A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 6 Sunrise di Perbatasan


__ADS_3

“Karena itu... Jadilah pacarku...” kata Nayla pada Rasya.


Ombak di pantai saling berkejar-kejaran. Suasana tampak begitu canggung saat Nayla mengatakan hal konyol itu.


Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu, pada seorang yang berpangkat Kapten itu.


“Aku bicara apa sih, seharusnya aku tidak...,” kata Nayla membatin. “Eeemmm... Sampai aku selesai menulis,” kata Nayla terbata-bata.


Rasya tertawa.


Nayla menutup wajahnya karena malu dengan apa yang dia katakan.


“Begitu banyak penulis yang menulis kisah romantis, mereka lebih banyak menemukan ide. Tapi kau penulis yang unik,” kata Rasya tertawa.


Nayla hanya mengembungkan pipinya.


“Aku punya rahasia,” kata Raysa. “Rahasia itu adalah, aku alergi terhadap wanita,” kata Raysa pada Nayla.


“Tapi kau tidak alergi padaku,” kata Nayla.


“Iya, itu anehhnya. Aku tidak alergi padamu, aku bahkan tidak takut padamu,” kata Raysa. “Awalnya aku ingin meminta bantuan agar kau membantuku menyembuhkan penyakitku,” kata Raysa. “Hanya kau dan salah satu temanku yang mengetahui hal ini,” kata Raysa lagi.


“Oke. Kita sama-sama menguntungkan,” kata Nayla. “Aku membantumu menyembuhkan penyakit, aku membantumu menulis novel. Tidak ada yang rugi. Kita sama-sama mendapatkan keuntungan,” kata Nayla lagi.


“Cukup 3bulan saja,” kata Rasya. “Dan tidak ada yang boleh jatuh cinta,” kata Raysa.


“Hhhmm... Apa kita lagi syuting drama Full House? Membuat kontrak tidak boleh jatuh cinta,” kata Nayla sambil mengerutkan keningnya.


“Ada seorang gadis yang ku...”


“Ya aku tahu, karena itu kau ingin menyembuhkan penyakitmu,” kata Nayla memotong perkataan Raysa. “Aku merasa iri pada gadis itu, seseorang berjuang untuk orang yang sangat di sukainya,” kata Nayla.


“Tenang saja. Aku ini tidak mudah jatuh cinta. Aku bahkan di juluki gadis es di kampus,” kata Nayla lagi sambil tersenyum pada Rasya.


“Kenapa kau tidak bisa menulis novel romantis?” tanya Raysa.


“Eeemm... Aku butuh kisah baru untuk menutup kisah sebelumnya,” jawab Nayla.


“Maksudnya?”


“Aku terbawah perasaan saat menulis kisah romantis. Aku akan menangis, atau berhenti menulis di tengah-tengah naskah. Beda dengan thiller, crime, investigasi. Aku seperti orang gila seperti benar-benar ikut di dalam naskah tersebut. Rasanya mudah bagiku daripada menulis kisah romantis,” kata Nayla menjelaskan pada Raysa.


“Oh gitu ya,” kata Raysa .


“Kapan kau akan pergi ke kota? Aku ingin membeli ponsel agar aku bisa menghubungi temanku,”


“Besok pagi. Aku jadwal membeli perlengkapan dapur, jadi aku harus pergi. Kau boleh ikut jika mau,”


“Oke. Aku ikut,” kata Nayla sambil tersenyum.


***


Waktu menunjukan pukul 04.15am WIT.


“Nayla...” panggil Raysa saat melihat Nayla. “Mau pergi kemana pagi-pagi seperti ini?” tanya Raysa.


“Memotret matahari terbit,” jawab Nayla memperlihat kamera yang akan di gunakan untuk memotret.


“Ayo naik!” kata Raysa membuka pintu mobil.


“Mau kemana?”


“Kau bilang ingin ikut pergi ke kota beli Hp,”

__ADS_1


“Oh iya. Aku lupa!” kata Nayla sambil masuk ke dalam Mobil.


Hawa dingin begitu terasa, karena di kelilingi oleh hutan.


“Perjalanan ke kota sekitar 1jam lebih. Toko-toko buka sekitar jam 8-9 pagi,” kata Raysa menjelaskan keadaan.


“Menghirup udara segar ini tidak boleh di sia-siakan,” kata Nayla membatin.


Sepanjang perjalanan tidak yang berani mengawali pembicaraan membuat Nayla tertidur.


“Kita sudah sampai,” kata Raysa. “Dia tertidur rupanya,” kata Raysa melihat Nayla yang tengah tertidur. “Mungkin dia...”


“Sudah sampai?” tanya Nayla tiba-tiba terbangun. “Eee...” Nayla terkejut saat melihat sekeliling.


“Kau bilang tadi ingin memotret matahari terbit, jadi aku membawamu datang ke sini,” kata Raysa.


“Ooohh. Padahal aku bisa memotret kapan-kapan,”


“Ini sejalan dengan yang kita tuju, jadi sekalian saja,” kata Raysa.


