A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 47 Dengarkan Kata Hatimu


__ADS_3

Mungkin, membuat alasan begitu mudah untuk Nayla menjelaskan semuanya. Hingga membuat pria yang tengah bersandar di hadapannya itu terpaku tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Suasana hening sejenak, tidak ada yang mengeluarkan kata-kata, hujan di luar sana kembali membasahi apapun yang menghalaginya, suara riuh dari genteng terdengar memecah kesunyian di malam itu.


Jika sejak awal perjanjian, tidak ada kontrak janji seperti itu, mungkinkah hari ini akan tiba? Berbicara dari hati ke hati, ataukah dia memiliki alasan untuk tetap bersama dengan pria di hadapannya untuk waktu yang lama.


Pertemuan mereka, bukan dua tahun lalu, namun jauh sebelumnya. Mereka saling terikat satu sama lain dengan sangat lama. Hanya saja tidak pernah saling menyapa sebelumnya, sampai pertemuan di taman.


Ketika di pikirkan lebih dalam tentang takdir, rasanya begitu lucu hingga hadir sebuah lelucon tercipta “Tengah di permainkan oleh takdir”.


Memang benar, bagi Nayla takdir tengah mempermainkannya, dia ingin hidup lebih lama demi mereka yang menyayanginya, sedangkan kematian begitu di takutinya, bukan tentang dia yang pergi. Namun tentang mereka yang di tinggalkan.


Dia terlalu banyak berpikir, sambil menatap pria yang tengah berbaring di kasurnya dengan handuk basah di dahinya itu. Ya, sejak tadi dia merawat pria yang tiba-tiba demam.


Pikirannya terlalu jauh, hingga membuatnya terlelap berbantalkan tangannya di atas meja. Dia tidak berani untuk tidur di samping pria itu, karena tentu tidak baik.


Nayla kini masuk ke dalam mimpinya. Mimpi dimana dia berhadapan dengan pria yang telah menembaknya. Terlihat seorang gadis mirip dengannya, dan pria yang di kenalnya. Senjata mengarah pada pria yang di sampingnya itu, hingga pelatuk senjata di tarik dan sebuah peluru melayang di udara menembus kulit dada kiri milik Raysa. Dia berteriak peluru mendarat, doia berteriak namun tidak terdengar, hanya suara dari gadis di dalam mimpinya itu yang terdengar, tubuh Raysa terpental ke belakang dan terjun dari atas tebing, lagi-lagi dia berteriak hasilnya tetap sama, air matanya mengalir begitu juga dengan gadis di dalam mimpinya itu.


Nayla terbangun ketika itu, dengan keringat dingin di dahinya. Nafasnya tersegal-segal, jantungnya berdegup dengan sangat kencang, Raysa tengah duduk di samping ranjang sambil melihat gadis itu. Raysa yang telah memindahkannya ke atas kasur miliknya.


Dia menatap pria itu, kemudian memeluknya sambil bergumam pelan, jika semua itu hanya memimpi.


Degupan jantungnya semakin berdetak cepat, dia berusaha untuk bisa mengontrol kondisinya.


Sejak dia sadar dari koma, mimpi buruk tentang kehilangan pria itu setiap saat selalu menghantuinya, dia selalu kembali ke adegan lama di hari itu. Sangat jauh di dasar hatinya takut kehilangan pria itu.


“Apa mimpi kau mimpi buruk?” tanya Raysa.


Nayla hanya terdiam, dan masih saja memeluk pria itu. Di alam bawah sadarnya, masih saja pria yang bertahta di hatinya itu yang terluka karena tembakan.


“Aku hanya takut, aku benar-benar tidak bisa melihatmu lagi,” kata Nayla berucap lirih. “Mimpiku selalu saja sama, aku selalu kehilanganmu dengan cara yang sama,” nada pelan dari kata-kata yang di ucapkan mengartikan kesedihan di dalamnya.

__ADS_1


“Apa kau pikir, aku tidak takut jika kau meninggalkanku. Aku sangat-sangat merasakan bagaimana pernah tidak melihatmu, dan itu adalah mimpi-mimpi terburukku,” kata Raysa berucap sambil mengelus lembut rambut milik gadis itu.


Kurnia dan Naomi tengah mendengarkan apa yang tengah terjadi di dalam, tak ada yang berbicara mereka terlalu fokus mendengarkan.


“Kenapa membuat dirimu sendiri terluka dengan menerima peluru itu di tubuhmu, tubuhmu berbeda dariku, jika aku yang tertembak pasti tidak akan menembus organ dalamku karena otot-otoku yang sangat keras,” kata Raysa membuat gadis itu sedikit menahan tawanya, karena ada lelucon di kata terakhir yang terucap oleh Raysa.


