
Jika Alam semesta memberikanku kesempatan untuk kembali ke masa di mana dirimu berada, aku ingin lebih dulu dan mempertahankanmu berada di sisiku.
— Alan Aditya Raysa —
.
.
Banyak hari, jam, menit, dan detik terlewati sejak hari itu. Hari dimana aku menyadari jika rasaku bukan hanya sementara untuknya. Tidak terasa, waktu tlah berlalu selama dua tahun lamanya.
Tanpa dirinya, aku kembali ke tempat penuh kenangan bersamanya. Sebuah buku terakhir yang dia terbitkan mewakili semuanya. “Cinta yang Hangat di Perbatasan” dengan cover depan dimana aku dengannya pertama melihat matahari terbit.
Aku masih dengan rutinitas membaca dan melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah terjadi bersamanya, hanya ingin kembali pada masa itu. Menghabiskan waktu bersamanya, melihat senyumnya.
Prolog
Aku bukan orang biasa, dan menjadi orang biasa ketika bertemu dengannya. Dan semuanya berubah.
Mungkin sebagian masyarakat tidak tahu tentang kehidupan gelap, sebut saja dunia mafia. Bagi, perusahaan-perusahaan yang terjun dalam dunia gelap pasti akan tahu siapa diriku. Tidak terikat kerja kontra dengan mafia manapun. Bebas adalah bentuk diriku menikmati segala yang telah ku dapatkan.
***Shadow**, seperti artinya bayangan aku mengerjakan berbagai macam pekerjaan sesuai dengan bayaran yang mereka berikan untukku. Membunuhpun tidak masalah untukku, jika mereka menginginkanku melakukan hal itu*.
Tingkat pekerjaan sulit apapun, jika aku upahnya sesuai aku akan menerimanya.
Hingga Aku tidak pernah menyangka, jika waktu membawaku pada satu jalan yang mempertemukan kita berdua, awalnya aku beranggapan jika kau hanyalah salah satu sosok yang lewat dalam perjalanan hidupku. Nyatanya, kau singgah untuk waktu yang lama. Pertemuan yang cukup unik dari segala pertemuan yang pernah ku lalui.
Kesalahpahaman, perjanjian, kenangan yang terjadi aku sangat bahagia pernah bersama dirimu. Dan, ada harga harus di bayar, untuk melindungi semua itu.
Sejak buku yang di tulisnya terbit, begitu laku di pasaran. Sayangnya, penulisnya kini tak lagi ada.
Hari terakhir aku melihatnya, adalah hari pernikahan, dan itu adalah pelukan terakhir darinya. Rasanya ingin menghentikan waktu dan ingin kembali pada masa bersamanya. Siapa yang akan mengira, jika dia akan pergi meninggalkan kami untuk selamanya.
__ADS_1
Senyumnya masih sangat jelas ku ingat, ketika membuka lembar demi lembar karya terakhirnya, seakan membuatku kembali pada masa-masa bersama.
Andai, Andai, dan Andai saja. Aku memilih untuk menyerah lebih awal, mungkin aku bisa menghentikan dirinya untuk naik ke dalam pesawat. Semuanya nampak jelas, ketika hari pemakaman, rahasia tentang dirinya semuanya kini aku mengerti.
Sebuah hati yang dingin telah kuhangatkan, tapi... nyatanya aku kehilangan kehangatan itu sendiri.
Aku tidak pernah mengira jika dia akan menulis kisah yang di campur adukkan dengan dunia gelap. Membuat sebagian beranggapan jika hal yang di tulisnya benar-benar terjadi apalagi, ketika dia meninggalkan begitu banyak pertanyaan karena karya terakhirnya itu.
Bab I “ The Devil Women” ---> Baca selengkapnya di Novel "Pacarku Pembunuh Bayaran".
Seseorang tengah memegang sebuah gelas yang berisi wine, sambil melihat ke arah luar. Seakan dia menikmati pemandangan di balik kaca itu.
Saat itu, langit malam cukup terang karena rembulan tengah mengapung di angkasa, bintang-bintang hanya sedikit yang terlihat.
Sebotol wine, di atas meja. Seorang pria duduk di kursi di belakang meja itu tidak sadarkan diri.
"Huh!" gumamnya mengela nafas sambil mengoyangkan gelas yang berisi wine di tangannya itu. “Melelahkan,” gumamnya menyerup minumannya.
