
Tubuh Nayla terjatuh ke dalam Air, hingga membuat air di sekitarnya berubah warna. Raysa pun ikut menceburkan diri. Dia bisa melihat dengan jelas jika tubuh gadis itu tengah menuju dasar sungai yang tidak terlalu dalam itu.
Sedangkan Adrian dan anak buahnya itu telah melarikan diri entah kemana, dengan luka tembakan.
Raysa mengeluarkan tubuh gadis itu keluar dari dalam air. Begitu sulit untuk di jelaskan bagaimana keadaan perasaannya.
“Kami menemukan Kapten,” teriak seseorang ketika melihat Raysa.
“Panggil dokter ke sini,” teriak Raysa.
Aufal dan beberapa temannya datang, begitu terkejutnya dia melihat Nayla yang tidak sadarkan diri dengan luka tembakan di dada bagian kiri. Bagi dia yang tahu, jika terluka di dada bagian kiri, adalah sesuatu yang fatal apalagi dada kiri adalah tempat berdenyutnya jantung.
“Apa yang kau lakukan di situ? Kau tidak ingin menolongnya?” teriak Raysa membuat Aufal sadar.
“Kita lakukan di sini saja Operasinya, kita harus mengeluarkan peluru secepatnya, panaskan air, dan larutkan garam, sterilkan peralatan operasi, aku akan mencoba mengentikan pendarahannya,”
Raysa bersandar di sebuah batu besar, sambil menatap Nayla.
“Kapten...”
“Cari sampai ketemu. Mereka tidak mungkin jauh dari sini,” kata Raysa memberikan penekanan pada perkataannya. “Dia harus membayar apa yang dia lakukan,” mata Raysa memerah, ada rasa marah di tersorot di dalam situ.
Aufal bersama timnya tengah berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di dada kiri gadis itu.
Tanpa di suruhpun, dia akan melakukan hal itu untuk menyelamatkan gadis yang masih bertahta di hatinya.
“Jangan menyerah, akupun tidak akan menyerah menyelamatkanmu, ku mohon,” Aufal membatin.
“Dia kekurangan darah,” kata Aufal. “Kita butuh darah,” kata Aufal berteriak. “Golongan darahnya AB resus negatif,” kata Aufal.
Golongan darah resus negatif adalah golongan darah yang langkah.
“Aku. Darahku sama dengannya. Ambil sesuai yang kau butuhkan,” kata Kurniawan dengan nafas yang tersengal-sengal.
Gadis yang begitu pucat, tengah berbaring di bebatuan besar yang cukup lebar dan memungkinkan untuk melakukan operasi.
Kurniawan yang mendengar Nayla membutuhkan darah segera berlari, padahal jaraknya dari tempat Nayla 200meter.
“Masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu, jika kau benar adalah Naomi, aku sangat bahagia menemukanmu. Jadi ku mohon, bertahanlah,”
Raysa mengamati dengan penuh harap. Mungkin telah ratusan doa yang di kirimkan pada Tuhan agar Tuhan mengabulkan doanya.
Sejam telah berlalu, namun belum juga selesai.
“Mengapa begitu lama?”
“Peluru menembus jantung bilik kanan dan kiri, ini sangat sulit. Bahkan aku kesulitan melakukannya dengan peralatan seadanya,” kata Aufal.
__ADS_1
Suasana tampak begitu mencengkam. Beberapa penjaga tengah berjaga di sekitar Operasi yang di lakukan Aufal, sedangkan yang lain tengah menyusuri hutan mencari Adrian yang belum di ketemukan sejak tadi.
“Selesai. Kita bergantung pada keajaiban yang Tuhan berikan. aku melalukan sebisaku. Kini tergantung pada Nayla,” kata Aufal. “Kita harus memindahkannya segera ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap,” kata Aufal lagi sambil menjahit kembali luka sayatan operasi yang di buatnya. “Giliran kalian, aku akan menemaninya sampai dia di pindahkan ke rumah sakit,” kata Aufal mengambil inisiatif.
“Kita pergi dari sini. Hubungi markas utama, kita akan menggunakan hellikopter militer,”
Beberapa orang tengah mengangkat Nayla mengunakan Tandu dengan hati-hati, namun secara bersamaan mereka mempercepat langkah.
Aufal mencegah Raysa, tersirat begitu banyak dendam untuk pria itu.
“Mengapa kau membuatnya terluka?” tanya Aufal dengan berteriak kepada pria yang ada di depannya itu.
