A Cold Frozen Heart

A Cold Frozen Heart
Eps. 14 Izinkan Aku terus Memelukmu


__ADS_3

“Aku tak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan, aku hanya mengikuti kata hatiku,”


“Aku ingin memeluknya, dan selalu berada di sampingnya,”


“Sungguh... Aku ingin memeluk gadis mungil itu,” kata Raysa lagi-lagi membatin.


Tiba-tiba Raysa melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nayla dan memeluk gadis itu dari belakang dengan sangat erat. Membuat gadis itu terkejut.


“Raysa...” pekik Nayla. “Mengapa kau memelukku?” tanya Nayla berusaha untuk keluar dari pelukan pria itu.


“Biarkan seperti ini sejenak. Aku ingin sebentar saja memelukmu,” kata Raysa sambil terus memeluk gadis itu. “Ku mohon...” pinta Raysa dengan suara lirik berbisik di dekat telinga Nayla.


“Apa yang terjadi sih?” tanya Nayla.


“Aku akan berangkat ke Perbatasan besok,” kata Raysa. “Jadi biarkan aku memelukmu seperti ini,”


Nayla hanya diam tanpa memberontak. Seakan tengah ikut terbuai ke dalam pelukan Raysa.


Angin berhembus sepoi-sepoi, menerpa rambut gadis itu. Rasanya Raysa tengah terlarut dalam pelukan hangat yang tengah dia berikan pada Nayla.


Entah telah berapa lama dia memeluk Nayla seperti itu, rasanya dia begitu nyaman. Bahkan, tanpa sadar dia membungkus gadis itu, agar masuk ke dalam jaket yang tengah dia gunakan.


“Apa kau akan memeluknya seperti ini?” tanya Nayla mencoba mencairkan suasana sunyi di antara mereka berdua.


Deg!


Pertanyaan seperti apa itu, rasanya begitu aneh dengan suasana seperti ini.


“Apa kau mengizinkanku memelukmu seperti ini di lain waktu?” tanya Raysa, membuat gadis itu membeku.


Nayla tahu, dia tidak bisa memberikan jawaban sembarangan untuk pertanyaan seperti itu.


“Tentunya, agar penyakitmu cepat sembuh,” jawab Nayla.


Entah kenapa jawaban Nayla membuat pria itu tidak suka, seakan dia ingin jawaban yang lain.


“Aku penasaran tentang gadis yang sukai,” kata Nayla lagi-lagi membuat Raysa tidak bisa menjawab.


Mungkin bagi Raysa gadis ini begitu bodoh, menanyakan orang lain sedangkan yang bersama orang itu adalah dia.


Raysa membalikkan tubuh gadis dalam pelukannya itu, agar wajah gadis itu berhadapan dengannya. Hingga wajah mereka begitu dekat antara satu sama lain.


“Selamat ulang tahun,” kata Raysa berbisik di telinga kanan gadis itu sambil memakaikan sebuah kalung pada Nayla. “Dan terima kasih untuk hari ini,” kata Raysa sambil menatap wajah gadis yang di hadapannya dengan sangat dalam.


“Nayla...” teriak seseorang dari arah pintu.


Nayla terkejut melihat siapa yang berada di depan pintu. Gadis itu adalah Laura. Sedangkan Raysa tengah memeluknya pun ikut terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.


“Em. Laura, aku...” Nayla berusaha untuk menjelaskan apa yang tengah terjadi.


“Bagaimana kalian akan menjelaskan padaku apa yang tadi kalian lakukan?” tanya Laura.


“Dia... Eemm... Dia ini...”


“Pacar, aku pacarnya...”


Laura tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Raysa.


“Kau ingin menipuku? Aku tahu seperti apa sahabatku, dia pasti tidak akan pacaran,”


“Laura kita bicara di dalam rumah saja,”


“Ayo masuk,” kata Laura menyuruh Raysa untuk ikut masuk ke dalam rumah. “Kau... Mengapa kau tidak bilang padaku, jika kau itu...”


“Kau tidak mempercayaiku...” kata Nayla. “Apa kau mau berkencan denganku,” Nayla mengejek Laura.


“Tidak...”


Nayla tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.

__ADS_1


Rasanya Nayla menjadi orang lain ketika bersama dengan Laura. Raysa melihat perubahan itu.


Laura duduk sambil menyerup tehnya, dia mendengarkan penjelasan dari Raysa tanpa menyela sedikit pun.


