
Ketika awalnya mereka saling mencintai, namun di saat bersamaan saling melukai pula. Ego yang mendarah daging di dalam hati.
Suara bisik-bisik terdengar.
Nayla tengah membantu menyiapkan makan pagi. Beberapa orang tengah melihatnya dari luar jendela, ada pula yang mengintip sebagian lagi tengah menatapnya di dari meja makan.
“Aku tidak salah lihat bukan? Itu benar-benar...”
“Bukankah dia sudah meninggal dua tahun lalu?”
“Mungkin dia itu hantu,”
“Hantu mana ada menampakan diri seperti ini,”
“Siapa dia?”
“Ceritakan padanya, siapa gadis itu,”
“Dia itu adik dari Sersan Kurnia, dia pernah menjadi relawan di sini,” kata seseorang menjelaskan.
“Bukankah dia penulis?”
“Iya, dia penulis terkenal,”
“Apa kalian hanya diam saja di sana? Apa kalian tidak sarapan?” tanya Nayla melihat orang-orang yang tengah membicarakannya itu.
“Ap... apa kau be... be... benar Kakak Ipar kami?” tanya seseorang dari tim Raysa.
Nayla terkekeh mendengar pertanyaan itu.
“Apa aku terlihat seperti hantu?”
“Ba... ba... Tidak, maksudku bukannya...”
“Aku selamat,”
“Mengapa baru datang sekarang? Kapten sejak...”
“Aku akan menceritakannya pada kalian. Tapi, kenapa begitu ramai ya,”
“Oh itu. Kami tengah mengadakan pertandingan. Apa kau akan menulis novel lagi,”
“Mungkin,” Nayla duduk sambil menyantap makanannya.
Aufal, Raysa dan Kurnia datang dengan bersamaan. Raysa mempercepat langkah kakinya, mengambil sarapan dan bergegas duduk di dekat Nayla sama halnya dengan Aufal.
Aufal yang akan duduk di samping kanan Nayla, di tarik oleh Raysa agar menjauh dari gadis pujaannya itu.
Anggota Timnya, hanya melihat kelakuan dua orang itu.
Nayla hanya diam, berusaha baik-baik saja seakan tidak memperhatikan kedua orang itu. Nayla menatap kakaknya yang tengah di hadapannya itu, tertawa kecil.
__ADS_1
“Makan ini,” kata Aufal sambil memberikan sayur wortel ke dalam tempat makanan milik Nayla. “Bagus untuk pemulihan kesehatanmu,” kata Aufal lagi.
“Makan ini juga, dan ini,” kata Raysa sambil memberikan sayur juga kepada Nayla.
Kedua orang itu, tengah bersaing, saling memberikan makanan mereka untuk gadis yang berada di antara mereka.
“Apa kalian begitu kekanak-kanakan seperti ini,” tiba-tiba Nayla meletakkan sendok miliknya dan menjewer telinga kedua orang yang berada di sampingnya itu.
“Aa... Aw... Sakit,” kata kedua pria itu.
“Apa kalian tidak malu, di lihat orang-orang,” kata Nayla mengingatkan jika mereka tengah berada di ruang makan.
Raysa, dan Aufal melihat sekeliling mereka. Semua mata tertuju pada mereka.
Raysa beranjak dari tempat duduknya kemudian tiba-tiba menarik Aufal.
“Kau ikut aku,” kata Raysa sambil menarik tangan pria itu.
“Kau mau bawah aku kemana?” tanya Aufal.
“Menenggelamkanmu di dalam laut,” kata Raysa dengan ketus.
“Apa kalian bisa tidak berdebat?” tanya Nayla.
“Tidak bisa,” kata Raysa dan Aufal secara bersamaan dengan nada tinggi.
Nayla terdiam seketika.
“Nay... aku tidak bermaksud seperti membentakmu,” kata Raysa dengan terbata-bata.
“Ini salahmu...” kata Raysa pada Aufal.
Kedua orang itu masih saja berdebat tentang hal yang tidak penting.
Tiba-tiba Nayla merasa sakit di bagian dada kirinya.
“Apa aku salah makan? Kenapa tiba-tiba dadaku tiba-tiba begitu sakit,” gumam Nayla membatin.
Nayla berjalan mendekat ke arah kakaknya. Badannya gemetaran, keringat bercucuran di dahinya.
“Kau kenapa?” tanya Kurnia dengan spontan ketika melihat adiknya itu.
“Dadaku...” kata Nayla sambil memegang dada kirinya, membuat Kurnia beranjak dari tempat duduknya.
