A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 26 Kita Bertemu — Nayla


__ADS_3

CERITA INI VERSI NAYLA


.


.


Dulu... Aku punya banyak orang yang aku andalkan, namun satu persatu pergi meninggalkanku.


— Nayla Putri Adelia —


.


.


Aku masih fokus menulis untuk naskah terbaruku, tak kenal waktu karena harus menyelesaikannya dan akan segera di terbitkan.


Namaku, Nayla Putri Adelia. Mereka memanggilku dengan sebutan Nayla. Jika kebanyakan penulis terkenal dengan novelnya bercerita tentang hal romantis, berbeda denganku. Aku suka menulis kisah seram, kejahatan. Sejujurnya itu adalah alasan, kenyataannya aku tidak ingin menulis atau terbawa ke dalam hal romantis.


Tapi, semua berbeda ketika Penerbit ingin aku menulis kisah romantis, pastinya aku langsung menolaknya. Namun, karena kontrak sialan yang tidak ku baca dengan teliti saat menorehkan tanda tanganku, membuatku harus menyetujui hal itu.


Nasi sudah jadi bubur, mungkin itu adalah hal yang harus di katakan pada situasiku saat ini. Kepalaku rasanya mau pecah, dan terasa panas. Mungkin ibarat magma yang tengah membara, mungkin akan menyembur keluar.


Aku masih mengulangi hal yang berkali-kali. Mengetik kemudian menghapusnya kembali, mengetik kemudian menghapusnya kembali, berkali-kali ku lakukan hal tersebut.


“Aaaiiisss... Editor sialan. Aku tidak tahu, harus membuat adegan seperti apa. Aaakkhh...” kataku mengumpat editorku sendiri, sambil mengacak-acak rambutku.


“Nay ada apa? Kenapa berteriak seperti itu?” tanya seorang wanita sambil membuka pintu kamarku, Laura namanya, dia adalah sahabatku selama tiga tahun ini. Usianya lebih muda dariku, namun sifatnya bisa dikatakan sangat dewasa dan keibuan. Dia selalu menempel padaku, sejak aku membantunya tiga tahun lalu, dan dia adalah sahabat pertamaku pastinya.


Aku yang tidak ingin terlihat menonjol, karena ingin kehidupan kampus yang biasa-biasa saja. Karena itu, aku hanya memiliki dirinya.


“Tidak kenapa-kenapa, aku hanya lagi pusing memikirkan sesuatu,” kataku berbohong sambil tersenyum paksa.


Seperti biasa dia selalu menceritakan hal yang tidak sukainya padaku, baik itu masalah pribadi ataupun masalah lainnya. Aku paling suka, ketika dia menyumpah separa orang yang tidak dia sukai, bahkan aku membuat karakter novelku seperti sifatnya. Alasan itulah dia menjadi pengemar beratku, karena kata-kata yang dia gunakan selalu ada dalam karyaku, pastinya dia tidak mengetahui jika aku yang menulisnya, bukan karena aku menyembunyikan darinya, tapi dia yang tidak mempercayainya, dia selalu berkata jika aku hanya bercanda saat mengatakannya. Ck.


“Mungkin aku harus menenangkan pikiran agar mendapatkan ide,” gumamku membatin.


Hari ini seperti bisanya, aku akan menghabiskan waktuku di taman, sambil mencari ide untuk novel terbaru. Tamannya tidak cukup jauh dari kampus, namun jarang orang datang berkunjung karena ada angsa yang menjaganya, lain halnya denganku. Karena angsa itu telah lama berteman denganku, jadi aku bisa datang sesukaku.


"Makan yang banyak, dan pergilah jalan-jalan. Aku ingin sendiri," kataku berbicara pada hewan yang tengah ku beri makan itu.


Aku ingat, saat tiga tahun lalu menyelamatkan telur-telur angsa di taman itu karena induknya mati di tabrak kendaraan yang tidak bertanggungjawab, kemudian aku memilih merawatnya sampai menetas dan membiarkan mereka hidup dan besar di sana. Setiap hari memberikan mereka makan. Karena itu mereka begitu dekat denganku, bahkan aku pernah di selamatkan oleh mereka saat beberapa preman mencoba merampokku. Pastinya, preman itu lari terbirit-birit karena di kejar angsa. Ck!


Bersahabat dengan hewan, mungkin hal yang lebih menyenangkan tanpa takut akan di khianati daripada berteman dengan manusia, yang bisa berubah menjadi musuh.


