A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 11 Menjagamu


__ADS_3

“Hallo semuanya, terima kasih telah menghadiri undangan tidak resmi yang aku kirimkan kepada kalian semua. Terima kasih kepada para penggemarku yang datang jauh-jauh. Aku memiliki alasan mengapa hari ini aku memberanikan diri untuk mengungkapkan identitasku. Dan terima kasih telah bersamaku selama ini,” kata Nayla memberikan kata sambutan.


“Sebelum itu, aku ingin bertanya beberapa hal pada kalian semuanya. Saat ini ada satu artikel yang mengatakan bahwa seorang gadis di salah satu universitas telah mencoreng nama baik kampusnya. Pertanyaanku begitu mudah. Dari sekian banyak kasus yang di lakukan oleh alumni kampus, haruskah kalian menulis bahwa dia mencemarkan nama baik kampus?”


“Pasal 2 Kode Etik Jurnalistik, harus menunjukan identitas kepada narasumber, menghormati privasi, tidak menyuap, dan memberian berita yang aktual berdasarkan fakta. Narasumber memiliki hak untuk menjaga privasinya dan juga berhak menuntut balik karena melanggar privasi tersebut. Dan beberapa dari kalian melanggar hal tersebut,”


Semua orang pada saling berpandang-pandangan dengan apa yang baru saja Nayla katakan.


“Aku tidak tahu jika dia akan membahas hal ini,” kata Editor Lee berbisik pada Raysa.


Raysa hanya mengukir senyum untuk gadis yang berhadapan dengan begitu banyak kamera.


“Aku tahu, kalian pasti mengenali siapa diriku,” kata Nayla sambil melepaskan kacamata hitam dan topi yang tengah di pakainya.


“Bukankah dia yang ada vedio itu?”


“Dia Nayla Putri...”


“Dia gadis yang mabuk itu...”


“Pantas saja dia menyinggung soal vedio itu,”


Beberapa orang terdengar berbisik-bisik. Sedangkan di lain tempat Laura terkejut dengan live streaming yang di lihatnya, jika sahabatnya adalah penulis yang telah lama di gemarinya itu.


“Apa anda yang berada di dalam vedio yang tengah beredar tersebut?


“Apakah anda benar-benar penulis yang terkenal itu?”


Begitu banyak pertanyaan yang di ajukan untunya.


“Apa aku melanggar hukum jika aku mabuk?”


Semua orang terdiam.


“Aku tanya sekali lagi, apa kalian orang-orang yang tidak pernah berbuat dosa?”


“Aku harap kalian yang meliput hari ini meliput kebenaran bukan berita hoaks yang beberapa di antara kalian menerbitkan berita tersebut,”


“Kalian benar, jika aku adalah gadis dalam vedio yang tengah mabuk tersebut. Tidak ada yang salah dengan mabuk, karena aku tidak berstatus sebagai mahasiswi, dan aku tidak berada dalam jam perkuliahan,”


“Jika kalian menulis artikel tentang mahasiswa mabuk lagi, aku akan menuntut kalian dengan pencemaran nama baik dan melanggar privasi, termasuk yang mengupload vedio tersebut,” kata Nayla dengan tegas.


“Uwaaa... Dia sangat menakutkan,”


“Dia benar-benar...”


“Dengan ini aku ingin mengatakan jika aku sama sekali tidak mencemarkan nama baik kampus, aku akan menerima hukuman dari kampus jika itu harus. Tentang masalah yang aku ucapkan saat aku mabuk, aku akan mengikuti peraturan yang berlaku,”


“Karena beritanya dengan cepat menyebar, dengan in akupun ingin memperbaiki nama baikku yang selama ini di anggap sebelah mata. Aku sebagai saksi kejadian tiga tahun lalu, hari ini aku akan di periksa sebagai saksi di kantor Polisi, aku harap kalian mengikuti prosedur yang benar memberikan berita yang benar dan tidak memihak kepada orang-orang tertentu. Kalian akan mendapatkan informasi yang benar dengan menghubungi Editor saya,”


“Untuk para penggemar novelku selama ini, terima kasih. Aku tidak tahu apa kalian akan menjadi musuh dengan mengkritikku dengan mulut pedas kalian atau tetap menjadi penggemarku. Aku minta maaf, karena tidak bisa menjaga image dengan baik. Aku harap kalian bisa berpikir secara luas dan bijak,”


“Terima kasih,” kata Nayla sambil pergi meninggalkan mimbar.


