
Suara peluru terdengar saling bersahut-sahutan, di ikuti dengan suara erangan kesakitan. Dalam beberapa menit saja, tempat itu menjadi lautan darah! Tempat itu, jauh dari perkotaan, tepatnya berada di pinggiran kota dengan desain yang sangat indah dan klasik, lebih tepatnya rumah itu adalah Villa seorang Gengster.
Suara langkah kaki terdengar beberapa orang terdengar.
“Jangan ada saksi, jika ada kalian akan tahu akibatnya,”
Pria itu melangkah dengan penuh wibawa, kemegahan, dan sorot matanya yang dingin terlihat sangat menakutkan.
Seperti seekor Harimau yang tengah mengincar mangsanya.
Martin Laoreando Pilsda—seorang bos mafia, dia terkenal dengan kedinginan dan kebengisannya saat melahap musuh. Tidak memiliki tawar-menawar dalam mengintrogasi musuhnya, siapa yang berani melawannya akan menghilang tanpa jejak.
Hanya beberapa orang yang mengetahui indentitas yang sebenarnya, jika dia adalah seorang Bos Mafia paling di takuti di dunia.
Bahkan organisasinya memiliki anggota di seluruh dunia, mereka menamakannya sebagai Black Shadow—seperti namanya, mereka bergerak dalam bayangan. Tentunya, mereka terlibat dalam hal-hal kotor, seperti penjualan senjata ilegal, narkoba, penjualan organ tubuh, dan masih begitu banyak hal kotor lainnya.
Nayla begitu serius mengetik naskah baru di Ponselnya. Dia begitu ikut terbuai dalam naskah yang di ketiknya itu.
“Eeemm... Wangi," kata Nayla. "Apa yang tengah kau masak,” kata Nayla sambil berhenti mengetik, dan melihat ke arah Raysa yang tengah memasak.
“Aku selalu ingin memasakannya makanan enak, jadi aku belajar memasak. Dan ini adalah kali pertamaku memasak makanan mewah seperti ini,”
“Apa kau sengaja?”
“Sepertinya begitu,”
“Apa aku orang pertama mencicipi masakanmu?”
“Iya,”
“Baiklah aku akan menilainya untukmu,” kata Nayla meletakkan Ponselnya dan menuju ke arah Raysa yang tengah menyiapkan makanan yang tengah di masaknya itu.
“Sebenarnya, aku sudah lama belajar masak, karena aku selalu di tinggalkan oleh Ayah dan Ibuku sejak kecil. Tapi, ini baru pertama kali bagiku memasakkan makanan untuk seorang wanita,”
“Eeeemm... Enak,” kata Nayla menyambar makanan di sendok yang tengah di pegang oleh Raysa.
“Begitu dekat,” kata Raysa membatin.
Pipinya menjadi begitu merah merona, hawa panas terasa di pipinya. Jantungnya bergedup dengan sangat kencang, serasa ada yang tengah masuk, dan sekitika mengalir di sekujur tubuh.
“Kau sakit?” tanya Nayla melihat wajah Raysa yang merah merona.
“Aaa... Ini, karena panas,” kata Raysa salah tingkah. “Sepertinya aku mau mandi dulu,” kata Raysa sambil pergi meninggalkan Nayla.
Nayla bingung dengan sikap Raysa, namun dengan santainya seakan tidak terjadi apapun dengan sikapnya seperti tadi dia melahap makanan yang di masak oleh Raysa.
“Benar, itu ide yang cemerlang,” kata Nayla sambil mengambil Ponselnya dan mencatat sesuatu.
_______________________________________________________
Raysa tengah bergumam sendiri di dalam kamarnya.
“Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku begitu nyaman dengannya, bahkan rasa ini tidak pernah aku rasakan pada Naomi,” kata Raysa memegang dadanya sebelah kiri merasakan detak jantung yang tidak beraturan sedari tadi.
“Raysa... Ayo keluar, aku sudah selesai makan dan membersihkan dapur,” kata Nayla memanggil Raysa.
Saat pulang dari kampung bersama Raysa, Nayla menginap di rumah pria itu. Karena sudah larut malam, dia memutuskan untuk menginap di rumah Raysa.
Kemarin...
Saat perjalanan pulang...
“Aku sudah menemukan beberapa alasan mengapa kau alergi terhadap wanita,” kata Nayla.
“Benarkah?”
