A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 33 Berapa Banyak Rahasiamu — Raysa


__ADS_3

Akupun mulai goyah, dan mulai menginginkan dirimu selalu di sisiku.


— Alan Aditya Raysa —


.


.


Wajah yang dingin saat mabuk itu, lebih memperlihatkan sifatnya. Ketika dia mengucapkan jika dia tidak ingin menikah karena takut di khianati, rasanya ada kesedihan yang begitu mendalam di dalam hatinya.


“Aku selalu iri pada mereka yang menjalin hubungan sampai ke menikah. Mempertahankan hubungan mereka,”


Air matanya mengalir di pipinya. Wajahnya yang merah, karena dia tengah mabuk. Dia bercerita tentang sesuatu yang tidak asing bagiku. Seakan aku merasakan jika yang dia bicarakan itu adalah aku.


Aku membaringkannya di tempat tidurnya. Wajahnya sungguh berbeda ketika di lihat dengan jarak yang sangat dekat.


“Apa dia benar-benar tertidur?” sebuah suara datang dari arah belakangku terdengar dia adalah Aufal. “Aku hanya datang melihatnya. Jika seperti itu, aku akan kembali,” kata Aufal lagi.


“Tunggu... Bisa kita bicara sebentar?” tanyaku.


“Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?”


“Semuanya tentang dia,”


“Aku pikir jika kau sudah masuk ke dalam hatinya, sampai dia mau berbicara tentang diriny padamu. Hm,” pria itu memandangku dengan tatapan yang tengah mengejekku. “Dia gadis yang ceria, cepat bergaul dengan banyak orang. Itu yang aku tahu,”


“Kau akan tahu, jika kau mengenalnya dengan sangat dekat, kenapa aku sangat ingin memperjuangkannya kembali. Sekalipun, aku di kelilingi banyak wanita, sampai saat ini hanya mengisi hatiku hanya dirinya. Walaupun dia selalu menolakku dan tidak memberiku harapan untuk memperbaiki hubunganku dengannya,”


“Bagaimana saat kalian...”


“Dia memilih untuk memutuskan hubungan denganku, baik di sosmed ataupun sekedar menanyakan kabar. Aku baru mengetahui apa yang terjadi selama tiga tahun ini, saat dia mengatakannya tadi. Dia orang yang tertutup soal privasi apapun jika orang itu di anggapnya bukan siapa-siapa baginya, termasuk;aku. Sekalipun aku memintanya untuk bercerita tentang masalahnya, dia tidak akan mengatakannya. Itulah dia. Sekali terdapat jarak, sulit untuk membuatnya berada sangat dekat lagi, termasuk kepercayaan,”


“Terima kasih telah mengatakannya,”


“Aku mendengar dia bercerita tentang mengapa aku mengambil pilihan menikah dengan wanita lain, tidak sepenuhnya salah, saat itu aku tidak punya pilihan lain. Aku memilih dirinya atau aku harus menyelamatkan keluargaku, dan situasiku saat itu benar-benar tidak punya pilihan lain selain menyakitinya. Tapi, aku tidak di berikan kesempatan untuk menjelaskan padanya,”


“Aku peringatkan padamu. Kau tidak boleh membuatnya menangis,” kata Aufal. “Satu lagi, jika kau memilih untuk melepaskannya, maka kau akan menyesal berkali-kali lipat dari penyesalanku,” kata Aufal sambil pergi meninggalkanku.


“Menyesal? Apa maksudnya?” aku bertanya pada diriku sendiri tentang apa arti dari perkataan terakhir pria itu.


Aku duduk di sampingnya, sambil memikirkan perkataan Aufal tentang gadis yang tengah tertidur. Sampai, aku tidak sadar tertidur di tempatnya.


Suara bisik-bisik membuatku bangun, dengan segera aku pergi dari tempatnya meninggalkan dia yang masih tertidur.


Aku mencoba membuat bubur dan sup pereda mabuk untuknya, dan menyuruh anggota tim untuk mengantarkannya.


Sebuah dokumen dan sebuah panggilan untukku menghadap ke Markas Utama, ternyata panggilan ini berhubungan dengan dirinya. Rasanya, aku baru saja melibatkan diriku secara terus menerus dengan dirinya, namun anehnya aku tidak keberatan melakukannya.


Ketika membaca dokumen itu, aku baru sadar jika aku berurusan dengan orang yang sangat berbahaya.

__ADS_1


“Apa aku bertanya padanya?” tanyaku membatin.


Aku tidak melihat ekspresi ketakutan wajah itu, seakan dia begitu tenang. Aku saja, menonton Tv dan melihat kasusnya tengah tayang di Tv.


“Aku dengar kau ingin mengungkapkan identitasmu. Tidak masalah?”


“Kau mengkhawatirkanku?” tanyanya membuatku salah tingkah.


“Tidak... Em. Sebenarnya iya,” jawabku terbata-bata.


“Ppfffttt...” Nayla tertawa kecil.


“Aku menertawakanku lagi?”


“Aku sudah memikirkan beberapa cara agar kau bisa dengan segera menyembuhkan penyakitmu,”


Disaat seperti ini, dia malah memikirkan cara menyembuhkan penyakitku. Seakan dia sudah menemukan cara menyelesaikan masalahnya.


Pakaian yang sederhana kini terbalut di tubuhnya. Aku sejenak terpesona dengan dirinya.


“Pantas saja, pria itu menyukai dirinya,” gumamku membatin.


