
Helikopter kini berada tepat di atas gedung sebuah rumah sakit besar. Kurniawan lebih dulu keluar dari helikopter tersebut, kemudian di susul oleh Aufal.
Terlihat beberapa orang pertugas medis, dan juga seorang kepala rumah sakit. Tentunya, itu adalah Pemilik Rumah Sakit tersebut—Ibu Kurniawan, dan juga adiknya—Naomi.
Aufal menjelaskan tentang keadaan Nayla. Kurniawan mengantarkan Nayla hanya dengan ujung matanya sampai gadis itu tidak lagi terlihat. Beberapa saat mereka mengobrol, kemudian Kurniawan menyusul Nayla.
“Lakukan yang terbaik Naomi, dia orang yang penting bagiku,” kata Kurniawan.
Gadis yang di panggilnya Naomi adalah adiknya, baru beberapa hari bekerja sebagai dokter di rumah sakit itu.
Segala fasilitas terbaik di berikan, termasuk keamanan. Laura—teman Nayla tidak mengetahui jika Nayla tengah di rawat, kecuali Editornya. Karena telah di beritahu oleh Raysa.
Selama 3hari Kurnia telah menjaga Nayla, Ibu dan adiknya beranggapan jika dia menyukai gadis itu.
“Ketua, aku mendapatkan informasi tentang Tuan Muda melakukan tes DNA,”
“Tes DNA? Mengapa dia melakukan tes DNA?”
“Soal itu... Sebaiknya anda melihatnya langsung,”
Seorang pria berusia 27thn, bernama Mario itu memberikan selembar kertas.
Mata wanita itu membulat, ketika dia melihat hasil DNA yang menunjukkan jika 99.9999% kecocokan sebagai kakak beradik.
Wanita itu berlari mencari Kurnia, matanya memerah. Dia menuju ruangan Nayla. Pastinya dia menemukan Kurnia berada di sana.
“Mengapa kau tidak katakan pada Mama?” tanya wanita itu. Namanya Naila Herlina. “Mengapa kau tidak katakan pada Mama jika gadis itu adikmu yang hilang?” tanyanya lagi sambil memukul-mukul dada anaknya itu.
Naomi yang berada di situ langsung terkejut. Kini dia mengerti mengapa pria yang di panggilnya kakak itu selalu memberikan perhatian penuh pada gadis yang menjadi pasiennya itu.
Tangisan haru kini pecah di dalam ruang inap itu. Tangisan seorang Ibu yang begitu merindukan Anaknya serta tangisan kesedihan karena bertemu di waktu yang tidak baik.
“Dia mengidap Leukemia. Kurnia ragu soal dia adalah Nana, karena itu aku melakukan tes DNA untuk meyakinkannya. Dan aku telah mendaftar untuk tes, untuk operasinya,”
Tubuh Nayla dalam keadaan sangat lemah. Ibu kandungnya kini duduk sambil mengusap wajahnya dengan lembut.
“Maaf sayang, Mama tidak menemukanmu dengan cepat,” Air mata mengalir lagi.
“Naomi, Mama tidak bermaksud...”
“Tidak Ma, apa yang mama lakukan ini benar. Bahkan ketika Mama mau merawat Naomi dan memberikan namanya untukku, aku sangat bahagia. Jadi, kini Mama harus mencurahkan perhatian padanya,” gadis itu mengatakan hal yang bijaksana, tanpa ada rasa iri hati karena kembalinya Tuan Putri Asli.
Suara pintu terbuka.
“Naila, apa yang kau maksud telah menemukan Naomi?” tanya pria paruh baya yang baru saja datang.
“Dia Naomi,” kata Naila—sambil melihat ke arah Nayla.
“Apa kau punya bukti dia anak kita?”
“Kurnia telah melakukan tes DNA, karena itu aku bisa tahu,”
“J... ja... jadi dia benaran putri kita Naomi?” pria paruh baya itu mendekat ke arah Nayla.
Air matanya tanpa sadar menetes membahasi pipinya, dengan lembutnya dia mencium dahi Nayla yang tengah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Tapi, bagaimana dia bisa jadi seperti ini?” tiba-tiba suaranya meninggi.
“Iya, bagaimana dia bisa tertembak Wan?”
“Em. Ceritanya...”
Kurniawan menceritakan segalanya dari awal hingga akhir, membuat mereka semakin menangis mendengarnya.
“Aku akan pergi mendaftar sebagai calon pendonor,” kata pria paruh baya itu.
“Iya. Kondisinya tidak bisa seperti ini, aku akan menelfon temanku,”
Naomi duduk di dekat Nayla.
“Hei. Kau segeralah bangun, banyak orang yang mengkhawatirkanmu. Jika kau tidak bangun segera, aku akan merebut Mama dan Papa,” bisik gadis itu sambil merapikan selimut Nayla.
