A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 40 Jauh di dalam Tanah


__ADS_3

Nayla hanya terdiam, ketika dia melihat sebuah pintu terbuka di depannya itu. Bagaimana tidak ruangan itu memiliki pintu rahasia.


“Benar-benar ada pintu,” kata Moesa.


Kylin—hewan peliharaan Nayla masuk lebih dulu seperti dia mencium bau sesuatu.


Nayla, men-setting lampu miliknya ke mode tidak terlalu terang. Ketika dia baru melangkah di depannya terlihat benar-benar terowongan bawah tanah.


Terowongan itu cukup luas, dan tinggi. Bisa di perkirakan tingginya sekitar tiga meter lebih, dan lebar hampir mencapai lima meter.


Jalan itu, begitu gelap dan menyeramkan. Nayla, memeriksa jalan yang mereka lewati, jejak kaki masih ada di sana. Dia semakin yakin, jika jalan itu di pakai oleh Adrian untuk meloloskan diri dari tim Raysa.


Bau amis dari tanah tercium sangat jelas. Apalagi mereka berada di dalam kedalam dua meter dari permukaan tanah. Nayla mengaktifkan pengukur jalan miliknya. Dia ingin tahu, berapa panjang terowongan yang mereka akan lewati.


Raysa memimpin jalan jalan, kemudian Nayla, di susul oleh Moesa dan paling belakang adalah Kurnia. Nayla mengamati langit-langit terowongan itu.


Kurnia memeriksa jam tangannya, waktu menunjukan pukul 8 malam. Mereka tidak merasa jika telah berjalan selama dua jam lamanya.


“Kapan ujung dari tempat ini sih,” gerutu Nayla karena mereka telah berjalan beberapa kilometer, namun belum juga menemukan pintu keluar.


“Kita istirahat dulu, sekarang jam 8 malam. Sebaiknya kita makan, dan menghilang capek kemudian baru lanjut lagi. Terowongan ini, sangat panjang. Entah berapa jam kita akan sampai,” kata Kunia.


Nayla mengeluarkan laptop di dalam tasnya, sedangkan Raysa melihat makanan yang di dalam tas yang di bawah olehnya.


Kurnia mencari kayu, berharap menemukannya untuk membuat api agar mereka bisa menghangatkan tubuh.


“Hei, bukannya ini emas,” kata Moesa melihat ke arah belakangnya.


Di sana terlihat cahaya keemasan yang tengah menempel di dinding terowongan itu. Nayla pun ikut melihat.


“Apa ini tambang emas yang tidak terpakai lagi?” tanya Nayla sambil melihat ke arah Raysa dan Kurnia.


Ketika Nayla meredupkan lampu miliknya, sangat jelas terlihat kilauan-kilauan berwarna gold. Mereka seakan tengah berada di langit berbintang emas. Padahal sejak tadi mereka lewat, tidak menemukan hal seperti itu.


“Apa kita akan menjadi kaya, karena menemukan tambang emas ini?” tanya Moese bergurau.


“Kita tidak akan kaya raya, hanya dengan emas seperti ini,” kata Raysa.


Bunyi suara barang di hamburkan. Kylin membongkar barang di dalam tas yang di bawa oleh Raysa, seakan dia tengah mencari sesuatu. Sebuah kaleng kecil terlihat, dia menarik kaleng itu agar keluar dari tas itu.

__ADS_1


Kkkrrrr.... Krrrr...


Suara Kylin tengah marah terdengar. Raysa tengah mencari masalah dengan hewan kecil berbulu itu.


Nayla melihat kaleng daging instan di tanah.


“Dia lapar sepertinya,” kata Nayla sambil membuka penutup kaleng itu.


Kurnia tengah duduk berdekatan dengan Moesa. Sesekali dia berbagi makanan dengan gadis itu. Nayla melihat hal itu, hanya tersenyum karena kakaknya tengah memperhatikan seorang gadis.


“Sejak kapan kakak dekat dengan gadis itu?” tanya Nayla pada Raysa sambil mendekat ke arah pria yang tengah beristirahat dan memejamkan matanya.


“Entah, aku bahkan tidak tahu. Dia tidak memberitahuku,” kata Raysa dengan nada cuek.


Buk!


“Apa kau benar sahabatnya?” tanya Nayla dengan nada keras sambil memukul kepala Raysa, membuat pria itu terbangun sambil melihat ke arah Nayla.


Grep!


Raysa menarik Nayla ke dalam pelukannya.


Nayla hanya terdiam, dia juga merasa sangat lelah karena perjalanan panjang.