Ku lihat, begitu banyak para reporter dan kamera yang kini berkumpul seakan dia benar-benar ingin mengungkapkan siapa dirinya kepada semua orang jika dia adalah seorang penulis yang selalu ingin di ketahui jati dirinya.


Untuk beberapa saat, aku melihat sosok gadis yang kuat dan berpikiran luas ketika dia berbicara dengan banyak orang. Kata-katanya, seakan tidak takut tentang kritikan yang akan dia terima, ataupun begitu banyak komentar tentangnya.


“Sebenarnya berapa banyak tidak ku ketahui tentangnya? Membuatku merasa penasaran, walaupun aku mendengar beberapa cerita tentangnya dari jendral. Bahkan jendral pun tahu tentang dirinya,” aku membatin sambil melihatnya yang memejamkan mata ketika dia meminta makanan pedas.


“Dia tidak akan meminta makanan yang pedas jika dia tidak memikirkan sesuatu atau keadaan hatinya lagi baik,” kata Editor Lee padaku.


“Bagaimana kau mengenalnya?” aku bertanya pada wanita paruh baya itu.


“Aku yang membebaskan dia tiga tahun lalu, dengan membawa sebuah rekaman suara, tidak lama setelah dia keluar temannya membawa remakan vedio kejadian tersebut. Tiga hari setelah itu, aku mengundurkan diri dari kepolisian dan menjadi Editornya,”


“Mengapa...”


“Aku tidak ingin terlibat jauh. Setidaknya aku menangkap pelakunya dan membebaskan seseorang yang tidak bersalah,” kata wanita itu. “Aku pernah sampai harus kembali ke Timku dan meminta menangani kasus keduanya,”


Aku melihat ke arah gadis itu. Gadis yang sungguh tidak bisa di tebak.


“Aku tak tahu, mengapa dia mengizinkanmu untuk berada di sampingnya. Aku beberapa kali mencoba mendekatkannya dengan beberapa orang pria termasuk adikku sendiri, tapi dia selalu menolak,”


“Bagaimana dengan orang tuanya?”


“Sebaiknya kau tanya langsung padanya. Aku tak ingin mengatakannya. Dan terima kasih telah berada di sampingnya,” kata Editor Lee.


Aku memilih untuk tidak mengantarkannya ke rumahnya, namun memilih untuk membawanya ke rumahku.


Badannya yang panas-dingin membuatku tidak dapat tidur karena harus menurunkan demamnya. Aku beberapa kali mendengarnya meracau, tentang ini dan itu.

__ADS_1


Raut wajah yang begitu ketakutan membuatku tidak tega meninggalkannya sendiri. Apalagi, ketika dia meraih tanganku dengan begitu ketakutan seakan dia mengalami kejadian buruk.


Aku mengecek dahinya, mencoba merasakan apakah demamnya sudah turun atau tidak. Untung saja, demamnya sudah turun membuatku pergi ke dapur untuk membuatkannya bubur.


“Memasak pertama kali untuk seorang gadis,” gumamku membatin.


Sesekali aku mengodanya, menanyakan tentang keadaannya. Walaupun sulit untuk membuatnya tersenyum.


“Apa gadis ini, benar-benar tidak memiliki perasaan lagi?” aku lagi-lagi membatin.


“Kau tidak takut padaku? Membawaku ke rumahmu, aku bisa membunuhmu loh,” katanya sambil menikmati bubur yang ku masak.


“Ppft,” aku tertawa mendengar apa yang dia katakan.


“Ini ketiga kalinya aku berada di ruang introgasi di kepolisian,” katanya memulai menceritakan tentang dirinya.


“Saat itu, tugas kelompok di kampus. Aku di ajak untuk pergi ke rumahnya untuk mengerjakan tugas, ternyata di sana bukanlah mengerjakan tugas melainkan berpesta. Saat aku sampai temanku mengajakku masuk, dia adalah teman laki-laki pertama yang aku percaya tapi nyatanya aku di jebak. Dia mengajakku masuk ke dalam sebuah kamar, aku memberontak, dia mengancamku dengan pisau. Pakaian yang ku pakai di sobek mengunakan pisau, pisau itu memiliki dua mata, hingga ketika terlempar membuatnya menancap di pintu. Aku membela diri, tanpa sengaja dia tersandar dan melukai dirinya dengan pisau di dinding. Ruangan penuh dengan darah, dan itu adalah kali kedua aku masuk penjara,”


“Untung saja, dia tidak meninggal, dan mengakui jika itu adalah kesalahannya karena di bawa pengaruh obat,”


“Tidak memiliki teman bagiku lebih baik, daripada memiliki banyak orang sedangkan tidak ada yang bisa di percaya,”


“Hanya mendapatkan satu julukan tambahan, tidak akan mengubah apapun. Aku sudah terbiasa dengan itu. Di ejek anak punggut, anak haram, penggoda, *******, dan pencuri, begitu banyak julukan yang lain tidak apa-apa. Asalkan, aku tidak melakukannya,”


Ini adalah kali pertamanya mengatakan padaku tentang dirinya. Hatiku sangat tersiksa mendengar ceritanya.


.


.


———————— To be Continued ————————


"Cerita ini sepenuhnya fiksi, Nama Karakter, Tempat, Organisasi, sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata,"


Kritik & Saran dari para pembaca sekalian.


Baca juga :


- Something Lost


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang Terbagi


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2