Beberapa para pengemar mengerumuninya memberi hadiah, ada pula yang mengajak untuk berfoto. Namun, Nayla menolak.


“Terima kasih hadiahnya, tapi aku harus pergi sekarang tidak bisa berfoto dengan kalian, aku akan membuat meet and geat dala waktu dekat,” kata


Nayla sambil pergi meninggalkan para penggemarnya. Pastinya, Raysa selalu berada di sampingnya untuk menjaga.


Beberapa wartawan dan reporter masih mengejarnya hingga masuk ke dalam mobil. Nayla menuju kantor polisi di temani Raysa dan Editor Lee.


“Kau tahu lebih banyak hukum, dan tahu bagaimana cara menggunakannya,” kata seorang polisi.


“Itu hinaan atau Pujian?” tanya Nayla.


Membuat Polisi itu tertawa mendengar pertanyaan Nayla.

__ADS_1


“Kau benar-benar Penulis buku yang sangat berpengaruh dalam dunia pemecahan kasus di dunia Investigasi Criminal,”


“Hukum yang baik untuk kebenaran. Bukan tajam di bawah, tumpul di atas,” kata Nayla sambil beranjak dari tempat duduknya. “Terima kasih, aku senang bertemu denganmu,” kata Nayla meninggalkan Polisi itu.


Dua jam telah berlalu..


Nayla di periksa sebagai saksi, lebih banyak diam dan menjawab apa yang di perlukan saja.


Raysa masih setia menemaninya. Hampir seharian, dia bahkan tidak berbicara dengan pria itu, dan memilih diam.


“Kau benar-benar dingin,” kata Editor Lee mencoba mencairkan suasana yang kaku sedari tadi.


Nayla masih diam tidak memberikan jawaban apapun.


“Aku tak tahu bagaimana kau mendapatkan pacar yang tampan seperti dia dengan sikapmu seperti itu,”


“Aku ingin makan makanan yang sangat pedas. Bangunkan aku, jika sudah sampai,” kata Nayla sambil memejamkan matanya.


Raysa hanya terdiam mengamati keadaan di sekitarnya.


“Dia tidak akan meminta makanan yang pedas jika dia tidak memikirkan sesuatu atau keadaan hatinya lagi baik,” kata Editor Lee pada Raysa.


“Bagaimana kau mengenalnya?”


“Aku yang membebaskan dia tiga tahun lalu, dengan membawa sebuah rekaman suara, tidak lama setelah dia keluar temannya membawa remakan vedio kejadian tersebut. Tiga hari setelah itu, aku mengundurkan diri dari kepolisian dan menjadi Editornya,”


“Mengapa...”


“Aki tidak ingin terlibat jauh. Setidaknya aku menangkap pelakunya dan membebaskan seseorang yang tidak bersalah,”


Raysa melihat ke arah gadis itu.


“Aku tak tahu, mengapa dia mengizinkanmu untuk berada di sampingnya. Aku beberapa kali mencoba mendekatkannya dengan beberapa orang pria termasuk adikku sendiri, tapi dia selalu menolak,”


“Bagaimana dengan orang tuanya?”


__________________________________________________________


Sinar mentari pagi masuk menerangi sebuah kamar dengan hiasan modern itu. Nayla tengah tertidur di atas sebuah kasur. Terlihat dari raut wajah gadis itu, jika dia tertidur pulas.


Di samping kanan tempat tidurnya seorang pria. Sepertinya pria itu terjaga sepanjang malam karena menemani dan merawat Nayla yang tengah demam.