“Kenapa dengan dadamu? Apa kah sakit?” tanya Kurnia sambil mendekat ke arah adiknya itu.
“Sakit sekali...” kata Nayla merintih.
Kurnia mengambil inisiatif menggendong adiknya yang tengah kesakitan itu.
“Kalian cukup bertengkarnya, apa kalian tidak menyadari jika adikku tengah kesakitan,” Kurnia berteriak pada dua orang itu untuk mengentikan pertengkaran, kemudian melangkah meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Begitu banyak orang yang menyaksikan saat itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Raysa sambil mengikuti Kurnia dari belakang.
“Apa dadanya tiba-tiba sakit?” tanya Aufal. “Bawa dia ke ruangan medis. Aku akan memeriksanya,” kata Aufal sambil berlari ke ruang medis.
“Kak... turunkan aku, aku sudah tidak merasakan sakit,” kata Nayla pada kakaknya itu.
“Eee... bukankahnya tadi...”
“Sakitnya datang sesekali, setelah itu sakitnya hilang sendiri,” kata Nayla.
“Dan kau tidak memberitahuku?” tanya Raysa berusaha mengambil Nayla dari Kurnia. “Biar aku yang membawanya,” kata Raysa.
“Soal itu... Aku terlalu banyak minum obat, aku tidak...”
“Tapi kau harus tetap di cek oleh Aufal,” kata Raysa menimpali perkataan gadis itu.
“Jangan menyuruhku untuk kembali ke ibukota, aku masih ingin di sini lebih lama. Aku akan menjaga kesehatanku,” pinta Nayla dengan nada manja.
“Jika kau jadi anak baik, dan minum obat aku tidak akan menyuruhmu kembali dengan Aufal,” kata Kurnia.
Nayla hanya terdiam, tidak berani membela diri lagi. Efek kelelahan adalah rasa sakit yang di rasakannya. Walaupun operasi, dan kondisinya sudah baik namun dia tidak bisa di katakan telah sembuh. Melakukan pekerjaan yang membuatnya lelah, akan sangat berakibat fatas untuk kesehatan jantungnya.
Tawaran yang diberikan padanya beberapa waktu lalu, sepertinya dia tidak menerimanya. Menjadi agen rahasia. Tawaran yang diberikan oleh pria paruh baya itu.
“Bukankah aku katakan, jangan lelah,” kata Aufal dengan nada kesal.
Nayla hanya bisa memasang wajah memelas.
“Mengapa kau membentak adikku?” tanya Kurnia sambil melihat ke arah Aufal.
“Aku akan menyuntikkanmu obat tidur, sebaiknya kau banyak istirahat disini, kau masih status pasien,” kata Aufal.
Aufal menyutikkan obat tidur, agar gadis itu bisa istirahat.
“Kalian harus ingatkan dia untuk minum obat,” kata Aufal. “Susah sekali untuk membuatnya meminum obat saat di Amerika,” kata Aufal sambil menghela nafasnya.
“Dia terlihat sehat bagi kalian, tapi sebenarnya dia berstatus pasien seumur hidupnya,” kata Aufal.
“Apa begitu parah?”
“Dia tidak dalam kondisi parah ataupun baik,” kata Aufal. “Dia selamat saat penembakan itu, suatu keajaiban. Bahkan, operasinya berhasil juga itu suatu keajaiban,”
“Aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak, tapi walaupun kondisinya seperti seakan, suatu saat dia akan tiba-tiba merasakan sakit dengan sangat. Dan itu, bisa mengakibatkan kematian. Jadi bisa dikatakan, dia berada di antara hidup dan mati,” kata Aufal sambil menyandarkan diri.
“Dia sangat suka disini, tapi peralatan medis disini tidaklah baik jika suatu saat kondisinya memburuk,”
“Apa ada cara lain?”
“Donor jantung,” kata Aufal. “Tapi, tidak mudah mendapatkan donor yang cocok. Kalaupun dapat, belum tentu tubuhnya menerima donor itu. Aku sudah berusaha selama dua tahun ini, untuk mencari pendonor yang cocok, tapi tidak ada sama sekali yang cocok. Saat ini yang harus kita lakukan, jangan membuatnya lelah, dan dia harus rutin meminum obatnya,” kata Aufal lagi.
__ADS_1
Raysa dan Kurnia hanya terdiam, Nayla bahkan tidak mengatakannya pada mereka berdua, jika bukan Aufal yang mengatakannya mereka bahkan tidak akan tahu.
Wajah teduhnya, berbaring di ranjang itu sambil menerima cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya. Tiga pasang mata melihat ke arahnya, dengan tatapan kesedihan.