
Hari ini, aku menyadari jika rasaku semakin hari semakin berkembang dan akupun telah membuat sebuah keputusan.
— Alan Aditya Raysa —
.
.
Ada sebuah perasaan yang sulit di jelaskan, ketika mendengarnya bercerita tentang itu.
“Saat itu, aku hanya tergantung pada takdir keberuntungan. Tidak memiliki siapapun, dan tidak ingin melibatkan siapapun. Karena tidak memiliki siapapun di sisiku,”
“Jangan melihatku seperti itu, aku hanya tidak ingin orang yang baru saja mengenalku mengasihaniku,”
Tatapan mata itu, membuatku mengulangi kata yang sama, kalimat yang sama.
“Aku ingin bertemu keluagaku,”
“Biar aku yang antar. Mengapa lebih banyak melamun? Kau memikirkan apa?”
“Menyembuhkan penyakitmu. Agar kau tidak terlibat terlalu jauh karena masalahku,”
“Setelah makan, ganti pakaianmu. Aku akan mengantarmu,”
“Apa kamu pernah mengatakan pada pria itu?”
“Em. Tidak, jika aku menceritakannya padanya sama saja memberikannya kesempatan untuk masuk kembali. Setelah tiga tahun lamanya aku baru menceritakannya lagi pada orang lain selain sahabatku. Kau orang yang beruntung, aku menceritakannya,” dia menatapku sambil tersenyum.
“Mari saling memanfaatkan. Aku tidak masalah, selagi kita berdua nyaman dengan sandiwara ini,”
“Aku akan ganti baju, setelah itu kita berangkat. Terima kasih buburnya, ini adalah pertama kali setelah sekian lama aku sarapan di tanggal ini,”
Aku masih bingung dengan dirinya. Ada sisi hangat, ada sisi sedingin es yang sulit untuk dihangatkan.
Sepanjang perjalanan dia hanya diam tidak berbicara apapun. Memilih tidur dan mendengarkan lagu.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, sebuah nama yang tidak asing lagi untukku—dr. Aufal.
“Kau tidak apa-apa? Aku khawatir. Jika ada sesuatu cerita saja padaku. Jangan di pendam, nanti kau akan sakit. Jangan makan yang pedas, jangan makan ramen, jangan lupa pakai topi dan kacamata biar orang-orang tidak mengenalimu. Aku bangga melihatmu,”
Hm. Pria ini menyebalkan, walaupun dia tidak ada di sini tetap saja membuatku tidak tenang.
Ketika melihat ketegaran serta kerapuhan seorang perempuan di saat yang bersamaan, lagi-lagi hati begitu saat. Bahkan ketika melihatnya di perlakukan tidak baik, membuatku maju selangkah di depannya. Melindunginya, di hadapan banyak orang yang tidak pernah ku lakukan sebelumnya.
Tatapan mata pria yang di panggilnya kakak itu begitu tajam melihat ke arahku.
“Beraninya kau menyentuh adik kesayanganku,”
Deg!
Pria ini, mengungkit tentang aku yang mengendong Nayla saat dia mabuk pada malam itu. Hm, sepertinya pria ini sangat baik padanya. Bahkan memberikan penekanan pada kata adik, seakan itu adalah peringatan dan mengatakan jika dia sangat gadis yang di panggilnya adik itu.
Pria itu begitu menceritakan banyak hal yang aku tidak ketahui tentang gadis yang di panggilnya adik. Seakan aku bukan orang lain, dan benar-benar mempercayaiku. Bahkan ketika mendengar sesuatu yang tidak masuk akal, hingga membuat seseorang ingin bunuh aku baru menyadari jika cinta adalah suatu bom yang bisa meledak kapan saja.
“... Ini tolong berikan untuknya. Sebenarnya, hari ini adalah hari ulang tahunnya, hari kelahiran yang Ayahku berikan untuknya. Setiap satu hari sebelum hari kelahiran dan tepat hari kelahiran yang Ayahku berikan, dia akan tidur terus seperti itu, lebih banyak diam dan tak banyak bicara. Dia suka makan makanan pedas,”
“Dan... dia selalu tidak pernah makan di hari ini, biarkan saja,”
Aku menatap Nayla dengan segitu banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya.
