A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 7 The Memories


__ADS_3

“Dia pacarku kok,” kata Raysa sambil turun dari mobil dan membawa beberapa bahan makanan.


Deg!


“Apa kau gila?” bisik Nayla pada Raysa.


“Lebih baik mereka tahu jika kita berdua pacaran,” kata Raysa.


Nayla pergi meninggalkan Raysa dengan kekesalannya.


Hari itu, tampak begitu menyebalkan bagi Nayla.


“Menyebalkan,” kata Nayla sambil menendang apa yang ada di hadapannya. “Seharusnya tidak perlu di katakan di depan umum seperti itu,” kata Nayla lagi.


“Akhirnya kau punya pacar ya?” sebuah suara mengejutkan Nayla. Aufal melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nayla.


“Akhirnya?” tanya Nayla sambil melihat dengan tatapan mata kesal. “Aku sangat kesal kerena hal itu,” kata Nayla lagi.


“Aku tidak tahu jika kau memiliki hubungan dengan pria itu,” kata Aufal. “Ternyata kau sudah move on ya. Ternyata aku tidak punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” kata Aufal dengan nada bicara seakan penuh pengharapan.


“Huh!” Nayla menghempaskan nafasnya.


“Benar-benar tidak ada kesempatan untukku, aku sungguh berharap bisa...”


“Kau sudah menikah, dan...”


“Aku sudah cerai...”


“Eeee... Kapan?”


“Dua tahun yang lalu,”


“Bukannya...”


“Ceritanya panjang,”


“Maaf, aku tidak tahu!”


“Pastilah kau tidak tahu, kau bukan tipe orang yang mencari tahu kehidupan orang lain, termasuk hidupku yang...”


“Menenangkan diri,” kata Nayla.


“Karena itu, kasih aku kesempatan lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya dari awal dan...”


“Saat ini dia kekasihku...” kata sebuah suara yang ternyata itu adalah Raysa. “Ayo kita pergi dari sini,” kata Rasya sambil menarik tangan Nayla pergi dari hadapan Aufal.


Nayla mengikuti langkah kaki Raysa. Ketika mereka sudah menjauh dari Aufal.


“Bisa lepaskan tanganku, aku ingin sendiri,” kata Nayla dengan nada kesal.


“Kau marah padaku?”


Nayla hanya diam.


“Bagaimana aku bisa tahu, jika kau tidak memberi tahuku,”


“Iya! Aku marah padamu, kau seenaknya mengatakan pada mereka semua. Kau seharusnya meminta persetujuanku,” kata Nayla meninggalkan Raysa.


***


Suasana malam begitu sunyi, baru beberapa hari disini membuatnya nyaman dengan udara segar. Tak ada deru kendaraan, dan asap.


Jam menunjukan pukul 10.20pm, beberapa orang timnya telah terlelap tidur. Laptop, secangkir kopi, sebuah earphone terpasang di telinganya dan sebuah alunan gitar yang di petiknya.

__ADS_1


Sudah sepekan dia tidak berbicara dengan Raysa, dia lebih memilih untuk menulis dan aktifitas membantu kebutuhan para tentara.


“Kau masih marah padaku?” tanya Raysa sambil duduk di dekat Nayla.


“Tidak,” kata Nayla.


“Apa yang sedang kau pikirkan?”


“Bagaimana jika aku tidak bangun. Apakah ada yang kehilangan, atau bersyukur karenanya,” kata Nayla seketika membuat Raysa yang mendengarnya merasakan sesuatu menyakiti hatinya.


“Kenapa berbicara seperti itu?” tanya Raysa.


“Bukan hal yang serius, hanya saja semua orang akan menuju kematian. Terkadang aku...”


“Kau sudah mulai menulis naskahnya?”


tanya Raysa mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Iya. Aku berencana agar naskahnya secepatnya selesai. Agar kau tidak terganggu lagi,” kata Nayla.


“Soal penyakitmu, sebaiknya kau mencoba bergaul dengan...”


“Aku masih...”


“Hhhmm... Soal penyakitmu, aku harus membahasnya dengan profesorfku, karena sejauh yang ku amati penyakitmu...”


“Kemarikan gitar,” kata Raysa. “Aku tahu, kau akan melakukan yang terbaik,” kata Raysa lagi. “Kau suka lagi apa?” tanya Rasya.


“Aku tidak menyukai lagu,” kata Nayla.


“Benarkah? Aku selalu melihatmu memakai Earphone,”


“Instrument,”


Malam itu Raysa mendengarkan instrumen lagu bersama dengan Nayla. Tanpa sadar, Nayla telah tertidur di sampingnya.


“Cutte,” kata Raysa sambil tersenyum. “Dia seperti kucing kecil,” kata Rasya lagi.


Raysa menatap wajah gadis itu. Langit di penuhi gemerlap bintang-bintang di langit malam.


Raysa melihat sebuah book note, di dalamnya terlihat sebuah gambar seseorang. Dia bisa menebak jika itu adalah dirinya. Kemudian di halaman belakang booknote terlihat sebuah gambar di mana ada sebuah pernikahan, yang di lihat oleh seorang perempuan.


