia yang belum terpecahkan dan terselesaikan sejak kasus penembakan dan penyelundupan dua tahun lalu itu.
Kasus ini, sangat menarik perhatian Nayla. Apalagi tentang rumah tua yang memiliki ruang bawah tanah.
“Hhm... Aku rasa, kejadian dua tahun lalu masih belum selesai,” kata Nayla sambil menutup buku yang di bacanya itu, dan pikirannya melayang ke rumah itu.
Rahasia tidak di temukannya orang yang menembaknya telah terlesaikan karena bersembunyi, tinggal bagaimana mereka kabur dari sana sedangkan rumah itu di jaga ketat dua tahun lalu.
“Jangan di pikirkan, kita seharusnya menikmati hari-hari ini, karena baru saja bertemu lagi,” kata Raysa membujuk.
“Jangan libatkan dirimu lagi dalam bahaya, aku tidak bisa menderita karena harus melihatmu terluka dan pergi,” Raysa berkata dengan nada parau dan lemah, tersirat kesedihan di dalamnya.
Tidak ada yang tidak merasakan sakit di dalam hati karena melihat orang yang berharga berada dalam bahaya, atau tiba-tiba menghilang dari dunia ini secara mendadak.
Nayla pernah merasakan hal itu, ketika dia kehilangan Aufal bahkan dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Rasanya begitu beda bagi Nayla, ketika pria itu mengeluarkan isi hatinya.
“Aku hanya bisa pergi, di tempat dimana ada dirimu. Walaupun, hanya sebatas kenangan dan halusinasi yang ku buat untuk melihat senyummu, aku tidak masalah di katakan bodoh dan gila karena meratapi diriku kehilanganmu selama dua tahun ini,” kata Raysa sambil menatap jauh ke arah depan.
“Aku bisa merasakan, bagaimana perasaanmu dulu ketika di tinggal pria itu. Bahkan, hatiku merasakan dingin, dan tidak tertarik pada wanita lain,”
“Kali ini, aku benar-benar takut kehilanganmu,” kata Raysa lagi. “Melihatmu tertembak dan terbaring koma di rumah sakit, setelah itu kecelakaan pesawat rasanya itu sudah cukup untukku, merasakan kehilanganmu berkali-kali,” kata Raysa sambil menyandarikan kepalanya di bahu milik gadis itu.
Nayla hanya duduk diam tidak memberikan komentar apapun. Karena dia telah mengungkapkan perasaannya di dalam novel yang di tulisnya,”
Ketika dia takut kehilangan orang yang di sayanginya. Dia memilih diam, dan tidak mengatakan apapun saat perasaannya lebih dari sekedar kontrak saat itu.
“Kau tidak boleh jatuh cinta padaku,”
Ya, kata yang tidak bisa di langgar olehnya.
“Jika aku mengatakkan padamu saat itu, aku akan melanggar kontrak yang kita berdua buat. Sejak awal, aku memanfaatkanmu untuk menulis novel, kau memanfaatkanku untuk menyembuhkan penyakitmu. Perasaan yang terjadi saat itu tidak seharusnya ada, namun ternyata berkembang. Kau tidak bisa melanggar kontrak, aku juga tidak ingin melanggarnya. Karena itu adalah kesepakatan awal,”
““Saat di hari pernikahan, aku berharap jika kau membatalkannya karena perjanjianku denganmu telah usai. Tapi, kau tidak bisa melanggar janjimu padanya,”
“Kejadian di hari pernikahanmu, aku merasa bersalah dan di saat itu juga merasa bahagia,”
“Saat itu, aku ingin egois. Mengatakan langsung padamu, jika aku adalah gadis kecil bersamamu saat penculikan itu,”
“Ketika terkena tembakan dan terjatuh ke sungai, ingatan yang dulu tidak ku ingat tiba-tiba kembali. Saat itu, aku menyadari jika ternyata aku pernah bertemu denganmu. Ingatanku hanya sekedar itu saja, saat dua bulan bersama dengan orang tua kandungku, aku mulai kembali mengingat kejadian dulu, kemudian menyadari jika aku adalah putri mereka. Mereka tidak sadar, jika aku sudah mengetahuinya, dan menulisnya di dalam novelku. Aku hanya ingin memberi tahu, jika aku telah mengetahui yang sebenarnya,”
“Aku masih kesal, tentang pernikahanmu dengan Aufal,” kata Raysa. “Pria itu mencari kesempatan saat kau sakit, agar dia bisa menikah denganmu,” kata Raysa lagi.
“Jika kau tidak ada di sini, aku pasti akan pergi lagi ke tempat itu. Kakakmu itu, selalu meninggalkanku untuk melihat gadis itu. Aku tidak percaya dia mengabaikanku,”
__ADS_1
Nayla menyentil dahi pria itu.
“Kau tidak sadar diri. Kau selalu meninggalkan kakaku untuk menemuiku, sekarang kau mengeluh. Dasar,” kata Nayla tidak suka dengan apa yang baru saja di katakan oleh Raysa.
Suasana hening sejenak. Mereka berdua menikmati keadaan alam.
“Aku ingin pergi memeriksa rumah itu lagi,” kata Nayla tiba-tiba.
