A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 43 Sebatas Kenang


__ADS_3

Nayla tidak asing lagi dengan pria yang tengah berdiri di depannya itu. Pria yang memberikan dokumen-dokumen rahasia yang dia butuhkan untuk mengungkapkan siapa yang menembaknya, dan juga apa motif dari mereka sebenarnya.


“Siapa dia?” tanya Raysa sambil berbisik.


“Dia yang membantu pembayaran biaya pengobatanku saat di Amerika,”


“Hanya itu?”


“Pekerjaannya aku tidak tahu,”


Pria itu tersenyum ke arah Raysa.


“Kau bahkan tidak mengenaliku lagi,” kata pria itu.


“Apa aku mengenalmu?”


“Aku bahkan mengenalmu sejak kecil,” kata pria itu.


“Di dalam sana, lorong paling kiri ada begitu banyak tulang manusia. Lebih baik mengirim sebuah tim untuk datang memeriksa tempat ini,” kata Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan.


Identitas pria itu sangat misterius, bahkan saat Nayla bertemu dengannya begitu mendadak.


Kurnia, dan Moesa tengah menunggu Nayla dan Raysa. Kaki Kurnia tengah di balut dengan perban, karena membengkak.


“Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Kurnia ketika melihat adiknya.


“Siapa yang mengkhawatirkan siapa, hm,” kata Nayla sambil melihat perban di kaki milik kakaknya itu. “Apa sudah di obati?” tanya Nayla sambil melihat ke arah kakaknya.


“Tidak apa-apa, aku khawatir dengan kalian,” kata Kurnia.


Di dalam pesawat, tidak ada yang memulai bercerita. Nayla tertidur, dan bersandar di bahu milik kakaknya.


“Dua tahun lalu, mayat Adrian di kirim ke rumah orang tuanya dalam keadaan tragis,” kata pria itu. “Data yang di salin olehnya, membawa bahaya kepada keluarganya,”


“Di belakang Adrian ada sebuah organisasi yang mendukungnya, dan gadis itu terseret ke dalam masalah itu,”


“Aku hanya membutuhkan barang berada di tangannya,” kata pria itu.


Mereka telah sampai di Kam, tidak membutuhkan waktu lama perjalanan karena mengunakan hellikopter. Raysa mengendong Nayla masuk ke dalam kamarnya, gadis itu terlelap dengan sangat mungkin karena kelelahan setelah tiga hari berada di bawah tanah.


“Dua hari lagi, aku akan mengirimnya kembali ke Ibukota,” kata Kurnia pada Raysa. “Di sini, aku tidak bisa melarangnya melakukan hal berbahaya,” kata Kurnia sambil mengusap lembut rambut milik Nayla.


“Dia orang yang ceria,” kata Moesa mencoba menilai.


“Hm. Dia bukan orang seperti itu, sebenarnya dia adalah orang yang sangat dingin. Tatapan matanya begitu tajam, dan jika dia berbicara dengan orang yang tidak di sukainya, matanya seperti elang yang tengah berburu mangsanya,”


“Kami tidak ingin kehilangan dirinya lagi,” kata Kurnia.


“Kehilangan lagi?”


Suara langkah kaki terdengar.


“Apa dia baik-baik saja?”


Seseorang baru saja datang, nafasnya tersegal-segal sepertinya dia berlari datang ke sana.


Sosok pria itu, membuat Raysa mengepalkan tangannya, dia tidak suka kehadiran pria itu.


“Aufal...”


“Kenapa kau ada di sini...”


“Apa dia baik-baik saja? Aku tanya pada kalian, apa jantungnya tiba-tiba sakit?” tanya Aufal.


“Dia lagi tidur, karena kelelahan,” kata Kurnia.


“Biar aku cek,”

__ADS_1


“Tidak perlu,” cegah Raysa.


Raysa menatap pria itu dengan tatapan penuh dengan amarah.


“Jangan melarangku...”


“Kau...”


Kurnia mencegah Raysa untuk tidak berkelahi dengan Aufal.


“Dia harus banyak-banyak beristirahat, jangan kelelahan. Jantungnya baru saja sembuh,” kata Aufal setelah selesai memeriksa kondisi kesehatan Nayla. “Untung saja dia baik-baik saja,” kata Aufal lagi.


