A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 29 Takdir atau Kebetulan — Rasya


__ADS_3

CERITA VERSI RAYSA


Apakah takdir mengirimkan penyembuh untukku, ataukah ingin membuatku benar-benar mengerti tentang apa yang aku rasakan.


— Alan Aditya Raysa —


.


,


Aku duduk sambil menyerup secangkir kopi, sejak tadi aku mengiriminya pesan namun belum juga di balas.


“Hai,”


“Malam,”


“Sudah sampai rumah?”


Beberapa kali aku menchat-nya namun belum juga di balas.


“Apa dia sibuk?”


Satu jam berlalu, dua jam berlalu, tiga jampun berlalu. Sesekali aku mengechek ponselku, berharap mendapatkan balasan chatnya.


“Apa dia benar-benar sibuk? Atau tidak ingin membalas chatku?”


“Ada apa denganku?” kataku membatin sambil merasakan detak jantungku yang tidak beraturan.


Kurnia yang melihatku, seakan bingung dengan apa yang tengah aku lakukan sejak tadi, seakan tidak fokus dengan permainan game.


Sekitar jam 10malam, tiba-tiba ponselku berdering menandakan sebuah chat baru saja masuk, begitu cepat aku meraih ponselku dan melihat pesan yang masuk.


Aku memiringkan kepalaku sejenak, melihat pesan yang masuk itu.


“Ini Alan siapa?”


Bunyi pesan yang membuatku bingung. Apa dia pura-pura lupa, atau memang tidak ingat!


“Apa kau benar-benar tidak ingat?”


“Tidak, aku bahkan tak pernah ingat jika pernah men-save kontak atas nama Alan,”


Aku tersenyum kesal, membaca pesan itu. Padahal, dia mengingatku saat bertemu tadi.


“Kau memukulku tadi sore,”


Aku menjawab pesannya mengingatkan kejadian tadi sore saat aku menyelamatkan tasnya.


“Oh, aku ingat sekarang. Kau cowok angsa itu kan?”


Ck! Dia hanya mengingatku sebagai cowok angsa, mungkin kontakku akan di ganti namanya mencari cowok angsa juga.


“Apa kau sibuk. Aku men-chatmu sejak tadi,”


“Tidak, aku hanya sedang berbicara di telfon saja dengan seseorang,”


“Pacar?”


“Tidak,”


“Oh jadi kau belum punya pacar?”

__ADS_1


Pertanyaan-pertanyaan dari yang sederhana kini berujung dengan pertanyaan agak aneh menurutku.


“Mau makan malam bersama?”


Aku kembali mengirim pesan, saat aku lihat dia telah membaca pesanku. Tapi, tidak membalas. Mungkin, dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.


“Baiklah, karena telah menyelamatkan tasku. Aku yang traktir,”


Pesan balasan lagi darinya, ku pikir aku tidak akan mendapatkan balasan darinya.


“Yes,” aku bersorak gembira membuat Kurnia yang tengah bermain game terkejut hingga membuatnya kalah.


“Kenapa?”


“Tidak,” jawabku berbohong.


Aku tak ingin dia tahu, jika aku tengah berbalas chat dengan seorang gadis. Apalagi dengan statusku, yang akan jadi adik iparnya dalam waktu dekat. Entah kenapa perasaan nyaman tidak bisa hilang, hingga membuatku sejenak melupukan dia yang menjadi tambatan hatiku sejak dulu.


“Aku tidak pernah melihatmu segembira itu saat menerima pesan. Apa itu? Apa kau menang lotre?” tanya Kurniawan.


“Tidak, hanya pesan iseng,” jawabku.


“Aaa... gitu ya. Pesan iseng karena mengajak seorang gadis makan malam,” kata Kurniawan membuat raut wajahku berubah. "Sepertinya gadis itu membuatmu tidak takut lagi ber....”


Belum selesai dia melanjutkan perkataannya, aku telah menyumbal mulutnya dengan kue.


Aku ingin chattingan lebih lama dengannya, tapi ketika aku mengirim pesan, tak ada balasan. Bahkan, bukan tak ada balasan, namun belum di baca. Ketika aku mencoba menelfonnya, nomornya tidak aktif. Hm.


Aku mencoba men stalk akun sosial media milik gadis itu, namun aku hanya menemukan akun sosmed yang tidak aktif lagi. Sepertinya dia tidak membuat akun lagi, atau karena sesuatu hal.


Kebanyakan anak kuliahan saat ini mengunakan sosmed dan mengupload kesehariannya, tapi berbeda dengan dia. Bahkan status terakhirnya, begitu menyakitkan.


Mungkin kau terlalu sulit untuk ku raih. Atau aku yang terlalu berharap, sampai aku tak sadar diri jika aku, dan kamu itu sangat berbeda.


.


.


“Yak, bantu aku memilih pakaian yang bagus,” kataku pada Kurnia sambil memilih pakaian yang akan aku gunakan untuk makan malam dengannya.


“Kau menyukainya atau hanya penasaran?” tanya Kurnia.


“Aku hanya ingin kenalan dengannya, bukan mengkhianati adikmu,” kataku sambil menepuk pundak sahabatku.


Sudah beberapa pakaian yang aku coba, tapi belum satupun yang cocok menurutku untuk di pakai.