“Iya. Pertama, alasan ini jauh dari apa yang kau pikirkan, alasan utama pemicunya adalah karena trauma di masa lalu, kedua ketidak percayaanmu pada wanita yang berada di dekatmu. Kau takut mengatakan pada mereka tentang kondisimu,” kata Nayla.
“Trauma?”
“Em. Seperti penyiksaan, atau kau mengalami hal yang kurang baik saat kecil,”
“Ya,”
“Karena itu, mulai saat ini kau harus menyimpan di dalam lubuk hatimu paling dalam, jika tidak semua orang tidak dapat di percaya, tidak semua wanita seperti apa yang kau pikirkan. Seperti kau dekat denganku saat ini,” kata Nayla menjelaskan.
“Menurutmu, apa aku bisa sembuh?”
__ADS_1
“Jika kau yakin dan ingin sembuh. Maka aku berusaha membantumu,”
_______________________________________________________
Deru kendaran terdengar jelas, kicauan burung-burung yang terbang bebas di angkasa sesekali terdengar. Gedung-gedung pencakar langit terlihat, aktifitas warga sangat jelas terlihat.
“Kau yakin?” tanya Raysa yang merasa risih dengan sekelilingnya. “Mengapa tidak memb...”
“Diam, jangan protes,” kata Nayla. “Jika kita naik mobil, kau tidak dapat berinteraksi dengan orang luar, jadi lebih baik kita naik angkot atau bus saja,”
“Tapi...”
“Percaya padaku. Oh, angkotnya sudah datang,” kata Nayla sambil menunjuk sebuah angkot.
Raysa hanya mengerutkan dahi ketika melihat Angkot berhenti di depannya. Beberapa orang langsung naik berdesak-desakkan.
“Ayo naik,” kata Nayla yang melihat Raysa hanya terdiam. “Ayo naik, jangan diam saja di sana,” kata Nayla sambil meraih tangan Raysa agar ikut naik dengannya.
Nayla tahu pasti, tentang laki-laki yang tengah di pegangnya itu, hidup serba berkecukupan, dan lebih terbiasa dengan kendaraan pribadi.
“Anak muda zaman sekarang...”
“Pengantin baru ya neng?” tanya seorang ibu, tiba-tiba pada Nayla.
“Pengantin baru pastinya bu,” timpal seorang ibu.
“Sudah lama neng?”
“Sebulan bu,” jawab Nayla berbohong.
“Aduh. Pantesan,”
“Pacaran berapa lama?”
“Tidak pacaran bu,”
“Aduh... aku pengen deh, anakku seperti ini. Nggak pacaran, langsung nikah,” kata seorang Ibu.
Nayla hanya cengegesan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sedangkan Raysa, hatinya tidak karuan karena sedari tadi Nayla memegang tangannya, di tambah dengan ibu-ibu yang tengah mengejek mereka berdua sedari tadi.
“Pekerjaan suaminya apa neng?”
“Wah. Hebat banget, di jodohin ya neng?”
“Tidak bu,”
“Pak, kami turun di sini saja,” kata Nayla. “Kami turun lebih dulu ya bu,” kata Nayla kepada beberapa ibu-ibu yang berada di angkot. Di ikuti oleh Raysa yang masih memegang tangannya.
“Mengapa gadis serasa baik-baik saja, seperti tidak merasakan apapun ketika memegang tanganku, sedangkan aku sejak tadi ingin menyembunyikan wajahku,” kata Raysa membatin, sambil mengikuti ke mana dia akan di bawah oleh Nayla.
“Kita pergi ke taman hiburan, pasar, semua serba keramaian,” kata Nayla. “Bagaimana dengan yang kau rasakan? Apa alegimu kambuh?” tanya Nayla yang sejak tadi dia melihat jika wajah pria yang bersamanya merah merona.
“Tidak,” jawab Raysa singkat.
“Tapi wajahmu merah seperti itu? Apa benar alergimu tidak kambuh?” tanya Nayla.
"Atau kau demam?" tanya Nayla lagi sambil mengecek kondisi pria itu dengan manaruh tangannya di dahi Raysa.
“Tidak-tidak. Ini karena gerah,” kata Raysa.
“Ya sudah, kita istirahat dulu,” kata Nayla sambil menarik kembali Raysa. “Hari ini, jangan cemaskan apapun. Nikmati saja moment ini. Percaya padaku,”
“Benar apa yang dia katakan, menikmati hari ini,”
_______________________________________________________
“Hei, lihat bukankah itu gadis yang di dalam vedio itu,” bisik seseorang pada temannya.
“Dia itu penulis terkenal itu,” kata salah seorang lagi.