“Kalian pergilah beristirahat. Kalian juga pasti lelah, aku akan tidur di sini,” kata Raysa. “Kau juga pergi dari sini,” kata Raysa sambil menatap Aufal.


“Kau ngapain tidur di sini, kau belum menikah dengannya,” kata Kurnia sambil menarik sahabatnya itu.


“Aku akan disini, karena aku suaminya,” kata Aufal tengah memamerkan statusnya yang kini sebagai suami Nayla.


“Kau juga tidak boleh di sini,” kata Raysa menarik Aufal. “Sebaiknya kita berdua membuat perhitungan,” kata Raysa berbisik di telinga Aufal.


“Apa tidak apa-apa mereka di biarkan pergi berdua? Sepertinya mereka akan berkelahi,” kata Moesa.


“Tidak apa, aku sering melihat mereka berkelahi. Sebaiknya kita mengintip dari jauh saja,” kata Kurnia menarik tangan Moesa untuk bersembunyi.


Raysa menatap tajam ke arah Aufal. Dia masih belum terima dengan tindakan Aufal yang mendaftarkan pernikahannya dengan Nayla.


“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau tidak memberitahuku jika dia masih hidup?”


“Aku menelfonmu, tapi kau tidak mengangkat telfonku. Aku sudah janji dengannya, akan segera bercerai. Aku datang menjemputnya karena sidang penceraian kami beberapa hari lagi,”


“Apa kau menyentuhnya?”


“Tidak, aku sama sekali tidak menyentuhnya,” kata Aufal. “Em. Mungkin menciumnya saja,” kata Aufal dengan santai.


“Kau...”


“Tenang... Aku tidak pernah menyentuhnya, bahkan menciumnya. Aku bukan pria yang mengambil kesempatan saat dia koma selama itu,” kata Aufal.


Raysa sejak tadi mencengkram kerak baju milik Aufal.


“Hm. Aku sudah berkata jujur. Bisakah kau melepaskan cengkramanmu ini,” kata Aufal mencoba untuk melepaskan tangan milik Raysa dari kerak bajunya.


Dari kejauhan Kurnia hanya mengamati kedua orang itu.


“Apa benar-benar tidak apa-apa?”


“Mereka pernah berkelahi karena adikku tertembak. Mereka berdua sampai babak belur,” kata Kurnia mengingat kembali kejadian di malam pertama Nayla tertembak.


“Tapi siapa pria itu? Mengapa dia mengatakan jika dia suami adikmu? Terus...”


“Ceritanya rumit dan panjang banget. Pria yang baru saja datang itu, kekasih lama adikku, mereka pernah pacaran, kemudian pria itu menikah. Raysa, adalah pria yang di sukai adikku sejak dua tahun lalu, tapi pria itu masih menyukai Nayla, emang dia telah menikah dengan adikku secara hukum,”


“Terus hubungan Raysa dan Nayla bagaimana dong?”


“Mereka akan segera bercerai, pria itu dengan Nayla. Mereka menikah, karena Nayla membutuhkan wali saat dia sakit, makanya mereka mendaftarkan pernikahan,”


“Tapi, bukankah ada kalian? Mengapa...”


“Kami beranggapan Nayla sudah meninggal karena kecelakaan pesawat, dia memberitahu pada kami, tapi tidak ada satupun dari kami yang mengangkat telfonnya,”


“Oh. Aku baru mengerti sekarang,”


“Raysa marah pada pria itu karena dia menyembunyikan Nayla. Selama ini, Raysa seperti orang bodoh yang selalu menyalahkan dirinya sendiri,”


“Ternyata hubungan mereka begitu rumit,”


“Daripada mengatakan hubungan mereka yang rumit. Bagaimana dengan hubungan kita berdua?” tanya Kurnia tiba-tiba.

__ADS_1


“Kok jadi kita berdua?” tanya Moesa.


Moesa meninggalkan Kurnia yang masih berada di sana, karena tidak ingin membahas tentang apa yang di tanyakan oleh Kurnia.


“Hei, bagaimana dengan hubungan kita berdua?” tanya Kurnia sambil mengikuti dari arah belakang Moesa.


“Sudah, jangan menggangguku. Aku tidak menyukaimu,” kata Moesa sambil berlari kecil.