“*Dan biarkan aku menyimpan rasa cinta ini sendiri. Semoga pernikahan kalian bahagia,”


-Tamat*-


Ada rasa yang sulit untuk di jelaskan dalam hati Raysa melihat gambar ending novel Nayla.


“Hhhmm... bukan Ending yang indah,” kata Raysa sambil membereskan barang-barang Nayla.


“Apa yang kau lakukan di sini bersamanya?” tanya Kurniawan melihat Rasya.


“Ah, pas banget kau datang. Tolong bawakan barang-barangnya, aku akan mengantarkannya ke tendanya,” kata Raysa sambil menggendong Nayla.


“Aku tidak bisa membuatmu menyakiti mereka,” kata Kurniawan.


“Aku tahu, lagi pula aku dengannya hanya pura-pura pacaran, aku tidak berniat untuk pacaran beneran dengannya. Lagi pula dia adalah anak psikologi, dia bisa melalukan terapi dengan penyakitku,” kata Raysa. “Aku hanya mencintai gadis itu, aku tidak bisa membuatnya takut dengan penyakitku,” kata Raysa.


Tidak ada yang tidak di ketahui oleh Kurniawan tentang sahabatnya.


“Baiklah,” kata Kurnia sambil mengikuti Raysa dari belakang. “Aku tidak bisa membiarkan gadis ini terlalu dekat dengan Raysa,” kata Kurnia membatin.


***

__ADS_1


Tidak terlalu banyak yang di kerjakan di Kam membuat sebagian tim relawan bisa dapat menikmati keindahan alam.


Nayla duduk di bawah pohon sambil memetik gitarnya menikmati angin pantai, tidak lupa laptop, buku dan kacamata selalu menemaninya.


Nayla menggambar di booknotenya.


Matanya melihat ke satu arah, seorang lak-laki dengan baju tentara membawa beberapa peralatan.


“Hei,” panggil Nayla sambil mendekat ke arah pria itu.


Pria itu adalah Kurniawan sahabat Raysa.


“Boleh aku ikut denganmu?” tanya Nayla.


Namun pria itu tidak menjawab dan meneruskan langkahnya, tanpa memperdulikan Nayla.


“Aku tahu kau tidak menyukaiku sejak Raysa mengatakan jika aku dengan dia berpacaran,” kata Nayla. “Bisa kah kau katakan padaku mengapa kau membenciku? Kau tidak bersikap seperti ini saat kita pertama kali bertemu,” kata Nayla lagi.


“Mengapa kau mengajaknya pacaran? Apa kau tidak malu mengajak seorang pria berpacaran?” tanya Kurniawan.


Nayla terkejut, rasanya kata-kata pria itu tepat mengenai dasar hatinya.


“Semua orang mengatakan sama sepertimu,” kata Nayla membuat pria itu berhenti melangkahkan kakinya. “Tapi benar yang kau katakan, aku tidak tahu malu mengajak pacaran seorang kapten dan calon suami orang lain,” kata Nayla. “Raysa mengatakan padaku jika dia adalah Adik angkatmu, kau sangat menyayanginya. Aku tak berniat untuk jatuh cinta padanya kok, tenang saja. Kami masing-masing hanya mengambil keuntungan,” kata Nayla.


“Keuntungan? Emangnya apa yang kau dapatkan dari mengajaknya pacaran?” tanya Kurniawan.


“Emmm. Karena kau sahabat Raysa, aku akan mengatakannya padamu,” kata Nayla.


Nayla menceritakan siapa dirinya sebenarnya pada Kurniawan, membuat raut wajah pria itu berubah.


“Kau benar-benar penulis novel itu?” tanya Kurniawan.


“Iya,” jawab Nayla dengan singkat.


“Uwa. Aku tidak menyangka jika kau penulis, aku salah satu penggemar novelmu. Bolehkan aku minta tanda tanganmu?” tanya Kurniawan.


“Boleh,”


Suasana atmosfer antara Nayla dan Kurniawan tampak telah berubah.


***


“Aku tidak tahu jika kau bisa bermain gitar,” kata Aufal sambil mendekat ke arah Nayla.


Nayla yang melihat Aufal, segera membereskan barangnya.


“Bisakah kau tidak menghindari dariku?”


Raysa dan Kurniawan yang tengah bertugas piket malam itu tidak sengaja melihat Nayla dan Aufal.


Nayla pun mengurungkan niat untuk pergi.


“Aku tahu kau masih membenciku, memaafkan aku sepenuhnya rasanya mustahil. Aku tahu di dasar hatimu kau membenciku, ada dendam untukku,” kata Aufal pada Nayla. “Bahkan selama pernikahanku dengannya, aku hanya mencintaimu. Akupun tersiksa menikah dengannya, sedangkan aku mencintaimu,” kata Aufal.


Raysa ingin menghampiri Nayla, tapi di tahan oleh Kurniawan.


“Apapun statusmu saat ini, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, yang tersisa di hati ini hanya rasa kecewa, benci, dan dendam. Aku membencimu, tapi aku tidak menyesal bertemu dengamu. Mengenalmu, karena itu aku sungguh berterima kasih telah bersamaku selama lima tahun itu,” kata Nayla sambil bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan pria itu.


“Tunggu sebentar...”


“Apa kau benar-benar mencintai kapten itu?”


Deg!

__ADS_1


—To be continued—


__ADS_2