A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 8 Secret


__ADS_3

“Apapun statusmu saat ini, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, yang tersisa di hati ini hanya rasa kecewa, benci, dan dendam. Aku membencimu, tapi aku tidak menyesal bertemu dengamu. Mengenalmu, karena itu aku sungguh berterima kasih telah bersamaku selama lima tahun itu,” kata Nayla sambil bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan pria itu.


“Tunggu sebentar...”


“Apa kau benar-benar mencintai kapten itu?”


Deg!


Nayla terkejut dengan pertanyaan Aufal.


“Katakan padaku apa kau mencintainya?”


“Cinta? Mungkin!” kata Nayla sambil meninggalkan Aufal.


Raysa dan Kurniawan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Nayla.


“Benar-benar tidak ada aku di hatimu lagi?” tanya Aufal sambil melihat punggung gadis itu. “Aku tahu aku salah, tapi aku hanya mencintaimu. Aku akan berusaha mendapatkanmu kembali,” kata Aufal membatin.


Tiga tahun lalu...


Sebuah pesan masuk ke dalam Ponsel Nayla. Membuat mata Nayla terbelalak kaget.


Pesan dari sebuah nomor yang tidak di kenalnya, mengirimkan sebuah foto pernikahan. Pastinya, dia mengenal pria itu. Itu adalah Aufal dengan seorang wanita yang tidak di kenalnya.


Saat itu dia sangat terpuruk dengan apa yang di lihatnya, pastinya dia sangat terpukul.


Sejak saat itu kehidupannya tertutup, Nayla menjadi sangat pendiam dan dingin orang-orang yang di kenalnya.


Menutup hatinya untuk memberikan kesempatan untuk orang baru datang menggantikan posisi yang telah kosong di hatinya.


Tapi, masalahnya bukan pada posisi yang kosong. Nyatanya dia tidak memberikan kesempatan, kepercayaan, dan cintanya lagi untuk makhluk yang jenis kelamin pria itu.


***


Suara tangisan terdengar.


“Siapa yang menangis di jam begini?” tanya Raysa pada dirinya sendiri. “Terkesan horor,” kata Raysa lagi.


Raysa mencari asal suara tersebut, melihat Nayla tengah duduk sambil menangis.


“Kau ingin jadi kuntilanak dadakan di sini?” tanya Raysa sambil memakaikan jaketnya pada Nayla.


Nayla menghapus air matanya.


“Aku mendengar percakapanmu dengan Aufal,” kata Raysa.


“Eh!”


“Aku dan Wawan tadi tengah keliling, jadi kami tanpa sengaja mendengar apa yang kalian bicarakan,” kata Raysa menjelaskan pada Nayla.


“Ah begitu ya!”


“Mengapa kau menangis di sini? Apa kau masih punya perasaan padanya?”


“Perasaan? Tidak mungkin,” kata Nayla.


“Terus jika bukan itu....”


“Aku hanya teringat Ayah jika berbicara tentang masa lalu. Hubunganku tidak seperti apa yang kau dengar, lebih sulit dari itu,” kata Nayla.


“Soal... Jawaban yang kau berikan pada Aufal... Soal...”

__ADS_1


“Ah itu. Aku tidak benar, aku hanya membuatnya agar menyerah saja,”


Deg!


Raysa yang mendengar jawaban langsung dari Nayla rasanya tidak menyukai jawaban itu.


Dia dan Nayla telah menjalin hubungan sejak sebulan yang lalu, rasanya begitu aneh ketika dia mendapatkan jawaban seperti itu.


“Ah begitu ya. Aku baru ingat, jika Wawan adalah penggemarmu,”


“Em. Ya, dia sudah katakan padaku saat aku mengikutinya ke gunung,”


“Mengikutinya ke Gunung?”


“Ya, sepertinya aku membuat kesan tidak baik karenamu. Jadi aku meluruskannya, dengan berbicara langsung dengannya,” kata Nayla.


“Ah! Besok kan ada kegiatan, dan kita akan pergi membantu warga kampung di kabupaten dekat sini. Agak terpencil sih. Semacam pelayanan medis, dll,” kata Raysa.


“Aku ingin pergi juga,” kata Nayla.


“Sudah larut malam, sebaiknya kau tidur,” kata Raysa mengingatkan.


“Kau tidak tidur?”


“Ah, kau pergilah dulu,”


“Oke,”


Raysa menerawang jauh ke depan. Entah apa yang dia pikirkan.


“Aku hanya mencintainya...” kata Raysa sambil meninggalkan tempat itu.


***


“Dia pacar kapten itu kan?”


“Iya benar...”


“Aku dengar dia tidak punya teman di kampusnya,”


Bisik-bisik terdengar!


“Hei, apa kalian akan terus bergosip di sana? Mulut kalian lebih cepat membicarakan orang lain daripada kerjaan kalian. Lagi pula apa untungnya bagi kalian bergosip? Dia bahkan tidak pernah bergosip dengan kalian,” kata Aufal dengan kesal karena mendengar anggota timnya tengah bergosip tentang Nayla.


