
CERITA VERSI RAYSA
“Aku tak tahu, apa yang istimewa padanya, tapi sejak bertemu dengannya akupun merasakannya, dan aku penasaran gadis itu. Akankah bertemu lagi?”
— Alan Aditya Raysa —
.
.
Suara tembakan menggema di udara. Termasuk suara rintihan minta tolong terdengar.
Pelan tapi pasti, timku tengah berbaur di dalam gelapnya malam di tengah hutan. Sebuah gubuk, kecil dan terdapat beberapa tahanan di dalamnya.
Penyelamatan yang sulit sampai di tahap ini. Tanpa melakukan kesalahan, membuat para tahanan menjadi korban.
Lima menit berlangsung, semua tim bersiap menembak. Peluru kini melesat di udara menembus malam dan tubuh para penyandra itu.
“Misi selesai,” kataku.
Aku membaca berita yang tertulis di artikel sambil melihat para anggota tim tengah latihan. Artikel membosankan.
“Kita di panggil ke markas utama di Ibukota,” kata Kurniawan padaku. Dia adalah sahabatku sejak lama di sini.
“Akhirnya, kita bisa ke sana juga,” kataku sambil menepuk pundaknya.
Sudah lama rasanya berada di sini, tidak melihatnya ataupun membaca riwayat sosial medianya. Akhirnya aku bisa meluruskan badan, dan menikmati liburan. Setidaknya bisa menstalking kabarnya di sosmed.
.
.
Suasana masih sama seperti dulu, mungkin ada yang berubah di kota ini. Gedung-gedung bertambah, dan penduduknya makin banyak, udaranya tidak sesegar di perbatasan.
Pakaian rapi, ku pakai. Beberapa lencana penghargaan tersemat di bajuku, termasuk dengan timku. Hari ini akan mendapatkan penghargaan lagi. Suatu kebanggaan mendapatkan penghargaan karena telah menyelamatkan nyawa orang banyak.
Tidak membutuhkan waktu lama, satu lencana kini tersemat di bahuku. Sejak dulu, aku berasal dari kehidupan keluarga Prajurit Negara. Ayahku seorang tentara, dan juga ibuku. Karena itu, tidak heran jika aku memilih pekerjaan ini sebagai favoritku.
“Akhirnya... Aku bisa merasakan mandi di kamar mandi pribadi,” kataku membatin. “Ingin menikmati lebih lama perasaan ini,” kataku membatin.
Tinggal di rumah sebesar ini sendiri, hal biasa bagiku. Apalagi sejak kecil, selalu di tinggal oleh mereka untuk bertugas, dan menjadi anak tunggal itu paling menyebalkan.
“Sebaiknya aku pergi keluar, sendiri di sini seperti jadi penghuni rumah Tua,”
Langit begitu cerah, sepertinya tengah menyambutku untuk menikmati hari dengan sangat menyenangkan.
Sebuah taman di dekat sebuah kampus menjadi pilihanku. Tamannya tidak ramai, begitu hijau mengingatkanku pada tempat tugasku.
Suara teriakan dari arah belakang terdengar, ketika aku menengok ke belakang seorang anak laki-laki kecil tengah di kejar oleh beberapa ekor bebek, bukan bebek tapi angsa.
Hm, semua orang pasti takut di kejar oleh hewan legendaris itu. Akupun sama. Bagaimana tidak, anak itu bersembunyi di belakangku untuk menghindari di kejar angsa lagi.
__ADS_1
“Sial, anak ini pakai sembunyi di belakangku,” gerutu di dalam hati.
Tidak jauh dari sana, terlihat seorang gadis yang tengah duduk dan tertawa melihat kami berdua di kejar angsa putih itu. Aku terus berlari, sampai tidak ada tempat untuk lari lagi, hanya sungai di depan mataku.
Byur!
Karena fokus menyelamatkan diri dari hewan itu, aku menceburkan diri ke sungai. Gadis itu masih saja tertawa melihatku basah kuyup.
Dia memerintah hewan-hewan itu untuk pergi, dan angsa putih seperti mengerti apa yang di katakan oleh gadis itu pergi meninggalkanku.
“Apa kau pemilik hewan itu?” tanyaku.
“Tidak, mereka hewan liar disekitar sini. Aku hanya sering memberi mereka makanan. Sebaiknya kau keluar saja dari situ, di dalam sungai ada buaya,” katanya padaku, membuatku terkejut dan buru-buru keluar dari dalam sungai itu.
