A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 19 Berdua di Puncak Gunung


__ADS_3

Suasana pedalaman hutan begitu dingin ketika menjelang pagi. Hawanya sampai menusuk sumsum tulang, membuat yang merasakannya ingin selalu hangat dalam balutan pakaian tebal serta duduk mengelilingi api yang telah berkobar itu.


Nayla berjalan di belakang Raysa. Terkadang mereka melewati bebatuan, terkadang melewati semak belukar, dan terkadang pula mereka memanjat tebing.


Ketika sampai di puncak tebing, sebuah pemandangan yang sulit untuk di jelaskan. Sebuah padang rumput begitu luas di kelilingi oleh hutan-hutan, terlihat hewan-hewan bergantung pada kehidupan padang itu. Nayla hanya bisa berdecak kagum saat melihat keindahan alam itu.


“Berapa jarak tempat ini dari tempat kemah?”


“Hm. Sekitar 3km, jika kita tidak memanjat tebing-tebing tinggi,”


Sejauh mata memandang, hanyalah keindahan alam yang terlihat. Sulit menemukan hal seperti itu ketika berada di perkotaan. Nayla menghirup udara segar itu dengan banyak-banyak, seakan dia begitu kencanduan


“Apa kita bisa ke sana?”


Nayla menunjuk padang rumput tersebut,”


“Membutuhkan dua hari perjalanan untuk bisa ke sana,”


Nayla mengeluarkan teropong miliknya, kemudian melihat pemandangan itu menggunakan teropong. Jarak teropongnya bisa melihat cukup jauh, membuatnya bisa melihat padang rumput itu dengan saksama.


“Hei, ceritakan padaku tentang gadis yang akan kau nikah,”


“Mengapa kau ingin tahu?”


“Setidaknya jika aku bersamamu, aku tidak mengatakan jika aku adalah pacarmu,”


“Ku pikir kau cemburu,”


“Buat apa cemburu, aku lebih kasihan pada wanita itu,”


“Kasihan?”


“Iya kasihan. Dia akan menikah dengan seorang pria yang memeluk wanita lain,” kata Nayla menyinggung.


“Kau menyinggungku?”


“Tidak, itu kenyataannya,”


“Hm. Kau sungguh sadis dalam berbicara,”


“Aku? Seharusnya kau katakan itu pada dirimu,”


Rasanya Nayla begitu ingin berdebat dengan pria yang berada di depannya itu.


“Dia sangat cantik, lebih cantik darimu,”


“Ah begitu. Tidak heran, seorang Raysa, begitu ingin sekali sembuh untuk wanita itu,”


“Ya begitulah,”


“Mau aku katakan sesuatu, sesuatu yang membuatmu memikirkan lagi dan lagi, bagaimana perasaannya terhadapamu,” kata Nayla sambil melihat sekelilingnya mengunakan teropong.


“Apa maksudmu?” tanya Raysa.


“Jika kau merasa menyembuhkan penyakitmu adalah beban, kau layak menyerah,” kata Nayla seketika membuat mata pria itu terbelalak kaget. “Karena mencintai itu, menerima, mendampingi, melindungi, menyembuhkan, bertahan dalam segala hal. Bukan, melakukannya secara sepihak,”


“Ketika orang yang kita sukai, tidak menerima kekurangan diri kita, cukup kita melihat lebih jauh ke dasar hati kita. Apakah ini adalah benar-benar yang kita inginkan, apakah jika kita terus bertahan rasanya akan berubah seiring perjalanan waktu yang kita tempuh ataukah tidak sama sekali,”

__ADS_1


“Ketika berkali-kali hati kita di sakiti oleh orang yang sama, apakah masih tetap utuh perasaan yang sama untuk bertahan. Ataukah, perasaanmu hanya sebatas janji usang menurutnya, atau hanya sekedang mengagumi sosok itu,”


“Aku pernah merasakan semuanya, hingga waktu membawaku pada satu jalan takdir yang membuatku ingin menghentikan waktu itu sendiri dengan berusaha mengakhiri hidupku,”


“Karena hal itu, aku kehilangan Ayah. Aku hanya ingin mengatakan terkadang, apa yang kita harapkan, sama sekali tidak mengharapkan kita,”


“Aku hanya berpikir, bahwa jika dia menyukaimu maka dia tidak akan keberatan tentang penyakitmu, dan kau pun tidak keberatan mengatakan padanya tentang rahasiamu. Karena suatu hubungan, harus di landasi rasa saling percaya,”


“Jika dia tidak menyukaiku, apa aku boleh datang padamu?”


“Hm. Boleh, kau adalah temanku, aku akan meminjamkan bahuku sambil mendengar cerita sedihmu,”


Raysa menatap gadis itu dengan rasa penasaran, apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan.


