
Sebuah transaksi Ilegal tengah terjadi. Pastinya transaksi ini di lakukan oleh Martin, Bos Mafia itu. Seorang pria paruh baya tengah berlutut di hadapannya.
“Bunuh...” perintah Martin.
Dor!
Suara pintol terdengar menggema di ruangan itu. Sebuah peluru menembus dahi, darah bercucuran keluar. Bisa di pastikan jika pria tua telah mati.
Pria berdarah dingin bernama Martin itu menatap tajam ke arah arah mayat yang tergeletak. Ia tahu, jika pria itu begitu banyak menyusahkannya beberapa waktu belakangan ini, dan hukuman pantas bagi orang yang telah mengusiknya adalah mati.
“Leburkan di Larutan asam,” kata Martin. “Lakukan seperti biasanya,” katanya lagi sambil melangkah keluar dari ruangan Eksekusinya.
“Penerbangan ke Texas, 30menit lagi,” sebuah suara laki-laki memberitahu Jadwal penerbangan.
Dia adalah Alian Tean, seorang asistennya. Termasuk salah satu orang kepercayaan Martin. Tentunya, pria itu telah di latih secara khusus, agar bisa menggunakan senjata. Sedangkan pria di samping Alian adalah sopir pribdi Martin, Arbindo namanya sama seperti Alian, Arbin pun bisa mengunakan senjata, bahkan keahlian pria itu adalah balapan mobil.
Kisah masa lalu Arbin dan Alian hampir sama, mereka berdua adalah gelandangan yang di tolong dan di latih oleh Martin
Nayla masih begitu lihai memainkan jemari-jemari lentik tangannya yang nan mungil itu mengetik di keyboard laptopnya. Kacamata bulat boboho menjadi ciri khasnya, kini telah bertengger di hidungnya yang pesek itu. Rambutnya yang di kuncir berantakan.
Gadis itu baru saja memulai menulis naskahnya. Beberapa kali dia harus menganti genre, judul, tema dan isi naskahnya. Bagi gadis itu, menulis genre thiller lebih mudah.
Suasana perbatasan begitu hening. Dari arah kejauhan samar-samar terdengar langkah kaki, ranting-ranting kering pun berbunyi.
Seakan ada beberapa orang tengah mengintai.
“Belum tidur?” tanya Aufal sambil menghampiri Nayla.
“Kau dengar sesuatu nggak?” tanya Nayla.
“Tidak,”
“Seperti ada yang melihat,” kata Nayla.
“Perasaanmu saja,” kata Aufal. “Hadiah wisuda untukmu,” kata Aufal sambil memberikan sebuah kotak.
Aufal menatap wajah gadis itu, tatapan yang sangat dalam. Ada sebuah pengharapan dari tatapan itu. Walaupun dia tahu jika gadis itu akan menolak hadiah yang dia berikan, namun dia tetap memberikan hadiah.
“Tidak perlu,” kata Nayla mencoba menolak.
“Aku tak ingin ada penolakan,” kata Aufal. “Kau boleh menolak perasaanku, tapi jangan menolak hadiah dan perhatian yang aku berikan padamu. Setidaknya, biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan, untuk membuatmu kembali menyukaimu,”
Lagi-lagi pria itu, selalu mengatakan apa yang dia ingin katakan.
“Aku sudah dengar semuanya dari wanita itu,” kata Nayla dengan nada pelan.
Hembusan pelan nan dingin angin malam itu, seakan mewakili perasaan gadis itu.
“Dia menemuiku, di kampus,” kata Nayla lagi. Sambil membenarkan jaket yang di pakainya itu.
Nayla menuruti permintaan gadis yang di tabraknya itu, dia tahu jika wanita itu adalah wanita yang berdampingan dengan Aufal di pelaminan.
Tutur kata wanita itu begitu lembut, sopan, dan seperti telah terlatih.
Nayla hanya duduk diam, sambil sesekali menyerup minuman soda kaleng yang di pegangnya itu.
“*Sampai aku melahirkan dia bahkan tidak menyentuhku sama sekali,” kata Clara kemudian terkekeh. “Aku yang terlalu mencintainya, dan tidak bersaing sehat denganmu. Dan akhirnya dia menemukan kelemahanku, dan menceraikanku,” kata Clara sambil tertawa kecil, dari nada tawanya seakan dia merasa jika dia wanita bodoh.
“Tidak ada yang ingin aku katakan padamu,” kata Nayla.
__ADS_1
Nayla berusaha bijak sana, dia tak ingin mempermasalahkan masa lalu yang telah dia lewati itu.
“Aku tahu, kau membenciku. Aku tahu, perbuatanku ini membuat kalian terpisah dan menyiksa kalian berdua. Aku datang menemuimu ingin menjelaskan semua itu, dan memohon jika kau bisa memberikan kesempatan untuknya,” kata Clara sambil meraih dan menggengam tangan Nayla. “Lupakan masa lalu di mana aku pernah hadir di dalam hubungan kalian,” kata Clara sambil beranjak dari tempat duduknya. “Semoga kau menikmati hari-hari yang indah ini, tanpa terperangkap dalam masa lalu,” kata Clara sambil meninggalkan Nayla.
Langkah kaki Clara begitu anggun, Nayla hanya menatap punggung Clara, hingga wanita itu tak lagi di lihatnya*.
“Dan aku tak ingin berada pada rasa yang telah lama berakhir,” kata Nayla. “Aku benar-benar...”