“Di sana, ada toilet umum. Kau bisa membersihkan diri di sana, aku akan membelikanmu pakaian ganti,” katanya sambil meninggalkanku.
Akupun menuruti apa yang dia katakan, pergi ke toilet untuk membersihkan diri. Untung saja, toiletnya bersih. Mungkin karena jarang di pakai.
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, ketika aku membuka pintu tidak ada orang di sana hanya terdapat sebuah tas yang berisi pakaian dan handuk.
“Dia benar-benar membelikanku pakaian,” kataku membatin. “Ini aneh, kenapa aku tidak alergi padanya?” aku bertanya pada diriku sendiri dengan keanehan itu. “Apa aku akan bertemu kembali dengannya?”
“Cocok,” kataku. Pakaian yang dia belikan padaku, sangat cocok dengan ukuran tubuhku.
.
.
Sebuah pengendara motor terlihat dari kejauhan, terdengar samar-sama orang minta tolong karena barangnya di copet.
Brak!
Aku mencoba menolongnya dengan menendang motor yang lewat itu. Pakaian yang sama dengan pakaian yang ku pakai, serba hitam.
Gadis itu tersegal-segal, sambil berlari ke arahku.
“Akhirnya aku mendapatkanmu, dasar maling,” katanya sambil memukulku.
Aku terkejut ketika dia memukul dan mengatakan jika aku maling. Semua orang jika tiba-tiba di pukul dan dikatakan seperti akan terkejut.
“Kembalikan tasku,” katanya lagi sambil merebut kembali tas miliknya. “Dasar maling,” katanya sambil kembali memukulku.
“Aa... Aa... Aa...” Aku merintih kesakitan, karena dia memukulku dengan sangat kuat, bagaimana bisa seorang gadis bisa segitu kuatnya. “Bukan aku pencopetnya,” kataku.
"Sudah tertangkap basah, tapi masih juga mau berbohong,” gadis itu kembali memukulku.
“Apa yang kau lakukan?”
Untung saja, Kurniawan datang.
“Ah, jadi kalian berhenti disini dan pura-pura membeli minuman,” katanya. “Cop...”
__ADS_1
Hm, dengan terpaksa aku menutup mulutnya.
“Kita cek saja CCtv di sana,” kata Kurnia.
Gadis itupun menuruti apa yang di sarankan oleh Kurnia. Aku hanya santai sambil memperhatikannya, dia gadis yang ku temui beberapa hari yang lalu. Mengingat kembali kejadian hari itu membuatku malu.
“Aku minta maaf... Pakaian kalian begitu sama,” katanya dengan nada pelan, sambil menunduk.
“Bukannya aku sudah bilang, sebaiknya kita tidak memakai pakaian seperti ini lagi,” kata Kurnia padaku. “Lepas masker itu, kita benar-benar seperti preman,” katanya lagi sambil melepaskan maskerku.
“Kau.... Cowok angsa itu...” katanya membuatku malu, karena dia mengingatku.
Kurnia tertawa terbahak-bahak, karena mendengar gadis itu memanggilku dengan cowok angsa
“Ah, aku minta maaf,” katanya lagi.
“Berhenti tertawa,” kataku sambil melihat sinis ke arah Kurnia
“Maaf... Maaf... Sepertinya kalian punya sesuatu yang harus di bahas. Aku akan menunggu di parkiran,” Kurnia meninggalkanku.
“Alan Aditya Rasya, panggil saja Rasya,” kataku memperkenalkan diri.
“Nayla, Nayla Putri Adelia,” katanya memperkenalkan diri. “Em. Soal kejadian tadi, aku benar-benar minta maaf,” katanya lagi sambil menundukkan wajah. “Dan, aku juga minta maaf soal kejadian di taman karena menertawakanmu. Aku tahu jika itu salah, tapi...”
Aku tertawa mendengar apa yang dia katakan, bagaimana tidak dia begitu lucu menurutku.
“Aku serius,” katanya sambil memasang wajah tidak suka dengan apa yang aku lakukan.
“Kemarikan Ponselmu,” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Aku akan menghubungimu,” kataku sambil meninggalkannya.
————————To be Continued ————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang Terbagi
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.
__ADS_1