Kylin, masuk ke dalam pelukan Nayla membuat mereka tertidur bersamaan.


Moesa, tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu milik Kurnia.


Ketika semuanya tengah tertidur, Nayla terbangun dan mengeluarkan beberapa barang di dalam tasnya. Saat itu, waktu menunjukan tengah malam.


“Mengapa bangun?” tanya Raysa sambil menarik Nayla agar masuk ke dalam pelukannya.


Nayla tidak habis pikir, pria yang tengah bersamanya itu tidak segan untuk memeluknya, sedangkan saat itu kakaknya bersamanya. Seakan pria itu tidak mempermasalahkan kehadiran sahabatnya.


Rasa penasaran tentang kejadian dua tahun lalu memang bukan hanya sebatas itu. Apalagi tentang barang yang telah di simpannya, membuatnya hampir kehilangan nyawa dua tahun lalu.


“Aku penasaran tentang barang itu, sebenarnya apa yang terjadi? Dan di mana barang itu, saat kau tidak sadarkan diri di rumah sakit kami mencarinya tetapi tidak menemukan barang itu,” tanya Raysa tiba-tiba.


“Barang itu tidak ke mana-mana sejak awal kok. Masih di tempat yang sama,” kata Nayla. “Pria yang hampir menembakku malam itu, yang memberikannya padaku. Dia bergabung, karena keluarganya menjadi bahan sanderaan. Saat itu, ada dua chip yang di berikannya padaku. Satu chip kosong, yang aku berikan pada Adrian, satunya lagi ada padamu,” kata Nayla.

__ADS_1


“Ada padaku?” tanya Raysa.


“Kalian sudah bangun?” tiba-tiba suara Kurnia terdengar membuat kedua orang itu terkejut.


“Sepertinya perjalanan masih jauh, semakin kita jalan aku bisa merasakan hawa dingin dan oksigen yang kurang,” kata Kurnia sambil membangunkan gadis yang tengah di sampingnya itu.


Mereka telah beristirahat selama 5jam, bagi mereka berempat rasanya cukup untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara ataupun memulai hal itu. Satu jam, dua jam, kemudian berlanjut selama lima jam mereka berjalan. Namun, belum juga menemukan pintu keluar dari tempat itu.


Persediaan minuman mereka sudah mulai habis, apalagi persediaan makanan mereka. Kini tersisa hanya dua tas saja.


Gadis berambut bob bernama Moesa itu terlihat sangat lelah, membuat Kurnia mengendongnya.


Tubuh mereka sudah lelah, beberapa kali harus berhenti istirahat, mereka harus berhemat makanan karena persediaan mereka menipis. Sekitar 100km mereka lewati.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Kurni pada gadis itu.


“Tidak apa, badanku hanya capek saja. Kita sudah berjalan sejauh ini, tapi belum juga menemukan ujung dari terowongan yang kita berempat lewati,” kata Moesa.


“Aku sudah lelah, rasanya ingin menyerah saja. Tapi, kita berada di bawah tanah,” kata Nayla. “Aku seharusnya melarangmu untuk ikut,” kata Nayla lagi pada Moesa.


Kylin, tiba-tiba beranjak kemudian berlari menuju satu arah. Seperti hewan itu merasakan sesuatu.


Langkah kaki Nayla berhenti. Matanya melihat ada empat cabang di depannya sedangkan Kylin menghilang dari pandangannya, entah melewati cabang terowongan yang mana.


Raysa, Kurnia dan Moesa mengikuti dari belakang.


“Bagaimana ini, aku tidak menemukan Kylin,” kata Nayla mengadu pada Raysa.


“Ayo, kita masuk saja ke dalam,” kata Raysa sambil masuk ke dalam cabang lorong itu dengan sembarangan.


Ada keraguan untuk menyusui cabang terowongan itu, entah apa yang tengah menuju di dalam sana. Membuat bulu kuduk merinding seketika. Mereka tengah berada di bawah tanah, bahkan orang-orang tidak mengetahui keberadaan mereka.


Telah 12 jam lebih mereka tidak kembali, membuat anggota Tim Raysa merasa risau tentang keberadaan Raysa dan Kurnia. Bukan hanya berdua, namun berempat.


Di lakukan, penyusuran di hutan. Bahkan mereka pergi ke tempat yang sering Raysa datangi. Namun, mereka tidak juga menemukan keberadaan keberadaan empat orang yang tengah di cari oleh mereka.


Sedangkan di dalam terowongan ke empat orang ini tengah menyusuri lorong. Penuh dengan bebatuan yang tajam.

__ADS_1


__ADS_2