Kurnia hanya bisa memandang gadis itu. Dia tidak menyangka, jika dia akan di tolak mentah-mentah.


Pertengkaran Rasya dan Aufal berhenti karena mendengar suara Kurnia yang tengah mengoda Moesa.


“Jangan menyerah kakak Ipar,” kata Aufal tertawa kecil.


“Siapa yang kau panggil kakak Ipar,” kata Kurnia sambil mendekat ke arah kedua pria itu. “Aku tidak menganggapmu sebagai suami adikku,” kata Kurnia.


“Jangan seperti itu denganku, aku akan segera bercerai dengannya. Biarkan aku memanggilmu seperti ini, lagi pula kau berhutang budi padaku karena aku yang telah merawat adikmu selama dia koma,”


“Kau...”


Aufal hanya cengegesan.


“Baiklah, aku akan mengizinkanmu memanggilmu seperti itu,” kata Kurnia.


“Tapi, sepertinya kau di tolak gadis itu, mau ku carikan gadis lain?”


“Kau... Apa kau ingin aku menggantungmu di atas pohon? Kau saja, masih menyukai adikku dan tidak menikah, masih berbicara tentang mencarikanku seorang gadis,” Kurnia agak kesal dengan perkataan itu. “Ray... bantu aku, kita berdua menggantungnya di atas sana,” kata Kurnia mengajak Raysa.


“Aku minta maaf, aku hanya bercanda dan kau menganggapnya serius,”


“Berikan hasil laporan kesehatannya saat dia koma di Amerika,” kata Kurnia.


“Lepaskan aku dulu,” pinta Aufal. “Hasilnya sudah ku berikan pada Orang tuamu, karena itu aku datang kemari setelah tahu dia ada di sini,” kata Aufal sambil membenarkan pakaian miliknya. “Jika kalian ingin lihat vedio saat dia di sana. Akan ku berikan. Aku punya banyak vedionya,” kata Aufal lagi. “Kalian berdua sungguh, tidak tahu terima kasih padaku. Memperlakukanku seperti pencuri saja,” gerutu Aufal sambil pergi meninggalkan Raysa dan Kurnia.


Raysa kembali ke kamar Nayla melihat keadaan gadis itu.


Raysa mengusap lembut rambut milik Nayla. Lagi-lagi dia tidak merasa bosan melihat wajah gadis itu.


"Mengapa belum kembali ke kamarmu?" tanya Nayla tiba-tiba.


"Aku masih ingin melihatmu lebih lama,"


"Pergi tidur sana. Kita akan di gosipkan jika sekamar berdua. Aku tidak akan pergi tiba-tiba,"


"Aufal datang menjemputmu," kata Raysa membuat gadis itu terkejut, pantas saja pria itu agak berbeda ternyata karena kedatangan Aufal yang mendadak.


Apalagi Aufal datang menjemput gadis itu, padahal dia baru saja bertemu.


"Apa ada yang dia katakan padamu?"


"Aku hanya nggak suka, dia mengatakan jika dia adalah suamimu,"


Nayla tertawa mendengar penuturan pria itu. Seakan tengah menunjukkan sifat manjanya.


"Kau bisa ikut denganku kembali nanti," kata Nayla mencoba membujuk pria itu.


"Kau cemburu?"


Memasang wajah manja, dan cemburut pria itu begitu lucu. Baru pertama kali Nayla melihat ekspresi wajah seperti itu.


"Bukankah dia mengatakan padamu, kami akan bercerai?"


"Iya. Tapi..."


"Kembali ke kamarmu. Kau pasti lelah juga," kata Nayla memerintah.


Pria itu mengikuti saran Nayla dan pergi dari kamar tidur itu.

__ADS_1


Nayla melihat gitar yang biasa di pakai olehnya dua tahun lalu. Banyak kenangan bersama dengan gitar itu. Gitar yang menemani hari-harinya, membuat dirinya dekat dengan Raysa. Dia tidak menyangka jika dia akan kembali lagi ke tempat ini.


Saat dia memutuskan untuk memilih menyembuhkan dirinya sendiri, dia benar-benar tidak menyangka jika akan menjalin kembali ikatan bersama dengan Raysa.


__ADS_2