
Suara ranting dan dedaunan yang kering terdengar ketika kami melewati hutan. Beberapa orang di belakang kami terlihat begitu waspada takut jika ada serangan mendadak.
“Aku bersama mereka saja,” kata Nayla sambil menujuk ke arah mereka yang tengah berada di belakang.
“Bahaya,”
“Aku hanya tidak enak dengan mereka, karena terus bersama denganmu,”
Raysa memandang gadis itu, dengan penuh tanda tanya. Rasanya, dia belum sepenuhnya mengerti tentang gadis itu.
Nayla memilih untuk berada di kelompok paling belakang. Pastinya, Raysa meminta timnya untuk tetap mengawasi Nayla.
“Kapten, kita sebaiknya berkemah di dekat sungai. Kami sudah mengeceknya, tempatnya tidak membahayakan. Sekitar 500meter dari sini,”
Beberapa orang memekik kaget karena melihat sesuatu.
“Aaargh...”
“Ul...Ular...”
“Ada ular,”
Semua orang melihat ke arah belakang. Seekor ular pyton berukuran sebesar lengan pria dewasa terlihat.
Nayla mematung sambil menutup mulutnya, sedangkan ular itu berada begitu dekat dengannya.
“Mengapa aku selalu tidak beruntung,” tiba-tiba dia membatin mengerutui nasib yang Tuhan berikan padanya.
Salah seorang tentara dengan sigap menyingkirkan ular itu. Apalagi, ular seperti itu cukup besar untuk ukurannya.
Suara desiran air mengalir mulai terdengar dengan jelas. Menghadirkan suasana alam yang begitu nyaman untuk bermeditasi dan menenangkan pikiran.
Beberapa orang telah berlari, karena tidak begitu sabar untuk menikmati pemandangan alam di tengah hutan.
Ada yang langsung menceburkan diri mereka ke sungai tersebut karena tergoda dengan indahnya sungai itu.
“Uwa... Ada air terjun di sebelah sana,”
“Airnya begitu jernih dan segar,”
Beberapa orang lainnya, sibuk mencari bahan untuk mendirikan tenda, serta kayu bakar.
Nayla membantu teman-teman wanitanya menyiapkan peralatan masak. Ini adalah pertama kali baginya berada di alam liar bersama dengan begitu banyak orang. Biasanya dia hanya duduk sendiri menghabiskan waktunya dengan menulis serta mengurung diri di dalam kamar atau pergi membaca buku di perpustakaan.
“Aku minta maaf, telah berpikir yang tidak-tidak terhadapmu,"
Nayla melihat ke arah seorang gadis yang memulai obrolan di sela kesibukan mereka.
“Tidak apa-apa, semua orang pasti memiliki sebuah kesalahpahaman, apalagi ketika orang itu tidak dekat,”
“Aku mengira kau begitu sombong dan judes. Ketika tahu alasannya....”
“Pfft,”
Nayla tertawa kecil, sambil kembali mengerjakan kesibukan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa pacaran dengan Kapten itu?”
Dasar makhluk yang berjenis kelamin perempuan, rasa penasaran yang begitu berlebihan selalu mendominasikan sifat mereka.
“Em. Sebenarnya...” Nayla memotong perkatannya, hingga membuat orang yang mendengarnya makin penasaran. “Terjadi begitu saja,” kata Nayla melanjutkan perkataannya. Ketika mendengar apa yang di katakan oleh Nayla, semua orang berdecak agak kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahu mereka.
“Eeeeyyy... Yang benar saja,”
Nayla hanya tertawa kecil.
“Ceritakan bagaimana kalian bertemu?”
Nayla tertawa terbahak-bahak, karena tidak bisa menahan kelucuan, ketika dia bertemu dengan Raysa.
Rasya ternyata sedari tadi melihat Nayla yang tengah berbincang-bincang dengan beberapa orang temannya. Entah apa yang membuat gadis itu tertawa seperti itu, hingga membuatnya penasaran.
“Kami bertemu saat dia di kejar oleh sekelompok angsa dan menceburkan diri ke dalam danau,” kata Nayla, sambil di iringi dengan tawa orang-orang yang bersamanya.
“Benarkah?”
“Iya, kemudian kedua kalinya ketika aku di rampok, dan aku mengira dia perampoknya dan aku memukulnya,” kata Nayla sambil mengupas bawang.
Mereka mengobrol dengan begitu banyak sampai tak terasa hari sudah mulai gelap. Nayla, dan temannya yang bertugas memasak, menyiapkan peralatan makan.