Raysa yang sejak tadi memejamkan matanya, ketika mendengar perkataan Nayla membuatnya membulatkan kedua bola matanya.
“Tidak, aku tidak izinkan kau ke sana,” kata Raysa melarang.
“Tapi, aku masih penasaran,” kata Nayla.
“Baiklah, asal aku ikut denganmu,” kata Raysa sambil mengacak rambut gadis itu.
“Ayo kita berangkat sekarang,” kata Nayla sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Besok saja,” kata Raysa.
“Tidak boleh menunda sesuatu,” kata Nayla membantah.
Nayla memasukan beberapa peralatan yang mungkin dia butuhkan, seperti makanan, minuman, serta obat-obatan.
“Kalian mau kemana?” tanya Kurnia ketika melihat Nayla tengah memasukan barang ke dalam tasnya.
“Dia ingin pergi ke rumah tua itu lagi,” kata Raysa menjelaskan.
“Aku ikut, aku tidak bisa membiarkanmu pergi bersama dengan pria ini lagi,” kata Kurnia.
“Jika kalian ikut, aku harus mengemas banyak peralatan,” kata Nayla menambah bawaan.
Dua ransel penuh dengan makanan dan minuman, satu ransel terdapat barang-barang milik Nayla, dan juga obat-obatan. Ada empat ransel yang di bawa oleh mereka.
“Mengapa membawa banyak sekali barang?” tanya gadis yang disamping kakaknya itu.
“Namaku Nayla,” kata Nayla memperkenalkan dirinya.
“Moesa,” kata gadis itu balik memperkenalkan dirinya.
“Hhhmm... Sepertinya nama itu tidak asing,” kata Nayla sambil berpikir.
“Iyalah, nama tokoh novelmu,” kata Raysa mengingatkan.
Raysa belum juga bisa menebak, apa yang dipikirkan oleh gadis pujaannya itu. Sampai membawa empat ransel sekaligus.
__ADS_1
Nayla masih dengan aktifitas kesukaannya, memasang Earphone di telinganya seakan telah menjadi sesuatu yang wajib dilakukan.
“Aku masih belum percaya, jika rumah ini punya ruang bawah tanah,” kata Kurni saat sampai di depan rumah itu.
“Saat masuk kalian lebih tidak akan percaya lagi,” kata Nayla sambil masuk ke dalam kemudian menarik buku yang kemarin.
Ranjang bergeser ke samping. Kemudian tangga menjuju ke arah bawah terlihat. Membuat ketiga orang itu tercengang.
Nayla menyalakan lampu charger miliknya, membuat ruangan itu tersinari. Kali ini, dia bisa melihat se isi ruangan itu.
Raysa, ikut memeriksa ruangan itu, termasuk Kunia dan Moesa.
“Seperti sebuah kotak pernah di simpan di sini,” kata Kunia.
“Sepertinya tidak pernah di datangi lagi. Kain kasa, pisau bedah, serta peluru yang ada di sini, menandakan sudah lama sekali. Bahkan makanan dan obat-obatannya sudah kaldaluarsa,” kata Moesa.
“Jadi ini, alasan dia tidak di temukan,” kata Raysa sambil mengepal erat tangannya.
“Kaing.... Kaing... Kaing...”
Sebuah suara dari dalam tas milik Nayla terdengar.
“Astaga... Apa hewan itu masuk ke dalam tasku?” tanya Nayla sambil melihat isi tasnya.
Benar saja, hewan yang diberikan oleh Raysa padanya, kini berada di dalam tasnya. Entah, bagaimana bisa hewan itu bisa masuk ke dalam.
“Kenapa kau ada di sini,” kata Nayla mengeluarkan hewan berbulu itu. “Kau nakal sekali,” kata Nayla sambil mengendong hewan itu.
Mata hewan berwarna biru, bulu yang putih bersih, kaki yang pendek, membuat hewan itu nampak mengemaskan di lihat.
“Siapa namanya?” tanya Moesa.
“Aku belum memberi namanya,” kata Nayla mengelus bulu hewan itu, sambil melihat sekitar ruangan bawah tanah. “Kylin. Namanya Kylin,” kata Nayla.
“Dia ini hewan apa?”
“Rubah,” jawab Nayla dengan singkat.
Ranjang itu masih sama, beberapa barang-barang agak berantakan seperti makanan, minuman, dan obat-obatan. Sepertinya, tempat ini tidak pernah lagi di tinggali sejak saat itu. Nayla, berjongkok melihat sepasang jejak kaki yang kemarin di lihatnya.
Jejak kaki itu menghilang di depan rak besar tempat penyimpanan makanan.
“Apakah ada hantu yang tiba-tiba jejak kakinya menghilang?” tanya Nayla pada mereka. “Coba lihat, jejaknya berakhir disini,” kata Nayla menyenteri jejak kaki itu.
“Mungkin ada sesuatu di balik lemari ini,” tanya Raysa sambil mendorong ke samping lemari yang dia maksud itu. Namun usahanya sia-sia lemari itu bahkan tidak bergeser sama sekali.
__ADS_1
Kurnia membantu Raysa, namun belum juga bergesar. Sampai Nayla tiba-tiba mendorong pelan sebuah laci, membuat lemari itu bergerak.