“Manusia tetaplah manusia, bagaimana bisa kau tidak akan terluka jika terkena peluru,” kata Nayla tidak sadar diri.


Pria itu, membuat Nayla melihat ke arahnya kemudian menyentil dahi milik gadis itu.


“Apa kau pikir, kau bukan manusia juga? Apa kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku saat kau terluka dan terjun dari tebing itu,” nada bicara Raysa agak tinggi karena tengah kesal dengan tindakan yang di lakukan oleh gadis di hadapannya.


Nayla meringis kesakitan karena dahinya di sentil oleh pria itu.


“Aku tidak mengizinkanmu untuk mengambil pekerjaan berbahaya itu,” kata Raysa.


Mata gadis itu membulat, dia tidak habis pikir bagaimana pria yang tengah bersamanya itu mengetahui hal yang di sembunyikannya.


Rasa cemas di dalam hati mereka masing-masing masih saja berkembang. Tidak salah, mereka baru saja menyatakan perasaan masing-masing, sedangkan belum sepenuhnya memahami.


Kicauan burung kini terdengar bersahut-sahutan menandakan pagi telah hadir kembali. Kedua orang yang sejak tadi menguping, masih berada di sana entah berapa lama mereka sudah berdiri.


Moesa, masih saja acuh tak acuh dengan pria di sampingnya itu. Apalagi ketika pria itu mengungkapkan perasaannya.


Memang tidak begitu baik, ketika kita di sukai karena kita begitu mirip dengan diri orang lain. Memang, seharusnya mencintai orang dengan kepribadian orang itu sendiri.


Tapi, apa yang di harapkan oleh gadis berambut bob itu, dia menyukai orang lain, sedangkan hatinya pun berdegup untuk orang lain. Berkali-kali dia mengatakan jika menyukai orang lain, berkali-kalipun hatinya masih saja berdegup untuk orang lain.


Kurnia sesekali milirik gadis di sampingnya itu. Dia selalu berkelahi dengan pikirannya, wajah gadis itu memang begitu mirip dengan kekasihnya saat SMA.


Di usianya yang saat ini, memang wajar memikirkan seorang wanita, apalagi membahas tentang pernikahan. diapun, berpikir seperti itu. Sebagai seorang kakak, dia pun selalu di lontarkan pertanyaan kapan akan melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Raysa keluar dari kamar, menemukan kedua orang itu tengah berada di depan pintu. Tatapan bingung untuk Raysa, sedangkan kedua orang di hadapannya memberikan tatapan aneh, termasuk Kurnia.


“Kau...”


“Tidak seperti yang kau pikirkan,” kata Raysa tergagap.


“Eee..” Kurnia dan Moesa berpikiran sama, sama-sama bingung.


“Emang apa yang kami pikirkan?” tanya Moesa, seketika membuat Raysa salah tingkah.


“Emang apa yang kami pikirkan?” tanya Moesa, seketika membuat Raysa salah tingkah.


“K... kau...” pekik Kurnia.


“Sssttt.. biarkan dia tidur, dia kelelahan sepanjang malam,” kata Raysa sambil membungkam mulut sahabatnya itu mengunakan telapak tangannya, kemudian menarik pria itu menjauh dari kamar milik Nayla, termasuk Moesa, tangannya ikutan di tarik oleh Kurnia.


“Apa yang kau lakukan di sana.. Jangan bilang ka... kau...” Kurnia berusaha untuk lolos dari kuncian Raysa.


“Apa yang kau pikirkan? Aku tidak seperti yang ada kau pikirkan,” kata Raysa sambil memukul kepala Kurnia.


“Aku tidak mungkin melakukannya, sebelum kami menikah kau pikir aku ini pria seperti apa,” kata Raysa dengan nada kesal.


“Terus apa yang kau lakukan di sana?” tanya Kurnia, berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.


“Semalam aku tidur di depan kamarnya saat hujan, saat tengah malam dia melihatku dan merawatku karena demam. Dia terjaga sepanjang malam,” kata Raysa menjelaskan.


“Sepertinya kau butuh istirahat dari posisimu,” kata Kurnia sambil tersenyum mengejek pada Raysa. “Bagaimana seorang kapten militer sepertimu bisa demam hanya karena hujan seperti itu,” kata Kurnia.


“Kau...”


“Kenapa tidak cuti saja, dan menemani adikku di ibu kota sementara ini. Aku tidak bisa membiarkannya tetap di sini dengan kondisinya seperti sekarang,” kata Kurnia.

__ADS_1


Kurnia ingin agar Raysa mengambil cuti, agar bisa bersama dengan adiknya itu. Dia ingin hubungan keduanya membaik.


__ADS_2