Aufal masih menjadi dokter yang menangani Nayla. Pastinya dia terkejut mengetahui hal itu, jika Nayla adalah Putri Kandung Pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Beberapa hari kemudian tes telah keluar. Semua dokter terbaik di kerahkan untuk merawat Putri mereka itu.
“Hasil tes dari 7 yang melakukan uji leb, hanya 2 orang yang cocok. Pertama Kurniawan, tapi kondisinya tidak bisa untuk melakukan Operasi,”
“Mengapa tidak bisa?” tanya Kurniawan.
“Kondisi anda tidak baik, karena kekurang darah. Harus menunggu beberapa waktu lagi untuk memulihkan kesehatan kemudian bisa melakukan transplantasi,”
“Yang kedua siapa?”
“Nona Naomi,”
Pip
Pip
Pip
Suara monitor dari ruangan Nayla terdengar. Terlihat angka di monitor itu turun.
Aufal mendapatkan telfon karena hal itu.
“Kondisinya...”
Semua orang langsung berlari ke arah kamar Nayla, dengan sejuta harapan dan doa yang dikirimkan pada Tuhan.
“Kita harus segera melakukan operasi,”
Naomi menyetujui hal tersebut. Kedua putri mereka, ada adik bagi Kurnia kini berada dalam ruangan yang sama. Butuh waktu lama untuk melakukan Operasi karena Nayla alergi terhadap Anetesi, di saat tengah melakukan Operasi, Naomi mengalami gejala yang sama, ternyata dia alergi Anetesi. Keadaan semakin membuat mereka yang berada di depan ruang operasi ketakutan, berharap, berdoa.
Wajah lelah mereka begitu nampak, tapi mereka tak menyerah untuk menunggu selesainya operasi transplantasi tersebut.
Sejak Nayla berada di rumah sakit, Raysa belum pernah datang menjenguk gadis itu. Karena dia tengah mendapatkan hukuman membuat warga sipil tertembak. Pastinya ini ada teguran untuknya.
Rasa cemas, dan ingin tahu keadaan gadis itu membuat perasaannya bercampur aduk. Hingga tepatlah, seminggu setelah masa hukuman dia diberikan beberapa hari libur.
Kurnia menyarankan untuk tidak memberitahu kepada Nayla tentang jati diri gadis itu, dan juga ingin merahasiakan segalanya. Semua orang pun menyetujui hal itu.
__ADS_1
Raysa kini berdiri di depan pintu kamar Nayla. Sebucket bunga untuk gadis itu. Ketika mendengar kabar dari sahabatnya tentang gadis di hadapannya itu, tak ada yang dia lakukan.
“Ku mohon sadarlah. Aku merindukan suaramu, serta wajahmu yang tersenyum itu,” Raysa membatin sambil melihat ke arah gadis itu.
Suara langkah kaki terdengar menuju kamar Nayla.
“Raysa...”
“Tante...” Raysa terkejut melihat siapa yang datang. Panggilan Tante untuk Naila—ibu kandung Nayla.
“Mengapa Tante ada di sini?”
“Memeriksanya. Oh iya, Naomi sudah kembali. Sekarang dia ada di ruangannya. Kau pergilah jalan-jalan dengan dia, kalian kan sudah lama tidak ketemu,”
Sebenarnya Raysa ingin lebih lama di ruangan gadis itu. Tapi, dia pun tidak enak hati ketika wanita yang di panggilnya Tante itu yang menyuruhnya.
“Iya Tante. Aku pergi dulu menemui Naomi,”
Pertemuan pertama Raysa dan Naomi setelah 7tahun tidak bertemu. Naomi masih saja cantik dan anggun di mata pria itu. Namun entah kenapa hatinya tak berdegup seperti ketika dia bersama dengan Nayla.
Seminggu berlalu...
Dua Minggu berlalu...
Dan... Sebulan pun berlalu...
Gadis itu—Nayla tak kunjung bangun. Padahal tanda vitalnya telah membaik. Raysa dan Kurniawan pun telah kembali ke Kam di Perbatasan.
Naomi selalu datang mengajaknya berbicara, walau sebenarnya Naomi yang bercerita tentang segala hal.
Naila tengah tertidur di dekat ranjang Nayla. Jadi Nayla perlahan-lahan bergerak membuat wanita itu terbangun karena merasakan pergerakan itu.
Namun ketika dia memeriksanya, itu adalah gejala biasa pada orang yang koma.
Tanpa terasa dua bulan telah berlalu, dengan begitu ajaib Nayla membuka matanya. Keadaan ruangan yang begitu aneh menurutnya, apalagi dengan semua orang yang tidak di kenalnya kecuali Aufal dan Editornya.
Dua bulan, dimana masa perjanjian kontrak pacarannya dengan Raysa telah berakhir. Dan tinggal Dua pernikahan Naomi dan Raysa akan segera di laksanakan.
———————— To be continued ————————
"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"
Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.
Baca juga :
- Something Lost
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang terbagi
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
__ADS_1
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.