“Kau punya seseorang yang kau sukai?”


“Banyak, aku menyukaimu, menyukai Aufal, Kurniawan, dan teman-temanmu. Ah, bahkan ada juga cewek,”


Raysa menepuk jidatnya, seakan dia merasa jika tengah di permainkan oleh gadis di hadapannya itu.


“Kau menjahiliku?” tanya Rasya sambil mendekat kearah Nayla.


“Hei, apa yang ingin kau lakukan?”


“Mengelitikmu,”


“Jangan mendekat, aku bilang. Jangan mendekat,” kata Nayla mundur beberapa langkah ke belakang untuk menghindari Raysa yang ingin mengelitiknya.


“Sejak tadi, kau selalu menjawab pertanyaanku dengan ngawur,” kata Rasya dengan raut wajah seakan benar-benar ingin menerkam gadis itu.


“Apa kau selalu ceroboh seperti ini?”


Nayla hanya bisa mematung di dalam pelukannya itu.


“Apa kau jatuh cinta padaku,”


“Tidak,”


“Hm. Bisakah kau bangun. Tubuhmu begitu berat menindihku,”


Nayla hanya memasang wajah cemberut sambil berusaha bangun.


Matahari sudah mendekati puncak kepala, dengan mines kecondong 90 derajat, menandakan jika jam menunjukan pukul 10.15am.


“Bagaimana kau bisa alergi pada wanita?”


“Apa aku belum menceritakannya padamu?” tanya Raysa.


“Belum,”


“Begitu ya,”


Nayla duduk sambil di bawa sebuah pohon yang cukup rindang, sambil menikmati pemandangan alam dan juga makan siangnya. Tidak lupa, dia mengabadikan moment dan menghidupkan tabletnya.


Dia memiliki beberapa alat untuk menulis yang membuatnya menulis di mana saja. Raysa yang melihat hal itu merasa heran, pada gadis itu.


“Kau tidak lelah menulis?”

__ADS_1


“Aku harus segera menyelesaikannya,” gerutu Nayla. “Aku terus mengulang naskah yang aku ketik,”


Hembusan angin di siang hari cocok di berikan nominasi kategori angin yang sangat di rindukan dan sangat romantis. Katakanlah seperti itu.


Nayla bersandar di batang pohon, sambil memejaman mata sejenak menikmati kesejukkan angin yang berhembus itu, namun nyatanya dia ikut terbuai hingga membuatnya tertidur. Raysa pun ikut menyandarkan diri di dekat Nayla, sambil melihat gadis itu terlelap dalam mimpi siangnya.


Raysa kembali memikirkan tentang apa yang Nayla katakan padanya. Ada ribuan beban yang dia rasakan, ada begitu banyak bebatuan yang rasanya menekan kepalanya.


Namun, ada kenyamanan ketika dia berada di dekat gadis itu. Seakan kehadiran gadis itu, membuat seluruh bebannya hilang.


Dengan lembut dia mengusap wajah gadis yang tengah terlelap itu. Tatapannya penuh dengan cinta.


“Andai kau datang lebih dulu padaku, apakah kita akan seperti ini? Aku mencintainya, namun akupun tidak ingin kehilanganmu di saat yang bersamaan. Semua tentangmu, aku menyukainya, dan membuatku ingin melindungi tubuh mungilmu ini,”


“Tapi, rasanya aku tak pernah ada di dalam hatimu. Sikap dinginmu, seakan kau menolak mentah-mentah diriku. Kau seperti angin yang tengah berhembus, membuatku terlena,”


Empat jam telah berlalu, mereka telah tertidur bersandar di pohon itu. Matahari seakan mengatakan jika dia akan segera tengelam di ufuk barat. Nayla yang terbangun lebih dulu, melihat Raysa tengah tertidur di sampingnya, dan mencoba membangunkan Raysa.


“Raysa... ayo pulang, kita ke malaman,”


“Sedikit lagi. Aku ingin disini lebih lama,” kata pria itu, menarik Nayla hingga membuat gadis yang tengah membangunkannya itu, jatuh ke dalam pelukannya.


“Hei, kita akan tersesat jika malam hari,” kata Nayla.


“Tidak apa, aku suka itu,”


Nayla memukul kepala pria itu.


“Mengapa kau memukulku?”


“Kau pantas di pukul,”


Nayla tampak begitu kesal, karena pria yang bersamanya menurutnya begitu menyebalkan.


“Ayolah, jangan seperti ini. Aku begitu lelah,”


Entah bagaimana ceritanya, mereka berdua kembali terlelap tidur.


————————To be continued————————


"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"


Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.


Baca juga :


- Something Lost


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang terbagi


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2