Raysa hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan, dia sadar telah membuat gadis itu terluka abhkan tengah berhadapan dengan sebuah pilihan, antara bertahan atau mati.
“Dokter, di tubuh gadis itu terdapat ruam. Sepertinya dia Alergi dengan anetesi,” seorang wanita berlari memberitahu pada Aufal.
“Apa?”
Aufal, Raysa dan Kurniawan segera berlari ke arah Nayla.
“Siapkan diphenhidramin atau dexametason. Segera,” kata Aufal sambil memeriksa tubuh dan pupil mata Nayla. “Berapa lama kita akan sampai?” tanya Aufal sambil memberikan suntikan obat anti alergi pada Nayla.
“Tiga puluh menit lagi,”
“Terlalu lama. Apa kalian bisa lebih cepat lag?”
“Apa yang terjadi?” tanya Raysa dan Kurniawan secara bersamaan.
“Dia alergi obat bius yang ku gunakan saat operasi, makanya harus segera sampai di Kam. Aku harus memakaikannya monitor, memberikankan tetesan infus cepat sampai injeksi epinefrin,” kata Aufal menjelaskan.
“Keadaannya sangat kritis saat ini,” kata Aufal. “Aku akan segera ke Kam, dan menyiapkan peralatan yang akan di gunakan. Tolong,” Aufal berlari agar segera sampai di Kam.
“Tunda lebih dulu, pengirimannya ke rumah sakit besar. Aku harus menstabilkan kondisinya lebih dulu,” kata Aufal sebelum pergi.
Raysa tetap berada di samping Nayla, pandangannya tidak pernah teralihkan pada gadis itu. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, seakan dia tak sanggup melihat keadaan gadis yang wajahnya begitu pucat.
Raysa teringat tentang apa yang di katakan oleh gadis itu, rasanya mengingat apa yang dikatakan oleh gadis itu membuat hatinya begitu sakit.
Kam sudah terlihat, sekitar 100meter lagi di depan mereka. Begitu banyak orang yang berkumpul dan melihat.
“Percepat lagi langkah kalian,”
Mereka membawa gadis itu dengan langkah setengah berlari. Hingga sampai di ruangan.
Aufal mulai memasangkan alat bantu pernapasan, cairan impus tetesan cepat, dan beberapa alat lainnya. Beberapa sample darah di ambil, untung saja kondisi Nayla tidak lagi dalam keadaan kritis.
Aufal begitu sibuk dengan melakukan beberapa tes dengan sampel darah milik Nayla.
__ADS_1
Ketika hasilnya keluar, dia hanya bisa duduk lemas dan tak bisa berkata-kata. Dia berjalan menuju tempat Nayla di rawat, langkah kakinya begitu pelan, seperti tak ada tenaga.
“Bagaimana?” tanya Rasya. “Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya Raysa lagi, ketika melihat raut wajah Aufal. “Cepat katakan, bagaimana hasilnya,” teriak Raysa memaksa agar Aufal menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tentang kondisi Nayla.
“Alerginya sudah hilang, tapi kondisi tubuhnya sangat lemah, dan....” Aufal berhenti berbicara sambil menatap tajam ke arah Nayla.
“Dan apa? Mengapa kau tidak meneruskan perkataanmu?” tanya Rasya mulai gusar.
“Dia positif mengidap Leukimia,” kata Aufal terbata-bata.
“Apa kau yakin? Kau tidak lagi bercanda bukan?” Raysa seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Aku tidak berbohong. Aku juga menyuruh dia untuk mengirimkan sampel ke rumah sakit besar di sini, dan hasilnya juga sama,”
Raysa terduduk ketika mendengar hal itu. Sedangkan Kurniawan tidak bisa berkata-kata mendengar hal itu.
“Apa ada cara untuk dia sembuh?”
“Operasi Transplantasi Sumsum Tulang Belakang,”
“Aku tak mengira dia bertanya tentang penyakitnya sendiri. Seharusnya aku sadar sejak dia bertanya,” kata Aufal dengan nada sedih.
“Lebih baik kita pindahkan ke rumah sakit di Ibukota, di sana akan di periksa secara detail. Aku akan menghubungi markas, untuk membawanya mengunakan helikopter,” kata Kurniawan.
“Anda di suruh menghadap dengan Jendral, sepertinya anda tidak bisa ikut,”
Raysa hanya bisa memandangi gadis itu, sedangkan Kurniawan serta Aufal tengah bersiap-siap untuk segera membawa Nayla.
———————— To be continued ————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang terbagi
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.
__ADS_1