“Kami minta maaf Dok,” kata mereka.


“Segera selesaikan kerjaan kalian,”


Aufal begitu kesal.


“Biar aku yang mengangkatnya,” kata Raysa saat melihat Nayla membawa begitu banyak barang.


“Tidak perlu,” kata Nayla.


“Mengapa kau membawa begitu banyak barang? Bukannya kau punya tim?”


“Merek takut denganku,” kata Nayla.


“Takut?”


“Ya, bahkan ketika tahu jika aku ikut dalam tim relawan ini, banyak yang mengundurkan diri karenaku,” kata Nayla.

__ADS_1


Raysa hanya mengerutkan kening, sejenak berpikir jika gadis yang berada di dekatnya itu begitu banyak masalah.


“Sepertinya aku dekat wanita pembawa masalah,” kata Raysa membatin.


Begitu cepat berlalu...


Mereka telah kembali ke Kam, dan membuat acara makan-makan karena telah melakukan aktifitas besar hari ini.


Suasana tampak ramai, ada yang memasak, menyiapkan meja makan, dll.


Nayla hanya duduk menyendiri. Dia tahu, jika dia ikut membantu semua akan berhenti melalukan apa yang mereka kerjakan.


Nayla tengah duduk sambil meminum sesuatu dari botol, ternyata itu botol airnya melainkan alkohol, dan tertukar saat mereka melakukan kegiatan tadi siang.


Hanya dengan beberapa kali minum dia merasa agak pusing.


“Panas... Aku ingin air es,” katanya sambil beranjak dari tempat duduknya menuju keramaian.


Semua orang yang melihatnya tampak akan segera pergi.


“Yaaaaaaa....” teriak Nayla dengan sangat keras membuat mereka terkejut dan tak ada yang pergi dari tempat duduk mereka.


Termasuk Raysa dan Kurniawan mendengar teriakan itu, langsung menuju asal suara.


“Mengapa kalian pergi saat melihatku?” tanya Nayla dengan nada parau. “Apa semenakutkan itu aku di mata kalian?” tanya Nayla.


“Apa salahku pada kalian, kenapa kalian menjauh dariku?” tanya Nayla. “Aku tidak menggangu kalian, aku tidak berbicara dengan kalian. Tapi kenapa kalian membenciku?” tanya Nayla lagi dengan nada sedih.


Raysa yang melihatnya tengah mabuk mencoba untuk mendekat. Raut wajah Raysa penuh dengan kesedihan ketika melihat Nayla mengatakan hal itu.


“Aku...”


“Aku tidak membunuhnya,” kata Nayla membuat langkah kaki Raysa terhenti.


Semua orang kembali melihat ke arah Nayla yang tengah mabuk itu.


“Aku tidak membunuhnya. Mereka ingin memperkosaku,” kata Nayla sambil menangis, membuat raut wajah semua orang yang melihatnya berubah.


“Mereka ingin memperkosaku,” teriak Nayla. “Aku hanya membela diri. Mereka membawaku di atap gedung kampus, mereka memukulku, mereka menjambak rambutku,” kata Nayla lagi.


“Tapi tiba-tiba, pacar senior itu datang. Mereka bertengkar. Kakak senior yang lain mencoba menenangkan mereka berdua tapi tidak sengaja mereka membuat pria itu jatuh dari atas gedung. Dan senior itu semakin bertengkar dengan pacarnya membuat pacarnya tidak sengaja menusuknya dengan pisau. Aku hanya membantunya, agar darah tidak keluar,” kata Nayla menjelaskan dengan menangis, beberapa teman sekampusnya merekam apa yang di katakan oleh Nayla.


“Tapi kalian menganggapku sebagai Psikopat, hanya karena aku selalu menjauh dari mereka yang mendekat padaku. Aku punya alasan. Alasanya karena aku tidak ingin mencintai seseorang lagi, kemudian memilih menikah dengan orang lain,”


“Aku ingin berteman dengan kalian, tapi kalian takut denganku,”


“Oh. Ada pacarku di sini,” kata Nayla ketika melihat Raysa kemudian mendekat ke arah Raysa.


“Kenapa kau mabuk?”


“Aku minum air yang botol itu,” kata Nayla sambil menunjuk sebuah botol.


“Ini Alkohol,” kata Kurniawan ketika memeriksa botol yang di tunjuk oleh Nayla.


“Kepalaku pusing...” kata Nayla.


BRUK


“Aku akan mengantarkanmu ke tendamu,” kata Raysa sambil mengendong Nayla yang tidak sadarkan diri karena meminum Alkohol.


Suasana makan malam bersama tampak kacau karena Nayla. Bahkan begitu banya gosip-gosip yang tengah beredar. Rasanya tinggal menunggu waktu saja, bom akan meledak di kampus karena berita kebenaran tiga tahun lalu di kampus.

__ADS_1


—To be continued—


__ADS_2