Beberapa di antara mereka tengah mengelilingi api yang telah mereka buat sedari tadi. Ada yang bermain gitar, ada yang bernyanyi. Nayla menikmati suasana itu. Hingga mereka yang berada di situ satu persatu masuk ke dalam tenda mereka masing-masing.
Nayla, masih memainkan jemarinya di keyboard laptopnya. Dia berusaha untuk segera menyelesaikan naskahnya dan ingin segera mengakhiri hubungan kontrak antara dia dengan Raysa.
Gadis itu, nampak tak bisa tidur. Perasaannya begitu was-was, apalagi ketika kejadian semalam yang membuatnya hampir saja berada di peti mati. Dia memilih untuk berjalan-jalan di tepi sungai, sambil sesekali melempar batu ke dalam air.
Grep!
Raysa memeluknya dari belakang, sambil memasukkan tubuh gadis itu ke dalam jaket yang dia gunakan. Nayla berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan itu, namun tidak mudah baginya.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Cara cepat mengakhiri hubungan kita,” jawab Nayla dengan polos.
Raysa makin memeluknya dengan sangat erat, seakan pelukan itu ingin mengatakan jika dia tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan gadis yang tengah di peluknya itu.
“Apa aku masih bisa memelukmu seperti ini, jika hubungan kita berakhir,”
Nayla hanya terdiam tidak menjawab.
“Kenapa?”
“Hmm,” Nayla hanya bisa menghela nafas, tidak menjawab pertanyaan yang di berikan oleh pria yang tengah memeluknya itu.
“Kau tidak takut, berjalan disini sendirian?”
“Sedikit, tapi aku tidak bisa tidur. Aku takut, jika orang itu akan kembali,”
“Mau ku tunjukan pemandangan indah besok?”
“Pemandangan indah?”
__ADS_1
“Em. Indah,”
Dari kejauhan Aufal tengah melihat moment kemesraan Nayla dan Raysa, dia mengepal erat tangannya, seakan dia tidak menyukai apa yang telah di lihatnya. Pastinya, dia tidak menyukai hal itu.
“Aku akan menemanimu tidur,” kata Raysa, tiba-tiba wajah Raysa memerah karena memikirkan perkataanya barusan. “Jangan salah arti, maksudku...”
“Emangnya apa yang harus jangan salah artikan?”
Blush!
Raysa terdiam, sepertinya hanya dia yang merasakan perasaan itu, tidak untuk gadis yang ada di hadapannya itu. Kata gadis itu, sungguh membuatnya sakit, salah tingkah di waktu yang bersamaan.
Nayla yang punya penyakit insomnia akutr sejak dulu, di tambah dengan secangkir kafein yang tadi di minumnya membuatnya kesulitan tidur. Aufal melihat tenda Nayla yang lampunya masih menyala datang menghampiri.
“Insomnia?”
Nayla hanya mengangguk pelan.
“Biar ku cek denyut nadimu,”
Nayla mengulurkan tangannya, agar di periksa oleh sosok pria yang pernah menjadi tambatan hatinya itu. Ketika menyangkut masalah kesehatan Nayla, Aufal pastilah sangat khawatir, karena dia tahu bagaimana kondisi tubuh gadis itu.
“Biar ku resepkan obat tidur untukmu,”
“Penyakit Leukimia, apa bisa di sembuhkan?”
Nayla tiba-tiba bertanya sesuatu yang membuat Aufal terkejut. Termasuk pria yang tengah menguping sedari tadi—Raysa.
“Apa kau...”
“Hm. Tidak, aku tengah menulis novel. Ada baiknya jika aku menanyakan langsung padamu soal penyakit ini. Jadi aku bisa tahu, apakah aku membuat karakternya mati atau hidup,”
“Hm. Kau membuatku terkejut,” kata Aufal sambil mengecek tekanan darah Nayla. “Mengobati pasiennya saat pertama di ketahui lebih baik, seperti transplantasi sumsum tulang belakang, dan kemoterapi,” Aufal meresepkan obat untuk di minum oleh Nayla. “Ini obatmu. Aku harus kembali ke tendaku,” kata Aufal sambil pergi meninggalkan Nayla.
Nayla dengan segera meminum obat yang di berikan kepadanya, tidak membutuhkan waktu lama obat itu membuat Nayla tertidur. Pria yang sejak tadi mengintip Nayla, mematikan lampu di tenda Nayla kemudian melangkah meninggalkan Nayla yang telah tertidur.
————————To be continued————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang terbagi
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.
__ADS_1