“Ugh... Apa demamnya sudah turun?” tanya Raysa membatin. “Syukurlah...”


Suasana ruangan asaat itu begitu hangat, depan tempat tidur terdapat televisi ukuran besar, sebuah sofa berwarna coklat dan sebuah meja untuk bersantai, halaman samping terlihat ayunan.


“Dimana ini?” tanya Nayla ketika bangun sambil melihat sekelilingnya. “Apa ini rumah Editor Lee?” gumamnya membatin sambil beranjak dari tempat tidur.


Terdengar suara berisik dari arah luar kamar. Seorang Pria tengah membuat beberapa menu makanan, dengan sekilas saja Nayla bisa tahu jika pria itu adalah Raysa yang tengah memasak.


“Raysa...”


“Kau sudah bangun?”


“Sedang apa?”


“Memasakkanmu bubur,”


“Terima kasih,”


“Nah makan dulu. Setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang. Semalam Ponselmu berdering terus, jadi aku me-nonaktifkannya,”


Nayla hanya duduk diam sambil menyantap sarapannya.


“Apa makanannya tidak enak?” tanya Raysa melihat Nayla.


“Enak kok,”

__ADS_1


“Apa aku harus menyuapimu?”


godan Raysa


“Eh, aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil,”


“Benarkah?”


“Aku ingin bertemu keluagaku,”


“Biar aku yang antar. Mengapa lebih banyak melamun? Kau memikirkan apa?”


“Menyembuhkan penyakitmu. Agar kau tidak terlibat terlalu jauh karena masalahku,”


“Setelah makan, ganti pakaianmu. Aku akan mengantarmu,”


__________________________________________________________


Cuaca bersahabat, langit tampak bersih tanpa di halangi oleh awan. Beberapa burung-burung terlihat tengah berkejar-kejaran satu sama lain di angkasa.


Nayla tertidur di bangku mobil.


Sebuah pesan masuk.


“Kau tidak apa-apa? Aku khawatir. Jika ada sesuatu cerita saja padaku. Jangan di pendam, nanti kau akan sakit. Jangan makan yang pedas, jangan makan ramen, jangan lupa pakai topi dan kacamata biar orang-orang tidak mengenalimu. Aku bangga melihatmu,”


Raysa yang membaca pesan itu, tahu siapa yang mengirim pesan tersebut. Pesan tersebut dari Aufal.


“Mungkin bertemu dengan keluarganya akan membuatnya lebih baik,” kata Raysa membatin.


Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam, dan selama itu dia tertidur.


Pepohonan masih tumbuh di kiri kanan jalan, suasana pedesaan masih sangat terasa untuk sebuah kota seperti itu.


“Maaa... Mama... Kakak pulang,” sebuah teriakan anak kecil terdengar ketika melihat Nayla.


Beberapa orang keluar dari rumah.


“Nay... Nayla...” panggil Raysa membangunkan. “Nay, kita sudah sampai,”


“Aku tidak akan lama di dalam. Tunggu di sini saja,”


Nayla melangkahkan kaki mendekat, dengan membawa beberapa bingkisan.


“Kak. Kakak, apa ini untukku?” tanya seorang anak kecil.


“Iya, pergi mandi setelah itu pakai baju ini,” kata Nayla sambil mengusap kepala gadis kecil itu.


Beberapa orang yang tengah berdiri melihatnya dengan tatapan dingin. Ada rasa marah, dan emosi yang terpancar dari wajah mereka.


“Masih berani datang kemari ya. Setelah membuat ayahku meninggal? Sekarang jadi artis karena mabuk,” kata seorang anak perempuan pada Nayla.


———————— To be Continued ———————


“Cerita Ini Sepenuhnya Fiksi. Nama, Karakter, serta Organisasi yang muncul, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata”


Kritik & Saran silahkan tinggalkan komentar.


Instagram : dih_nu


Baca juga :


- Something Lost


Terima Kasih Telah Membaca!


Jangan lupa Vote jika kalian mendukung saya dalam menulis novel!

__ADS_1


__ADS_2