
Matahari telah tenggalam di bagian barat, Nayla menyalakan api unggun dan mengeluarkan kompor portabel miliknya. Hawa dingin mulai terasa, walaupun dia duduk di dekat api. Suara langkah kaki terdengar makin lama makin dekat ke arahnya. Dia sudah menebak siapa yang tengah menghampirinya, terlihat jelas dengan gelas berisi minuman hangat yang tengah di pegangnya itu.
Raysa mendekat, nafasnya tersengal-sengal karena dia berlari datang ke tempat itu.
“Be... be... benarkah ini dirimu?” tanya Raysa.
“Lama tidak jumpa,” kata Nayla menyapa sambil tersenyum, namun senyumannya di telan oleh kegelapan.
Raysa berlari ke arah Nayla, kemudian memeluk gadis itu. Dia membenamkan wajah gadis yang telah lama di rindukannya itu ke dalam dada bidang miliknya. Nayla tidak bisa memeluk kembali karena di kedua tangannya terdapat gelas yang di pegangnya.
“Ini benar-benar dirimu?” tanya Raysa masih belum percaya dengan apa yang tengah terjadi.
“Kau membuatku sesak nafas,” kata Nayla karena pria itu memeluknya dengan sangat erat.
“Aku masih belum percaya, jika sekarang aku memelukmu. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Raysa pada gadis itu.
“Lepaskan dulu, aku bisa mati kehabisan nafas sebelum menjelaskannya padamu,”
Nayla duduk di atas tikar yang sejak tadi telah di gerainya di tanah sambil membungkus kakinya dengan selimut, sekitar satu meter darinya api unggun yang tengah menyala. Sesekali dia berhenti berbicara sambil menyerup secangkir minuman panas miliknya. Raysa tengah berbaring di paha milik gadis itu, sambil mendengarkan.
Tidak pernah lepas tangan milik Nayla di genggamnya. Seakan, dia takut jika semua yang terjadi hanyalah mimpi.
“Saat itu, aku kembali ke sini. Kemudian saat di Airport, aku tidak sadarkan diri, saat sadar mereka mengatakan aku koma 15bulan, dan aku hanya melihat Aufal di sana,”
“Hmm. Pantas saja, dia tidak ada saat pemakaman ternyata dia bersama denganmu. Jika bertemu dengannya, aku akan buat perhitungan dengannya nanti,”
“Aku telah menikah dengannya di sana,” kata Nayla dengan nada pelan memberitahu pada pria yang tengah berbaring itu. Sontak saja, Raysa bangun karena terkejut.
“Kau telah menikah dengannya?”
Raysa begitu marah mendengar pernyataan itu. Hingga membuat Raysa bangkit dan melepaskan genggaman tangannya yang sejak tadi tengah menggenggam tangan milik Nayla.
Nayla beranjak dari tempat itu, sambil berdiri melihat ke arah barat. Di tangannya masih terdapat secangkir kopi.
Suasana menjadi hening, tidak ada yang berani membuka suara.
Raysa diam dengan penuh amarah, dia mengepal erat tangannya.
“Jika bukan karena dia, mungkin aku sudah meninggal hari itu,” kata Nayla dengan pelan mengungkit kejadian dua tahun lalu.
“Aku meninggalkan ponselku di rumah. Saat di bandara, aku tak sadarkan diri. Saat itu dia bersamaku, karena itu aku bisa selamat. Tepat saat itu pula berita tentang kecelakaan pesawat, di situ terdapat namaku. Ayah dan ibu, begitu khawatir saat Aufal menelfon mereka tidak ada yang menjawab. Dia berinisiatif untuk merujukku ke luar negeri saat itu juga karena kondisi jantungku yang buruk,”
“Bahkan, ketika dia menelfon lagi dan ingin memberi tahu, tidak ada yang menjawab telfonnya. Saat itu, aku butuh operasi secepatnya, karena itu dia mendaftarkan pernikahan agar dia bisa menjadi waliku. Dia hanya fokus pada kondisi kesehatanku. Sisa peluru yang masih ada, membuatku harus melakukan operasi beberapa kali,”
“Mungkin jika aku di posisinya, aku akan melakukan hal yang sama jika tidak ada pilihan lain,”
Raysa masih terdiam, mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Nayla lagi.
“Aku tidak tahu, dia yang mendaftarkannya saat aku tidak sadarkan diri. Aku butuh wali, untuk menandatangani proses operasi beberapa kali, dan dia yang mengurus semuanya,”
“Bahkan, jika waktu bisa di putar kembali. Aku akan melakukan hal yang sama, tidak ada yang ingin mati di depan seseorang yang sangat berarti baginya,”
__ADS_1
“Air mata, suara tangisan, di kelilingi mereka yang sangat berarti rasanya membuatku tidak bisa membuat luka lebih dalam,”
Amarah Raysa yang tadinya memuncak, mulai reda setelah penjelasan Nayla padanya.
Dia melangkahkan kakinya menuju gadis itu, memeluk gadis yang tengah berdiri, sambil membungkus gadis itu masuk ke dalam selimut yang tengah di gunakannya.
Semakin malam, angin berhembus semakin dingin. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan satu sama lain. Sesekali suara burung hantupun terdengar.
Raysa memeluk erat tubuh mungil gadis itu. Nyaman, dan hangat.
“Kau kembali dengan selamat, aku sangat bersyukur,” gumam RTaysa membatin.
“Hanya saja, aku tidak bisa menerima jika kau telah menikah dengan pria itu,” kata Raysa pada Nayla.
