
“Kakak... Kakak... tolong... Kakak An-an, tolong Naomi... di sini gelap...” lagi-lagi Nayla mercau sambil menyebut sebuah nama.
Kurniawan yang mendengar itu, mendekat ke arah Nayla. Pria itu semakin mendekat kearah gadis yang tengah ketakutan dalam mimpi itu.
“Bibi... ku mohon aku ingin pulang, kakak, dan mama papa sedang menungguku,” racau Nayla sambil menggenggam erat selimutnya.
“Kenapa?” tanya Raysa.
“Nana salah... Nana salah... Ampun bibi... Nana mengaku salah...” kata Nayla. “Kak An-an, tolong Nana, Nana takut,”
Plup!
Seketika Kurniawan terduduk lesu di lantai ketika Nayla yang tengah meracau dalam mimpinya itu bergumam sebuah nama yang tidak asing baginya.
Sepertinya gadis yang tengah bermimpi itu tengah ketakutan hingga bermmpi hal buruk.
_______________________________________________________
Beberapa orang terlihat sibuk.
“Apa yang mereka cari?”
“Kejadian semalam,”
“Kejadian apa?
“Itu... Nayla, hampir tertembak,”
Raysa tengah mengamati timnya yang tengah mencari bukti-bukti kejadian semalam.
“Model AR-15 buatan ArmaLite/Colt,” kata Kurniawan memberi tahu jenis senjata yang di gunakan laki-laki yang menembak itu.
Tidak jauh dari tempatnya, Nayla tengah membantu para petugas medis, mengecek kesehatan.
Kurniawan menatap gadis itu, seakan dia ingin melakukan telepati pada gadis itu, agar beban yang dia rasakan di ketahui.
“*Kak An-an... Ayoo...”
Suara gadis kecil mengema di sebuah ruangan. Gadis itu memakai dres cantik berwarna putih.
“An-an?”
“Em. Nama kakak terlalu panjang, dan susah. Jadi Nana memanggil kakak dengan An-an. Hanya Nana yang boleh memanggil kakak dengan nama An-an,”
Pria itu terlarut dalam masa lalu 20th silam. Ingatan yang telah lama dia kubur sedalam-dalamnya, karena terjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi*.
20tahun yang lalu...
*Acara perayaan besar-besaran terjadi di sebuah Villa yang letaknya di pinggiran kota. Begitu banyak kolega yang hadir saat itu, hingga acara itu di rusak oleh seorang pria yang menelfon dan mengatakan jika dia telah menculik anak tuan rumah itu serta seorang anak yang sedang bermain dengan anak itu. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Begitu paniknya mereka, apalagi ketika penculikan meminta tebusan sejumlah uang.
Sebuah pakaian dengan bercak darah di kirimkan sebagai bukti jika perkataannya penculik itu tidak main-main.
__ADS_1
Begitu histerisnya dua orang wanita yang anaknya telah di culik itu. Tebusan uang tunai pun di sepakati, pastinya dengan jumlah yang sangat banyak.
Saat itu umur kurniawan barulah 10th, dia mengerti situasi yang tengah terjadi, jika adiknya di culik oleh seseorang, dan itu adalah kelalaiannya, karena matanya tidak tertuju menjaga adik kecilnya itu.
Seminggu berlalu, namun belum ada titik terang dari penculiknya untuk memberitahu dimana letak dia mengurung anak itu. Hingga sebuah deringan telfon terdengar, dan mengatakan jika mereka menemukan tempat penyekapan. Tapi, situasinya begitu buruk. Keadaan gudang yang terbakar.
Seorang gadis kecil di temukan di dalam gudang itu. Gadis kecil itu dalam keadaan kritis dan butuh pertolongan dengan sangat cepat, karena telah menghirup asap berlebihan. Gadis kecil itupun di rawat beberapa hari di rumah sakit.
Dua Tahun setelah kejadian penculikan.
Seorang anak duduk lesu di tepi jalan, seperti tengah kelaparan. Sebuah mobil berhenti tepat di depan gadis itu.
Gadis kecil dengan raut wajah pucat karena kelaparan, seperti tidak ada lagi tenaganya. Bisa di pastikan anak itu belum makan berhari-hari.
“Mulai sekarang, namamu Naomi,”
Gadis kecil yang dua tahun lalu yang selamat dari kebakaran di nyatakan hilang kembali di rumah sakit.
