
Terbangun untuk harapan di masa depan. Melewati rintangan yang berada di depan mata, merasakan kenyamanan.
— Alan Aditya Raysa —
.
.
Suasana menjelang terbitnya matahari di perbatasan cukup ekstrim. Hawanya begitu dingin, karena di kelilingi oleh lautan dan juga hutan-hutan yang masih sangat hijau. Mengunakan satu jaketpun masih terasa dingin, hingga terasa ke sumsum tulang.
Aku menghentikan mobilku, di dekatnya, dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.
Raut wajahnya tampak bingung, mengapa aku memanggilnya masuk ke dalam mobil. Sepertinya dia lupa tentang apa yang dia katakan kemarin, jika ingin ikut ke kota membeli sesuatu.
Saat di perjalanan, aku menjelaskan jarak antara kota dengan Kam, dan juga aktifitas toko-toko di tempat ini. Tidak ada tanggapan keluar dari bibirnya, seakan dia tidak ingin berbicara denganku. Sikap dinginnya itu sungguh membuatku ingin menghangatkannya, atau dia pemalu.
Dia sangat berbeda dengan gadis biasanya, bahkan dia seakan tidak tertarik denganku. Sepanjang jalan dia hanya memejamkan matanya, seakan tidak ingin di ajak mengobrol hingga aku memarkirkan mobil di atas bukit, dan mencoba membangunkannya.
Samar-sama terlihat di ujung lautan, sinar matahari. Aku membawanya melihat matahari terbit.
“Sudah sampai?” tanyanya saat terbangun. “Eee...”
Sepertinya dia terkejut melihat sekeliling karena kini berada di atas bukit.
“Kau bilang tadi ingin memotret matahari terbit, jadi aku membawamu datang ke sini,” kataku menjelaskan mengapa aku membawanya datang ke tempat itu.
“Ooohh. Padahal aku bisa memotret kapan-kapan,”
“Ini sejalan dengan yang kita tuju, jadi sekalian saja,”
Sebuah batu besar menjadi tempatnya duduk sambil melihat matahari terbit. Seperti dia tengah menikmati moment seperti itu. Ku lihat kameranya tidak berada di tangannya, mungkin dia ingin mengabadikan moment itu di dalam ingatannya.
Ini adalah pertama kali bagiku melihat matahari terbit bersama seorang gadis. Aku masih ingat janjiku membawa seseorang untuk melihat matahari bersama, kini orang itu mungkin menjadi orang kedua yang akan ku ajak.
Aku mengambil kameranya, dan melihat beberapa foto di sana, tidak ada yang istimewa yang berada di sana. Bahkan, tidak ada satupun fotonya di dalam sana.
Crek!
Ku ambil beberapa foto untuknya. Rambutnya yang tengah tergerai, sambil menatap sunrise membuatku mengabadikan moment itu. Tubuhnya yang membelakanginya, menatap sinar matahari itu, seakan ada begitu banyak beban yang berada di dalam hatinya.
Ingin rasanya memeluknya dari belakang, mencoba menenangkannya dengan sebuah pelukan. Ku menghentikan langkah kakiku mendekatinya, agar aku tidak memeluknya.
.
.
Aku bahkan tidak melepaskan pandangan darinya, saat berbelanja kebutuhan makanan. Dia tampak lebih hangat ketika sedang berbicara dengan orang yang di telfonnya. Bahkan, sesekali aku melihatnya tersenyum. Dan itu membuatku tersenyum.
“Ehem... Mas mengambil barang yang salah,” tegur pelayan toko itu padaku sambil mengikuti arah mataku melihat. “Oh, ternyata itu toh, yang membuat Mas tidak fokus. Pacar ya,” goda pelayan toko itu.
__ADS_1
“Iya,” jawabku.
Tanpa sadar, aku bahkan mengakuinya sebagai pacaraku. Aneh, dan itu rasanya menyenangkan.
“Nayla... Tolong bantu aku membawa ini,” panggilku padanya yang tengah menelfon. Karena barang bawaanku cukup banyak untuk di masukkan ke dalam mobil.
“Sudah selesai menelfon?” tanyaku saat dia menghampiriku.
“Sudah sih,”
Kkrrr...
Tiba-tiba suara perutnya berbunyi.
“Ah. Aku terbiasa sara...”
“Ayo kita makan dulu,” kataku tertawa kecil, momotong perkataannya.
Nasi putih, beberapa sayur-sayuran, dan ayam goreng kini di hidangkan untuk kami.