“Aku lebih suka lihat cowok yang sedang bersamanya itu,”
“Aku penggemarnya, kira-kira jika aku berfoto dengannya apa dia tidak keberatan ya?”
“Sebaiknya jangan, sepertinya dia tengah bersama dengan pacarnya,”
“Bukannya itu pria yang menggendongnya saat dia mabuk?”
__ADS_1
“Sepertinya benar deh,”
Raysa menatap wajah gadis di depannya yang tengah menikmati ice cream, rasa coklat dan vanilla itu.
Terdengar beberapa orang tengah berbisik-bisik sambil melihat ke arah Nayla dan Raysa.
Raysa tengah menggengam gelas minumannya, tiba-tiba...
Syrut... Syrut... Syrut...
Nayla meraih tangan dan menyerup minuman Raysa.
Deg!
“Wajahnya begitu dekat,” kata Raysa membatin.
“Mengapa kau meminum minumanku?” tanya Raysa berusaha untuk menghindar.
“Uhuk... Uhuk... mengapa kau menarik minumannya. Aku akan tengah minum,” kata Nayla karena minuman itu tidak sengaja masuk ke dalam hidungnya dan tumpah di bajunya.
“Siapa suruh main nyosor minuman orang,” kata Raysa.
Raysa yang melihat pakaian Nayla basah, seketika melepaskan pakaiannya.
“Pakai ini, bajumu basah. Jangan sampai orang lain melihat pakaian dalammu, cukup aku saja,”
“Yak. Dasar mesum,” pekik Nayla sambil memukul Raysa, kemudian pergi ke toilet membersihkan pakaiannya.
Suasana hati Nayla masih kesal karena perkataan Raysa, dia balik ke tempat duduk dengan raut wajah kesal.
“Sudahlah, aku minta maaf,” kata Raysa sambil mengacak-acak rambut Nayla.
Seharian mereka bersama bermain di taman hiburan, membeli jajanan, mendengarkan musik bersama.
“Hari ini, aku bisa berada di keramaian orang banyak, bahkan aku tidak merasakan jika alergiku kambuh,” kata Raysa membatin sambil melihat ke arah Nayla. “Senyaman ini bersamanya,” kata Raysa lagi-lagi membatin.
“Terima kasih, banyak sekali kau dapat bonekanya dari mesin capit,” kata Nayla yang tengah memeluk beberapa boneka yang di dapatkan dari mesin capit.
“Oh lihat itu,” tunjuk Nayla sambil melihat sesuatu. “Dapatkan boneka itu untukku,” kata Nayla. “Ayoo... Cepat, main dan dapatkan untukku,” kata Nayla lagi.
Beberapa menit kemudian.
“Yes, terima kasih,” kata Nayla sambil mengambil boneka besar itu.
“Apa kau anak kecil?”
“Hei, bapak tidak peka. Wanita itu suka hal seperti ini,” kata Nayla seketika membuat jantung Raysa berdetak dengan sangat cepat.
“Ayo... kita coba permainan itu lagi,” kata Nayla sambil menarik Raysa.
Raysa mengikuti kemana gadis itu membawanya.
“Mengapa aku senyaman ini, mengapa aku tersenyum bahagia melihat gadis ini, saat melihat versi sedih dirinya begitu sakit hati ini,”
“... Aku harap kau dapat membuat hatinya menjadi hangat kembali, rasanya cukup dia terjebak dalam dingin,” kata Reza.
“Aku ingin menjaganya, aku ingin menghapus air mata itu,” kata Raysa lagi-lagi membatin.
“Aku ingin memeluknya, dan selalu berada di sampingnya,”
Tiba-tiba Raysa melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nayla dan memeluk gadis itu dari belakang dengan sangat erat. Membuat gadis itu terkejut.
“Raysa...” pekik Nayla. “Mengapa kau memelukku?” tanya Nayla berusaha untuk keluar dari pelukan pria itu.
“Biarkan seperti ini sejenak. Aku ingin sebentar saja memelukmu,” kata Raysa sambil terus memeluk gadis itu.
——————— To be Continued ———————
“Cerita Ini Sepenuhnya Fiksi. Nama, Karakter, serta Organisasi yang muncul, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata”
Kritik & Saran silahkan tinggalkan komentar.
Instagram : dih_nu
Baca juga :
- Something Lost
__ADS_1
Terima Kasih Telah Membaca!
Jangan lupa Vote jika kalian mendukung saya dalam menulis novel!