Saat hasil pemeriksaan, terdapat gangguan yang mengakibatkan trauma dan kehilangan ingatan pada gadis kecil itu, hingga membuatnya tanpa sadar pergi dari rumah sakit*.
“Mengapa kau melihatnya seperti itu?”
“Apa dia punya keluarga?”
“Punya, Ayahnya meninggal tiga tahun lalu. Ibunya masih hidup. Dia punya kakak, dan adik perempuan,” jawab Raysa. “Aku pernah bertemu dengan orang tuanya, kau juga pernah ber... Aaa. Saat kakaknya datang, kau pergi,”
“Kau begitu aneh sejak semalam,”
“Bagaimana kelanjutan kasus semalam? Apa dia bekerja sendiri atau berkelompok,”
“Aku masih menyelidiknya. Dia sama sekali tidak mau bicara,”
“Boleh aku yang bicara dengannya?” tanya Nayla tiba-tiba.
“Oh my god, kau membuat kami terkejut,” kata Raysa.
“Jangan pura-pura terkejut, aku tahu kau mengetahui jika aku datang,” kata Nayla sambil mencubit Raysa.
“Kami saja yang introgasi dia tidak mau buka suara, apalagi kau,”
“Jika aku bisa membuatnya mengaku, kau harus menuruti permintaanku,”
“Oke. Deal,”
Dua jam kemudian...
Pria itu mulai berbicara, mengapa dia ingin menebak Nayla. Nayla berpikir keras, apa yang sebenarnya di ketahui olehnya sampai mereka ingin membunuhnya.
Nayla keluar dengan beberapa pertanyaan yang masih melintas-lintas di pikirannya.
“Ada yang kau sembunyikan dari kami?”
“Tidak, aku saja tidak tahu apa-apa,” kata Nayla.
__ADS_1
“Apa kau menemukan harta karun mereka?” tanya salah seorang anggota tim Raysa. “Di sinikan kaya akan logam mulia,” katanya lagi.
“Karna aku bisa membuatnya berbicara, izinkan aku ikut. Besok,” kata Nayla.
Tatapan mata gadis itu tengah berbinar-binar karena ingin ikut berkemah di dalam hutan.
“Baiklah,”
“Bagaimana kau membuatnya mengaku?”
“Aku bilang pada mereka, kalian akan membebaskannya,” jawab Nayla membuat semua orang yang berada di situ terkejut.
“Apa kau gila?”
“Dia terus mengatakan jika dia hanya bekerja sendiri, akupun tidak mengenalnya. Jadi aku memberikan tawaran membebaskannya. Jika membebaskannya, dia akan kembali ke kelompoknya. Dan kita akan tahu siapa dalangnya,” kata Nayla menjelaskan. “Kaliankan punya agen khusus yang bersembunyi,” kata Nayla lagi sambil menyilangkan tangannya.
Gadis itu tengah memamerkan keahliannya dalam memecahkan sebuah kasus.
_______________________________________________________
Nayla begitu sibuk dengan mengatur apa saja yang akan dia bawah untuk memasuki hutan.
“Bawa barang yang sangat di perlukan,” kata Aufal tiba-tiba menghampiri Nayla.
“Kau ikut?”
“Iya. Ini, aku menyiapkan kotak P3K untukmu. Di dalam hutan sangat dingin, jadi usahakan untuk selalu pakai jaket,” kata Aufal memperingatkan. “Jika kau butuh bantuan, katakan saja padaku,” kata pria itu sambil pergi meninggalkan Nayla karena melihat sosok yang tidak asing yaitu Raysa.
Langkah demi langkah, sekelompok orang itu masuk ke dalam hutan. Semakin dalam mereka menelusuri semakin dingin hawa terasa.
Nayla berada di belakang Raysa, sedangkan Aufal memilih untuk berada tepat di belakang Nayla. Beberapa petugas medis dan tim relawan lainnya tengah mengikuti mereka dari arah belakang.
Kicauan burung terdengar bersahut-sahutan, terdengar pula air yang mengalir, suasana pedalaman yang begitu indah, sinar matahari tidak terlalu banyak menyinari karena tertutupi pohon-pohon yang menjulang tinggi.
————————To be continued————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat [18+]
- Jiwa yang terbagi
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.
__ADS_1