Hingga sebuah telfon masuk dengan nada dering darurat, nada dering itu khusus untuk panggilan dari Jendral.


Dengan sedikit kaku, aku mengangkap telfon itu. Dan... berakhir dengan sebuah misi yang membuatku melihat ke arah Kurnia.


Ketika tugas negara adalah prioritas bagi seorang prajurit pelindung. Apapun, yang bersifat pribadi akan menjadi urusan kedua.


Aku memakai pakaian serba hitam, karena ini adalah sebuah misi rahasia dan harus menggunakan pakaian tersebut.


Mengambil kunci motor, dan bergegas pergi menemui gadis itu. Setidaknya, aku ingin mengatakan salam perpisahan untuknya.


Dari jarak yang cukup dekat, aku bisa melihatnya. Pakaiannya biasa-biasa saja, sepertinya makan malam ini hanya sebatas makan malam untuknya. Aku mencoba menghubunginya dan menyuruhnya untuk keluar dari tempat itu karena ada hal penting yang ingin aku katakan.


Raut wajah tanpa eksperesi, seakan dia tidak memiliki emosi sama sekali. Bahkan, ketika aku mengatakan jika membatalkan makan malam, karena memiliki urusan mendadak, dia tidak memberikan komentar ataupun rasa tidak suka. Gadis aneh yang unik, itu kesanku untuknya.


Seminggu menjalankan misi, aku masih penasaran dengan gadis itu. Tapi, waktu membawaku harus kembali menjaga perbatasan.

__ADS_1


Aku menerima dokumen relawan dari salah satu kampus ternama di ibukota. Ketika melihat profil para relawan, entah kenapa hatiku sedikit bahagia melihat sebuah foto gadis yang tidak asing bagiku.


Aku akan bertemu dengannya, aku membatin seperti itu.


Kurniawan hanya melihatku, dan bertanya tentang perasaanku terhadap gadis itu, lagi-lagi dia ingin mengingatkan ku bahwa aku tidak boleh berbuat macam-macam.


.


.


Aku menunggu para relawan yang tiba di Kam Perbatasan, termasuk dirinya.


Raut wajah tanpa ekspresi, rambutnya di terpa angin hingga berantakan. Dia berjalan lebih dulu, sedangkan timnya berada di belakangnya. Aku hanya melihat keadaan sekitar, ketika bertanya tentang tempat mereka tidur dia pun langsung bergegas menuju tempatnya.


Seorang pria tengah berbicara dengannya, raut wajah tanpa ekspresi itu agak sedikit berubah. Mungkin pacarnya, tapi dia mengatakan jika dia tidak punya pacar, mungkin orang yang di sukainya? Hm.


Melihat lautan, adalah cara menenangkan diri yang benar. Seakan hati berkesinambungan dengan hamparannya yang begitu luas.


“Jadi hal mendesak yang kau maksud adalah menjaga perbatasan, Kapten Raysa,” katanya sambil bergabung denganku duduk di atas pasir sambil memandang lautan bebas.


“Em. Seharusnya aku memberitahu soal...”


“Tidak perlu, aku sudah mengetahuinya saat kau menolong mendapatkan tasku. Bahkan pakaianmu saat itu beraroma Mesiu. Aku beranggapan jika aroma Mesiu karena kau adalah seorang Polisi. Tapi, polisi tidak memiliki aroma Mesiu yang kuat. Tidak seperti tentara yang tiap saat berlatih dengan bom serta latihan menembak,” katanya memtong perkataanku.


Dia seakan tahu tentang pekerjaanku.


“Siapa pria yang berbicara dengamu tadi?” aku tiba-tiba bertanya tentang pria yang berbicara dengannya.


“Oh. Dia Aufal, petugas medis,”


“Kau mengenalnya?”


“Em. Sangat mengenalnya. Dia mantan pacarku,” jawabnya membuatku terkejut.


“Mantan pacarr?” tanyaku penasaran, seakan ingin memperjelas apa yang baru saja dia katakan.


“Iya Mantan Pacar. Dia telah menikah 3th lalu. Aku tidak tahu jika dia ada di sini menjadi rewalan medis. Kami bertemu sebulan yang lalu di acara reuni sekolah. Ah! Maaf, aku jadi curhat padamu,” katanya menjelaskan tentang sosok pria yang tadi berbicara padanya.


Apakah ini arti dari raut wajahnya yang ku lihat tadi, bukan karaena dia menyukai pria itu namun karena pria itu dari masa lalunya, dan pria yang meninggalkannya.


Ketika dia bercerita panjang lebar tentang ini dan itu, rasanya seperti telah mengenalnya lebih lama dari pertemuanku pertama dengannya.


Dan hal yang mengejutkan ketika dia memintaku untuk jadi pacarnya. Aku berpikir jika dia begitu aneh, tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Namun, aku menyukainya, karena aku pun membutuhkan bantuannya.


Tanpa rasa ragu, aku menceritakan tentang penyakitku padanya. Seakan tidak takut, jika dia akan membocorkan rahasiaku pada orang lain. Namun akhirnya aku memilih untuk percaya padanya dan mengikat kontrak perjanjian untuk menjadi pacarnya dan membantuku untuk sembuh dari penyakit ini.


————————To be Continued ————————


"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"


Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.


Baca juga :


- Something Lost


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang Terbagi

__ADS_1


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.


__ADS_2