“Mau pergi kencan denganku besok?” tiba-tiba dia bertanya membuat wajahku merah merona. Bagaimana bisa, seorang wanita mengatakan hal seperti itu lebih dulu
“Ka... kau...”
“Em, aku lagi menulis adegan romantis, jadi aku membutuhkan aktifitas yang nyata untuk membuatnya, dan anggap saja besok aku akan membantumu menyembuhkan penyakit,” katanya sambil tersenyum.
Melupakan seseorang yang sejak dulu kita janjikan sebuah kehidupan bersama, tergoyah karena dirimu. Haruskah aku mengikuti permainan takdir?
Entah itu tanpa sadar di lakukan olehnya atau di sengaja, membuatnya begitu terkesan di hati ini. Aku masih belum memastikan bagaimana sebenarnya perasaanku padanya. Bagiku, semuanya terasa aneh.
“Eeeemm... Enak,”
Tiba-tiba saja dia menyambar makanan di sendok yang tengah ku pegang.
“Begitu dekat,” aku membatin, wajahnya begitu dekat denganku.
Aku bisa merasakan, jika wajahku telah memerah, jantungku berdegup dengan sangat kencang dan tak beraturan.
“Kau sakit?” tanyanya tiba-tiba. “Wajahmu begitu merah,” katanya lagi sambil melihat ke arahku.
“Sangat dekat,” kataku membatin lagi. Melihat wajahnya begitu dekat.
__ADS_1
“Aaa... Ini, karena panas. Sepertinya aku mau mandi dulu,” pertanyaannya membuatku malu, dan salah tingkah. Dan memilih untuk pergi mandi.
“Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku begitu nyaman dengannya, bahkan rasa ini tidak pernah aku rasakan pada Naomi,” kataku dengan pelan sambil memegang dada sebelah kiri merasakan detak jantung yang tidak beraturan sedari tadi.
“Tenang Raysa, jalani saja yang saat ini,” gumamku.
Mataku terpaku, pada satu pemandangan yang tidak mengenakkan hatiku. Sejak tadi membuatku buru-buru, ternyata hanya untuk berdiri di trotoar jalan bersama dengan beberapa orang yang tengah menunggu angkutan umum.
“Kau yakin?” tanyaku merasa risih dengan sekeliling. “Mengapa tidak memb...”
“Diam, jangan protes,” kata Nayla membuatku terdiam. “Jika kita naik mobil, kau tidak dapat berinteraksi dengan orang luar, jadi lebih baik kita naik angkot atau bus saja,”
“Tapi...”
“Percaya padaku. Oh, angkotnya sudah datang,” lagi-lagi aku tidak bisa berkata-kata di buatnya.
Aku hanya bisa mengerutkan dahiku melihat sebuah angkutan umum berhenti.
Terlihat jelas, banyak orang yang berdesak-desakan masuk ke dalam.
“Ayo naik,” perintahnya untuk naik, apalagi melihatku yang hanya berdiam diri di depan pintu mobil. “Ayo naik, jangan diam saja di sana,” lagi-lagi dia menyuruhku naik, namun kali ini berbeda dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam.
Begitu menyebalkan ketika mendapatkan beberapa ibu-ibu tengah bergosip dan mencari tahu tentang kami berdua, rasanya ingin turun. Tapi, tangannya masih menggengam tanganku, begitu halus, lembut dan begitu kecil jemari tangannya.
Bahkan, sampai di tempat pemberhentianpun aku tidak menyadari karena begitu nyaman dengan genggaman tangan kecilnya itu.
“Mengapa gadis ini serasa baik-baik saja, seperti tidak merasakan apapun ketika memegang tanganku, sedangkan aku sejak tadi ingin menyembunyikan wajahku,” kataku membatin, sambil mengikuti ke mana dia akan di bawah olehnya.