Nayla melihat ke arah matahari yang akan menampakkan diri itu. Nayla memilih untuk tidak memotret moment itu.


“Sudah lama, tidak menikmati moment seperti ini,” kata Nayla membatin.


Pikiran Nayla teringat kejadian beberapa tahun yang lalu.


“Nay, ayo bangun. Katanya ingin lihat matahari terbit,” sebuah suara terdengar.


Sebuah jepretan dari kamera milik Nayla terdengar. Raysa tengah mengabadikan moment tersebut.


Suasana pasar tradisional begitu ramai. Nayla terpukau dengan suasana pasar.


“Tuuttt.... Tuuuttt....”


Nayla menelfon.


“Maaf, aku sampai kemarin. Di Kam tidak ada jaringan internet. Aku harus ke kota baru bisa menelfon,”


“Nayla. Tolong bantu aku membawa ini,” Raysa memanggil Nayla.


“Siapa itu? Kau lagi berkencan ya?”


“Ya berkencan, dengan pergi ke pasar,” kata Nayla. “Nanti ku telfon lagi, aku harus membantunya membawa barang belanjaan,” kata Nayla sambil mematikan ponselnya.


“Sudah selesai menelfon?” tanya Raysa.


“Sudah sih,”


Kkrrr...


Suara perut Nayla terdengar.


“Ah. Aku terbiasa saran,” kata Nayla.


“Ayo kita makan dulu,” kata Raysa yang mendengar suara kelaparan dari perut Nayla.


Nayla melihat makanan di dihidangkan untuk mereka, langsung menyambar makanan tersebut.


“Sepertinya kau benar-benar lapar,” kata Raysa sambil tertawa.


“Tidaak kok,” kata Nayla sambil mengunyah makanannya. “Hanya saja ini enak,” kata Nayla.


“Ah begitu ya,”

__ADS_1


“Bibi... Aku pesan 60bungkus ya, buat di bawa pulang,” kata Nayla.


“Mereka juga harus makan seperti makanan kita,” kata Nayla pada Raysa.


“Apa kamu seperti ini?”


“Tidak! Selama 3thn ini,” kata Nayla.


“Emangnya apa yang terjadi sampai kau bicara seperti itu?” tanya Raysa.


“Aku harus update Hiatus,” kata Nayla mengalihkan pembicaraan.


Raysa dan Nayla telah selesai makan.


“Ini pesanannya,”


“Oh tunggu aku bay...” Nayla mengecek Dompetnya. Kemudian menoleh pada Raysa. “Aku lupa bawa dompet,” kata Nayla pada Raysa.


Tuk...


Raysa menyentil dahi Nayla.


“Aauww...”


“Makanya sebelum pesan tuh cek dulu ada uang atau kaga ada duit,” kata Raysa mengejek.


“Aku punya uang, dompet ketinggalan,” kata Nayla. “Uang tadi hanya cukup beli ponsel tadi,” kata Nayla membela diri.


Nayla mengembungkan pipinya. Rasanya pria yang tengah bersamanya, begitu menyebalkan.


“Akan ku ganti,” kata Nayla dengan kesal.


“Mengapa kau putus dengan Aufal?” tanya Raysa tiba-tiba.


“Apa bisa Minggu depan aku ikut lagi? Aku harus vedio call dengan editorku,” kata Nayla mengalihkan pembicaraan.


Raysa yang mengetahui jika gadis yang berada di sampingnya tidak ingin membahas masa lalu.


“Tidak baik untuk di bahas,” kata Nayla sambil melihat ke arah Raysa.


“Oke. Mungkin aku terlalu ingin tahu tentangmu,” kata Raysa sambil fokus menyetir.


Suasana menjadi canggung sepanjang perjalanan pulang.


***


Suasana Kam begitu ramai, terlihat dari kejauhan.


Semua orang melihat ke arah Nayla bersama dengan Kapten tentara tersebut dengan tatapan sinis.


Termasuk Aufal melihat ke arah Nayla. Baginya Nayla adalah seseorang yang spesial baginya. Bahkan, walaupun statusnya telah menikah dia tetap masih mencintai Nayla. Rasa marah, dan cemburu, kini menggebu di dalam hatinya.


Tatapan wajah seorang pria pun tertuju pada Nayla. Dia adalah sahabat Raysa. Kurniawan.


“Semuanya, aku membawa makanan dari belanja,” kata Nayla saat turun dari mobil.


Nayla merasakan jika dia tengah di tatap oleh begitu banyak orang. Dia tersenyum kecut rada ketakutan akan di introgasi.


“Ah! Tidak seperti yang kalian pikirkan, aku pergi membeli ponsel jadi aku ikut,” kata Nayla. “Tokonya begitu lama open, jadi kami harus menunggu sampai tokonya open,” kata Nayla mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Wanita yang menatap Nayla dengan tatapan sinis merasa agak lega mendengar hal itu.


“Dia pacarku kok,” kata Raysa sambil turun dari mobil dan membawa beberapa bahan makanan.

__ADS_1


Deg!


- to be continued-


__ADS_2