
Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Padahal tidak ada awan mendung sebenarnya, entah mengapa hujan mendadak membasahi tanah.
Nayla tengah duduk di atas ranjangnya, sambil memetik gitarnya. Suara alunan nada dari hasil petikan gitarnya tengah bersaing dengan hujan deras di luar kamarnya itu.
Raysa tengah berdiri di depan pintu kamar milik gadis itu. Pakaiannya basah karena air hujan yang menerpanya ketika angin berhembus dengan sangat deras.
Dia memikirkan tentang perkataan Aufal, yang baru saja dia dengar. Kemudian, dia memikirkan tentang perasaannya yang meragukan gadis itu.
Ketika hatinya kosong, gadis itu mengisi ruang hatinya sedikit demi sedikit. Sisi kesepian dan kedinginan hati yang ingin membuatnya menghangatkan hari-hari gadis itu.
Nayla memikirkan hal yang sama, alasan dia tidak jujur dengan perasaannya. Dia terus mengulang kata yang sama untuk memberikan alasan.
Dua sejoli yang tengah memikirkan keadaan yang sama itu, terasa bodoh saling menyakiti dengan perasaan masing-masing. Serasa ada tembok yang sangat besar di hadapan mereka berdua yang tidak di daki, tidak bisa di bobos, dan tidak bisa di hancurkan.
“Kau kembali di hadapanku, aku sangat berharap itu. Setelah kau kembali, tapi aku meragukanmu berkali-kali, serasa aku hanya tengah berada di tengah ilusi yang nyata. Tidak, ada yang kurang dari semua itu, bahwa aku tidak pernah ada untuk kau percayai, untuk kau jadikan sandaran untuk keluh kesahmu. Aku hanya cemburu, dan aku... aku nyatanya takut kau pergi dariku. Dan, akhirnya hubungan kita berdua kini berada di kesalahpahaman yang kita buat bersama,” kata Raysa membatin sambil berdiri dan menyandarkan kepalanya di dinding kamar Nayla lebih tepatnya, berada di belakang Nayla, mereka hanya terpisah antar dinding.
Nayla memejamkan mata, sambil menengadah ke atas. Begitu banyak kata yang tersusun di dalam kepalanya. Ada kehampaan di dalam hatinya, hujan seakan mewakilinya untuk menangis saat itu.
Hujan telah reda, sejam yang lalu. Raysa memilih duduk di dekat pintu milik gadis itu, pakaiannya yang basah, dan suasana dingin setelah hujan seakan tidak terasa olehnya.
Hingga waktu berlalu, Nayla masih belum juga tertidur ketika dia mencoba untuk keluar dari kamarnya, sosok pria yang di kenalnya tengah duduk dan tertidur sambil bersandar di dinding.
Tatapan matanya penuh dengan cinta dan kasih sayang melihat wajah pria itu. Mungkin, selama ini dia menyembunyikan perasaannya. Ada alasan di baliknya, air matanya tertahan di pelupuk matanya yang cantik, sambil mengusap pipi pria yang tengah tertidur itu.
Nayla merasa, jika badan pria itu terasa hangat seperti tengah terkena demam.
“Mengapa kau datang kemari, pakaianmu juga basah,” kata Nayla.
Pria itu—Raysa terbangun.
“Aku... aku...”
__ADS_1
“Masuk dulu, badanmu begitu hangat. Aku tidak habis pikir kau bisa demam,” kata Nayla sambil membantu pria itu berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.
Pria itu di bantunya berjalan menuju ranjang miliknya. Dari dalam lemarinya di keluarkannya beberapa pakaian kaos dan celana olahraga miliknya.
“Apa kau bisa ganti baju dulu?” tanya Nayla sambil menyodorkan pakaian. “Aku tidak mungkin...”
“Aku tidak bisa,” kata Raysa seakan tengah menggoda gadis itu.
Wajah Nayla memerah, bagaimana bisa pria di hadapannya itu tengah menggodanya, sedangkan di dalam kamar itu hanya terdapat mereka berdua.
“Apa kau tidak akan membantuku melepaskan pakaian? Apa kau ingin membuatku tambah sakit?” tanya Raysa dengan senyuman licik terukir seakan dia sangat-sangat ingin menjahili dan mengoda gadis pujaannya itu.
Walaupun mereka telah saling mengungkapkan perasaan, hubungan mereka tidak pernah lebih dari hanya sekedar berpelukan. Tidak pernah lewat dari sebatas itu.
Nayla menutup matanya, tidak berani memandang pria itu yang tengah di lepaskan pakaiannya. Raysa melihat wajah gadis yang tengah di isenginya itu, kali ini kejahilannya sungguh membuatnya tersenyum.