Semilir angin begitu membuatku damai dan nyaman, tanpa sebuah kebisingan. Hamparan air di depan sana terlihat jelas, karena cukup 50 langkah kaki saja, di depan sana terdapat sebuah sungai yang mengalir.


Masih dengan aktifitas yang sama, menyelam dalam hening, mencari ide namun tak kunjung ku temukan, tak terasa dua jam telah berlalu.


“Aaaaa.....” suara teriakan mengejutkanku.


Aku melirik ke arah asal suara itu. Terlihat jelas dari kejauhan seorang anak tengah berlari ke arahku, dan seorang pria yang tengah asik berjalan di depan anak itu. Pria itupun sepertinya terkejut ketika melihat ke belakang dan melihat sesuatu yang membuatnya ikut berlari.


Aku tahu alasan mengapa mereka lari terbirit-birit, karena sosok yang sangat familiar bagiku berada di belakang mereka. Oh Tuhan, mereka sedang di kejar oleh angsa.


Aku menahan tawaku sejenak.


Byur!


Seorang pria menceburkan dirinya ke dalam kolam membuat tawaku tidak bisa ku tahan. Sepertinya pria itu kesal padaku, karena aku menertawakannya.


“Pergi sana...” usirku kepada hewan-hewan nakal itu.

__ADS_1


“Apa kau pemilik hewan itu?” tanyanya sambil menunjuk angsa-angsa yang pergi karena ku perintah.


“Tidak, mereka hewan liar disekitar sini. Aku hanya sering memberi mereka makanan,” kataku sambil menahan tawa. “Sebaiknya kau keluar saja dari situ, di dalam sungai ada buaya,” kataku lagi sambil berbohong jika di sungai ada buaya membuat pria itu terburu-buru keluar dari sungai sedangkan aku pergi meninggalkannya.


“Maaf, menertawakanmu. Semoga barang yang aku berikan membuatmu memaafkanku,”


Aku membelikan pakaian, serta handuk untuknya saat dia tengah membersihkan dirinya di toilet.


.


.


Matahari telah bersinar kembali, aku bahkan belum menemukan ide yang cocok untuk ku tulis.


KRAK!


Suara pintu kamarku terbuka, sepertinya di buka dari luar.


“Nayla…” panggil Laura.


Aku melihat ke arah Laura, dengan wajah seakan tidak memiliki tenaga. Rambutku acak-acakan, bagian bawa mataku kini berbentuk mata panda, berwarna coklat kehitaman karena begadang.


DOENG!


“Oh My God,” pekik Laura melihat keadaanku. “Kau tidak tidur semalaman?” Tanyanya seakan dia tahu jika aku tidur tidur.


Aku, hanya bisa mengganggukkan kepalaku sambil mengacak rambutku, karena frustasi.


“Ouh… Kau seperti hantu perawan.” Katanya mengejek sambil melihat kearahku.


“Kau suka baca buku?” aku bertanya padanya, setidaknya aku bisa mendapatkan ide, jika bertanya.


“Iya, aku suka novel yang lagi populer. Penulisnya Psiko,” kata Laura membuatku mengerutkan dahiku, karena yang dia sebut adalah novel yang ku buat. “Aku membeli semua buku terbitannya, kau ingin baca?” Tanyanya menawarkanku, padahal aku juga memiliknya. “Aku suka pengambaran karakter dalam novelnya, realistis, seakan dia melakukannya sendiri,” katanya membuatku seakan bangga karena telah menulis dan membuat pembaca ikut terbuai. “Kau ingin membacanya?” Tanyanya lagi. “Jika ingin membacanya, aku akan mengambilkannya untukmu,” dia begitu bersemangat.


“Ah. Andai aku bisa bertemu dengan dia, aku ingin mengajaknya berkencan,” kata Laura mengandai-andai sampai membuat seketika jijik dengan apa yang di katakan oleh Laura. “Melihat karya-karyanya, aku merasa dia seorang pria yang dingin, tampan, dan tidak banyak teman,” kata Laura lagi.


Kencan? Pria dingin? Tampan? Tidak punya teman? Apa yang dia pikirkan.


“Ouh… Jijik deh,” gerutuku mengejeknya.


“Bagaimana jika dia tidak seperti apa yang kau pikirkan? Dia pria jelek, jerawatan, tonggos, dan culun. Kau ingin mengajaknya berkencan?” Aku bertanya padanya sambil tertawa, sebenarnya agar dia tidak memikirkan hal seperti tadi yang dia katakan.