“Sepertinya kau benar-benar lapar,” kataku, ketika melihatnya begitu lahap memakan porsi miliknya.
“Tidaak kok. Hanya saja ini enak,” katanya.
“Ah begitu ya,”
Terlihat sisa makanan di dekat bibirnya, ku coba untuk menghilangkannya dengan mengusap pelan bagian yang terkena makanan itu. Dia hanya terdiam, bahkan tidak melanjutkan makanan yang di kunyahnya.
Dia hanya terdiam, tidak menjawab dan melanjutkan makannya seakan apa yang aku lakukan tidak mengusik dirinya.
“Mengapa?” tanyaku dalam hati tentang apa yang baru saja aku lakukan pada gadis itu. Seakan tidak ada sekat antara aku dengannya, rasa nyaman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, bahkan saat bersama dengan orang yang aku sukai. Apa mungkin karena dia adalah gadis yang pertama yang ku temukan tidak membuatku alergi? Hm.
“Ini pesanannya,”
Seorang wanita paruh baya datang mengantarkan seplastik besar pesanan yang di mintanya tadi, untuk di bawah pulang ke Kam.
“Oh tunggu aku bay...” dari raut wajahnya yang kebingungan, tampaknya dia tidak membawa dompet. “Aku lupa bawa dompet,” katanya sambil melihat ke arahku.
Tuk...
Aku menyentil dahinya, karena kecerobohannya itu.
“Aauww...”
“Makanya sebelum pesan tuh cek dulu ada uang atau kaga ada duit,” kataku mengejek.
“Aku punya uang, dompet ketinggalan. Uang tadi hanya cukup beli ponsel tadi,” katanya mencoba untuk membela diri jika dia tidak salah.
Ku lihat dia mengembungkan pipinya. Aku hanya bisa menahan tawaku.
__ADS_1
“Akan ku ganti,” katanya dengan nada kesal.
Barang belanjaan hari ini begitu banyak. Sepanjang perjalanan, dia hanya terdiam tidak banyak berbicara, mungkin sifatnya seperti itu.
“Mengapa kau putus dengan Aufal?” tanyaku tiba-tiba.
“Apa bisa Minggu depan aku ikut lagi? Aku harus vedio call dengan editorku,” dia mengalihkan perbicaraan, seakan tidak ingin jika aku mengetahui tentang masa lalunya bersama dengan Aufal. Mungkin, terlalu menyakitkan baginya untuk di ketahui oleh orang banyak.
“Tidak baik untuk di bahas,” katanya menjelaskan. “Aku tak ingin membahasnya,” katanya lagi sambil mengukir senyum paksaan.
“Oke. Mungkin aku terlalu ingin tahu tentangmu,” kataku sambil kembali fokus dengan menyetir.
Sepanjang perjalanan, aku penasaran seperti apa hubungannya dengan pria yang bernama Aufal itu, pastinya akupun ingin tahu seperti apa sebenarnya gadis yang tengah duduk di kursi di sampingku.
Earphone terpasang di telinganya, seakan dia tidak ingin orang lain berbicara dengannya. Ck! Gadis yang penuh dengan misteri.
Kam sudah di depan mata, begitu banyak orang yang berkumpul di depan sana seakan tengah menyambut kami berdua datang. Tatapan mata penuh dengan pertanyaan dan rasa tidak suka.
Nayla memilih untuk keluar lebih dulu sambil memperlihatkan apa yang dia bawa dari kota bersamaku, sepertinya dia ingin mengambil hati untuk tidak di tatap dengan tatapan yang tidak suka.
“Ah! Tidak seperti yang kalian pikirkan, aku pergi membeli ponsel jadi aku ikut. Tokonya begitu lama open, jadi kami harus menunggu sampai tokonya open,” kata Nayla mencoba untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada orang-orang yang menatapnya.
“Dia pacarku kok,” kataku sambil mendekat ke arahnya. Kemudian menariknya ke arahku, pastinya membuatnya terkejut. “Tenanglah, daripada kita di gosipkan jika mereka melihat kita nanti, lebih baik mengatakannya sekarang,” kataku berbisik di telinganya.
“Apa kau gila?” bisiknya.
“Lebih baik mereka tahu jika kita berdua pacaran,” kata Raysa.
Dia pergi dengan rasa kesal karena pengakuanku pada banyak orang. Kurniawan menatapku dengan tatapan tidak suka, mungkin dia tidak akan menyangka jika aku akan segera berpacaran dengan gadis itu apalagi aku belum memberitahunya.
.
.
————————To be Continued ————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang Terbagi
__ADS_1
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.