Pesan dikirim pada seseorang mengunakan sebuah kode.
Seseorang yang melihat pesan itu tersenyum, sayangnya hanya bagian bawah wajahnya yang terlihat, lebih tepatnya senyuman sinis penuh kemenangan.
Kriet!
Gadis itupun menghilang di kegelapan setelah menyelesaikan tugasnya.
Shadow, tidak ada yang tahu siapa dirinya. Jenis kelaminya, bahkan wajahnya di organisasi mafia, tapi dia adalah seorang gadis muda yang hidup sendiri. Untuk menyelesaikan misinya, terkadang dia harus menjadi wanita, pria, atau lansia bahkan menjadi anak sekolahan.
Dia seperti bayangan, bahkan tidak pernah gagal dalam menjalankan sebuah misi yang diberikan untuknya.
Menyewanya pun cukup unik, dengan memposting artikel di koran pastinya dengan kode-kode yang dia berikan agar dia tahu jika ada yang menyewanya, dia pun membalasnya dengan memposting artikel.
__ADS_1
Ketika misi selanjutnya adalah membunuh kadidat presiden yang tengah melakukan kampanye, bayarannya pun begitu banyak.
Topi, pakaian berwarna hitam, dan juga tas biola yang di gunakannya sebenarnya adalah senjata api lasar panjang. Sambil merakit senjata, dia sesekali mengecek keadaan sekitarnya.
Namun misinya gagal, dia tidak tahu menahu jika seseorang pun tengah mengarahkan bidikan senjata kearahnya. Ini adalah misi pertama yang gagal setelah sekian lama dia menjadi pembunuh bayaran, walaupun dia harus melakukan pembunuhan berencana lag untuk yang ke dua kalinya kepada kadidiat presiden itu.
Misi selanjutnya, dia harus membunuh lagi. Buruannya ternyata adalah seorang singa, untuk manusia pembunuh bagi dirinya. Pastinya ketika singa di usik akan memberontak dan melawan. Karena misi ini dia terluka tusukan yang sangat parah, namun berhasil menjalankan misinya walaupun terluka.
Takdir membawanya, pada sebuah perjalanan waktu yang unik lagi dan lagi bertemu dengan pria itu. Pria yang hampir saja menangkapnya, dan pria yang menyelamatkannya ketika dia terluka dengan sangat parah.
Memang luka saat misi sebelumnya sangat parah, membuatnya kehilangan cukup banyak darah, dan perlu waktu untuk sembuh.
Angin berhembus dengan lembut. Di bawah pohon yang rindang, adalah tempatnya menulis. Raut wajahnya yang serius, dingin, senyuman, serta tangisan masih tergambar jelas di dalam pikiran dan hatinya. Kebiasannya yang memakai Earphone ketika menulis, aku merindukan sosok itu.
Mengingat sosok dirinya, rindu dan rasa sesak di dada bercampur menjadi satu dalam waktu yang bersamaan. Hingga air, mata tanpa sadar mengalir membasahi pipi.
Petikan gitar, yang biasa ku dengar. kini menjadi halusianasi bagi diriku sendiri, ketika duduk membayangkan dirinya.
Bukan hanya berkali-kali aku ingin memutar kembali waktu, agar kembali pada masa itu. Masa ingin lebih lama berada di sampingnya. Dan menyesal mengambil langkah yang salah saat itu.
Sejak awal gunung es berada di dalam diri ini, hari demi hari semakin membeku, hingga hal kecil membuat kita berjalan beriringan melewati waktu. Kehangatan yang di berikan padaku, membuat gunung es itu sedikit demi sedikit mulai mencair dan biota-biota alam yang dulu tidak terlihat kini kembali hidup.
Aku dan Kau...
Rasanya mustahil menjadi kita.
Ketika kita berdua saling memanfaatkan, saling melukai, dan tidak pernah mengungkapkan perasaan masing-masing. Hingga akhirnya kau memilih jalan kebahagian sendiri, sedangkan aku memilih jalan agar kebahagianmu tidak akan terganggu. Ada harga yang harus ku bayar untuk hal itu.
Ada Utang yang membuatku harus pergi, dan mungkin tidak akan pernah kembali...
Mengulang kembali lembaran terakhir di dalam novelnya begitu menyayat hati.
__ADS_1