“Menunduk...” Teriak seseorang, pastinya itu suara Raysa.
Sebuah peluru melesat dengan cepat di malam yang dingin itu.
Raysa dengan sigapnya merangkul Nayla agar terhindar. Naasnya, Peluru itu melewati lengan Raysa karena berusaha menolong Nayla. Raysa membalas menembakan dua kali dari senjatanya.
Suara erangan kesakitan terdengar beberapa meter dari jarak mereka.
Mendengar suara senjata yang di tembakan beberapa orang yang tengah berjaga datang melihat. Termasuk Kurniawan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Raysa sambil memeriksa Nayla dengan teliti.
Aufal hanya bisa membeku.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Raysa lagi.
“Da..da..rah...” kata Nayla tergagap saat melihat darah di lengan kiri pria yang telah menyelamatkannya.
Air mata tertahan di pelupuk mata Nayla, badannya gemetaran karena kejadian yang baru saja dia alami itu. Apalagi melihat darah di lengan Raysa.
“Darah... lenganmu berdarah...” kata Nayla dengan suara parau, da bergetar karena ketakutan. Air matanya pun mengalir deras di pipinya. “Lenganmu berdarah,” kata Nayla lagi sambil menangis terisak-isak.
Raysa menatap penuh kebingungan gadis yang di hadapannya itu.
Raysa memeluk gadis itu. Naylapun terbenam di dalam tubuh kekar pria itu, sambil menangis tersedu-sedu. Entah menangis karena ketakutan atau karena melihat pria yang sedang memeluknya itu terluka.
“Tidak apa-apa sekarang. Sudah aman,” kata Raysa sambil menepuk-nepuk belakang Nayla dengan pelan. “Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil,” kata Raysa mencoba menenangkan.
“Tapi kau terluka karena menolongku,” kata Nayla sambil melepaskan pelukan Raysa kemudian melihat wajah Raysa.
“Hei... Aku tidak apa-apa,” kata Raysa sambil mengusap air mata gadis itu.
Keadaan yang awalnya sunyi, kini menjadi ramai kembali karena orang-orang pada bangun ingin mengetahui keadaan yang terjadi.
“Apa terjadi sesuatu?”
“Aku juga tidak tahu...”
“Aku dengar seperti sesuatu yang meledak...”
Seseorang terlihat terluka, tangannya kini terborgol. Pria itu menatap ke arah Nayla dan Raysa.
“Aku akan kau ke tendamu,” kata Raysa.
Degup jantung Nayla, begitu terasa di dada Raysa. Ia tahu, jika gadis itu tengah ketakutan.
“Bagaimana dengan lukamu?” tanya Nayla dengan khawatir.
Raysa terdiam, dia menatap gadis itu. Terlihat jika Nayla tengah mengkhawatirkan dirinya.
Semua orang kembali ke tempat tidur mereka masing-masing, beberapa prajurit berjaga-jaga. Keamanan di perkuat, takutnya jika akan ada terror lagi yang menyusul.
__ADS_1
Nayla mengolesi betadine ke luka Raysa kemudian membalut luka itu dengan kain kasa. Dia belajar cara merawat luka dari Aufal, karena Aufal adalah seorang dokter.
“Aku baru sadar, jika yang dia ajarkan padaku sangat berguna saat ini,” kata Nayla merapikan peralatan P3K.
“Siapa?”
“Aufal,” jawab Nayla dengan singkat, Raysa yang mendengar jawaban itu memasang wajah yang tidak di sukainya. Dia tidak suka gadis itu menyebut pria lain di hadapannya. “Aku sering terluka karena terjatuh, jadi dia mengajarkanku,”
“Apa kau anak kecil selalu terjatuh?”
“Soal itu... Aku belajar naik sepeda. Jadi sering terjatuh,” kata Nayla sambil tertawa kecil. “Tapi, sampai sekarang pun aku belum bisa mengendarai sepeda,” kata Nayla mengembungkan pipinya.
Raysa yang mendengar cerita itu langsung tertawa terbahak-bahak.
Nayla memicingkan matanya, pertanda dia tidak suka di ejek pria itu.
“Maaf... Maaf... Aku hanya tidak bisa menahannya,” kata Raysa.
Nayla yang kesal, mengambil selimut kemudian berbaring di kasurnya dan menutup matanya.
“Dia marah?” tanya Raysa membatin sambil melihat gadis itu yang tengah menutup keseluruhan tubuhnya dengan selimut berwarna abu-abu.
“Apa lukamu serius?” tanya Kurniawan sambil duduk.
Dia yang sedari tadi menunggu di luar mengetahui apa terjadi.
“Tidak, hanya tergores peluru. Bagaimana dengan pria itu?”
Raysa memasang wajah yang serius.
“Tidak... Tidak... Bibi... Aku tidak ingin ikut denganmu...” Nayla bergumam ketika bermimpi.
Raysa dan Kurniawan yang mendengarnya melihat ke arahnya.
“Papa dan Mamaku tengah menungguku, mereka pasti mencariku...” kata Nayla lagi, meracau.
Keringan bercucuran di dahinya.
“Kakak... Kakak... tolong... Kakak An-an, tolong Naomi... di sini gelap...” lagi-lagi Nayla mercau sambil menyebut sebuah nama.
————————To be continued————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Instagram : dih_nu
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat [18+]
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.
__ADS_1