Aku melihatnya mengerucutkan bibirnya, seakan dia tidak suka jika aku mengatakan hal itu


“Kau memang pantas di sebut Psiko, tidak punya rasa perhatian pada sahabatmu ini,” kata Laura mencoba untuk menyinggungku. “Banyak cowok yang naksir padamu di kampus, bahkan para senior. Tapi, kau terus menolaknya. Cu… cu… cu… Keterlaluan hatimu,”


Hm. Ck! Dia benar-benar menyinggungku.


“Lebih baik seperti itu,” jawabku singkat, aku tidak ingin berdebat dengannya hanya hal kecil.


Dia melihat ke arahku, tatapan yang sangat mendalam, aku bisa menafsirkn tatapan itu adalah tatapan rasa kasihan.


“Turunlah, jika selesai mandi,” katanya sambil mengacak rambut sahabatku. “Aku yang akan membuat sarapan,” kata Laura lagi sambil menghilang dari balik pintu kamarku.


.


.


Laura memaksaku untuk ikut reuni tahun sekolah, karena dia juga berasal dari SMA yang sama denganku, hanya saja aku kakak tingkatnya, saat SMA.


Dia telah menyiapkan pakaian untukku, sepatu, bahkan semuanya telah dia sediakan agar aku harus ikut denganku.

__ADS_1


Aku tak ingin pergi ke reuni sekolah, karena bagiku menulis dan tidak ribut adalah hal yang menyenangkan.


Suasana saat itu tampak ramai, ada yang bertemu kangen setelah sekian lama, dan masih banyak aktifitas lainnya.


Beberapa pasang mata melihat ke arahku, mungkin mereka merasa aneh jika aku ikut dalam acara reuni tahun ini. Bahkan tanpa memikirkan perasaanku, aku bahkan mendengar mereka bergosip tentangku.


Rasanya ingin pergi berhadapan dengan mereka kemudian memberikan pelajaran kepada lidah-lidar ular berbisa itu.


Aku memilih menjauh dari keramaian. Melihat indahnya langit malam penuh dengan di taburi bintang yang bersinar.


DRAP! DRAP! DRAP!


Sebuah langkah kaki terdengar, seperti tengah menuju ke arahku.


“Lama tidak jumpa,” kata seorang pria sambil menghentikan langkah kakiknya, tepat di hadapanku.


Aku melihat ke arahnya. mataku membulat ketika melihat siapa yang berdiri di hadapanku. sepasang bola mata yang sudah lama tidak ku lihat, senyuman yang telah lama hilang, suara yang tidak asing lagi bagiku.


Aufal, namanya Aufal Noel. Dia adalah pria yang pernah bertahta di hatiku, sekaligus pria yang membuat hatiku hancur berkeping-keping.


Di tangannya terlihat dua gelas minuman, mungkin itu untuk pasangannya, ataukah untuk di berikan padaku.


Aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata dan mengontrol emosi. Terkejut? Pastinya, sangat terkejut. Ini adalah alasan utama aku tidak pernah ikut reuni, takut bertemu dengannya.


“Boleh duduk disini?” tanyanya mengawali pembicaraan di antara kami berdua, karena sejak tadi aku tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun.


“Silahkan,” aku menjawab dengan sangat singkat.


“Sudah lama ya,” katanya, seakan ingin mengingatkanku kejadian yang telah lalu, sejak aku terakhir bertemu dengannya.


“Iya, sudah lama,” jawabku dengan nada tidak beraturan.


Aku tidak berani memulai percakapan, rasanya aku seperti kembali ke masa itu. Sedemikian berusaha aku menahan perasaan agar tidak menangis. Mengingat kejadian itu membuat lukaku rasanya tergores lagi.


“Yaaaakkkk…. Aufal….” Teriak Laura, pasti dia telah melihatnya tengah bersamaku. Laura tahu, tentang masa laluku, karena aku menceritakannya. “Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Laura menghampiri kami berdua.


Aku bisa melihat dari raut wajah Aufal, tidak mengenali Laura.


“Mengobrol dengannya,” jawab Aufal dengan santai.


“Hhm. Ayo, Nay. Sebaiknya kita pulang,” Laura menarik tanganku, seakan dia menyadari jika aku ingin menjauh dari pria yang tengah bersamaku itu.


Kehadiran Aufal, rasanya membuat luka lama tergores kembali. Kepergiannya membuat perubahan besar dalam hidupku saat itu. Kebencian, marah, dendam, bahkan kecewa, tidak pernah hilang menyelimuti hari-hariku.


————————To be Continued ————————


"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"


Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.


Baca juga :


- Something Lost


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang Terbagi


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!

__ADS_1


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.


__ADS_2