
Ada rahasia, yang harus di sembunyikan. Adapula rahasia yang bisa di ceritakan kepada orang lain.
.
.
Siapa yang akan menyangka, jika dua tahun telah berlalu setelah kejadian mengerikan itu terjadi. Penembakan Nayla, pernikahan Raysa, Kepergian Nayla, dan kecelakaan pesawat. Tahun yang begitu berat.
Seorang gadis tengah menarik kopernya, dia memakai kacamata dan juga topi wanita sepertinya dia baru saja datang dari perjalanan. Seseorang tengah menunggunya. Pria itu adalah Aufal.
Wajah yang tidak asing. Dia adalah Nayla. Tidak ada yang berubah dari wajahnya, hanya saja terlihat lebih fresh dan ceria.
Aneh, jika gadis itu adalah Nayla, siapa gadis yang di makamkan.
Nayla mengeluarkan Ponselnya, dan menelfon seseorang.
“Aku kembali...”
Aufal mengantarnya pada sebuah rumah. Suasana rumah itu tengah ramai, seperti tengah ada sebuah acara.
“Hei, kau serius mau masuk? Hari ini, acara resepsi pernikahan Naomi. Kau masuk ke dalam, bisa-bisa mereka pingsan,”
“Tidak apa-apa. Apa dia ada di dalam juga?”
“Siapa? Raysa?”
“Iya,”
“Tidak. Dia masih di Kam,”
Nayla masuk ke dalam rumah besar itu. Dress santai yang di pakainya berbaur dengan pra tamu undangan. Sepasang mata melihat ke arah Nayla yang datang.
“Nayla...”
Nayla tersenyum pada pria itu. Kurnia, rasa tidak percaya tentang gadis yang tengah berdiri tidak jauh dengan dia.
“Lama tidak jumpa, kak,” kata Nayla sambil berjalan ke arah Kurnia kemudian memeluk pria itu.
“Apa aku sedang bermimpi,"
“Tidak, kau pernah padaku karena aku memohon agar temanmu itu pacaran denganku,”
“Tapi...”
“Akan aku ceritakan nanti,”
Kurnia, masih memeluk adik kandungnya itu. Membuat, dua pasang mata melihat ke arah anak tertuanya itu yang tengah bersama seorang gadis.
“Bisa aku bersembunyi di belakangmu kak, bawa aku pada Ayah dan ibu,”
Pria itu, hanya mengikuti apa yang di katakan Nayla. Pria itu masih belum percaya tentang apa yang tengah terjadi. Ada banyak pertanyaan yang ingin di ajukan oleh pria itu padanya. Mungkin, bukan hanya pada pria itu saja, namun semua orang. Lebih tepatnya, siapa gadis dalam makam itu.
Nayla keluar dari belakang tubuh Kurnia, membuat orang-orang yang mengenalnya seketika terkejut. Naomi hampir pingsan melihat Nayla.
Bagaimana tidak heboh, dua tahun di ketahui telah meninggal kini berdiri dengan senyuman.
“Nay... Nay... Nayla...”
__ADS_1
Wanita paruh baya itu terkejut melihat sosok gadis yang tengah hadir di hadapannya itu.
“Ini benaran kamu?”
Nayla hanya diam, sambil tersenyum dan mengangguk ketika wanita itu mendekati dan meraba wajahnya.
“Mama tidak lagi bermimpi kan?”
Nayla hanya mengangguk. Tidak berani berkomentar ataupun menjawab.
“Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat,”
“Hem, sudah tahu tidak tepat kenapa masih bertanya lagi,” kata Kurnia, sambil mengelus rambut Nayla. “Mereka pasti kagetlah
“Aku sebenarnya capek, bisakah kita bicara nanti saja?”
Kurnia mengantarkan adiknya itu ke kamarnya, begitu juga dengan orang tuanya. Mereka duduk di dekat gadis yang tengah terlelap itu, sesekali memencet pipi, masih belum percaya tentang apa yang mereka lihat. Mereka bahkan ikut tidur di kamar itu sampai pagi.
Tidak ada yang bergeming mengambil makanan yang tengah terhidang di atas meja, mereka masih melihat ke arah Nayla.
Seorang pria yang tengah duduk di dekat Naomi, masih terasa asing bagi Nayla. Dia masih tidak percaya, jika gadis itu membatalkan pernikahannya.
Naomi memperkenalkan suaminya pada Nayla, karena dia merasa jika Nayla ingin mengetahui sosok pria yang tengah di sampingnya itu.
“Aku tidak naik pesawat hari itu. Aku pergi ke Perbatasan saat itu. Aku kehilangan kalungku di bandara, aku mana tahu jika ada yang menemukannya dan memakainya ke luar negeri. Aufal tahu, dan aku menyuruhnya untuk tidak mengatakan pada kalian,”
“Kenapa kau sama sekali tidak...”
“Aku baru saja sehat, sisa peluru yang tidak bisa di ambil saat itu...”
Semua orang terdiam ketika Nayla mengatakannya.
“Jadi...”
“Aku koma selama 15bulan. Karena itu, aku bahkan tidak bisa mengabari kalian. Aufalpun, di sana sibuk menyelesaikan studinya sambil merawatku,”
“Raysa...”
Naomi mengungkit tentang Raysa, membuat Nayla tertegun sejenak.
“Aufal juga sudah menceritakannya,”
“Dia menyukaimu...”
Nayla hanya terdiam seakan dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu.
“Bagaimana jika kau membantu Ayah di perusahaan?”
“Em. Bisakah aku...”