Nayla yang duduk diam mendengarkan sedari tadi, telah tertidur karena seharian dia begitu bersemangat.


Pluk!


Kepala Nayla bersandar di bahu Raysa.


“Anak ini, bagaimana dia bisa tidur di mana saja dia inginkan,” kata Laura yang melihat Nayla tertidur.


“Dia terlalu bersemangat tadi pagi, saat kami pergi ke taman hiburan,” kata Raysa.


“Terima kasih. Sejujurnya, dia tidak pernah ke tempat seperti itu sebelumnya,” kata Laura menceritakan sosok Nayla yang di tahu.


“Belum pernah?”


“Iya, dan itu adalah pertama kali baginya datang ke tempat seperti itu. Dia bukan orang yang gampang berhura-hura, menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak berguna. Dia biasanya pergi memberikan privat, sebagai asisten dosen, dan lebih banyak menghabiskan waktunya menghasilkan uang. Ya, walaupun aku mengajaknya, dia tidak akan pergi. Kadang dia hanya duduk di kafe sambil bermain dengan laptopnya,” kata Laura.


Raysa yang melihat Nayla tidur dengan pulasnya, mengukir senyum.


“Di mana kamarnya?” tanya Raysa sambil menggendong Nayla.


“Atas,” kata Laura sambil menunjukn kamar Nayla.


Tangga menuju kamar Nayla terbuat dari kayu, dengan 10 anak tangga pertama, menuju kamar Laura, kemudian 10 anak tangga kedua sebelah kanan menuju kamarnya.


Welcome to my room.


Akan jelas terbaca di dinding pintu masuk kamarnya.


Kamar Nayla desainnya terbuat dari kayu. Saat masuk kedalam akan di suguhi dengan pemandangan yang nyaman di pandang mata. Di sisi kanan, terdapat balkon yang terdapat beberapa jenis bunga. Ruangan di desain sederhana, dan lebih banyak terlihat tumpukan buku-buku.


Raysa membaringkan Nayla di ranjang empuk milik gadis itu.


Raysa melihat kamar itu. Sebuah bingkai foto yang membuat Raysa penasaran karena foto itu tidak terpajang sebagai mana mestinya seperti foto-foto lainnya.


Raysa menggenggam erat bingkai foto itu seakan tidak menyukai sebuah senyuman yang begitu bahagia terukir di bibir gadis dalam foto tersebut.


Di sebelah bingkai itu terlihat album foto, Raysa mengambil dan melihat-lihat album foto tersebut. Beberapa kloase foto terlihat kosong, seperti sengaja di hilangkan.


Raysa melirik ke arah Nayla yang tengah tertidur pulas.


Sebuah memo terlihat. Seperti sebuah rencana. Tapi lebih menonjol adalah sebuah kata-kata yang membuat hati Raysa seakan tengah tersayat-sayat.


“Jika aku tak berhak untuk bahagia, tidak apa. Aku tahu, kau punya rencana lain untukku. Mencintai tanpa di cintai pun tidak apa-apa, dan lebih baik melihatnya bahagia. Itu lebih dari cukup melukiskan rasaku mencintainya,”


Sebuah surat terlihat di atas meja.


Raysa membaca surat tersebut, surat tersebut di tunjukan untuk orang Tua Nayla, untuk menghadiri acara wisuda minggu depan.


Raysa menenangkan pikirannya, sambil duduk di balkon dan menatap Nayla yang tengah tertidur. Dia membaca buku puisi-puisi pribadi Nayla, setiap kiasan kiasan dalam puisi tersebut masuk ke dalam dasar hatinya paling dalam.


“Mengapa kau begitu rapuh? Membuatku ingin selalu berada di sampingmu dan melindungimu. Aku tidak mungkin jatuh cinta padamu kan?”


Semakin dalam Raysa memikirkannya semakin dia terlarut dalam emosi yang sulit untuk dia pahami hingga dia tertidur di atas kursi balkon milik Nayla.


_______________________________________________________


Sebuah mobil sedan hitam melaju di jalanan. Raysa tengah menjemput Nayla dari kampus karena hari ini dia tengah di sidang di depan dewan direksi kampus karena kasus yang tengah beredar. Hari ini berbeda seperti biasanya, dia tidak mengunakan pakaian santai namun menggunakan pakaian seragamnya.


Nayla keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega. Beberapa pasang mata tengah melihat menatap tajam ke arahnya.