“Kita pergi ke taman hiburan, pasar, semua serba keramaian. Bagaimana dengan yang kau rasakan? Apa alegimu kambuh?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Raysa singkat.
“Tapi wajahmu merah seperti itu? Apa benar alergimu tidak kambuh?” lagi-lagi pertanyaannya begitu menyebalkan, seakan dia tidak pernah berpacaran.
“Atau kau demam?” tanyanya lagi sambil mengecek kondisiku dengan manaruh tangannya di dahiku.
“Tidak-tidak. Ini karena gerah,” kataku berbohong.
“Ya sudah, kita istirahat dulu. Hari ini, jangan cemaskan apapun. Nikmati saja moment ini. Percaya padaku,”
“Benar apa yang dia katakan, menikmati hari ini,”
Sesekali aku mencuri pandang padanya, melihat wajahnya dari dekat. Begitu manis, apalagi ketika dia tengah menikmati es cream dengan balutan gamis santai itu.
Syrut... Syrut... Syrut...
Tiba-tiba, dia menyerup minuman yang tengah berada di tanganku.
Deg!
“Wajahnya begitu dekat,” kataku membatin.
“Mengapa kau meminum minumanku?” tanyaku berusaha untuk menghindar dan menarik gelas minumanku.
“Uhuk... Uhuk... mengapa kau menarik minumannya. Aku akan tengah minum,” kata Nayla karena minuman itu tidak sengaja masuk ke dalam hidungnya dan tumpah di bajunya.
“Siapa suruh main nyosor minuman orang,” kataku kesal.
Pakaian yang di pakainya, basah karena minuman miliku. Aku baru menyadari jika dia adalah gadis yang begitu semberono.
“Pakai ini, bajumu basah. Jangan sampai orang lain melihat pakaian dalammu, cukup aku saja,”
“Yak. Dasar mesum,” pekik Nayla sambil memukulku, kemudian pergi ke toilet membersihkan pakaiannya.
Kesempatan yang bagus, karena dia pergi ke toilet membuatku bisa pergi sebentar membeli sesuatu.
“Permisi,”
Aku lihat sebuah kalung, dengan liontin yang begitu indah. Untung saja, kalung itu belum ada yang beli.
“Aku ingin yang ini,” kataku sambil menunjuk ke arah kalung yang ingin ku beli.
“Pilihan yang tepat. Ini adalah kalung desain terbaru, dan hanya satu-satunya di desain karena tingkat kesulitan yang tinggi. Harganya juga sangat mahal, karena terdapat berlian,”
“Berapapun. Aku ingin kalung ini,”
“Wah. Baik. Kalung ini, aku ingin memberitahukan sesuatu. Selain di desain mengunakan berlian, kalung ini sebenarnya memiliki GPS, cocok menjadi hadiah untuk pasangan anda, agar anda bisa dapat menemukannya jika terjadi sesuatu padanya. Anda ingin hadiahnya di bungkusnya seperti apa?”
“Sederhana saja,”
Mataku melihat ke arah seseorang yang tidak asing bagiku. Aku terdiam sejenak dan mengikutinya diam-diam.
__ADS_1
Aku baru menyadari jika meninggalkan Nayla di kafe dan buru-buru pergi dengan perasaan kesal.
Ku lihat, dia belum juga kembali dari toilet, saat kembalipun raut wajahmu masih kesal.
“Sudahlah, aku minta maaf,” kataku sambil mengacak-acak rambutnya mencoba menenangkannya.
“Hari ini, aku bisa berada di keramaian orang banyak, bahkan aku tidak merasakan jika alergiku kambuh,” kataku membatin sambil melihat ke arah Nayla. “Senyaman ini bersamanya, hingga membuatku melupakan apa yang ku lihat tadi,” kataku lagi-lagi membatin.
Rasanya begitu menyenangkan melakukan banyak hal bersamanya. Melihat wajah ceria gadi yang tengah bersamaku, sungguh membuatku terlena.
“Terima kasih, banyak sekali kau dapat bonekanya dari mesin capit,” kata Nayla yang tengah memeluk beberapa boneka yang di dapatkan dari mesin capit.