“Ya sudah, kau juga baru saja sehat. Apa yang akan kau lakukan?”
Pria yang kini duduk di dekat Naomi, memperhatikan Nayla. Seakan wajah Nayla begitu familiar.
“Apa yang kau maksud Aufal dari SMA ...”
“Iya. Kenapa kau bisa tahu?”
__ADS_1
“Berarti kau gadis yang selalu dengannya saat SMA?”
“Iya, apa kau mengenalku?”
“Iya. Siapa yang tidak kenal denganmu, gadis yang selalu di bicarakan oleh anak-anak yang suka bergosip itu. Bahkan, sampai di perpustakaanpun mereka bergosip,”
Nayla hanya bisa tertawa mendengar hal itu. Siapa yang bisa menyangka, jika iparnya saat ini adalah seseorang yang pernah seatap dengannya saat sekolah dulu. Bahkan mengenalnya.
“Aku tidak menyangka, anak yang di gosipkan sekarang menjadi iparku,”
“Aku baru ingat. Kau anak yang selalu membawa buku kemana-mana itu ya?” Nayla seketika teringat dengan seorang anak yang selalu memakai kacamata dan membawa buku.
Nayla memakan makanannya dengan lahap. Makanan yang pertama, setelah sekian lama dia tidak merasakan makanan itu.
“Aku akan ke pemakaman, dan mungkin akan pergi menemuinya di perbatasan,” kata Nayla dengan nada pelan.
“Mama akan memulihkan identitasmu dulu. Tadi, mama sudah merapikan kamar dan menyiapkan keperluanmu. Kau akan tinggal di sini kan dengan kami? Kakakmu, akan berangkat tiga hari lagi ke sana kau bisa ikut dengannya,”
“Aku menikah di Amerika dengan Aufal,” kata Nayla dengan terbata-bata.
Semua orang yang mendengar terkejut termasuk Naomi. Suasana menjadi hening saat itu juga. Mereka tahu, jika gadis itu menyukai orang lain. Mereka tidak menyangka, jika gadis itu pulang dengan status telah menikah.
“Agar semua pengobatanku berjalan lancar, dia harus jadi waliku. Jadi dia mendaftarkan pernikahan kami berdua,”
“Kau tidak apa-apa?”
“Kami berjanji bercerai setelah pulang kok,”
“Apa yang kau khawatirkan?”
Seakan ke khawatiran terukir jelas di wajahnya. Jika dia takut, jika dia menjelaskan kepada orang itu tentang segala yang terjadi.
Aufal memang berjanji akan bercerai dengannya saat kembali ke Indonesia, hal paling menakutkan jika pria itu akan mengingkari janjinya lagi. atau... Pria yang tengah bertahta di hatinya, tidak akan menerima penjelasannya.
Sebuah pemakaman terlihat dengan sangat jelas di depan matanya. Sebuah bunga yang masih segar terlihat, mungkin bunga itu di berikan oleh para penggemarnya.
Matanya tertuju pada sebuah kalung yang tengah berada di batu nisan pemakanan itu. Kalung yang tidak asing baginya, kalung itu diberikan oleh Raysa padanya bahkan di pakaikan secara langsung oleh pria itu.
“Aku tidak tahu harus mengatakan hal apa padamu, haruskah aku berterima kasih atau sedih. Kau menggantikanku di sini,” kata Nayla bergumam di makam itu. “Aku hanya bisa berdoa untukmu, semoga kau tenang dan mendapatkan tempat di sisi-Nya,”
“Ayo, kita harus berangkat,” kata Kurnia pada Nayla.
Nayla belum mengumumkan tentang dirinya telah kembali secara publik. Karena dia ingin menikmati masa-masa istirahatnya lebih dulu. Namun dia telah mengabari mereka yang dekat dengannya. Seperti editor Lee dan Laura. Seperti di perkirakan, mereka semua terkejut. Apalagi Laura yang menangis terisak-isak saat mengetahui jika sahabatnya itu masih hidup.
Udara di tempat itu masih sangat segar untuk di hirup sepertinya sangat cocok untuk kondisi tubuhnya dalam pemulihan.
Nayla kembali ke tempat itu, rasanya tidak ada yang berubah dari tempat yang begitu banyak kenangan bersama Raysa.
Saat itu dia dan kurnia sampai pukul 2 siang, Raysa tidak ada saat itu. Membuatnya, pergi ke tempat di mana pernah dia datangi bersama dengan pria itu.
Beberapa orang yang mengenalinya berteriak histeris karena melihat gadis itu. Semua terkejut dengan kehadirannya.
Ransel yang berat tengah berada di punggungnya. Dia melangkahkan kaki memasuki hutan, dia pergi ke puncak.
Raysa baru saja sampai dari kota, semua orang berlari ke arahnya untuk menyampaikan kabar tentang gadis yang mereka lihat. Raysa agak terkejut saat mendengar hal itu kemudian melihat GPSnya, dan membuka pesan miliknya. Semua pesan yang dia kirimkan telah terbaca semuanya.
Raysa bergegas masuk ke dalam hutan mencari Nayla. Ketika dia terjatuh, dia tidak memperdulikan hal itu, terus berlari ke arah titik merah yang berada di GPS miliknya.
__ADS_1
Dari kejauhan nampak jelas di matanya api unggun tengah menyala di puncak gunung. Langkah kakinya di percepat, hingga tidak membutuhkan waktu yang lama baginya ke puncak gunung itu.
“Be... be... benarkah ini dirimu?” tanya Raysa dengan tergesa-gesa, nafasnya menandakan dia telah berlari untuk bertemu dengan gadis itu.