“Ada yang salah denganku?” tanya Nayla.


“Tidak,”


Tidak aneh lagi jika dia menjadi bahan ghibahan oleh orang-orang. Tidak semua orangpun menjadikan diriny sebagai bahan topik, tapi sedari tadi dia selalu mendapatkan beberapa karangan bunga, dan beberapa macam bingkisan hadiah.

__ADS_1


Saat sidang berlangsung tadipun, dia dengan santainya seperti dia tidak melakukan kesalahan apapun. Hampir sebagian besar memuji sifat Nayla, tapi tidak membenarkan sikapnya yang telah mabuk. Dia tahu itu, karena sebagai senior yang mendapatkan beasiswa dan asisten dosen dia harus menjadi contoh figur yang baik bagi junior-juniornya.


Tanpa sengaja Nayla menabrak seseorang.


“Maaf,” kata Nayla.


“Tidak apa-apa,” kata seorang gadis yang di tabrak Nayla.


Nayla melihat ke arah gadis itu, bola matanya membulat ketika melihat gadis itu. Pastinya dia tahu gadis itu. Nayla ingin menghindar dari gadis itu secepatnya.


“Nayla... Namamu Nayla bukan?” tanya gadis itu—Clara Rianda.


Nayla terdiam tidak beranjak dari posisinya, rasanya seperti tidak bisa di percaya gadis itu mengetahui namanya.


“Maaf, anda salah orang,” kata Nayla sambil buru-buru pergi.


“Tunggu...” lagi-lagi gadis itu membuat Nayla tidak meneruskan langkahnya. “Aku dengannya, telah bercerai,” kata gadis itu.


“Maaf... Itu adalah masalah kalian berdua,”


“Bisakah kau mendengarkan apa yang aku katakan padamu? Please!”


Nayla hanya menatap mata gadis itu. Dia ingat dengan sangat, mata dan wajah gadis yang berada di samping Aufal saat itu.


Gadis yang terpaut usia 3th lebih tua darinya itu menatap dengan raut wajah memohon agar Nayla mendengar apa yang ingin dia katakan. Nayla pun mengikui permintaan gadis itu.


Beberapa saat pun berlalu gadis itu meninggalkan Nayla dengan sebuah senyuman. Hingga deringan Ponsel membangunkannya dari lamunannya.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya orang itu dari seberang telfon, dia adalah Raysa. “Lihat ke depan,” kata Raysa sambil membuka kaca mobilnya.


Nayla hanya melihat tanpa ekspresi apapun, namun tidak dengan orang-orang yang berada di sekitar Nayla ketika melihat Raysa.


Nayla melangkahkan kakinya ke arah mobil itu, namun Raysa seketika turun dari mobil sambil membawakan sebucket bunga pada Nayla.


Mereka yang melihat berbisik-bisik, tidak menunggu waktu lama banyak yang ikut memperhatikan mereka.


Raysa melangkah mendekat sambil memegang bucket bunga rose tersebut, kemudian berhenti tepat sekitar 30cm dari Nayla.


“Jangan pernah lepaskan lagi,” kata Raysa sambil mengambil sesuatu dari kantongnya, itu adalah kalung yang dia berikan pada Nayla semalam. “Jangan sampai hilang,” kata Raysa lagi sambil kembali memakaikan kalung tersebut.


“Siapa pria itu?”


“Senior Nay, tidak seperti itu sebelumnya. Biasanya dia akan marah jika seseorang memberikannya bunga,”


“Nah ini untukmu,” kata Raysa memberikan bucket bunga kapada Nayla, kemudian menyentil dahi gadis itu.


“Aaawww...”


“Jangan melamun,” kata Raysa sambil mencubit pipi Nayla.


“Aaaawwww...”


“Makanya jangan melamun,”


“Iya. Iya,” kata Nayla sambil menendang kaki pria itu. “Sakit tau,” kata Nayla kemudian meninggal Raysa yang tengah kesakitan karena di tendang olehnya.


——————— To be Continued ———————


“Cerita Ini Sepenuhnya Fiksi. Nama, Karakter, serta Organisasi yang muncul, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata”


Kritik & Saran silahkan tinggalkan komentar.


Instagram : dih_nu


Baca juga :


- Something Lost


Terima Kasih Telah Membaca!

__ADS_1


Jangan lupa Vote dan subscribe jika kalian mendukung saya dalam menulis novel!


__ADS_2