Ck. Apakah semua gadis begitu menyukai seseorang mendapatkan dan memenangkan sesuatu untuknya?!
Deg! Hatiku bergedup, ketika memikirkan hal itu.
Kami melewati tempat aksesoris tempat aku membeli kalung.
“Yaa... Kalungnya sudah di beli orang,” gumamnya dengan nada pelan dan kecewa.
Pelayan wanita yang melihatku sedikit terkejut. aku langsung memberikan isyarat agar diam.
“Oh lihat itu,” tunjuk Nayla sambil melihat sesuatu. Untung saja, perhatiannya teralihkan. “Dapatkan boneka itu untukku. Ayoo... Cepat, main dan dapatkan untukku,” katanya memohon.
Beberapa menit kemudian.
“Yes, terima kasih,” kata Nayla sambil mengambil boneka besar itu.
“Apa kau anak kecil?”
“Hei, bapak tidak peka. Wanita itu suka hal seperti ini,” kata Nayla seketika membuat jantungku lagi-lagi berdetak dengan sangat cepat.
“Ayo... kita coba permainan itu lagi,” kata Nayla sambil menarik Raysa.
Seharian, beraktifas di taman bermain bersamanya begitu melelahkan.
“Mengapa aku senyaman ini, mengapa aku tersenyum bahagia melihat gadis ini, saat melihat versi sedih dirinya begitu sakit hati ini,”
“Dia membuat rasa sedih dihatiku lenyap begitu saja,”
“Aku ingin menjaganya, aku ingin menghapus air mata itu,” kata Raysa lagi-lagi membatin.
“Aku ingin memeluknya, dan selalu berada di sampingnya,”
Aku melangkahkan kakiku mendekat kearahnya, dan memeluknya dari belakang.
“Raysa...” pekik Nayla. “Mengapa kau memelukku?” tanyanya berusaha untuk keluar dari pelukanku.
“Biarkan seperti ini sejenak. Aku ingin sebentar saja memelukmu,” kataku sambil terus memeluk gadis itu. “Walaupun aku memiliki dirinya sebagai calon istriku, tidak apa-apa jika aku melakukan hal yang sama. Egois itu tidak apa-apa,” kataku membatin sambil terus memeluknya.
“Apa yang terjadi sih?” tanyanya.
“Aku akan berangkat ke Perbatasan besok. Jadi biarkan aku memelukmu seperti ini,”
Kini, dia tidak lagi memberontak dan hanya diam tanpa mengeluarkan se katapun.
Sebuah kenyamanan, kedamaian yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Membuatku, semakin memeluknya dan memasukkannya ke dalam jaketku agar aku bisa memeluknya lebih erat.
“Apa kau akan memeluknya seperti ini?” tanyanya tiba-tiba membuatku sedikit kesal.
“Apa kau mengizinkanku memelukmu seperti ini di lain waktu?” tanyaku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan
Hening sesaat, mungkin dia tengah memikirkan jawaban dari pertanyaanku.
“Tentunya, agar penyakitmu cepat sembuh,” jawabnya. “Kitakan, saling memanfaatkan,”
Jawabannya mengangguku, aku tidak suka jawaban yang seperti itu. Aku menginginkan jawaban yang lain.
“Aku penasaran tentang gadis yang sukai,”
Mengapa harus bertanya tentang gadis itu, di saat seperti ini. Tidak menyenangkan.
Aku membalikan tubuhnya agar aku bisa melihat wajahnya. Membuat wajah kami berdua sangat dekat.
“Selamat ulang tahun,” kataku berbisik di telinga kanan gadis itu sambil memakaikan sebuah kalung padanya.
“Dan terima kasih untuk hari ini,” kataku sambil menatap wajah gadis yang di hadapannya dengan sangat dalam.
Wajahnya yang begitu kecil, halus, tatapan yang sendu, membuatku tergoda dan ingin sekali mengecup bibir mungilnya itu. Seakan dia seperti buah persik yang begitu ranum dan mengoda untuk di nikmati.
.
__ADS_1
.
———————— To be Continued ————————