“Saat pernikahanmu dengan Naomi, aku tidak punya pilihan karena harus pergi. Dan mungkin itu cara yang tepat untuk berpisah,”
“Mama mengatakan padaku, jika tingkat operasinya sangat kecil. Sepuluh persen saja, tapi aku masih ingin mencobanya. Setidaknya masih adalah tingkat keberhasilan, dan bisa bersama dengan kalian,”
“Walaupun aku adalah Naomi yang asli, tapi tidak bisa di ubah jika kau melamar Naomi. Aku tidak tahu, jika buku itu Naomi yang akan membacanya, dan mengatakan semuanya padamu,”
Nayla melepaskan tangan Raysa yang tengah memeluknya, sambil berjalan mendekat ke arah tebing.
“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, apa kau marah padaku? Atau kau akan meninggalkanku karena aku telah menikah dengan Aufal,”
Nada yang begitu lemah dan parau, seperti Nayla tengah meneteskan air matanya.
Raysa mengikutinya dari belakang, dan kembali memeluknya. Tidak ada raut wajah marah, yang ada hanyalah kerinduan yang membuatnya selalu ingin membenamkan dirinya ke dalam pelukan.
“Kau tidur dengannya?”
“Benarkah?”
“Aku tidak tidur dengannya. Saat aku sadarpun, aku di rumah sakit, setelah sehat aku langsung kembali ke Indonesia,”
“Apa dia menciummu?”
“Apa tidak ada pertanyaan yang lebih berbobot?”
“Apa dia menciummu?” Raysa lagi-lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Hm, aku tidak tahu. Saat sadar, dia tidak pernah menciumku,”
“Sebelumnya bagaimana?”
“Tidak pernah...” kata Nayla dengan tegas.
Raysa mempererat pelukannya apda gadis itu.
“Syukurlah... Aku sangat rindu memelukmu seperti ini. Berbicara denganmu, menikmati pemandangan ini. Aku selalu menyalahkan diri, tidak pergi saat itu juga ketika mengetahui kebenarannya mungkin aku bisa bertemu denganmu di bandara,”
“Selama dua tahun ini, aku hanya bisa membaca buku itu, dan datang ke tempat yang pernah ada kenangan bersamamu,”
__ADS_1
“Ketika itu, aku benar-benar merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti. Berkali-kali, ingin mengembalikan waktu, saat ada dirimu. Menjadi orang bodoh karena terus-terusan menyalahkan diri,”
“Jika aku bisa melanggarnya, seharusnya aku tidak harus banyak berpikir saat itu. Selama dua tahun ini aku belajar banyak hal tentang mencintai,”
“Setelah pulang dari sini, aku dan Aufal akan segera cerai,”
“Berapa lama kau akan di sini?”
“Em. Mungkin seminggu,”
“Kemarikan tanganmu,”
Raysa meminta tangan Nayla, kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah cincin pasangan terlihat.
“Kau ingat cincin ini?” tanya Raysa ketika mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin pasangan di dalamnya.
Nayla hanya bisa memandang pria itu, dia tidak menyangka jika cincin itu bisa di temukan oleh Raysa.
Dua tahun lalu sebelum berangkat...
Nayla kembali ke tempat dimana dia tengah berdiri sekarang. Tempat di mana Raysa mengajaknya.
Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kotak berisi cincin pasangan.
Cincin itu, di belinya saat tengah kencan ganda saat itu. Tanpa sengaja dia melihat Raysa yang tengah sendiri melihat cincin, dan matanya tertuju pada sebuah cincin yang menarik perhatiannya. mahal sih, tidak.
Nayla mendengar tentang cincin itu, bukan terbuat dari bahan yang mahal, namun menarik untuk Raysa dan Nayla lihat saat itu.
“Semua di sini, aku yang membuatnya. Bisa di katakan, hanya satu di dunia ini,” kata seorang ibu paruh baya.
Saat itu, Raysa tidak membelinya, karena tengah bersama dengan Naomi. Membuat Nayla yang berinisiatif membeli cincin tersebut.
Dan, dia kembali ke tempat itu untuk menanam cincin itu di bawah pohon tempat dia dan Raysa pernah berteduh.
“Saat pertama kali melihat cincin ini, yang terlintas di pikiranku adalah cincin ini cocok untuk di pakai olehmu. Harganya tidak semahal cincin-cincin lainnya. Saat aku kembali, ingin membelinya, cincin itu sudah di beli oleh orang. Aku tidak tahu, jika kau yang membelinya,”
Nayla hanya terdiam sambil melihat cincin itu. Bahkan, saat dia membeli cincin itu dia tidak pernah berharap jika akan melingkar di jari manisnya suatu saat.
“Apa cincinnya kekecilan?”
“Ah, aku yang kegemukkan sudah. Saat aku membelinya, aku mencobanya kok, dan itu pas benget di jariku,”
“Benarkah? Coba ku lihat,” Raysa membalikan tubuh Nayla hingga berhadapan dengannya. “Benar, kau tambah gemuk. Tapi bagaimana kau bisa datang mendaki gunung dengan berat badanmu sekarang,”
“Yak... Emangnya aku segemuk apaan, sampe nggak bisa datang kemari,” kata Nayla dengan nada kesal.
Saat Nayla datang ke atas tebing, diapun merasakan begitu cepat lelah karena bobot badannya yang bertambah.
Begitu banyak hal yang ingin di katakan oleh Raysa pada Nayla. Namun, gadis yang ingin di ajaknya bercerita sudah tidur lelap di sampingnya.
__ADS_1
“Selamat tidur,” kata Raysa sambil mengecup dahi milik Nayla kemudian memejamkan mata.
Merekapun terlelap di malam penuh kerinduan.