“Biar aku sendiri saja, bisa-bisa kepalaku yang terlepas karena kau menutup mata seperti itu,” kata Raysa.
Suhu badan milik Raysa di atas suhu normal, sangat panas, tubuhnya mengigil dengan hebat. Nayla mengambil air dan mencoba untuk menurunkan demam milik Raysa dan memberikan obat tidur, agar pria itu segera tidur.
Wajah yang begitu teduh, bulu mata yang lebat, rambut yang begitu halus, hidung yang mancung, Nayla menatap terus menerus.
“Aku... datang... benar-benar untuk menemuimu,” kata Nayla sambil mengusap pipi gadis itu.
Tanpa Nayla sadari pria itu telah bangun.
“Dinginku, kau yang menghangatkannya hingga membuatku seperti sekarang. Aku ingin menemukan beberapa alasan untuk tidak datang menemuimu lagi karena aku takut jika aku datang kau tidak akan menerimaku, atau kau telah bersama dengan orang lain, tapi aku sungguh tidak bisa menahan diriku sendiri jika aku ingin bertemu denganmu,” kata Nayla dengan lirih sambil mengecup rambut pria itu.
“Sekalipun kau tidak percaya, aku mencintaimu dan menyakiti hatiku tapi aku masih ingin tetap berada di sini,” kata Nayla sambil menatap wajah Raysa.
“Jika seperti itu, tetaplah di sampingku,” kata Raysa sambil membuka matanya.
__ADS_1
Nayla terkejut, karena pria yang di anggapnya tengah tertidur itu ternyata telah bangun dan mendengar apa yang baru saja di katakan olehnya.
“Bukannya kau...”
“Tetaplah di sampingku, ku mohon...” kata Raysa sambil menundukkan kepalanya.
Rambut Raysa yang begitu halus, tengah tersadar di dada milik gadis itu. Terasa keputusasaan, harapan, kesedihan dari perilakunya.
“Berkali-kali, aku berpikir apakah aku mencurigaimu, ataukah aku tidak percaya padamu semua itu tidak benar. Nyatanya, aku hanya cemburu,” kata Raysa dengan nada pelan penuh kesedihan. “Aku cemburu pada pria itu, dia datang lebih awal dariku, dia lebih tahu tentangmu, dia berada di sisimu saat kau sakit. Aku tidak bisa mengontrol perasaanku saat itu juga,”
Raysa menatap wajah gadis itu.
“Aku hanya cemburu, bukan tidak mempercayaimu,” kata Raysa sambil menatap dengan penuh cinta gadis yang di hadapannya.
Tatapan itu, menyentuh hati milik Nayla yang paling dalam, rasa yang tengah mengebu di hatinya begitu tidak terkontrol. Di kecupnya dengan lembut dahi milik pria itu.
“Karena dia lebih lama mengenalku,” kata Nayla sambil tersenyum. “Kami pernah berbagi rasa di waktu lalu, aku banyak menceritakan tentangku padanya,” kata Nayla.
“Jika kau yang bertemu denganku sebelum dia, maka dia yang akan menggantikan posisimu saat ini. Aku tidak akan bertemu denganmu, jika dia tidak pernah hadir di awal,”
“Kenapa harus iri tentang kisahku dengannya? Dia hanya masa lalu, tidak lebih dari orang yang pernah memiliki hatiku. Hal yang terpenting adalah bagaimana mengukir masa depan dengan warna-warna yang baru, dan kisah yang baru,”
“Jika kau bertanya kembali alasannya, aku ingin mencintaimu dengan caraku sendiri, jika aku mengatakannya padamu, aku yang tersakiti di akhirnya karena pernikahanmu. Akankah ada yang berubah, jika aku mengatakannya saat itu? Pernikahan Aufal, cukup membuatku tersiksa untuk waktu yang lama, menjaga diriku untuk tidak terluka adalah pertahan diri,”
Pria itu masih dengan aktifitasnya menyandarkan kepalanya di dada milik Nayla mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir mungil gadis pujaannya.
“Apakah ada yang akan berubah jika aku mengatakan jika aku menyukaimu, akhirnya pun kau memilih untuk tetap menikah dengannya,”
“Bahkan, saat kau membaca tentang ungkapan perasaanku di dalam bukuku, kau tetap ingin melanjutkan pernikahan. Dan, apakah ada yang berbeda jika sejak awal aku mengakuinya?”
Tak ada kata yang keluar dari mulut pria itu. Dia tengelam dengan ratusan kata penjelasan Nayla. Dia membenarkan, dan juga memikirkan masa-masa yang lalu.
__ADS_1